Esei • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:40 diunggah oleh zen

Tatal 52

“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.

Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan.

“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.

Tapi tak lama kemudian si daif berubah. Kesendiriannya jadi awal kekuasaan. Dalam petuah Dewa Ruci, “aku”, subyek, bisa mencapai posisi yang benar ketika seluruh semesta berada dalam ampuanku. Penguasaan itu bukti bahwa manusia mahluk yang unggul, pusat makna, termulia dari segala yang jadi: manusa tinitah luwih, apan ingaken rahsa, mulya dhewe saking kang dumadi.

Dalam diri “manusia” yang digambarkan tembang Jawa inilah kita bertemu dengan subyek yang disimpulkan Descartes: ego yang berpikir, dasar yang sedasar-dasarnya yang mampu mengatasi keraguan dan keetidak-pastian. Kata penting dalam petuah Dewa Ruci adalah agar diri jadi “satu” (siji sawujud). Di luar subyek yang koheren itu, segala hal, juga tubuhnya sendiri, hanya ada secara tentatif. Yang pasti hanya “aku”.

Dan di tatapan subyek yang seperti itulah dunia tersaji bagaikan gambar –sebagai weltbild, untuk memakai kaa-kata Heidegger, dunia yang diringkus jadi obyek.

…isining bumi
ginambar angganira

Demikianlah res cogitans mengambil alih peran. Subyek tampil terpisah dari dan bertahta di atas obyek. Seperti dilukiskan dalam Cebolek, ia merengkuh makro-kosmos dan mikro-kosmos sekaligus. “Engkau jadi dewa,” kata Dewa Ruci kepada Werkudhara. Syahdan, ruang pun bukan lagi khaos yang luas. Kini utara dan selatan dapat ditunjukkan.

Tak pelak lagi, cerita Dewa Ruci adalah sebuah imaji humanis. Ia menyambut kemampuan kognitif manusia untuk mengetahui dirinya, kemampuan weruh ing anane dhewe. Dengan itu manusia naik ke langit. Tanpa sayap ia merangkum seluruh jagad raya dan dirinya sendiri, sawengkon jagad raya, angga wus kawengku.

Maka aku-lah kepastian, penguasa dunia obyek, akulah pembentuk yang-lain, akulah dasar diriku.

Bookmark and Share

Ada 1 Komentar

  1. sumi

    Terinspirasi dari Goenawan Mohamad yang banyak membaca buku, sehingga jadi senang baca juga. Hebat banyak pengetahuan yang didapat, salah satunya dengan membaca salah satu kisah di pewayangan ini “Dewa Ruci”. Pertama kali tahu cerita ini pas kuliah dan mengambil mata kuliah Wayang Nusantara. Bahwa manusia diciptakan agar mengetahui keberadaan dirinya di dunia sehingga menjadi sosok yang tahu diri.

Beri Komentar