Esei • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:01 diunggah oleh zen

Setelah Komunisme

SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, The Beautiful di tepi Sungai Neva, sore itu.

Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara dingin. Begitu musik tiup itu berhenti, pintu belakang bus terbuka, dan seorang kakek gemuk turun dengan logat New York: “Saya mau kasih mereka uang”. Lalu ia meletakkan sepuluh rubel di kotak penadah derma, di arah kaki pengamen. Lalu band pun melagukan The Star Spangled Banner.

Itu tahun 1991. Di Rusia nampaknya orang sedang menjadikan negara kapitalisme besar abad 20, sebagai kiblat baru. Setidaknya, kiblat lama sudah dianggap runtuh.

Di akhir November 1991 itu buat pertama kalinya dalam sejarah, di Lapangan Merah di Moskow, Revolusi Oktober (yang menurut hitungan kalender internasional sebetulnya terjadi di bulan November) tidak diperingati. Tidak ada parade 7 November itu. Tidak ada pemimpin yang berdiri di panggung kehormatan, pentas batu pualam merah yang didirikan di atas musoleum Lenin.

Bahkan di St. Petersburg, di gereja St. Isaac, gereja tertinggi di dunia setelah gereja St. Petrus di Vatikan, diselenggarakan sebuah upacara keagamaan menurut ajaran Kristen Ortodoks. Hadir di sana Hertog Agung Romanov, keturunan Tsar Nicholas II, raja Rusia terakhir yang bersama anak istrinya dibunuh oleh pasukan Bolsyewik di pembuangan mereka. Di bawah kubah setua 150 tahun itu, di ruangan yang dihiasi mozaik keemasan lapis lazuli, Rusia seakan-akan tidak pernah disentuh oleh sebuah sejarah yang pernah bergerak untuk menegakkan masyarakat tanpa kelas, dengan kekuatan politik yang memusuhi agama dan mengibarkan panji-panji kaum buruh.

Kini agama hidup kembali ke permukaan. Di satu sudut kota Akademigorodok, di dekat Novosibirsk, Siberia Barat, saya melihat orang sibuk mendirikan sebuah gereja dari kayu di antara jajaran pohon birch, tatkala di kota itu, orang sedang kesulitan dana untuk bagaimana merawat gedung teater untuk balet kebanggaan mereka. Saya melihat orang mencium tangan pak pendeta, yang setengah tersembunyi dalam pakaian hitam yang menutupi sebuah perut yang buncit.

Orang juga mencium sesuatu yang lain. Di mana-mana, terutama di kota besar seperti St. Petersburg (yang belum lama berselang disebut “Leningrad”) penduduk berkeringat dengan harap-harap cemas memburu valuta, atau mata uang keras – dan umumnya itu berarti “dolar”.

Bahkan di Moskow sudah berdiri apa yang dimaklumkan sebagai “Klub Jutawan”. Tokohnya seorang anak muda belum berumur 30 tahun, bernma German Sterligov. Tampan, ramping, berkumis tebal dan berkacamata, ia mengatakan kepada siapa saja yang mau menulis, bahwa hobinya adalah “bepergian dan cari duit”. Yang dibencinya: “Kekuasaan Soviet”. Saya tidak tahu berapa besar kekayaan Sterligov. Sebuah sumber mengatakan bahwa Sterligov sendiri mengaku punya simpanan satu juta rubel (dalam kurs gelap waktu itu sekitar 120 ribu dolar) di bank. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan kekayaan rata-rata jutawan Indonesia, tetapi di Rusia, itu juga sebuah indikator: setelah komunisme, orang rupanya ingin kembali ke kapitalisme. Kalau perlu dengan gila-gilaan.

Tahun 1991 telah digantikan dengan tahun 1992, dan tahun 1992 segera digantikan oleh 1993. Perubahan yang terjadi di seantero Eropa Timur demikian cepatnya, sehingga apa yang saya saksikan di akhir tahun 1991 cepat menjadi barang basi yang mungkin tidak bisa dipergunakan untuk membantu kita merenungkan apa sebenarnya ayang berubah dalam sejarah kita, setelah komunisme runtuh.

Tulisan Ralf Dahrendorf, Reflections on the Revolution in Europe, disusun di tahun 1990, sebelum Gorbachev mengalami kudeta, dan Uni Soviet terpecah-pecah, oleh karena itu kita bisa memeperkirakan bahwa manfaatnya harus dilihat dari segi lain: bukan sebagai renungan tentang sebuah peristiwa yang selesai, tetapi sebagai contoh pandangan yang – dengan semangat Edmund Burke dua abad sebelumnya – tidak mempercayai teori tentang politik, pemerintahan dan arah

Tetapi seraya menampik teori, Dahrendorf mengumandangkan keyakinan. Seperti bisa dibaca pada akhir tulisannya, ia adalah seorang liberal yang mempertaruhkan hampir semuanya kepada kebebasan. “Kebebasan di atas semuanya itulah yang saya yakini,” kata Dahrendorf.

Dalam mengikuti sebuah risalah yang menegaskan sebuah keyakinan, tanpa teori, para pembaca barangkali tidak akan menemukan pijar-pijar pikiran yang lahir dari benturan. Dahrendorf mengikuti gaya Reflections on the Revolution in France dari Burke: gaya sebuah surat buat seseorang di sebelah “sana”. Namun berbeda dengan kaya Burke yang klasik itu – yang ditulis dengan prosa yang bukan saja jernih dan elegan, tetapi juga dengan gaya “menyerang di sini dan memepertahankan diri di sana” yang lahir dari sebuah situasi polemis – risalah Dahrendorf adalah sebuah tulisan yang hanya bersemangat untuk menerangkan dan menunjukkan. Bentuk surat mengesankan adanya kesegeraan. Jadi: yang kita hadapi adalah sebuah keyakinan, yang disampaikan, dengan cara-segera, sebagai jawaban.

