Buku, Puisi • Ahad, 15 Maret 2009 @ 01:36 diunggah oleh zen

Empat Sajak dalam “Manifestasi”

manifestasi_2

Antologi sajak Manifestasi ini diterbitkan pada September 1962 oleh penerbit Tinta Mas yang kala itu masih berkantor di Jl. Kramat Raya 60, Jakarta. Saat antologi ini terbit, Goenawan baru berusia 21 tahun. M Sarbini AFN, yang sajaknya juga termuat di sini, menjadi penyusun antologi ini. Sementara Ali Audah, sastrawan yang juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra berbahasa Arab, menuliskan kata pengantar.

Selain sajak-sajak Goenawan Mohamad, dimuat pula sajak karya Armaya, Djamil Suherman, Hartojo Andangjaja, Mohammad Diponegoro, M Sarbini dan M Yoesmanam. Total jenderal sajak yang dimuat di sini berjumlah 33 buah.

Salah satu sajak yang cukup populer yang muncul di antologi ini adalah sajak Hartojo Andangjaja berjudul Rakyat yang dibuka oleh dua baris berbunyi: “Rakjat ialah kita/djutaan tangan jang mengajun dalam kerdja…”

Goenawan sendiri menyumbang empat sajak yang semuanya berasal dari periode awal kepenyairannya. Empat sajak itu masing-masing berjudul: Expatriate, Almanak, Meditasi dan Dimuka Djendela (di situ aslinya memang tertulis “dimuka”, bukan “di muka”). Kecuali sajak Almanak, tiga sajak lainnya sudah lebih dulu tayang di Majalah Sastra yang diasuh oleh HB Jassin.

Oleh penyusun antologi ini, sajak Expatriate ditaruh lebih dulu dibanding tiga sajak Goenawan yang lain. Bagian terbesar dari sajak Expatriate berisi pemerian suasana saat “Aku-lirik” meninggalkan tanah kelahirannya. Momen-momen itu diuraikan dengan ritme yang pelan, sehingga pembaca penaka menyaksikan adegan perpisahan yang diputar-ulang dengan teknik slow-motion. Menariknya, sajak Expatriate malah ditutup dengan sebuah bait yang justru mempertanyakan nasib dari tanah kelahiran yang ditinggalkan, bukan ketidakpastian nasib dari “Aku-lirik” yang meninggalkan.

Sekitar satu dasawarsa kemudian, dalam bagian-bagian awal esai Potret seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kunang, Goenawan menuliskan ulang pilihan “meninggalkan” tanah kelahiran itu dengan lebih artikulatif sebagai pintu masuk untuk menjelaskan pilihan menjadi seorang penyair yang sepenuhnya menulis dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa atau dialek kampung kelahirannya.

Di bawah ini dimuat ulang sajak Expatriate dengan tak mengubah sedikit pun, termasuk ejaannya yang masih menggunakan langgam ejaan lama.

EXPATRIATE

Akulah Adam dengan mulut yang sepi
Putera surgawi
Jang damai, terlalu damai
Ketika bumi padaku melambai

Detik-detik bening
Memutih tengah malam
Ketika lembar-lembar asing
Terlepas dari buku harian

Dan esoknya terbukalah gapura:
Pagi tumbuh dalam kabut itu juga
Ketika engkau pergi
Bersenjum usia sunji

Langkah akan bergegas antara pohonan lengang
Bersama bajang-bajang unggas, bersama awan
Sementara arus hari
Menyjusup-njusup indera ini

(Adakah jang lebih tak pasti
Selain tanah kelahiran
Jang ditinggalkan pergi
Anak tersajang)

Bookmark and Share

Beri Komentar