Pidato • Senin, 2 Maret 2009 @ 12:17 diunggah oleh zen

Internet dan Kreativitas

fresh_3

Petikan ceramah dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Fresh atau Freedom Sharing di Salihara, 23 Februari 2009.
Dalam gambar: Goenawan Mohamad dan Budiono Darsono.
Foto:
Zen R.S.

 

Saya membaca beberapa blog dan beberapa di antaranya membuat saya terkesan. Beberapa dari mereka tulisannya makin bagus. Bahkan dalam facebook pun sebenarnya banyak catatan yang layak dibaca. Ulil Absar Abdalla, yang sepertinya lebih banyak menulis di facebook daripada belajar [dengan nada kelakar, red], mengatakan hal itu pada saya beberapa waktu lalu.

Saya tertarik fenomena ini karena saya tahu bagaimana susahnya mengajari orang menulis sewaktu masih aktif di Tempo. Saya tidak tahu apakah ini menandakan makin tumbuhnya tradisi tulis atau lebih karena interaksi di antara sesama blogger dalam memberi komentar yang membuat beberapa tulisan blogger makin bagus.

Tapi, saya percaya, beberapa tahun ke depan, tidak sekarang, mungkin sepuluh tahun lagi, makin banyak orang yang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis karena blog.

Saya kira, internet memang punya peluang untuk membiakkan kreativitas. Kreativitas merupakan impuls pertama ketika kita ingin melakukan sesuatu yang belum tentu baru tapi kita belum pernah melakukannya. Tentu makin baik kalau yang diciptakan itu sesuatu yang baru, kendati setiap karya yang dianggap baru sekali pun tetap saja menyimpan jejak dari bentuk-bentuk yang lama. Jika pun tidak ada yang baru, ya… gak masalah, karena sekarang ini tidak begitu penting orisinalitas, melainkan kreativitas.

Dan ini dimungkinkan melalui internet karena di situ tidak ada otoritas tunggal yang bisa mengarahkan, bahkan keyakinan-keyakinan menjadi tentatif, sehingga pencarian-pencarian terus berlangsung. Pendapat saya bisa dengan mudah dibantah, ditertawakan, dicemooh oleh banyak orang sekaligus.

Di facebook, misalnya, orang seringkali bergurau dan kadang kurang ajar. Kurang ajar itu penting bagi kreativitas. Karena dia bisa mencari yang baru, bisa dengan mudah menggugat yang lama. Jadi, marilah kita kurang ajar. Tentu, dalam interaksi itu, tak membuat kekurangajaran otomatis menjadi produktif, tapi ada satu dua yang memang membuat kreatif.

Saya sendiri kalau lelah menulis memilih bergurau. Dan di facebook, ada seseorang yang secara rutin membuat koran digital yang hanya sehalaman dengan nama The Fesbuqiyah Telegraph. Koran itu lucu sekali. Ini sekali lagi menunjukkan kreativitas yang lahir karena interaksi di dunia maya yang bebas dari pengaturan, karena kreativitas memang hanya mungkin lahir jika tidak diatur-atur.

Mungkin benar bahwa segala interaksi di internet atau komunitas berbasis internet itu bersifat virtual. Tapi, bahkan, dalam komunitas yang dianggap riil sekali pun, bukan berarti benar-benar faktual, karena seringkali di situ imajinasi berperan besar sekali. Kita membayangkan sebagai bagian dari komunitas Jakarta, misalnya, tapi benarkan ada komunitas macam itu? Indonesia juga dibangun karena imajinasi. Tentu saja imajinasi ini terus dipertahankan (kadang) dengan berdarah-darah.

Tapi ini penting. Karena kreativitas memang membutuhkan imajinasi. Dari situ bentuk-bentuk lama yang mapan bisa di-re-create, misalnya. Hal-ihwal yang sebelumnya dianggap “selesai” bisa kembali dibicarakan. Bahkan, termasuk identitas.

Di internet, misalnya lagi-lagi facebook, identitas memungkinkan untuk dipahami secara tentatif, bukan definitif, apalagi beku dan kaku. Orang bisa nampang di hadapan banyak orang dengan berganti-ganti wajah, mengubah-ubah foto profil, mempermainkan status. Ini mungkin ada efek buruknya, tapi dalam politik identitas yang keras, situasi ini bagus karena bisa menjadi medium bagi siapa saja untuk memahami bahwa identitas itu bisa bergerak dengan cair, dapat berubah-ubah, terus bergerak, terus menjadi.

5 Komentar

  1. melao kamisama

    identity is hybrid..

    always in a process…

  2. Santri Mbeling

    Setuju: kreativitas akan terus menemukan yang baru karena kreatifitas bukanlah “titik penghabisan.” Tetapi, “koma yg berkelanjutan.” Namun, sayang sekali orang-orang yg se-im-an dengan saya tidak menyadari (semoga tidak pura-pura sadar). Ironisnya mereka memasung kreativitas, innalillahi wa innailaihi rajiun; saya berbela sungkawa.
    Padahal Islam mengakui hak untuk ber-krea-ti-fi-tas. Salah satu contohnya kaidah fikih: al adah muhakkamah. Jelas sekali dasar formulasi hukum Islam itu mengakui bahwa kreativitas merupakn keniscayaan–bila agama ini ingin tetap eksis.
    Kalau GM berteriak: marilah kita berkurang ajar. Maka, izinkan saya berceloteh: mari mbeling bersama saya.

  3. anonymous

    sangking impulsenya kreativitas di internet… bikin jantung orangtua berdetak cepat melihat kreativitas pornoaksi “orang timur” tervisualkan… denyut zaman, ngkali ya???

  4. Erwan

    Selalu ada sisi gelap setiap teknologi yang dihasilkan oleh peradaban manusia. Tapi saya yakin, masyarakat akan semakin dewasa.
    Saya akhir-akhir ini menemukan anak-anak muda yang sangat bijak menggunakan teknologi ini. Mereka lebih bijak dari saya dan teman-teman saya saat seumuran mereka.

  5. Gus Rachmat

    Salut deh mas Gun.
    Walau sudah brewokan putih, tapi tulisannya masih renyah dan gurih untuk dikunya, perlu, dan dicermati. Tapi kasekten dan kewaskitoaannya kok sekarang jarang dilepas lagi untuk berpetualng membangun atmosfeer kebebasaan, keluguan, kekurangajaran yang beretika dan lain semuanya???

    Sekaliyan mohon ijin ya untuk mengutip beberapa naskah mas gun buat web saya. Swun sebelumnya

    Very Regrads
    Gus Rachmat

Beri Komentar