Tidak mengherankan apabila Dahrendorf tidak menyajikan suatu uraian yang lebih jauh tentang satu soal yang sangat menarik, terutama bagi pembaca Indonesia dewasa ini: proses lahirnya civil society.

Dahrendorf mengemukakan apa makna civil society bagi cendekiawan Eropa Timur seperti Adam Michinik dan Janos Kis: kekuatan yang substansial yang ada di luar Negara, dan lebih sering lagi, yang menghadapi Negara. Itu berarti penciptaan sebuah jaringan yang ketat dari institusi dan organisasi yang otonom yang tidak punya satu, melainkan seribu pusat dan karena itu tidak dapat dengan mudah dihancurkan oleh satu pemegang monopoli, dalam bentuk sebuah pemerintah ataupun sebuah partai.

Dapatkah yang semacam itu terbentuk? Jawab Dahrendorf hanya “Kita harus mencoba”. Ia tidak menelaah lebih lanjut bagaimana institusi dan organisasi yang otonom, yang menopang diri mereka sendiri dan tidak membutuhkan Negara, dapat berkembang kuat di dalam sebuah negeri yang kekuatan ekonominya masih belum menyebar ke seluruh lapisan luar masyarakat – bahkan masih banyak yang di tangan pemerintah. Ikhtiar penswastaan perusahaan-perusahaan Negara yang dicoba di Polandia dan Cekoslowakia berlangsung seret. Untuk menyerahkan sejumlah perusahaan Negara kepada orang swasta bukan saja memerlukan modal, tetapi juga efisiensi, dan untuk itu tenaga kerja harus lebih selektif dan lebih sedikit. Pemutusan hubungan kerja sementara itu akan menyebabkan protes. Jadi, bagaimana? Untuk mengurangi subsidi (yang implikasi politisnya adalah mengurangi peran Negara sebagai kekuatan yang memberi) bukan saja akan menyebabkan sejumlah harga kebutuhan pokok akan jadi mahal, tetapi juga sebagian dari kekuatan masyarakat akan menderita, misalnya petani, yang tercekik oleh beban bunga utang dalam masa kebijakan uang ketat. Jadi bagaimana pula?

Kebebasan dan demokratisasi ada dilemanya sendiri. Di Polandia ada sekitar 30 partai timbul, begitu komunisme rontok. Semuanya ikut pemilu, dapat tempat dan dicatat. Berbulan-bulan Presiden Lech Walesa gagal membentuk sebuah kabinet – di saat adanya pemerintahan yang kuat diperlukan untuk mengubah sistem perekonomin yang ada ke arah perekonomian pasar, yang pasti mengandung pil pahit yang banyak sekali. Hal seperti inilah yang tidak dibicarakan Dahrendorf. Mungkin karena pengalaman Eropa tidak memadai untuk mengantisipasi hal itu: transformasi dari sebuah “ekonomi terpimpin” ke arah ekonomi pasar belum pernah mereka saksikaan. Kita, di Indonesia, dalam skala yang terbatas, justru pernah mengalaminya, dan sebab itu kita dengan segera bisa melihat betapa masih banyak yang belum terjawab dari soal-soal pasca-komunisme oleh para pengulas Eropa.

Usaha Dahrendorf memang terbatas. Barangkali semua usaha menjelaskan tentang perubahan di Eropa Timur, apalagi memberi resep atau arahan bagi perubahan itu, akan selalu terbatas. Dalam hal ini semangat Burke bisa dikenang kembali. Siapa yang tidak mempertimbangkan bahwa keadaan senantiasa bersifat “tak terbatas dan secara tak terbatas pula gabung-bergabung”, bahwa keadaan “mudah berubah dan sementara”; siapa yang tidak memeperhitungkan itu, dan kemudian menyusun sebuah teori atau petuah, menurut Burke ia “secara metafisik gila”.

Sore itu, akhir November 1991, di tepi Sungai Neva, barangkali metafisik, gila taau tidak, harus dibikin arif oleh humor. Tidak jauh dari kelompok pemusik jalanan yang saya ceritakan di atas; berlabuh kapal bersejarah Aurora, sebagi museum perjuangan. Dari kapal itulah, di malam 7 November 1917, para pelaut pro-bolsyewik menembakkan peluru kosong dari salah satu meriam, menandai dimulainya serbuan kaum komunis ke Istana Musim Dingin. Kaum Bolsyewik berhasil, dan sejak itu Partai Komunis praktis menjadi penguasa tunggal.

Sebuah lelucon yang beredar di St. Petersburg sekarang ialah bahwa Aurora pastilah mempunyai senjata paling dahsyat dalam sejarah manusia: dengan hanya sebiji peluru kosong, ia telah berhasil menyengsarakan Rusia selama 70 tahun.

Bookmark and Share

2 Komentar

  1. ardianzzz

    Hmm.. setahu saya, saat sovyet akan dikapitaliskan banyak sekali barang2 dagangan di etalase toko tanpa ada seorangpun yang memiliki uang untuk membelinya.. bagamana seorang yang digaji hanya beberapa ratus rubel setahun sedangkan ia menjaga aset bernilai jutaan dollar? bagaimana jika itu adalah bom nuklir?
    :)

  2. vina melao

    :) anda selalu luar biasa. :)

Beri Komentar