Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada
Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.
Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ
ATHEISME dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.
Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.
Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”
Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.
Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan.
Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).
Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.
Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu, ’ke Tuhan’, atau adieu, ’selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ’Tuhan’ yang itu juga”.
Syahadat Nurcholish Madjid
Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.
Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.
Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya. Signatum (”petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.
Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.
Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain—satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.
Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.
Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.
“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou
Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.
Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.
Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.
Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”—atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.
Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.
Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya—satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.
Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.
Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.
Tampaknya Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu—berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).
Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.
Levinas—yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi—tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.
Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain—Buddhisme dan Taoisme misalnya—dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.
Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.
Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.
Tuhan “Tak Harus Ada”
Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”—sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”—saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.
Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.
Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.
Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ’fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek—kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.
“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.
Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.
Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion—seperti Levinas—berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?
Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?
Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu—juga Tuhan—di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart—merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.
Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.
Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit“, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.
Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.
Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.
jakarta, 27 September 2007
Tuhan itu tidak ada !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Hidup ATHEIS !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
FUCK RELIGION !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
arrgghh… mau bertuhan aja pake dibikin ribet sama filsafat2an…
@Marty
emang udah sampe mana loe nyari Tuhan?
Saya hargai ketegasan anda, Marty.
Anda to the point, tidak seperti GM yang berputar-putar…
…yg pasti..di akui atau tidak oleh manusia…Tuhan gak butuh…di anggap atau tidak oleh manusia…Tuhan gak rugi…
..atheis ato ber Tuhan…Tuhan tetap eksis…
..Tuhan dan religion itu sesuatu yg berbeda…gak ada religion pun Tuhan tetep ada…religion adalah alat bantu utk menemukan Tuhan…
..selamat menempuh kegelisahan utk mencari Tuhan…dan jangan menyerah…Tuhan terdekat dg diri kita…sejauh apapun kita berusaha menjauhinya…kegelisahan akan semakin menyelimuti kita…krn kita tdk mampu menjauhi Nya…cari terus…dan hanya kematian yg sanggup menghentikan pencarian itu…
Tuhan ada,tapi Dia tak seperti apapun yg bisa kita bayangkan.kita hanya bisa menemukanNya dengan 2 cara.1.kita mati atau 2.kita telah menguasai seluruh ilmu yang ada.
Hidup bukan hanya soal pencarian,hidup lebih kepada soal penciptaan.
Jangan sia sia kan hidup hanya untuk memikirkan hal yg tak sanggup kita pikirkan.kita tidak pernah tau batas pikiran kita,tapi pikiran kita tetap ada batasnya.salah satunya ialah jika kita memikirkan keberadaan tuhan.
JANGAN MEMBUAT JAWABAN HANYA KARENA KITA TAK MAMPU UNTUK MENJAWABNYA.ALLAH HU AKBAR!!
sekarang kita bertanya saja deh pada diri sendiri …
memang tuhan itu seadil apa sih ???
sekarang agama menganjurkan kita untuk berlaku baik biar masuk surga …
sekarang kami tidak bertuhan ..
tapi kami berbuat baik …
apa kami akan masuk neraka hanya karena kami tidak bertuhan ???
sungguh tidak adilnya tuhan …
harus menyembahnya agar masuk surga …
Dunia ada, tentu ada yang mencipta, siapa penciptanya? ya, Itu Tuhan. karena tidak mungkin sesuatu ada dengan sendirinya.
Siapa Tuhan? dia pastilah lain dengan ciptaanya. krna jika Dia sama dengan cptaan-Nya, maka Dia baru, atau suatu yang diciptakan pula, atau Dia akan sejajar dengan cptanya dll. Sungguh tak patut jadi Tuhan, Jika begitu.
lalu, Ketika Tuhan sudah Maha pencipta, dia berhak penuh atas kepemilikan-Nya(ciptaan-Nya).
Maka -dengan hak-Nya pula- Dia menrunkan undang2 (kitab)bagi makhluk-Nya sebagai petunjuk bagaimana harus hidup, berinteraksi dll. ya, itu adalah Hak-Nya sebagai Pencipta. dan anehnya, Undang-Undang Tuhan itu penuh dengan hal2 baik; tidak berzina, tidak mabuk, tidak mengkonsumsi Narkoba, tidak membunuh dll. Jelas; Tuhan tidak sembarang, dia penuh kasih kepada ciptaan-Nya.
Jika ini sudah jelas dan diterima, baru kita akan Mengulas “keadilan Tuhan”.
