<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Goenawan Mohamad</title>
	<atom:link href="http://goenawanmohamad.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://goenawanmohamad.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 17:15:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Enam Diktum Goenawan</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/esei/enam-diktum-goenawan.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/esei/enam-diktum-goenawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 17:15:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[DI MANAKAH letak nilai puisi? Yaitu, antara kemampuannya berkomunikasi dengan pembaca dan bagaimana dia bisa menjadi ajang si penyair untuk unjuk gaya; Antara puisi terang-benderang dan puisi gelap; Antara puisi yang selempang pengumuman dan puisi yang rumit tak dimengerti; Antara puisi yang terlalu menghamba pada pembaca dan puisi yang tak peduli pada pembaca. 
Ada rumusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI MANAKAH letak nilai puisi? Yaitu, antara kemampuannya berkomunikasi dengan pembaca dan bagaimana dia bisa menjadi ajang si penyair untuk unjuk gaya; Antara puisi terang-benderang dan puisi gelap; Antara puisi yang selempang pengumuman dan puisi yang rumit tak dimengerti; Antara puisi yang terlalu menghamba pada pembaca dan puisi yang tak peduli pada pembaca. </p>
<p>Ada rumusan sangat bagus dari Goenawan Mohamad soal nilai puisi dan bagaimana puisi harus bisa berkomunikasi dengan pembaca. Saya [<em>baca: <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com/2007/04/enam-diktum-goenawan.html">Hasan Aspahani</a></em>] menyimpulkannya dalam enam butir dan memberi penjelasan &#8212; tepatnya penafsiran semampunya &#8212; sebagai berikut ini:</p>
<p><em>Pasal 1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.</em></p>
<p>Penjelasan: Penyair percaya bahwa pembaca puisinya bisa menerima bahkan menikmati puisi dan pesan yang ada dalam puisinya. Niat awal dari penyair adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan pembacanya lewat puisi, bukan sekadar unjuk gaya, berakrobat kata-kata. Ini tentu saja bukan sebuah komunikasi yang praktis, seperti komunikasi kita dengan penjaga kios rokok di tepi jalan, ketika kita ingin beli rokok.</p>
<p><span id="more-296"></span><em>Pasal 2. Prestasi kepenyairan yang matang mencerminkan suatu gaya, setiap gaya mencerminkan suatu kepribadian, setiap kepribadian tumbuh dan hanya bisa benar-benar demikian bila ia secara wajar berada dalam komunikasi. </em></p>
<p>Penjelasan: Pencapaian penyair tidak diukur dari seberapa mudah atau seberapa susah puisinya berkomunikasi dengan pembacanya. Puisi harus secara wajar berkomunikasi. Komunikasi itu adalah kemutlakan karena puisi bukan seperangkat kata untuk tebak-tebakan juga bukan rumus kode judi buntut. Prestasi penyair atau kematangan penyair tercapai apabila penyair bisa memeragakan gaya ucap yang khas dalam puisi-puisinya. Gaya ucap itu pun harus tumbuh secara wajar, bukan gaya yang sekadar beda dari gaya penyair lainnya.</p>
<p><em>Pasal 3. Sajak yang mencekoki pembaca, atau menyuruh pembaca menelan saja pesan yang hendak disampaikan atau yang dititipkan lewat penyair adalah sajak yang tidak pantas dihargai. </em></p>
<p>Penjelasan: Komunikasi dalam sajak adalah komunikasi yang iklas dan wajar. Bukan komunikasi yang memaksa. Penyair tidak lebih tinggi posisinya di hadapan pembaca. Penyair bahkan tidak berada di hadapan pembacanya. Ia bersisian dengan pembacanya. Karena itu sajak yang memaksa &#8212; dengan demikian juga penyair yang menuliskan sajak itu &#8212; tidak pantas mendapat penghargaan.</p>
<p><em>Pasal 4. Penyair dan pembacanya berada dalam sebuah ruang kebersamaan yang meminta banyak hal serba terang, sebab dengan demikian terjamin kejujuran, dan penyair tidak sekedar menyembunyikan maksud sajaknya bagi dirinya sendiri.</em> </p>
<p>Penjelasan: Penyair bukanlah orang yang berada pada posisi untuk mengelabui pembaca puisinya. Penyair bukan seorang yang mengacaukan kepingan fuzzle untuk disusun kembali menjadi gambar yang utuh oleh pembacanya. Penyair adalah ibarat pelukis. Dia bisa melukis obyek dengan gaya abstrak, realis, atau figuratif. Lalu dia memasang lukisannya di ruang pameran. Pembaca adalah orang yang mengamati dan menikmati lukisan itu tanpa dihalang-halangi oleh garis pengaman dan dengan pencahayaan yang cukup. Tentu saja si pelukis boleh saja menyimpan sendiri maksud atau niat awal yang menggerakkannya melukis obyek lukisannya. Tapi bukan itu yang membuat lukisannya bernilai. Pelukis harus bergirang hati dan ikhlas menerima tafsir yang bebas dan bermacam-macam dari penikmat lukisannya. Lukisan yang baik seharusnya selalu menggerakkan hati siapa pun untuk menikmati dan memaknai.</p>
