Esei • Senin, 26 April 2010 @ 13:35 diunggah oleh zen

Rusli dalam Wuwei

Rusli adalah serangkaian gores dan kuas yang seakan-akan tak selesai, warna yang tidak mengorak meriah seperti kembang dalam kebun yang lengkap, kanvas yang seakan-akan selalu menunggu.

Lukisannya adalah sebuah laku wuwei. Dalam pengertian Taoisme, kata itu konon berarti keadaan tidak melakukan apa-apa, tapi justru banyak hal terjadi karena itu.

***

Ada sebuah sajak Bertolt Brecht tentang Lao Tze. Dan dari sana kita menyadari bagaimana bahasa bekerja dalam puisi: seperti air yang lembut bergerak, yang mengikuti arahnya sendiri, di mana sang penyair tak hadir secara kukuh. Bahkan seakan-akan ia telah menanggalkan dirinya. Tapi, arus bahasa itulah yang membasuh kata-kata dari maknanya yang mandeg, dan dengan itulah kata-kata muncul bercahaya, saat mereka saling bersentuhan.

Goresan Rusli adalah seperti bahasa puisi: ibarat alir yang tak diarahkan dengan kehendak. Sang pelukis tidak menjajah gerak kuasnya dengan konsep dan struktur, sebab tak ada rencana, tak ada arah. Ritme garis itu seolah-olah berbisik dan bergetar melalui dirinya. Seperti ketika seorang seniman dan orang bijak di Cina lama mengguratkan kaligrafi.

Bentuk – rumah, perahu, orang – pun tampil dalam keadaan yang lepas dari ketentuan yang menyebabkan masing-masing jadi sesuatu yang sudah siap dipamerkan. Masing-masing tak dimaksudkan untuk, seperti komoditi, bisa diterima ramai-ramai. Masing-masing tampak seakan-akan masih belum rampung, dan seakan-akan buat pertama kalinya hadir di dunia, malu-malu.

*

Karya Rusli mengisyaratkan bahwa ada yang tak pernah terjangkau – dan kanvasnya yang tak penuh bagi saya berbicara tentang itu dengan sedikit melankoli. Ia seakan-akan selesai justru ketika tak selesai.

Setiap seniman percaya bahwa ada “keindahan”, tapi ia tahu itu seperti utopia: ia tak pernah ada di sebuah tempat. Ia tak penah tergapai. Ia selalu mengimbau justru sebagai posisi dari Yang Lain yang kemudian menghilang.

Kanvasnya yang seperti menungu itu seakan-akan menemukan sebuah kehadiran yang tak dapat ditemukan.

*

Apa arti “rampung” dalam sebuah lukisan? Kanvas Rusli, lebih dari kanvas manapun, membuat kita tahu bahwa “rampung” berbeda dengan “selesai”. “Rampung” mengandung pengertian kerja yang tak usah dilanjutkan lagi, karena ada ukuran objektif tentang itu. “Selesai” lebih dekat dengan “lerai”, “usai”, suatu keadaan berhenti yang seakan-akan ditentukan dari luar diri kita, oleh waktu yang tidak kita kuasai.

Maka di momen mana gerangan seorang pelukis berhenti, ketika ia seperti seakan-akan berkata, “Sudahlah”, dan merasa bahwa sebuah karya yang dikerjakannya akan menjadi berlebihan jika ia terus bekerja, seakan-akan serakah, kurang hormat, kepada sesuatu yang menggerakkan kita? Pada saat yang sama, kapan ketika ia merasa bahwa apa yang dikerjakannya sudah mulai, dan telah membubuhkan jejak?

Momen itu bagi saya menentukan. Saya duga ketika itulah seorang seniman merasakan, bahwa ia harus melepaskan kembali kehadiran “keindahan” seperti ia melepaskan tamu yang membahagiakannya, karena tamu itu tidak ingin dia kuasa. Sebuah lukisan, dan terutama lukisan Rusli, adalah sebuah kerinduan yang tak meniatkan balas: seorang pekukis memanggil Yang Lain yang ia tahu tak akan membalas memanggilnya.

*

Sebuah kanvas yang penuh, katakanlah dari tangan Rembrandt, sebenarnya kosong: ia sudah mengatakan semuanya, dan tak ada lagi yang berbisik dari sana.

Di depan Rembrandt kita kagum akan kekuatan dan kemahiran manusia untuk menangkap “dunia”. Obyek itu – wajah, kapal, lanskap — memang seakan-akan hadir kuat dalam kanvas Rembrandt. Tapi jika ditilik lebih dalam, di sana sebenarnya kita tidak menyaksikan meriah-ruahnya Obyek dalam pengertian Vorrang des Objekts yang dikatakan Adorno. Justru sebaliknya: Subyek-lah, sang pelukis, yang mengatur semua itu, seperti para hartawan Amsterdam yang dilukis Rembrandt mengatur arus kekayaan.

Itulah yang tak terjadi dalam kanvas Rusli: di saat itu kita merasa bahwa manusia hanya sebagai sesuatu yang lewat. Rusli seakan-akan mengutip sebaris kata dari sebuah kitab yang tak terbayangkan akhirnya.

Goenawan Mohamad

Bookmark and Share

Beri Komentar