Tanks
Semua orang itu atheist, dalam artian anda mungkin memegang satu konsep ketuhanan tapi anda atheist terhadap konsep ketuhanan yang lain.
Anda bisa percaya Allah yang berupa Dzat tapi menolak konsep ketuhanan Thor dengan palunya. Anda ateis :D
yang pasti ketika terjadi bencana, rating manusia bertuhan menjadi naik drastis dan agama adalah hanya untuk manusia yang bukan pemalas beribadah.
males berdoa wae kok nyalah2ke agomo… pekok koe ju!
panassss…. panaaassss…
Simple question aja Om GM: apakah dengan tidak beragama atau tidak ber Tuhan, seorang manusia akan lebih bahagia dan lebih baik kehidupannya dibanding dengan mereka yg ber Tuhan? kalau ternyata tidak mempercayai Tuhan tidak ada pengaruh positifnya dalam hidup ini so why bother other people whom believe to God?
iman itu mudah.. jangan dipersulit. argumen Anda itu hanya untuk orang yang berpendidikan tinggi. ribet bgt..
buatlah dengan bahasa ringan untuk memahamkan orang lain yang mungkin tidak sepintar Anda..
tulisan ini adalah lukisan tentang Tuhan. Om Gun punya persepsi sendiri. Saya punya persepsi sendiri. Pembaca yang lain pun memiliki persepsi sendiri. Jadi, hiduplah sebaik2nya dengan persepsi masing2. Rangkul manusia lain untuk maju bersama. Masalah ber-Tuhan atau tidak. Masuk surga atau tidak. Itu urusan masing2..:D.
Tuhan : ” Ndak tahu diri !”
Ternyata pikiran potensial tidak konsisten untuk dibahasakan.
Atheis atau theis ternyata keduanya terjebak pada pikiran yg dibahasakan.
Kalau begitu ada yg lain donk, atheis ataupun theis
Ternyata pikiran potensial tidak konsisten untuk dibahasakan.
Atheis atau theis ternyata keduanya terjebak pada pikiran yg dibahasakan.
Kalau begitu ada yg lain donk, bukan atheis ataupun theis OR gabungan keduanya.
Saya punya dua teori/cara untuk mengenal tuhan yang -mungkin- dimaksud oleh Pak GM di atas.
1. Mengenal Tuhan dengan BERTANYA SECARA LANGSUNG (mewawancarai tuhan).
Dengan cara ini kita, sebagai manusia yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang sangat banyak di dalam dada ini, bertanya saja langsung/secara verbal kepada tuhan tentang apa-apa yang perlu ditanyakan.
Nah, kalo dirasa cara yang pertama itu tidak mungkin alias MUSTAHIL karena kendala teknis, Berarti MANUSIA HANYA PUNYA cara yang kedua.
2. Mengenal Tuhan berdasarkan apa yang sudah diciptakannya.
Ini bisa dimulai dengan mempertanyakan pertanyaan2 seperti berikut ini:
Apa-apa sajakah yang sudah diciptakan tuhan?
Sampai sejauh manakah saya benar2 mengetahui SEMUA CIPTAAN Tuhan? maksudnya SEMUA CIPTAAN TUHAN -TANPA KECUALI- YANG MEREPRESENTASIKAN SIAPA DIRINYA. Dalam hal ini termasuk seluruh GALAKSI yang ada di alam semesta ini.
Analoginya mungkin seperti ini, contohnya, bagaimanakah saya bisa mengenal dan memahami jalan pikiran pak GM, sementara saya sendiri belum melihat atau bertemu beliau secara langsung dengannya? Terlebih lagi Pak GM juga belum tentu sudi untuk bertemu muka dengan fisikawan sinting seperti saya.
Nah, tentu saja saya bisa mengenal Pak GM dengan membaca-baca karya beliau, tulisan-tulisannya atau yang lain-lainnya yang merepresentasikan “dirinya”.
Dan, menurut hemat saya (maaf kalau komentarnya kepanjangan) tugas terbesar MANUSIA INDONESIA saat ini bukanlah cuma berpolemik panjang tentang “produk agama” yang mana yang lebih bagus untuk lebih mengenal Tuhan, tapi buktikan dong kemampuan kita sebagai bangsa. Contohnya kita bisa mengalahkan Amerika dalam penjelajahan luar angkasa demi point no.2 tadi yakni UNTUK MENGENAL TUHAN BERDASARKAN APA YANG SUDAH DICIPTAKANNYA.
