Tatal 70
Dalam kalimat-kalimat yang seperti mabuk, Allen Ginsberg pernah menyerukan:
“Everything is holy! Everybody’s holy! holy! holy!”
Tapi jika demikian, jika tiap hal suci, yang-lain bukan mukjizat lagi.
Dalam kalimat-kalimat yang seperti mabuk, Allen Ginsberg pernah menyerukan:
“Everything is holy! Everybody’s holy! holy! holy!”
Tapi jika demikian, jika tiap hal suci, yang-lain bukan mukjizat lagi.
Satu itu palsu, seperti sapu lidi. Satu itu palsu, meskipun padat dan pejal. Mungkin itu sebabnya menara Babel adalah sebuah hikayat tentang kegagalan.
Syahdan, menurut Al-Kitab, manusia datang ke sebelah timur tanah Sinear untuk menegakkan sebuah menara yang tinggi, agar mereka tak terserak di pelbagai tempat dan bisa berbahasa satu. Tapi Tuhan murka. Menara itu ditumbangkan. Orang dibuncang ke pelbagai penjuru, dan bahasa dikacaubalaukan hingga manusia tak saling mengerti lagi. Demikian itulah takdir. Sebuah kitab suci lain, Al-Qur’an, yang tak berbicara tentang Tuhan yang murka, tetap mengingatkan bahwa Ia sengaja tak menghendaki segalanya jadi satu, melainkan berbeda.
Beda melahirkan bahasa dan membentuk hidup. Saya bayangkan Tuhan menghancurkan menara Babel. Dalam kengerian dan ketaktahuan, manusia sadar, sejak itu sesuatu yang transendental dalam “beda”, dalam “lain” –ada benda-benda yang begitu kaya dalam keragaman, justru pada saat mereka begitu kongkrit.
“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.
Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan.
“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.

Ada seorang pemilik toko buku yang hidup dalam kesepian dan kemarahan yang diam. Ia tinggal di sebuah negeri yang kini menyebut diri “Komunitas Iman.”
Para pemuda Ikhwanul Waspada muncul ke mana-mana, merusak alat musik, membakar film berpuluh-puluh rol, merobek kanvas lukisan, menghancurkan patung—dengan keyakinan bahwa keindahan hanya ada di Tuhan, dan tak ada di bumi yang layak menyaingi wajah-Nya.
Itulah pangkal masygul Boualem Yekker, tokoh novel Le Dernier été de la Raison (Musim Panas Terakhir Akal Budi) ini, dan ia terpojok, ia terkucil. Sejak kecil, sejak ia belajar di madrasah yang ketat mengajarkan Quran, ia ingin berjalan ke pelbagai tempat di muka bumi.
Tiap doa mengandung ketegangan. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim. Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah.
Bila ada agama yang memusuhi syair, itu karena ia lupa bahwa puisi juga sejenis doa. “Di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tak bisa berpaling,” tulis Chairil Anwar, antara lega dan putus asa.
Puisi, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa tapi juga sikap bersyukur yang tak diakui.
Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah.
Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus.
Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.
Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.
Amir Hamzah sebenarnya tak bertanya, ketika ia menulis: “Tuhanku, apatah kekal?”
Junjunganku apatah kekal?
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apakah baka baka sepanjang masaBunga layu disinari matahari
mahluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai
Ada keseriusan tentang kefanaan dalam kata-kata itu, tapi tentu saja tak terjawab. Manusia telah mengatakan, kekal itu sifat Tuhan semata-mata.
Tapi ada sebuah pertanyaan lain yang tak diucapkan Amir Hamzah dan dikemukakan Ibnu Sina di abad ke-10: jika Tuhan kekal, berarti Ia di luar waktu, bagaimana menciptakan alam semesta terjadi? Lanjut..
Puisi dan kematian: dalam keduanyalah keterbatasan dirundung janji. Dalam hal kematian, janji itu tentang kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna.
Tapi saya tak pernah tahu, akankah janji itu terpenuhi, bahkan dalam puisi. Selama itu sebuah puisi, setidaknya puisi liris, terasa seperti sebuah tari serimpi, yang memperoleh pemaknaan dari pergantian, beda, pertautan, dan kontras pelbagai geraknya sendiri. Ia tak mendapatkan makna yang disahkan sebuah konsep yang sudah siap. Tak ada dasar cerita. Di dasar itu hanya kolong: sebuah kekosongan yang “hadir,” sebuah “kehadiran” yang sebenarnya tak ada.
Tak ada pula titik akhir yang jelas dan konklusi yang segera. Para penari dan penonton tak kunjung bisa menceritakan apa persisnya yang hendak disampaikan sebuah srimpi.
Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah.
Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa —yang tak diperkenankan melihat
wajah Tuhan— mencoba menebak kehendak-Nya terus-menerus. Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai.
Gurun pasir tak sepenuhnya dialahkan, dan cadar selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa umat tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang.
* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai.
Karena malam tak sepenuhnya tertembus, juga oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah dan rembulan yang gila, harapan jangan-jangan bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas.
Makin tahu manusia tentang luasnya alam semesta, makin tampak bumi menyendiri dan manusia terpencil. Planet ini hanya setitik noktah yang cepat hilang. Tapi pada saat yang sama, dalam keadaan yang praktis terabaikan itu, hilang dan ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Hidup begitu dekat dan Ketiadaan begitu megah.
Saya teringat baris kalimat Sitor Situmorang dalam sajak Cathedral des Chartres: “hidup dan kiamat bersatu padu.”
* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 10.