<p><em>Pasal 5. Akrobatik kata-kata untuk dengan sengaja membikin gelap suatu maksud sajak menunjukkan tidak adanya kejujuran, yang pada akhirnya tidak lagi dipercaya pembacanya dan kemudian ia pun tidak lagi percaya pada dirinya sendiri</em>. </p>
<p>Penjelasan: Penyair dan sajaknya memang diberi lisensi puitika untuk menyimpangkan, menciptakan, dan menggandakan arti dari gramatika yang lazim. Tapi jurus-jurus itu dipakai untuk membuat asyik dan menarik komunikasinya dengan pembaca, bukan sekadar sengaja bikin gelap dan membuat pembacanya merasa bodoh dan tak berdaya. Kebanggaan penyair bukanlah apabila sajaknya susah dimengerti oleh pembaca.</p>
<p><em>Pasal 6. Penyair harus meletakkan sajaknya di antara &#8220;kegelapan-supaya-tidak-dimengerti&#8221; dan &#8220;tidak-menjejalkan-segala-galanya-kepada-pembaca&#8221;, tanpa mengaburkan batas antara kedua hal itu. </em></p>
<p>Penjelasan: Ada titik di ujung kanan, dan titik lain di ujung kiri. Di antara kedua titik itulah penyair harus meletakkan sajaknya. Tidak pernah ada titik yang pasti. Proses menyair adalah percobaan yang terus-menerus. Ada percobaan yang berhasil, ada yang nyaris berhasil, dan ada yang gagal. Penyair hanya harus menyadari ada dua titik itu dan harus pula ia sadar akibat-akibat yang bisa kena pada puisinya bila ia melampaui titik itu.</p>
<p><em>* Disarikan oleh <a href="http://sejuta-puisi.blogspot.com">Hasan Aspahani</a> dari &#8220;Pada Mulanya adalah Komunikasi&#8221; tulisan Goenawan Mohamad dalam buku &#8220;Kekusastraan dan Kekuasaan&#8221;, PT Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/esei/enam-diktum-goenawan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bedtime Story</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/puisi/bedtime-story.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/puisi/bedtime-story.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 14:47:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/puisi/295.html</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The lizards, my love, are talking about us.
Nonsense, in other words.&#8221;
So said the king to his queen that night.
The passion of bed sated,
silence slipped between bones and sheets.
&#8220;Why not believe me? Your dreams shall convince you
as surely as the morning sun.&#8221;
The woman broke into tears when Anglingdarma drew up
the seets to cover again her naked [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;The lizards, my love, are talking about us.<br />
Nonsense, in other words.&#8221;</p>
<p>So said the king to his queen that night.<br />
The passion of bed sated,<br />
silence slipped between bones and sheets.</p>
<p>&#8220;Why not believe me? Your dreams shall convince you<br />
as surely as the morning sun.&#8221;</p>
<p>The woman broke into tears when Anglingdarma drew up<br />
the seets to cover again her naked breasts; his breath cold<br />
while he kissed her hair.</p>
<p>At morning&#8217;s light she tjrew herself upon the burning pyre.</p>
<p>And His Majesty did discern a way to force him to<br />
take flight &#8211;with the help of gods<br />
no one knew from whence they came&#8211; a way to be untrue.</p>
<p>&#8220;Batik Madrim, Batik Madrim, why, then, O Vizier?<br />
Why should one hold constancy more dear than<br />
life and so on and so forth?&#8221;</p>
<p>1971</p>
<p>Translator: <a href="http://publicculture.org/people/view/nancy-florida/">Nancy Florida</a></p>
<p>———————————————————<br />
Taken from Selected Poems, <em>Puisi Pilihan: Revised and Expanded</em> [Kata Kita: 2004]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/puisi/bedtime-story.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng Sebelum Tidur</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/puisi/dongeng-sebelum-tidur.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/puisi/dongeng-sebelum-tidur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 14:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.
