Tatal 8
Amir Hamzah sebenarnya tak bertanya, ketika ia menulis: “Tuhanku, apatah kekal?”
Junjunganku apatah kekal?
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apakah baka baka sepanjang masaBunga layu disinari matahari
mahluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai
Ada keseriusan tentang kefanaan dalam kata-kata itu, tapi tentu saja tak terjawab. Manusia telah mengatakan, kekal itu sifat Tuhan semata-mata.
Tapi ada sebuah pertanyaan lain yang tak diucapkan Amir Hamzah dan dikemukakan Ibnu Sina di abad ke-10: jika Tuhan kekal, berarti Ia di luar waktu, bagaimana menciptakan alam semesta terjadi? Penciptaan adalah sebuah kejadian perubahan, sebuah proses dalam waktu. Jika Tuhan “baka sepanjang masa,” ia tak mungkin jadi pembangun alam semesta dari keadaan “tak-ada” jadi “ada.”
Dalam sebuah buku bab Tahafut al-Falasifah yang terbit di abad ke-11, al-Ghazali mencoba menjawab pertanyaan pelik itu dengan satu tesis yang tak diduga-duga: baginya, penciptaan tak harus mengasumsikan ada unsur waktu di dalamnya. Unsur waktu dikaitkan karena “imajinasi [manusia] tak dapat menolak untuk menganggapnya demikian.” Tapi dengan logika dan nalar murni, kata al-Ghazali, dapat disimpulkan kemungkinan adanya keadaan tanpa waktu ketika penciptaan terjadi: Tuhan Maha Kuasa; Ia dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan yang sehampa-hampanya. Creatio ex nihilo itu berangkat dari nihilo yang mutlak.
Dengan itu al-Ghazali mencoba mengingatkan: Tuhan itu tak terbandingkan.
Ia benar. Tapi saya kira Tuhan yang Maha Kuasa yang dikemukannya tak cukup “lain” secara radikal; Tuhan al-Ghazali tetap sosok yang akhirnya direpresentasikan: Tuhan yang dihadirkan oleh bahasa, bahkan nyaris antropomorfis.
Tahafut al-Falasifah justru menjadikan manusia dasar segala dasar. Logika dan nalar murni yang baginya mampu menkkonstruksikan keadaan tanpa waktu adalah sebuah salah paham sebagaimana perenungan Descartes (yang membaca al-Ghazali) menegasikan segala yang ada di luar ego yang berpikir.
Kita kini tahu negasi itu mustahil. Seabad setelah al-Ghazali di Baghdad, Ibnu Rushd di Cordoba menulis Tahafut al-Tahafut. Buku ini umumnya dianggap tangkisan terhadap Tahafut al-Falasifah, sebuah penegasan filosofi dan rasionalitas. Tapi bagi saya yang berharga adalah ketika ibnu Rushd mengingatkan agar kita juga berangkat dari pengalaman orang sehari-hari.
Sekitar 900 tahun setelah Ibnu Rushd, para filosof memang kembali bertolak dari pengalaman sehari-hari dan menunjukkan bahwa praxis dan bahasa selamanya bertaut dengan dunia: dengan hijau langit yang jadi mendung, kasih yang beralih, manusia yang mati….
Amir Hamzah mencatat isyarat ke-tidak-kekal-an. Pada detik itu pula sajaknya sebuah ungkapan bahwa sesuatu tak hadir di sana, yakni kekekalan.
Konklusi itu berkabung. Sajak itu mendambakan yang-lain. Ia mencari janji. Dan Tuhan pun disebut: sebuah nama sementara dari yang-tak-sementara.
*Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, halaman 19-21.