Sungguh picik rasanya, kalau ada manusia baik yang atheis maupun pemuka agama theis yang mengaku-ngaku sudah KENAL DEKAT lah, AQRAB lah, SAHABAT TUHAN lah, KEKASIH TUHAN lah, dll, padahal kakinya cuman baru bisa menginjak permukaan bumi doang.
Bai de wei 1: apakah ciptaan Tuhan cuma planet biru ini saja? (pertanyaan yang gak perlu dijawab)
Bai de wei 2: kemana aja sih LEMBAGA RISET ILMU PENGETAHUAN negeri ini, kok dari dulu-dulu pada ga ada suaranya? Saya jadi curiga ini lembaga riset ada orangnya apa kagak? Atau mungkinkah negeri Indonesia yang mengaku orangnya pintar-pintar ini, tidak mempunyai semacam institusi ilmu pengetahuan yang bakal menjawab semua “kehausan” kita akan banyak pertanyaan di alam semesta ini? Atau perlu kagak saya yang turun tangan?
Terima kasih, maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan.
Capek-capek baca ternyata tulisan ini cuma permainan kata-kata. Ilmu memplesetkan kata-kata dan makna. Sehingga si pelaku mendapat pembeda antara dirinya dengan yg lain yg akan membuat si pelaku merasa lebih pintar dan lebih tinggi derajad nya di mata TUHAN-nya karena si pelaku merasa telah menemukan sesuatu yg ia sebut kebenaran yg sebenarnya datang hanya dari pemikirannya seorang. Padahal kebenaran sejati hanya milik TUHAN.
TIdak dapat dihakimi saat ini bahwa kata “TUHAN YANG MAHA ESA” adalah menyekutukan TUHAN. Karena yang berhak menghakimi adalah TUHAN, bukan penulis ataupun nurcholis majid.
Saya juga tidak dapat menghakimi bahwa 2 kalimat syahadat milik nurcholis majid adalah sesat karena pada niat dan intinya kepada TUHAN juga. Ini hanya permainan kata-kata, yg dibikin serius saja. Padahal yg terpenting adalah niatnya karena TUHAN MAHA MENGETAHUI.
Janganlah manusia menjelma menjadi tuhan dengan merasa berhak menghakimi.
Metodene G sistematis…
Atheis g menarik… akeh data tp g jelas arah diskusine.. hassshh..
tp sing Theis yoh cuman bisa ngomong doang… g pinter2… permainan kata, lha terus cara berdialog itu pake apa…
g seru kabeh…
Kalian semua adalah Makhluk menjijikan..
MAti aja lo semua..
Jangan hanya karena satu buku yg di anggap suci,dan kalian percaya pada itu semua..
kemunculan Tuhan di dunia ini hanya karena PERASAAN manusia yg merasa bahwa ada sesuatu yg maha y lebi yg suci. apaalah..
kalian yg berpikir denga perasaan adalah ciri khas peradaban primitif..
hahhahahaha
ingat orang beragama dibanding ATHEIS = 1:10 di dunia..
PIKIRKAN !!!
LEBIH BANYAK MANA ORANG PINTAR DI DUNIA INI DARI PADA ORANG BODOH !!!!
TUHAN DAN AGAMA MEMANG TAK ADA HABIS-HABISNYA UNTUK DIBICARAKAN. TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRINYA JIKA KALIAN TIDAK PERNAH BERPIKIR TUHAN ITU UNTUK AGAMA APA.
manakah dari pernyataan berikut yang paling benar:
- ciptaan Tuhan paling sempurna adalah manusia.
- ciptaan manusia paling besar adalah Tuhan.
kalau memang Tuhan (gak peduli t kecil atau T besar) itu tidak bisa dikonsepkan, tidak bisa dinalar, tidak bisa didefinisikan, maka berarti tuha tidak ada.
nah kalau tuhan bisa dikonsepkan dan didefinisikan, tentu saja dengan nalar dan konsep manusia, maka berrarti tuhan itu buah cipta nalar manusia.
Bagaimana bila Tuhan dilepaskan dari ideologi saja, lepas dari lingkaran metafisik dan ontologi filsafat ?
kan jadi enak, netral, yang pintar gak merasa pintar, yang gak pintar juga gak merasa pintar….
SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN. KALAU ORANG BERAGAMA KELIRU…YA PALING BERAT CUMA CAPEK DOANG.TAPI KALAU ORANG ATHEIS YANG KELIRU…RESIKONYA TERLALU BESAR BUNG. INI CUMA SEANDAINYA…ITUNG-ITUNGAN MASIH MENDINGAN TETEP SHOLAT MENGANGGAP ALLAH ITU ADA, WALAU TERNYATA TIDAK ADA. DARIPADA NDAK SHOLAT, ENGGAK NGANGGAP ALLAH ITU ADA. E..E..E..TERNYATA ADA. SOMBONG BENAR ATHEIS BERBUAT BAIK TAPI MERASA DIRINYA YANG BAIK. BUKAN BERASAL DARI 1(SATU)SUMBER KEBAIKAN(ILHAM)DARI ALLAH. BAYANGKAN 1 MENIT JARI KELINGKING KITA DISLOMOT LILIN RASANYA SEJAM. LHA KALAU SEHARI DI NERAKA, SAMA SAJA 1000 TAHUN DI DUNIA. KALAU KAMI YANG BENAR, RESIKONYA TERLALU BEESAAAARRRR….BUAT ATHEIS YANG KURANG PERHITUNGAN.
Jika agama didefinisikan sebagai kepatuhan kepada Tuhan YME maka masing-masing akan sulit untuk mengaplikasikannya secara universal sebab masing-masing agama memberikan petunjuk yang berbeda satu dengan yang lain.
Seharusnya agama akan menjadi sangat sederhana dan berlaku universal jika merupakan petunjuk untuk menghargai setiap ciptaan Nya (bukan menyembah melainkan saling membutuhkan).
Bagaimana mungkin kita dapat dikatakan mematuhi perintah Nya dan menjauhi larangan Nya sehingga sanggup mengagungkan Nya jika kita tak mensyukuri setiap yang disediakan bagi kita, tak ikut menjaga kelestariannya bahkan merusak demi kepentingan masing-masing.
Agar tak rancu seharusnya kita membedakan antara agama dengan Tuhan.
Perpestik terhadap Tuhan harus “dirubah” dari yang mengatur segalanya menjadi yang menyediakan segalanya. Segalanya itu bukan untuk Dia melainkan untuk ciptaan Nya. Setiap ciptaan Nya diberi kesempatan untuk memanfaatkan sesuai dengan kebutuhannya. Kalau ingin dimuliakan, maka manusia harus sanggup memuliakan jenisnya, dimulai dari diri masing-masing.
… Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu— …
kok bawa2 nazi segala sih tuan goen? ntar kan gak enak klo ada yg bilang: “Goenawan Mohamad-pemikir Indonesia yang pernah jadi pendukung Boediono dan entah menjadi pendukung siapa lagi nantinya-” he he…:)
Tuhan itu disebut Tuhan karena dia tidak bisa dipikirkan ato dinalarkan dengan sebuah logika belaka..kalo anda mencoba menemukan Tuhan dengan menggunakan logika belaka dan ternyata ‘meng-claim’ berhasil menemukan Tuhan dlm bntuk teori apapun, maka itu bukanlah Tuhan yang sejatinya. karena Tuhan itu berbeda dengan ciptaanNya. semua yang ada di dunia ini adalah ciptaanNya, maka itu brarti anda baru berhasil menemukan salah satu ciptaanNya.
anti sama atheis
pasti sekarang sedang ada sesuatu di atas kita semua
yang melihat masing-masing dari kita sedang menghadap layar komputer atau smartphone kita
yang membaca artikel ini dari awal sampai habis
yang membaca komentar-komentar yang kita tulis dengan mengetik huruf A-Z,1-8,tanda baca,capslock,shift,enter,space dan backspace atau delete
yang kemudian tertawa senang karena rencananya untuk membelit-belitkan pikiran kita dengan sesuatu yang disebut tuhan dan semacamnya, telah berhasil
mungkin dia tuhan, mungkin di atas tuhan yang kita ciptakan, mungkin di atasnya lagi, mungkin juga orang-orang yang sudah mati mereka mempunyai suatu peradaban diatas kita yang menguasai dan mengatur alam tempat kita tinggal dan segala sesuatunya.
yaa,kita tidak tahu siapa dia, berjaga-jaga saja supaya tidak jadi bahan lelucon nya/mereka.
