Puisi • Senin, 1 Februari 2010 @ 03:42 diunggah oleh zen

Februari

“Lewat, lewat,” seseorang berkata sopan
kepada Waktu. Tapi dingin
menyetopnya, kota
menutup pintu

Gedung-gedung masih mencoba
menyebutkan nama mereka
kepada gelap. Tapi sejak Jalan 108
tak ada lagi percakapan

Bulan sepucat margarin dan
tak bersuara.
Langit tak meleleh.
Rambu dan lampu

membentuk
deret huruf Mesir,
dan pada kilometer ke-enam
ada sinar terakhir,

mungkin terlontar
ke tengah selat:
cahaya yang sepelan
penari menirukan angsa

“Lewat, lewat,” seseorang berkata lagi
kepada Waktu.
Tapi laut menyedotnya dan
menit membiru.

Kekal pun singgah sebentar
dan kota
mendengarkan Ajal,
dari jauh,

seperti terompet pemburu…

2004

—————————————————-
Dicuplik dari Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004], hal. 210-212.

Beri Komentar