&#8220;Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.&#8221;
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.<br />
Yaitu nonsens.”</p>
<p>Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.</p>
<p>&#8220;Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.&#8221;</p>
<p>Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali<br />
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.</p>
<p>Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.</p>
<p>Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri &#8211;dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana&#8211; untuk tidak setia</p>
<p>&#8220;Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?&#8217;</p>
<p>1971</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/puisi/dongeng-sebelum-tidur.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Suatu Hari, Ikarus</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/esei/pada-suatu-hari-ikarus.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/esei/pada-suatu-hari-ikarus.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 14:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.</p>
<p>Mitologi Yunani itu tak bercerita apa yang yang terjadi ketika ia terhempas ke permukaan ombak. Tapi, di tahun 1555, Brueghel Yang Tua melukis adegan itu. Dalam <em>Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus</em>, perupa termasyhur Belanda abad ke-16 itu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya.<br />
 <br />
Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi. Di bagian depan, seorang petani menggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bertelekan pada tongkat tampak melihat ke langit jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di sebelah kanan, tampak punggung seorang yang duduk ke arah teluk, mungkin memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air –sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.</p>
<p><span id="more-293"></span>Dalam <em>Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus</em>, hidup yang normal tampaknya tak terguncang oleh nasib seseorang yang tengah terbanting dan direnggut Maut. Apakah yang hendak diutarakan kanvas itu sebenarnya: bahwa yang terjadi bukanlah sebuah tragedi, melainkan sesuatu yang lucu seperti badut yang tergelincir kulit pisang? Tak berhargakah jiwa anak itu, apa pun kesalahannya? </p>
<p>Pertanyaan itu memang mengusik. Dua orang penyair melihat karya Brueghel yang tergantung di museum seni rupa di Brussels itu dan mereka tergerak menulis sajak. Dari William Carlos Williams kita temukan baris-baris pendek seperti telegram, seakan-akan gambaran faktual yang disajikan tanpa gerak emosi. Seluruh sajaknya mengisyaratkan suasana acuh tak acuh –dan kita pun merasakan sebuah gugatan yang tersirat terhadap sebuah tragedi yang dibiarkan berlalu tanpa arti.</p>
<p>Sajak W.H. Auden, dalam <em>Musee des Beaux Arts</em>, memakai kalimat yang lebih panjang, dan dengan protes yang lebih diungkapkan:</p>
<blockquote><p>Penggaru ladang itu<br />
Mungkin mendengar suara terhempas itu, teriak yang diabaikan itu<br />
Tapi baginya, itu bukan satu kegagalan penting</p></blockquote>
<p>Juga kapal yang apik dan mahal itu tentunya melihat “sesuatu yang menakjubkan” –seorang anak jatuh dari langit – tapi toh berlayar terus dengan tenang; “ada pelabuhan yang harus dijelang”.</p>
<p>Pada akhirnya lukisan Brueghel adalah contoh dari yang hendak dikemukakan Auden tentang penderitaan. Penderitaan, kata sajaknya, berlangsung, “sementara seseorang makan, atau membuka jendela, atau cuma berjalan-jalan, seperti alpa”. Anak-anak “berselancar di permukaan es di sebuah kolam di tepi hutan”, sementara “<em>the dreadfull martyrdom must run its course</em>” – “mati syahid yang ngeri itu harus berjalan di arahnya”.</p>
<p>Tapi benarkah Braughel, seperti dikira Auden, menggugat ketidakacuhan itu? Ataukah ia malah merayakannya? </p>
<p>Jika diperhatikan, lukisannya memaparkan sebuah lanskap yang seakan-akan disaksikan dari atas, dari langit. Mungkin bagi seorang yang hidup di abad ke-16, di panorama itu tak ada yang harus dipersoalkan. Ia hidup ketika agama jadi percakapan pokok dan bunuh-membunuh terjadi karena percakapan itu: setelah 1550, perang atas nama iman meletup di mana-mana di Eropa antara orang Katolik dan Protestan. Di masa seperti itu, orang akan mengatakan bahwa “langit” memandang nasib Ikarus sebagai insiden yang tak luar biasa. Ketika kita hanya bicara tentang surga dan keabadian, ketika segala rupa dan peristwa di dunia sepenuhnya dilihat dari tahta di atas yang kekal, apa arti kesengsaraan manusia? Pentingkah bencana dan kematian?</p>
<p>Barangkali bagi Brueghel, nasib malang Ikarus, kisah seorang anak muda yang terbang dan tak sampai, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari: ada petani yang bekerja dan kapal yang berniaga, tapi ada pula orang yang berikhtiar tapi gagal. Atau mungkin Ikarus sebuah contoh kesia-siaan manusia yang takabur dan lupa berhati-hati. Maka bila ia terjerembab dan mati, biarlah. </p>
<p>Mungkin bagi seorang dari abad ke-16, hidup lebh baik dijalani dengan menerima kenikmatan yang ada, seperti penggembala yang mensyukuri musim yang jernih. Atau lebih baik hidup ditempuh dengan kerja yang jujur, dengan membajak bumi dan mengarungi laut. </p>
