Esei • Rabu, 16 September 2009 @ 00:00 diunggah oleh zen

Tatal 32

Tiap doa mengandung ketegangan. Doa selalu bergerak antara ekspresi yang berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin mengerti dan rasa takjub yang juga takzim. Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa bertingkah.

Bila ada agama yang memusuhi syair, itu karena ia lupa bahwa puisi juga sejenis doa. “Di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tak bisa berpaling,” tulis Chairil Anwar, antara lega dan putus asa.

Puisi, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa tapi juga sikap bersyukur yang tak diakui.

Bookmark and Share

4 Komentar

  1. Angelina Hendarto

    Bila agama memusuhi syair, itu karena dia ingin dianggap yang paling benar, dan takut terlihat lemah saat ada tulisan yang lebih baik… seperti tulisan anda.

    Angelina Hendarto

  2. suhaimi khalid

    Agama, tentu sekali Islam, tidak pernah memusuhi syair. Bahkan penyair Arab jahiliah menganggap surah-surah Al-Quran sebagai puisi terindah yang tidak terbanding. Tetapi kalau yang mendakwa dirinya agamawan (bukan semua), nah itu mungkin sekali.

  3. Kepompong Sutra

    Mungkinkah Tuhan “cemburu” dengan para penyair?? Tidak, bukan itu! Hanya saja, dulu manusia belum mencapai “Yang Gaib” dalam syair-syairnya. Atau, mereka menyombong dengan syair yang selalu ingin dikeramatkan. Karenanya mereka lengah, jengah. Pula terlampau jauh.

    Kalamullah hadir secara angsur lewat Muhammad–yang tentu saja bukan penyair(Qur’an, Q.S. 36: 69)–hingga bulat. Ialah oasis di tengah sahara, juga nestapa.

    Proses kreatif kepenyairan pun berlanjut. Singkatnya, jika syair membimbangkan dan mempertanyakan segala yang ganjil dan tak terbereskan, firman bicara tentang pemberesan segala yang tak dipahami, yang belum dimengerti.

    Dan semua karena kata.
    (Tuhan jauh lebih mengetahui)

  4. kupretist

    puisi itu parodi kitab suci

Beri Komentar