Asmaradana
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.
Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
—————————————–
Ketika penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia pada 1992 menerbitkan antologi yang merangkum dua antologi sajak Goenawan sebelumnya (”Parikesit” dan “Interlude”), “Asmaradana” dipilih sebagai judul antologi. Sajak “Asmaradana” sendiri sebelumnya sudah muncul dalam antologi berjudul “Interlude”.
Berikut penuturan singkat Goenawan tentang sajak ini, seperti yang bisa disaksikan dalam film dokumenter berjudul “Potret Penyair sebagai ‘Si Malin Kundang’” yang diproduksi oleh Yayasan Lontar.
“…’Asmaradana’ ini berdasar sebuah opera Jawa, (yang mengisahkan) tentang Damarwulan, yang salah satu bagiannya, dalam bentuk tembang asmaradana. (Kisah ini) sangat bagus bagi saya. Damarwulan mengucapkan selamat tinggal pada Anjasmara, kekasihnya, karena dia mau berangkat perang dan dia tahu akan kalah. Saya bertolak dari sana. Dan kemudian sajak ini berkembang sendiri, tentu saja. Tentang perpisahan, tentang kefanaan, dan tentang –barangkali– persiapan kita menghadapi semuanya.”
Bagi mereka yang berjalan menuju mati, akan mendengar desah nafas kematian dalam kegelapan. Akan merasakan kehadirannya dalam sepi yang absolut.
Epic yang sangat menarik, salut buat GM…
Mohon izin saya kopi di blog dan saya kaji.
Terima kasih…
Mohon Izin saya kopi di word, sebagai kenang-kenangan yang sangat berharga
Mohon Izin saya kopi di word, sebagai kenang-kenangan yang sangat berharga.
Terimakasih Abang Goen ….
ah.. masih bagusan puisi saya.. yang berjudul.. asmara dua kelamin
saya copy untuk materi selekda jogja
mohon ijin…saya copy di word buat tugas analisis
Saya sering merinding setiap kali membaca bagian yang saya ingat dari sajak ini.
Th 1976, saya dapati di buku catatan teman Solo yang sama2 pernah ngolong di rumah adat Palembang: Suwarso Warsadi(SW) namanya.
Awalnya saya hafal, bahkan bisa menyerap getaran kisah itu.
Hampir setahun lalu, si teman itu, setelah puluhan tahun pisah, mampir dalam perjalanan pulang dari mudik/ Solo.
Setelah selasai kangen2an, saya ingat sajak ini.
Saya: So, kau masih hapal Asmaradana?
Saya wis banyak yang lupae, bait2nya!
SW : Oh, aku malah sudah tak sempat kepikiran sajak itu…, malah kamu yang….
(tak diteruskan jawaban itu, karena perasaan surprise yang tercermin dari mimiknya begitu dalam dan entah karena ingat apa, matanya berkaca-kaca).
Setelah ngobrol sana-sini, tanpa melanjutkan bab Asmaradana itu, akhirnya dia pamit melanjutkan perjalanan ke Jakarta sebelum akhirnya terbang ke Palembang.
Kira2 setelah 45 menit meninggalkan rumah saya, ada sms masuk yang isinya bait2 Asmaradana,nyaris lengkap.
Hanya sebaris yang mungkin hilang sesaat dari ingatannya, yakni: “………Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan”.
Sekarang tak simpan di Folder HP saya.
Just sharing apresiasi.
eska.