<p>Kenapa Ikarus tak meniru penggaru yang tekun, penggembala yang sabar, dan saudagar yang makmur di kapal itu? Kenapa ia harus melanggar kodrat manusia yang sudah ditetapkan, yakni bahwa ia bukan unggas?</p>
<p>Kita di abad ke-21, tentu bisa berkata: kodrat manusia tak bisa dirumuskan begtu saja. Ketika kita merasa berhasil merumuskannya, jangan-jangan kita melenyapkan kemungkinan orang untuk berbeda –sehingga siapa saja yang berlainan dari “kodrat” itu akan kita sebut “bangsat” atau “kunyuk”, dan kita basmi.</p>
<p>Atau kita akan terkecoh: dengan merumuskan “kodrat” atau “hakikat”, kita tak menduga suatu ketika manusia akan mampu menembus rumus itu. Ikarus memang gagal, tapi seandainya tak pernah ada orang yang berani mencoba terang, memerdekakan diri dan jadi “ganjil”, dunia akan tetap seperti abad ke-16. Tak akan ada Wright Bersaudara, dua orang Amerka yang di tahun 1903 dengan sebuah mesin bisa terbang selama 10 menit di sebuah lapangan di North Carolina –dan dengan itu membuka jalan manusia untuk menjelajah, seperti burung, bahkan lebih dari burung, hingga angkasa tak menakutkan lagi.</p>
<p>Pernah terpikir oleh saya, apa gerangan jadinya seandainya Ikarus, si tokoh mitologi, juga berhasil. Mungkin panorama dalam kanvas Brueghel akan berubah: mungkin penuh sukacita, tapi mungkin juga resah. Sebab telah datang manusia yang mengalahkan alam, dimulai dengan melawan batas tubuhnya sendiri. Siapa yang mampu demikian akan berkuasa atas hal-hal lain. Ia akan melihat dirinya berdaulat dan penuh daya –sebuah gambaran manusia menurut humanisme.</p>
<p>Gambaran humanis ini memang mempesona: manusia jadi subyek yang bebas, yang bisa memutuskan bahwa dirinyalah pusat ukuran segala hal-ihwal. Tapi memudian orang sadar: ketika manusia menegakkan diri sebagai subyek yang otonom, ia sekaligus membuat yang di luar dirinya sebagai obyek yang tak otonom. Yang “sini” menaklukkan yang “sana”. Yang “sana” itu bukan saja langit, ladang, dan laut. Pada gilirannya juga pada peladang dan pelaut dan siapa saja yang dianggap tak cukup layak jadi “manusia”.</p>
<p>Itulah yang memang terjadi, bahkan sebelum mesin terbang ditemukan. Citra manusia yang serba kuat dan berdaulat itu diperkukuh oleh mereka yang tak hanya menggaru ladang, tapi juga membangun kota, tak hanya menggembala, tapi juga mengukur cuaca, tak hanya melintasi Laut Aegea, tapi menemukan ilmu, mengembangkan seni, memenangi perang.</p>
<p>Di sana kita lihat profil manusia “Eropa”. Sebuah peradaban yang dahsyat terbentang, tapi juga kolonialisme. Sang Penakluk ujung dunia akhirnya memandang mahluk yang ditaklukkan di ujung itu “belum-manusia”: mereka yang layak dihabisi, atau ditindas, atau, dalam kata-kata Franz Fanon, pemikir anti-kolonialisme Aljazair, “diundang untuk jadi manusia”. Dengan kata lain, dunia sang terjajah harus dibentuk agar mengikuti prototipe “manusia” yang disusun oleh dunia borjuis “Barat”.</p>
<p>Tapi Perang Dunia ke-II yang kejam pecah dan kolonialisme goyah, lalu runtuh. Dari segala penjuru datanglah kritik kepada humanisme. Terkadang berlebihan. Terkadang orang lupa bahwa ide tentang manusia sebagai subyek yang otonom itu juga yang mendorong orang-orang terjajah melawan. Di Asia, Afrika, dan di Amerika Latin mereka tak lagi menerima anggapan bahwa si terjajah adalah kategori “sana” yang “belum manusia”, mahluk “terbelakang” yang tak berdaya. Mereka melawan, mungkin memilih Ikarus –tentu saja Ikarus yang berhasil—sebagai lambang, sebab mereka juga ingin lepas dari penjara, terbang menembus kodrat, menguak takdir.</p>
<p>Tapi ada yang cemas, memang, akan ketakaburan manusia. Ada orang beragama yang kini mengecam humanisme seperti di zaman dulu orang mengecam Ikarus: sebuah contoh kepercayaan diri yang berlebihan, sebuah <em>hubris</em>. Kaum Kristen Kanan bahkan menyamakan “humanisme” dengan “titanisme”, pandangan yang menerakan sifat ke-maha-kuasa-an Tuhan pada manusia.</p>
<p>Mereka menolak itu, tentu. Bagi mereka, manusia tak bisa hadir sebagai subyek yang otonom. Ketidakpercayaan kepada manusia pula yang menyebabkan mereka, seperti halnya kaum fundamentalis dalam Islam, ingin agar Tuhan-lah yang menentukan tatanan hidup di bumi, dengan kata dan undang-undang yang pasti.</p>
<p>Tapi tidakkah itu juga sebuah bentuk ketakaburan antroposentris: dilengkapi dengan kata dan undang-undang, Tuhan tetap dimunculkan dengan manusia sebagai model dan ukuran? Tentu saja ukuran itu tak akan pernah pas. Tuhan lebih agung ketimbang kata dan undang-undang, naskah dan syariah. Kita ingat sayap Ikarus yang mencoba menggapai matahari; ia tak akan sampai….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/esei/pada-suatu-hari-ikarus.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tatal 52</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/esei/tatal-52.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/esei/tatal-52.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 14:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<category><![CDATA[aforisma]]></category>

		<category><![CDATA[tatal 32]]></category>

		<category><![CDATA[tuhan dan hal-hal yang tak selesai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.
Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. <em>Cerita Dewa Ruci</em> adalah salah satu variannya.</p>
<p>Dalam <em>Serat Cebolek</em>, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan. </p>
<p>“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.</p>
<p><span id="more-292"></span>Tapi tak lama kemudian si daif berubah. Kesendiriannya jadi awal kekuasaan. Dalam petuah Dewa Ruci, “aku”, subyek, bisa mencapai posisi yang benar ketika seluruh semesta berada dalam ampuanku. Penguasaan itu bukti bahwa manusia mahluk yang unggul, pusat makna, termulia dari segala yang jadi: <em>manusa tinitah luwih, apan ingaken rahsa, mulya dhewe saking kang dumadi</em>.</p>
<p>Dalam diri “manusia” yang digambarkan tembang Jawa inilah kita bertemu dengan subyek yang disimpulkan Descartes: ego yang berpikir, dasar yang sedasar-dasarnya yang mampu mengatasi keraguan dan keetidak-pastian. Kata penting dalam petuah Dewa Ruci adalah agar diri jadi “satu” (<em>siji sawujud</em>). Di luar subyek yang koheren itu, segala hal, juga tubuhnya sendiri, hanya ada secara tentatif. Yang pasti hanya “aku”.</p>
<p>Dan di tatapan subyek yang seperti itulah dunia tersaji bagaikan gambar –sebagai <em>weltbild</em>, untuk memakai kaa-kata Heidegger, dunia yang diringkus jadi obyek.</p>
<blockquote><p>…isining bumi<br />
ginambar angganira</p></blockquote>
<p>Demikianlah <em>res cogitans</em> mengambil alih peran. Subyek tampil terpisah dari dan bertahta di atas obyek. Seperti dilukiskan dalam <em>Cebolek</em>, ia merengkuh makro-kosmos dan mikro-kosmos sekaligus. “Engkau jadi dewa,” kata Dewa Ruci kepada Werkudhara. Syahdan, ruang pun bukan lagi khaos yang luas. Kini utara dan selatan dapat ditunjukkan.</p>
<p>Tak pelak lagi, cerita Dewa Ruci adalah sebuah imaji humanis. Ia menyambut kemampuan kognitif manusia untuk mengetahui dirinya, kemampuan <em>weruh ing anane dhewe</em>. Dengan itu manusia naik ke langit. Tanpa sayap ia merangkum seluruh jagad raya dan dirinya sendiri, <em>sawengkon jagad raya, angga wus kawengku</em>.</p>
<p>Maka aku-lah kepastian, penguasa dunia obyek, akulah pembentuk yang-lain, akulah dasar diriku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/esei/tatal-52.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The King&#8217;s Witch</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/naskah-pentas/291.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/naskah-pentas/291.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Naskah Pentas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/esei/291.html</guid>
		<description><![CDATA[
Opera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang. Goenawan Mohamad menuliskan libretto dengan penafsiran baru, juga sudut pandang baru, atas legenda yang sangat populer ini. Dipentaskan pada 1-2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, The King&#8217;s Witch tidak dipentaskan dengan aria (dialog yang dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/03lxvstpk0Y&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/03lxvstpk0Y&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>Opera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang. Goenawan Mohamad menuliskan libretto dengan penafsiran baru, juga sudut pandang baru, atas legenda yang sangat populer ini. Dipentaskan pada 1-2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, <em>The King&#8217;s Witch</em> tidak dipentaskan dengan aria (dialog yang dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara  bernyanyi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/naskah-pentas/291.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Di Muka Jendela</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/puisi/di-muka-jendela-2.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/puisi/di-muka-jendela-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: &#8211;Datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sini<br />
cemara pun gugur daun. Dan kembali<br />
ombak-ombak hancur terbantun.<br />
Di sini<br />
kemarau pun menghembus bumi<br />
menghembus pasir, dingin dan malam hari<br />
ketika kedamaian pun datang memanggil.<br />
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil<br />
dan sebuah kata merekah<br />
diucapkan ke ruang yang jauh: &#8211;Datanglah!</p>
<p>Ada sepasang bukit, meruncing merah<br />
dari tanah padang-padang yang tengadah<br />
di mana tangan-hatimu terulur. Pula<br />
ada menggasing kincir yang sunyi<br />
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua<br />
mencecah pelangi:<br />
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini<br />
ketika bangkit bumi,<br />
sajak bisu abadi,<br />
dalam kristal kata<br />
dalam pesona?</p>
<p>1961</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/puisi/di-muka-jendela-2.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Window</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/puisi/the-window.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/puisi/the-window.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:29:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Here
pine trees shed their leaves, and rolls of waves
are routinely cast off.
Here
the season sights on earth,
sand, cold, and night,
as peace summons as fitfully
the wind upon your shivering self.
And woods bloom
into distant spaces: Please come!
