Puisi • Selasa, 7 September 2010 @ 09:29 diunggah oleh zen

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Bookmark and Share

13 Komentar

  1. rehan

    bagus. puisi yang ini baru baca pertama kali. :D

  2. patta hindi

    ijin link di fb mas Goen…

    puisinya menggetarkan…

  3. joe

    Di beranda ini angin tak kedengaran lagi

    i like that…

  4. belalangtua

    ada yang mulai sesak nafas

  5. ochie

    my fav

  6. andi

    puisi yg sangat indah, layak disanding dengan Rilke, Dylan…

  7. mas trie

    puisi ini favorit saya pd waktu msh SMA th 86. Sekarang waktu saya baca lagi terasa ada sesuatu yang hilang. Ini cuma penasaran saja, kalau nggak salah bait pertama baris ke empat bunyinya “Kudengar musim mendesak ke arah kita”, bukan “Kudengan angin mendesak ke arah kita”. Maaf kalau saya salah, cuma penasaran kok.

  8. matahari matahatiku

    seirama dengan hati saat ini… mohon izin share di facebook…

  9. Okky Fajar Trimaryana

    Suka

  10. idrus bin harun

    ditulis tahun 66. aroma masa terasa sampai sekarang. ke indera kami yang mabuk polusi…

  11. Buchori

    Mohon izin, puisinya saya ambil untuk kliping.

  12. Tafi La Qumal

    Puisi ini pertama saya dengar di film Telegram (sudjiwo Tedjo) saya suka kata-katanya… dalam banget

  13. Eko Redjo S.

    Siswa saya suka mambahasnya berlama-lama.

Beri Komentar