Nyanyi Sunyi Kedua [II]
– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986
Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono bukanlah jawaban, yang dikatakan secara verbal, jelas dan dengan perasaan yakin akan kepastian-kepastiannya sendiri. Puisi ini sebagian besarnya termangu, lahir dalam rasa terpencil, sadar bahwa segalanya toh akan “susut dari Suasana” (”Kepada Istriku”, 1967), dan peka sekali akan pergantian-pergantian yang terjadi dalam proses waktu.
Beberapa kali dalam sajak-sajaknya Sapardi Djoko Damono menggunakan kata keterangan tekanan “pun” di sela-sela suasana sunyi puisinya: kita mendengarnya sayup-sayup bagaikan bunyi gerak jarum jam, yang menandakan bahwa suatu pergantian telah terjadi dalm hening waktu dan kesenyapan:
masih terdengar sampai disini
DukaMu Abadi. Malampun sesaat terhenti
sewaktu dinginpun terdiam, diluar
langit yang membayang samar–”Prologue” (1967)
beribu saat dalam kenangan
surut pelahan
ita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh
sewaktu detikpun jatuh–”Sadjak Putih” (1967)
haripun tiba. Kita berkemas senantiasa
kita berkemas sementara djarum melewati angka-
angka
kaupun menjapa: ke mana kita
tiba-tiba terasa musim mulai menanggalkan daun-
daunnja–”Haripun Tiba” (1967)
Kepekaan akan pergantian-pergantian jang terjadi dalam proses waktu — dengan kata lain: kepekaan akan kefanaan itu — pada hemat saya memang telah datang pada Sapardi Djoko Damono.
Dalam puisinya tahun 1967, kepekaan itu memberi warna muram, yang barangkali belum asli benar. Dalam puisinya tahun 1968 ia tidak begitu terasa, meskipun tetap ada. Sajak-sajaknya di tahun 1968 rata-rata bersifat kurang sunyi, pikiran-pikran datang lebih banyak dan lebih tangkas, dan karena itu kata-kata pun lebih berdesakan. Bandingkan:
gerimis djatuh kaudengar suara dipintu
bajang-bajang angin berdiri di depanmu
tak usah kauutjapkan apa-apa; seribu kata
mendjelma malam, tak ada jang disana
takusah; kata membeku, detik
meruntjing di ujung Sepi itu
menggelincir djatuh
waktu kaututup pntu. Belum teduh dukamu— “Gerimis Djatuh” (1967)
saat tiadapun tiada
aku berdjalan (tiada-
gerakan, serasa
isjarat) Kitapun bertemu
sepasang Tiada
tersuling (tiada-gerakan,
serasa nikmat):
Sepi meninggi–”Dalam Do’a: II” (1968)
Kedua sajak ini berpokok pada sunyi, namun dengan jelas terasa adanya perbedaan kadar kemurnian dri kesunyian itu, “Gerimis Djatuh ” (1967) bukan saja secara eksplisit menolak kata dan memilih diam dalam kelengangan, tetapi juga sementara itu menghadirkan kelengangan itu sendiri di antara baris-barisnya. Kesunyiannya adalah kesunyian yang murni. Sebaliknya, “Dalam Do’a: II” (1968) kesunyian itu kurang bersifat demikian, agak dipaksakan.
Meskipun sajak ini menceritakan sepi, yang “meninggi” dan menceritakan tiadanya gerak dalam suatu pertemuan mistis dengan Tuhan, namun toh suara keras kesibukan verbal juga yang terdengar. