Esei • Jumat, 24 Juli 2009 @ 21:02 diunggah oleh zen

Seribu Slogan dan Sebuah Puisi

Maka sebuah slogan pun menjadi sajak perkasa karena kenyataan yang hidup dicerminkannya.

Feng Chih, dari Shih-nien Shih Ch’ao, Peking, 1959.

Slogan telah bersaing dengan puisi. Persaingan ini barangkali merupakan salah satu ciri kesusastraan abad keduapuluh, sebuah “abad politik”.

Mengapakah justru demikian? Politik adalah penyusunan kekuasaan dan penggunaan kekuasaan, dan karenanya fungsi slogan menjadi amat pentingnya dalam bidang kehidupan ini. Ia penting untuk mengerahkan massa yang secara fisik merupakan faktor utama di dalam melaksanakan tujuan-tujuan politik.

Dengan demikian slogan adalah penghubung dan pembentuk solidaritas antara massa rakyat dengan pemimpin-pemimpin politik, solidaritas yang lazimnya diperlukan sekali apabila sebuah rencana sedang atau akan dijalankan oleh pimpinan politik, baik rencana itu untuk atau tidak untuk rakyat di bawahnva. Terbentuknya solidaritas itu oleh pemimpin mana pun merupakan syarat mutlak bagi tujuan-tujuannya.

Sebab kabarnya ada sebuah kata pepatah: “Berdiam-dirinya rakyat adalah sebuah pelajaran buat sang raja”.

Sesungguhnya tujuan penggunaan slogan, atau arah yang hendak dicapainya, ialah suatu solidaritas yang murni, meskipun dapat juga yang timbul hanyalah suatu solidaritas yang palsu.

Kita bisa saja mengejek dengan kepongahan, setiap macam slogan. Tapi kita toh tidak bisa menampik kenyataan bahwa beberapa kebutuhan bersama memerlukan suatu kohesi antara manusia, antara sesama anggota suatu masyarakat, dan bahwa kohesi itu kadang-kadang hanya bersifat fisik, sekadar suatu penghimpunan, untuk tindakan-tindakan praktis. Slogan merupakan teknik, salah satu cara yang ringkas dan singkat untuk mencapai itu.

Memang, merupakan satu hal yang lebih mulia bila yang terjadi bukan cuma itu, melainkan suatu pertemuan antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain, suatu solidaritas murni. Akan tetapi slogan tidak boleh mengharap terlampau banyak. Ia berbeda dengan puisi.

Persyaratan puisi yang paling esensiil ialah kenyataan. Tak ada puisi tanpa realitas. Tak ada kesusastraan, dan bentuk seni apa pun, apabila ia tidak bertolak dari sana, karena kita tidak (bisa berseru, seperti Tuhan, “Kunfayakun!

Namun sudah tentu realitas dalam seni bukanlah replika kasar dari sejumlah bahan kasar. Seni pun merupakan suatu proses dan hasil dialektik, di mana harus ada seseorang yang merdeka, suatu kepribadian. Dan jika dengan realitas puisi membentuk suatu hubungan yang kreatif, dengan orang lain ia menyediakan suatu dialog.

Slogan juga seharusnya menyediakan kemungkinan semacam itu. Tentu saja kita bisa saja mengenal slogan-slogan yang lahir dari sikap semena-mena, slogan-slogan yang memaksakan diri untuk dipercaya, slogan-slogan bohong. Tapi yang seperti itu pada akhirnya akan berakhir pada suatu nonsens, pada suatu kematian fungsi. Dia pada gilirannya tidak akan bisa membentuk suatu solidaritas.

Maka yang kita perlukan ialah slogan yang berdasarkan kenyataan atau realitas yang hidup, agar ia bisa—dalam kata-kata Feng Chih,—”menjadi sajak perkasa”.

Dalam keadaan itulah slogan makin mendekati kemampuan untuk menciptakan sebuah kebersamaan seperti yang dibuahkan oleh puisi. Pada akhimya kita tidak cukup hanya mengharapkan suatu kelompok manusia yang dihimpun sebagai semata-mata kekuatan fisik dengan sifat sementara. Kita juga membutuhkan puisi, yang menghendaki pertemuan dari hati ke hati.

Seribu slogan dan satu puisi: manakah yang lebih perlu? Kedua-duanya.

Tapi apabila kita sadari bahwa yang jadi tujuan bukanlah sekadar kebersamaan yang hanya dipergunakan untuk kekuasaan, maka puisi akan lebih berarti. Karena puisi memungkinkan percakapan yang bebas, ia memustahilkan kekompakan yang munafik. Seorang tiran atau seorang Hitler setiap hari bisa saja membuat seribu slogan, tapi ia tidak akan sanggup membuat sajak yang sejati.

29 November 1963

Ada 1 Komentar

  1. Hans Magnus Enzensberger: Puisi dan Intelektual Publik « Goenawan Mohamad

    [...] Esai yang saya baca selintas itu saya ingat benar karena pada waktu itu juga saya merasakan bagaimana perlunya bahasa Indonesia membebaskan diri dari beratnya kata-kata besar, khususnya slogan-slogan. Pada waktu itu pula, tahun 1963, saya menulis sebuah esai berjudul “1000 Slogan dan Satu Puisi”. [...]

Beri Komentar