Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita
Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba
Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada
1966
bagus. puisi yang ini baru baca pertama kali. :D
ijin link di fb mas Goen…
puisinya menggetarkan…
Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
i like that…
ada yang mulai sesak nafas
my fav
puisi yg sangat indah, layak disanding dengan Rilke, Dylan…
puisi ini favorit saya pd waktu msh SMA th 86. Sekarang waktu saya baca lagi terasa ada sesuatu yang hilang. Ini cuma penasaran saja, kalau nggak salah bait pertama baris ke empat bunyinya “Kudengar musim mendesak ke arah kita”, bukan “Kudengan angin mendesak ke arah kita”. Maaf kalau saya salah, cuma penasaran kok.
seirama dengan hati saat ini… mohon izin share di facebook…
Suka
ditulis tahun 66. aroma masa terasa sampai sekarang. ke indera kami yang mabuk polusi…
Mohon izin, puisinya saya ambil untuk kliping.
Puisi ini pertama saya dengar di film Telegram (sudjiwo Tedjo) saya suka kata-katanya… dalam banget
Siswa saya suka mambahasnya berlama-lama.