Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum
“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”
Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan. Dan kemudian mereka pun berdatangan — senter, suluh, dan kunang-kunang — tapi tak seorangpun mengenalinya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.
“Berikanlah suara-Mu.”
Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya?
“Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”
Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman pertama. Ada seorang yang menangis entah mengapa. Ada seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat-kawat, sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.
“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”
1971
Saya selalu terharu setiap membaca sajak ini. Meskipun tidak sebanding, jujur saya pernah menulis sajak yang terinspirasi sajak ini:
TENTANG BERTANYA
:teringat nasib orang-orang yang bernisan angin
Mardi masih berkasur darah ketika malam di kebun karet menyergapnya dengan benda yang menyerupai peluru dan memahat kedua kakinya. waktu seperti buku yang rikuh salah mengabsen perang terakhir di tahun 1948: nyatanya masih banyak peluru lepas dan melimpas. tetapi, toh Mardi mati juga sebab dia sempat bertanya,”lahanku yang setengah hektar kemana ya?”
banyak memang, orang mati karena bertanya. kita bisa menderetkannya seperti mengeja huruf-huruf yang mengatur penerbangan. ada yang selamat sampai singapura, ada juga yang mati sebelum landing di belanda. sebuah epilog dengan mudah bisa kita ringkas menjadi frasa: kematian kadang hanya cara.
mungkin kelihatannya kita lebih baik tidak bertanya kenapa bunga-bunga kertas bisa subur tumbuh di trotoar, kenapa danau terlihat di dasarnya sebuah perkampungan, kenapa seseorang lahir di rumah yang sekarang terlihat sebagai sketsa jalan layang, kenapa ada anak yang memakan semut,menjilat kertas, menggerogoti batu, mengulum silet, mengunyah besi, atau menelan bara.
sebab
bintang-bintang masih mengisyaratkan pelayaran dengan garis bersilangan mengidentifikasi mata angin dan arah. Dan pastinya, warna langit kadang masih seperti garis asap, pias dalam rekah. Juga, demografi tetap mengalkulasi populasi lewat wabah dan bencana, bukan karena seseorang bertanya.
Orang mati itu tak beridentitas…
Apa partainya?
Apa agamanya?
Apakah dia orang jawa?
Apakah dia seorang bangsawan?
Dia bukan siapa-siapa, tidak perlu dibuatkan nisan! Hanya angin yang tahu siapa dia, bakar saja mayatnya hingga jadi abu
Sungguh luas padang waktu.
Sungguh hitam padang malam.
Sungguh panjang padang kata-kata.
Duhai Bang Goen, jika engaku menulis ini sambil memeras tinta dari luka hati yang menganga.
Aku seorang,hanya bisa menitikan air mata ….