Esei • Rabu, 23 September 2009 @ 07:20 diunggah oleh zen

Tatal 17

41dk6t7rcql_sl500_aa240_

Ada seorang pemilik toko buku yang hidup dalam kesepian dan kemarahan yang diam. Ia tinggal di sebuah negeri yang kini menyebut diri “Komunitas Iman.”

Para pemuda Ikhwanul Waspada muncul ke mana-mana, merusak alat musik, membakar film berpuluh-puluh rol, merobek kanvas lukisan, menghancurkan patung—dengan keyakinan bahwa keindahan hanya ada di Tuhan, dan tak ada di bumi yang layak menyaingi wajah-Nya.

Itulah pangkal masygul Boualem Yekker, tokoh novel Le Dernier été de la Raison (Musim Panas Terakhir Akal Budi) ini, dan ia terpojok, ia terkucil. Sejak kecil, sejak ia belajar di madrasah yang ketat mengajarkan Quran, ia ingin berjalan ke pelbagai tempat di muka bumi.


Ia tahu: di jam-jam itu, yang sepenuhnya diabdikan untuk memuja sang Kebenaran, ia terpisah dari sebuah semesta yang bersahaja, yang juga berbahaya, di mana bunyi yang bermain-main terdengar bersama suara mobil yang berjalan jauh, hewan-hewan yang ganjil, dan kapal yang melenguh menuju ke laut lepas …

Kini ia jadi tua, dan Boualem Yekker kian tahu ia tak bisa diterima dan menerima orang-orang di luar toko bukunya, orang-orang yang merasa telah dibentuk bulat utuh oleh sang Teks. Konflik pun menghadang …

Tapi kita tak akan tahu bagaimana novel ini berakhir. Pengarangnya, Tahar Djaout, penyair dan novelis Aljazair yang tinggal di Bainem, diserang sejumlah pembunuh pada 26 Mei 1993. Ia mati. Naskah novel setengah jalan ini ditemukan di antara tumpukan kertas di kamarnya, dan diterbitkan di Prancis di tahun 1999. Salah satu pembunuhnya kemudian menyatakan bahwa Djaout dihabisi karena ia memainkan pena yang menakutkan.

Djaout: seraut pena kecil. Bila ia dianggap menakutkan mungkin karena orang-orang saleh di Aljazair itu tahu, hasrat untuk menghela manusia ke dalam iman yang sempurna selalu limbung.

Tiap pena kecil jadi isyarat bahwa ada yang lain dari kesempurnaan. Maka ia menulis puisi, membawakan nyanyi, membentuk garis, menerakan warna, mengundang Yang Indah singgah, tahu bahwa Yang Indah bukan puisi, bukan nyanyi, bukan garis, bukan warna.

* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 32-33 .

Bookmark and Share

8 Komentar

  1. athar

    inspiratif.
    thanks 4 remind us, again & again… :-)

  2. Angelina Hendarto

    Pena memang luar biasa, goresannya bisa menjadikan ajaran dikemudian hari dan diartikan sebagai kebenaran. Walaupun itu hanya peng-abadian sebuah pemikiran…
    Kitab-kitab suci ataupun kitab-kitab resi adalah pikiran pujangga yang diabadikan.

    Angelina Hendarto

  3. insan

    Ini semakin menguatkan asumsi bahwa kesalehan ritual tak selalu garis lurus dengan kesalehan sosial. Orang2 saleh Ikhwanul Muslimin seperti tak kuasa melihat yang liyan menggeliat, meneriakkan apa yang dipendam, apa yang dirasa.

  4. bee

    antek2 JIL (JARINGAN ISLAM LIBERAL)

  5. no name

    Halloooooo Anjing Yahudi !!!!!!!!!

  6. hamonangan

    @comment no 4 and 5 : Your words reflects your being.

  7. pargodungan

    tulisan yang tak selesai, dan komentar yang tak terselesaikan.

  8. assi

    Ngomong opo maaasss…!

Beri Komentar