There rises a pair of hills, red and pointed
from bare fields
and parched land
where your heart reaches out. A solitary
windmill spins in the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Here<br />
pine trees shed their leaves, and rolls of waves<br />
are routinely cast off.<br />
Here<br />
the season sights on earth,<br />
sand, cold, and night,<br />
as peace summons as fitfully<br />
the wind upon your shivering self.<br />
And woods bloom<br />
into distant spaces: Please come!</p>
<p>There rises a pair of hills, red and pointed<br />
from bare fields<br />
and parched land<br />
where your heart reaches out. A solitary<br />
windmill spins in the gleam of sunset, and<br />
on the edge of the continent<br />
a rainbow spreads.<br />
Do not mortals return at this hour<br />
when the soil resurges,<br />
like a poem<br />
mute in words like crystal,<br />
enchanted, eternal?</p>
<p>1961</p>
<p>Translator: Laskmi Pamuntjak</p>
<p>———————————————————<br />
Taken from <em>Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded</em> [Kata Kita: 2004]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/puisi/the-window.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Komunisme</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/esei/setelah-komunisme.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/esei/setelah-komunisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 07:01:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, The Beautiful di tepi Sungai Neva, sore itu. 
Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, <em>The Beautiful </em>di tepi Sungai Neva, sore itu. </p>
<p>Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara dingin. Begitu musik tiup itu berhenti, pintu belakang bus terbuka, dan seorang kakek gemuk turun dengan logat New York: “Saya mau kasih mereka uang”. Lalu ia meletakkan sepuluh rubel di kotak penadah derma, di arah kaki pengamen. Lalu band pun melagukan <em>The Star Spangled Banner.</em>      </p>
<p>Itu tahun 1991. Di Rusia nampaknya orang sedang menjadikan negara kapitalisme besar abad 20, sebagai kiblat baru. Setidaknya, kiblat lama sudah dianggap runtuh. </p>
<p>Di akhir November 1991 itu buat pertama kalinya dalam sejarah, di Lapangan Merah di Moskow, Revolusi Oktober (yang menurut hitungan kalender internasional sebetulnya terjadi di bulan November) tidak diperingati. Tidak ada parade 7 November itu. Tidak ada pemimpin yang berdiri di panggung kehormatan, pentas batu pualam merah yang didirikan di atas musoleum Lenin. </p>
<p><span id="more-288"></span>Bahkan di St. Petersburg, di gereja St. Isaac, gereja tertinggi di dunia setelah gereja St. Petrus di Vatikan, diselenggarakan sebuah upacara keagamaan menurut ajaran Kristen Ortodoks. Hadir di sana Hertog Agung Romanov, keturunan Tsar Nicholas II, raja Rusia terakhir yang bersama anak istrinya dibunuh oleh pasukan Bolsyewik di pembuangan mereka. Di bawah kubah setua 150 tahun itu, di ruangan yang dihiasi mozaik keemasan lapis lazuli, Rusia seakan-akan tidak pernah disentuh oleh sebuah sejarah yang pernah bergerak untuk menegakkan masyarakat tanpa kelas, dengan kekuatan politik yang memusuhi agama dan mengibarkan panji-panji kaum buruh. </p>
<p>Kini agama hidup kembali ke permukaan. Di satu sudut kota Akademigorodok, di dekat Novosibirsk, Siberia Barat, saya melihat orang sibuk mendirikan sebuah gereja dari kayu di antara jajaran pohon birch, tatkala di kota itu, orang sedang kesulitan dana untuk bagaimana merawat gedung teater untuk balet kebanggaan mereka. Saya melihat orang mencium tangan pak pendeta, yang setengah tersembunyi dalam pakaian hitam yang menutupi sebuah perut yang buncit. </p>
<p>Orang juga mencium sesuatu yang lain. Di mana-mana, terutama di kota besar seperti St. Petersburg (yang belum lama berselang disebut “Leningrad”) penduduk berkeringat dengan harap-harap cemas memburu valuta, atau mata uang keras – dan umumnya itu berarti “dolar”. </p>
<p>Bahkan di Moskow sudah berdiri apa yang dimaklumkan sebagai “Klub Jutawan”. Tokohnya seorang anak muda belum berumur 30 tahun, bernma German Sterligov. Tampan, ramping, berkumis tebal dan berkacamata, ia mengatakan kepada siapa saja yang mau menulis, bahwa hobinya adalah “bepergian dan cari duit”. Yang dibencinya: “Kekuasaan Soviet”. Saya tidak tahu berapa besar kekayaan Sterligov. Sebuah sumber mengatakan bahwa Sterligov sendiri mengaku punya simpanan satu juta rubel (dalam kurs gelap waktu itu sekitar 120 ribu dolar) di bank. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan kekayaan rata-rata jutawan Indonesia, tetapi di Rusia, itu juga sebuah indikator: setelah komunisme, orang rupanya ingin kembali ke kapitalisme. Kalau perlu dengan gila-gilaan.  </p>
<p>Tahun 1991 telah digantikan dengan tahun 1992, dan tahun 1992 segera digantikan oleh 1993. Perubahan yang terjadi di seantero Eropa Timur demikian cepatnya, sehingga apa yang saya saksikan di akhir tahun 1991 cepat menjadi barang basi yang mungkin tidak bisa dipergunakan untuk membantu kita merenungkan apa sebenarnya ayang berubah dalam sejarah kita, setelah komunisme runtuh. </p>
