Sajak Bertold Brecht
TAK PERNAH KAU KUCINTA SEDALAM ITU
Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,
Dan bintang memutih di barat itu
Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun
Di jalan iseng ke kelam nasibku
Sementara wajah-wajah di belakang itu
Berangsur memucat di hutan biru
Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,
Dengan pekik lapar di gelap itu
[Judul asli: Ich habe dich nie je so geliebt...
Penerjemah: Goenawan Mohamad]
keren.. salut dengan ketajman bahasa yang diterjemahkan. terutama makna yang muncul. bravo.
saya pernah baca antologi puisi brecht yang telah diindonesiakan, berjudul zaman buruk bagi puisi. dalam antologi itu seolah-oleh puitika brecht dibangun atas “ruangluar” manusia, barangkali saya salah menafsirkan atau sengaja penerjemah memilih sajak-sajak yang demikian. dalam terjemahan Pak Goen sajak Brecht ternyata menyuguhkan nuansa batin yang sublim dan yang pasti Indah.
Saat pertama kali membaca terjemahan ini, saya langsung ingat dengan “Asmaradana”. Latarnya sama: saat-saat perpisahan dan berlangsung di malam hari.
Bedanya, jika “Asmaradana” dikarenakan Damarwulan mesti pergi berperang dan pasti akan kalah, sementara dalam sajak Brecht ini tak cukup jelas berpisah untuk apa, kendati kata “burung besar” bisa saja asosiatif dengan “burung gagak” alias “burung el-maut”.
Rangkaian kalimat/baris yang penuh dengan huruf “U”, termasuk di akhir sajak ini, juga mengingatkan saya pada deretan huruf “U” pada akhir setiap baris dari bait terakhir “Asmaradana”.
Tapi, ingatan saya yang langsung meluncur ke “Asmaradana” di saat pertama membaca terjemahan ini lebih terutama karena ada kata “adikku” di situ.
:D
aha,
punya web juga ya om. oke deh kalau begitu. saya sempatkan mampir deh sekali-sekali kalau nganggur.
membaca sajak brecth, seperti membaca sajaknya GM: mengguris hati!
saya salah seorang pengagum om gunawan sekaligus juga karya2 bertolt brecht.
sebagai seorang mahasiswa satra, saya sangat kagum akan hasil terjemahan dari om gunawan ini. tapi sayang, sebenarnya saya sangat ingin melihat text asli dari karya yang diterjemahkan, namun ternyata tidak terdapat di sini.
:) indah sekali ya sajak ini…