Kesusastraan Indonesia dan Kebimbangan [1]
Tetapi kebudayaan lama itu bukanlah sesuatu yang perlu dilap-lap. Dalam kenyataannya ia hidup utuh, setidaknya nampak seperti seorang raksasa yang tidur. Angkatan 45 gagal melihat kebangkitannya kembali yang tak kentara.
PARA sastrawan Indonesia kini bukanlah ahli waris kebudayaan dunia. Kelompok avant-garde tahun 40-an, Angkatan 45, memang menganggap diri demikian. Tapi mereka sebenarnya ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.
Dalam titik ini, kesusastraan Indonesia mewakili keraguan dan kebimbangan—yang kadang terdengar seperti kata lain dari pencarian. Hidup, apa pun jadinya, tidak lagi merupakan lingkaran tertutup. Sekalipun tidak seterbuka sebagaimana-nampaknya.
Sampai tingkat tertentu, ini memang merupakan pilihan yang merepotkan. Apa yang berlanjut dari situasi ini ialah beberapa bentuk pertikaian batin yang tak kunjung usai, di hadapan alternatif-alternatif sejarah: memilih salah satu sama halnya dengan memungut kans untuk menerobos ambang yang tak diketahui.
Boleh dikata, kesusastraan Indonesia dimulai dengan protes.