<p>Tulisan Ralf Dahrendorf, <em>Reflections on the Revolution in Europe, </em>disusun di tahun 1990, sebelum Gorbachev mengalami kudeta, dan Uni Soviet terpecah-pecah, oleh karena itu kita bisa memeperkirakan bahwa manfaatnya harus dilihat dari segi lain: bukan sebagai renungan tentang sebuah peristiwa yang selesai, tetapi sebagai contoh pandangan yang – dengan semangat Edmund Burke dua abad sebelumnya – tidak mempercayai teori tentang politik, pemerintahan dan arah </p>
<p>Tetapi seraya menampik teori, Dahrendorf mengumandangkan keyakinan. Seperti bisa dibaca pada akhir tulisannya, ia adalah seorang liberal yang mempertaruhkan hampir semuanya kepada kebebasan. “Kebebasan di atas semuanya itulah yang saya yakini,” kata Dahrendorf. </p>
<p>Dalam mengikuti sebuah risalah yang menegaskan sebuah keyakinan, tanpa teori, para pembaca barangkali tidak akan menemukan pijar-pijar pikiran yang lahir dari benturan. Dahrendorf mengikuti gaya <em>Reflections on the Revolution in France </em>dari Burke: gaya sebuah surat buat seseorang di sebelah “sana”. Namun berbeda dengan kaya Burke yang klasik itu – yang ditulis dengan prosa yang bukan saja jernih dan elegan, tetapi juga dengan gaya “menyerang di sini dan memepertahankan diri di sana” yang lahir dari sebuah situasi polemis – risalah Dahrendorf adalah sebuah tulisan yang hanya bersemangat untuk menerangkan dan menunjukkan. Bentuk surat mengesankan adanya kesegeraan. Jadi: yang kita hadapi adalah sebuah keyakinan, yang disampaikan, dengan cara-segera, sebagai jawaban. </p>
<p>Tidak mengherankan apabila Dahrendorf tidak menyajikan suatu uraian yang lebih jauh tentang satu soal yang sangat menarik, terutama bagi pembaca Indonesia dewasa ini: proses lahirnya <em>civil society</em>. </p>
<p>Dahrendorf mengemukakan apa makna <em>civil society </em>bagi cendekiawan Eropa Timur seperti Adam Michinik dan Janos Kis: kekuatan yang substansial yang ada di luar Negara, dan lebih sering lagi, yang menghadapi Negara. Itu berarti penciptaan sebuah jaringan yang ketat dari institusi dan organisasi yang otonom yang tidak punya satu, melainkan seribu pusat dan karena itu tidak dapat dengan mudah dihancurkan oleh satu pemegang monopoli, dalam bentuk sebuah pemerintah ataupun sebuah partai. </p>
<p>Dapatkah yang semacam itu terbentuk? Jawab Dahrendorf hanya “Kita harus mencoba”. Ia tidak menelaah lebih lanjut bagaimana institusi dan organisasi yang otonom, yang menopang diri mereka sendiri dan tidak membutuhkan Negara, dapat berkembang kuat di dalam sebuah negeri yang kekuatan ekonominya masih belum menyebar ke seluruh lapisan luar masyarakat – bahkan masih banyak yang di tangan pemerintah. Ikhtiar penswastaan perusahaan-perusahaan Negara yang dicoba di Polandia dan Cekoslowakia berlangsung seret. Untuk menyerahkan sejumlah perusahaan Negara kepada orang swasta bukan saja memerlukan modal, tetapi juga efisiensi, dan untuk itu tenaga kerja harus lebih selektif dan lebih sedikit. Pemutusan hubungan kerja sementara itu akan menyebabkan protes. Jadi, bagaimana?  Untuk mengurangi subsidi (yang implikasi politisnya adalah mengurangi peran Negara sebagai kekuatan yang memberi) bukan saja akan menyebabkan sejumlah harga kebutuhan pokok akan jadi mahal, tetapi juga sebagian dari kekuatan masyarakat akan menderita, misalnya petani, yang tercekik oleh beban bunga utang dalam masa kebijakan uang ketat. Jadi bagaimana pula? </p>
<p>Kebebasan dan demokratisasi ada dilemanya sendiri. Di Polandia ada sekitar 30 partai timbul, begitu komunisme rontok. Semuanya ikut pemilu, dapat tempat dan dicatat. Berbulan-bulan Presiden Lech Walesa gagal membentuk sebuah kabinet – di saat adanya pemerintahan yang kuat diperlukan untuk mengubah sistem perekonomin yang ada ke arah perekonomian pasar, yang pasti mengandung pil pahit yang banyak sekali. Hal seperti inilah yang tidak dibicarakan Dahrendorf. Mungkin karena pengalaman Eropa tidak memadai untuk mengantisipasi hal itu: transformasi dari sebuah “ekonomi terpimpin” ke arah ekonomi pasar belum pernah mereka saksikaan. Kita, di Indonesia, dalam skala yang terbatas, justru pernah mengalaminya, dan sebab itu kita dengan segera bisa melihat betapa masih banyak yang belum terjawab dari soal-soal pasca-komunisme oleh para pengulas Eropa. </p>
<p>Usaha Dahrendorf memang terbatas. Barangkali semua usaha menjelaskan tentang perubahan di Eropa Timur, apalagi memberi resep atau arahan bagi perubahan itu, akan selalu terbatas. Dalam hal ini semangat Burke bisa dikenang kembali. Siapa yang tidak mempertimbangkan bahwa keadaan senantiasa bersifat “tak terbatas dan secara tak terbatas pula gabung-bergabung”, bahwa keadaan “mudah berubah dan sementara”; siapa yang tidak memeperhitungkan itu, dan kemudian menyusun sebuah teori atau petuah, menurut Burke ia “secara metafisik gila”. </p>