What about just living your damn life without intervening other’s lives
well, then. i do.
pak saya nggak ngerti.. kebanyakan kutipan heheh
“Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala”
tuntutan atheis kan bukannya supaya Tuhan itu punya wujud pak?
saya tidak beragama tapi saya percaya Tuhan.
karna saya percaya Tuhan maka saya sulit menerima agama.
tapi tidak berarti saya membenci agama.
karna bagi saya, saya hanyalah ciptaan Tuhan, bukan Tuhan sendiri, jadi saya tidak sempurna.
dan karna saya tidak sempurna saya tidak mau menghina apapun yang juga sama-sama tidak sempurna.
manusia tidak percaya Tuhan itu wajar, mungkin karna pengalaman empirisnya, atau mendapat pencerahan lain.
tapi saya juga tidak membenci atheisme dan agnostik,
dan belum tentu mereka nanti masuk neraka, karna neraka belum tentu ada……..
dan yang pasti ada hanya yang membuat “ada” itu sendiri
siapa dia?
silahkan jawab menurut penghayatan panjenengan sendiri
merdeka!!!
Para Atheis kayak anak-anak alay di FB aja. Selalu eksis!!
Meski di diemin pun ya tetep aja kamu berceloteh
Maaf saya ikut mengoment
Saya Avi umur 17tahun..
Saya merasa kasian bagi yg tidak percaya pada tuhan
Apalagi Allah..
saya tidak merasa dirugikan bila kalian tidak percaya pada Allah :))
Berarti surga luas sekali ya tidak seperti bumi yg kumuh dan sesak ini..
Bagi kalian berfikirlah bahwa tuhan itu ada .
Untuk apa kalian diberi pikiran kalo hanya mengurusi dunia..
Toh ibarat dunia itu hanya sementara. Apa yg abadi??
Apa yg indah di Dunia ini? Ada sesuatu yg baru yg lama kalian bosan
Kalian harus tau bahwa IMMORTAL just in HEAVEN !!
You must believe that..
Semoga kalian bisa berfikir..
You don’t have to believe me , but we will see it..
Who is will laugh later :))
Oke gan ;)
Wassalamuallaikum
Makanya, gak usah mikirin Tuhan. Pikirin jasadmu sendiri saja. Pikirin bagaimana jantungmu berdenyut. Bagaimana pangkreasmu memproduksi insulin agar gula darahmu stabil. Pikirin urat-uratmu yang bila direntang bisa sepanjang Jakarta-Hongkong..
Allah sendiri berfirman: Jangan fikirkan Dzatku, tapi fikirkanlah apa yang telah kuciptakan…!!!
Selamat berfikir.
bismillahirrahmanirrohim,,,
allah itu ada.
kalian harus mikir kalian di ciptakan dulunyah sama siapa,,?
begitu pun bumi di cipkan nyah oleh siapa?
masa iyah ada asap ngga ada api..
“Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.” Lantas dengan gaya bahasa/kalimat bagaimana sehingga kita dapat menyatakan Tuhan itu Satu tanpa merasa atau dianggap menyekutukannya???
“Alat2 tuan rumah tidak akan dapat membongkar rumah si Tuan rumah” Laode. Sejalan dengan konsep kedhaifan Mas Goen,yaitu keterbatasn pemikiran manusia,kelemahan bahasa manusia dalam mengartikan serta mengungkapkan arti sebuah kata.Jadi dalam perspektif saya,selama manusia memakai pemikiran manusia dan juga tata bahasa manusia yg dhaif,selamaya tidak dapat membongkar, mendefinisikan, memaknai arti hakiki ke-Tuhan-an. Sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali ” Usaha manusia dalam memahami konsep Tuhan akan mentok dikarenakan keterbatasn Indrawi”
Bukan kah dalam syahadat “Tiada Tuhan selain Allah”, juga berarti Tidak menjadikan entitas,benda,rasio,akal,ilmu pengetahuan,atau bahkan puisi sebagai Tuhan??
Saya suka tulisan mas Gun yang ini. Terutama cara penggambaran signans dan signatumnya. Tapi sepertinya banyak yg salah fahami tulisan ini. Mungkin Saussure saja yg bantu menjelaskan..salut mas Gun!
atheism itu sexy, keren, dan modern bagi banyak orang. Tapi ya sama saja, atheism juga belum bisa memberikan jawaban ketika ditanya ‘bisa nggak membuktikan kalo Tuhan tak ada?’ Jadi, jalani kayakinan saja, jangan malah saling komentar yg nggak relevan dengan isi tulisan!