Esei • Senin, 7 September 2009 @ 19:49 diunggah oleh zen

Tatal 6

Puisi dan kematian: dalam keduanyalah keterbatasan dirundung janji. Dalam hal kematian, janji itu tentang kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna.

Tapi saya tak pernah tahu, akankah janji itu terpenuhi, bahkan dalam puisi. Selama itu sebuah puisi, setidaknya puisi liris, terasa seperti sebuah tari serimpi, yang memperoleh pemaknaan dari pergantian, beda, pertautan, dan kontras pelbagai geraknya sendiri. Ia tak mendapatkan makna yang disahkan sebuah konsep yang sudah siap. Tak ada dasar cerita. Di dasar itu hanya kolong: sebuah kekosongan yang “hadir,” sebuah “kehadiran” yang sebenarnya tak ada.

Tak ada pula titik akhir yang jelas dan konklusi yang segera. Para penari dan penonton tak kunjung bisa menceritakan apa persisnya yang hendak disampaikan sebuah srimpi.


Seperti srimpi, puisi, juga bahasa pada umumnya, adalah sebuah percakapan yang tak kunjung habis. Ada janji yang tersirat dari makna yang tertunda, bahkan tak hadir.

Pendeknya, riwayat kata dan tubuh adalah riwayat dua entitas yang terbatas yang dibujuk oleh sesuatu yang-tak-berhingga.

Memang ada yang murung dan menakutkan dalam kematian, yang tak ada dalam puisi: kesendirian yang ekstrim. Sebuah sajak yang tak bernama dari Chairil Anwar membayangkan hari akhir itu. Pada suatu malam tampak deretan katil, peti-peti jenazah yang berjajar, dan.

Kita terbaring dalam sebuah
yang paling jauh terpencil

Di sinilah bahas, juga bahasa puisi, yang tak pernah datang dari kesendirian, tak punya analogi dengan kematian. Meskipun demikian, kematian tak bisa terlepas dari padanya. Tak bisa terlepas, tapi juga tak bisa terpegang.

Seperti Orfeus yang mencoba mengangkat Euridice yang mati dari alam bawah tanah, puisi mencoba mengangkat kematian dari katil yang terpencil. Tapi gagal, sebagaimana Orfeus gagal. Kematian, kesendirian, alam bawah tanah semua itu hampir sepenuhnya tetap tertinggal nun jauh di dalam

* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, halaman 14-15

Bookmark and Share

Beri Komentar