Perihal
Situs web Goenawan Mohamad (GM) ini dikelola oleh sebuah tim, di dalamnya termasuk GM. Penambahan isi ada yang ditulis sendiri oleh GM, dan ada pula yang dilakukan oleh tim, terutama untuk naskah lama.
Tim yang dibentuk oleh semangat perkawanan ini ingin agar sejumlah karya GM terselamatkan. GM mengakui ada bebarapa naskah, termasuk buku, yang tidak berada di tangannya lagi. “Nggak tahu pada ke mana itu,” ujarnya suatu siang di kedai Salihara, Jakarta Selatan.
Selain untuk kepentingan sendiri, dalam arti mendokumentasikan karya dengan cara yang mudah diakses, situs web ini merupakan bagian dari upaya GM untuk membayar utang kepada internet – entah kapan lunasnya. Mengapa dia sampai merasa berutang?
Ini alasan saya: “Pada suatu hari, saya ingin mengutip sebuah sajak Toto Sudarto Bachtiar yang terbit di tahun 1955. Buku puisi itu sudah tak ada lagi di almari saya. Saya coba cari di internet – dan ternyata saya berhasil mendapatkannya di sana!
Saya tepekur. Seseorang telah memasang sajak-sajak Toto Sudarto Bachtiar di dunia maya. Saya tak tahu siapa dia. Tapi saya telah berutang budi kepadanya, kagum kepada niat dan kerjanya. Sejak itu saya ingin melakukan yang sama. Kalau saya pasang tulisan di internet, saya akan memudahkan orang untuk mendapatkannya – dan siapa tahu akan ada seseorang yang terbantu.”
(Surat GM kepada Antyo Rentjoko melalui Facebook, 3 Februari 2009).