<p>Sore itu, akhir November 1991, di tepi Sungai Neva, barangkali metafisik, gila taau tidak, harus dibikin arif oleh humor. Tidak jauh dari kelompok pemusik jalanan yang saya ceritakan di atas; berlabuh kapal bersejarah Aurora, sebagi museum perjuangan. Dari kapal itulah, di malam 7 November 1917, para pelaut pro-bolsyewik menembakkan peluru kosong dari salah satu meriam, menandai dimulainya serbuan kaum komunis ke Istana Musim Dingin. Kaum Bolsyewik berhasil, dan sejak itu Partai Komunis praktis menjadi penguasa tunggal. </p>
<p>Sebuah lelucon yang beredar di St. Petersburg sekarang ialah bahwa Aurora pastilah mempunyai senjata paling dahsyat dalam sejarah manusia: dengan hanya sebiji peluru kosong, ia telah berhasil menyengsarakan Rusia selama 70 tahun.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/esei/setelah-komunisme.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Sajak</title>
		<link>http://goenawanmohamad.com/esei/empat-sajak.html</link>
		<comments>http://goenawanmohamad.com/esei/empat-sajak.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 15:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://goenawanmohamad.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Sekhak
Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.
Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.
Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sekhak</strong></p>
<p>Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.<br />
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu<br />
sebelum saatnya.</p>
<p>Dan seekor kuda rubuh.<br />
Dua bidak lari ke sudut.</p>
<p>Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”</p>
<p>Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.</p>
<p>”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”</p>
<p>Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”</p>
<p>Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.</p>
<p>Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.</p>
<p>Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.</p>
<p>2010</p>
<p><span id="more-287"></span><strong>Teleskop</strong></p>
<p>Ia memandangimu dari jauh: sebuah teleskop tua, yang tak akan kelihatan,<br />
seseorang yang sedikit sok-tahu tapi maklum: pejalan cahaya yang sebenarnya takut menyentuhmu.</p>
<p>Itu sebabnya, nak, pada sebuah sore, ia bertekad pergi ke pohon tumbang itu, tempat kau pada suatu hari duduk. Tak ada jejak di sana. Mungkin tubuhmu selamanya tak menginjak bumi: seperti capung dengan mata yang tak tampak dan sayap yang bergetar berulang kali.</p>
<p>Ia tahu tanganmu menanting jam. Berkeringat. Tapi ia tak akan berani menghambur ke depan menawarkan akhir yang lain. Ia hanya akan kembali memandangimu dari jarak yang tak tentu. Merasa makin tua, merasa makin jauh, dalam ruang yang memuai, meskipun ia tetap sisipkan teleskop itu</p>
<p>di saku jaketnya. Sebenarnya sejak tahun itu, sejak ia melihatmu terdiam di depan pintu itu, ia sudah ingin berkata: Lihat, aku tak menguntitmu. Tapi ia tak pernah yakin kepada siapa ia berkata. Ia cuma yakin suaranya tak mengejutkan. Hanya jam itu, di tanganmu, yang selamanya mengejutkan.</p>
<p>2009</p>
<p><strong>Dalam Kemah</strong></p>
<p>Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan- potongan pendek interupsi–lima menit, tujuh menit, empat…. Dan aku akan menatapmu dalam tidur.</p>
<p>Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.</p>
<p>Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.</p>
<p>Aku dekap kamu.<br />
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.</p>
<p>2010</p>
<p><strong>Di Depan Sancho Panza</strong></p>
<p>Di depan Sancho Panza yang lelah,<br />
seorang perempuan bercerita tentang sajak<br />
yang disisipkan ke dalam hujan<br />
yang tak tidur.</p>
<p>Tentu saja Sancho tak mengerti<br />
bagaimana sajak disisipkan<br />
ke dalam hujan, tapi ia mengerti<br />
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan<br />
perempuan itu dan berkata, ”Jangan cemas.”</p>
<p>Memang sebenarnya perempuan itu cemas:<br />
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu<br />
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang<br />
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan<br />
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,<br />
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan<br />
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.<br />
Atau angan-angan yang memabukkan.</p>
<p>”Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.<br />
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,<br />
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat<br />
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan<br />
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar<br />
adalah sesuatu yang panjang dan sabar<br />
seperti gerimis.</p>
<p>2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://goenawanmohamad.com/esei/empat-sajak.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
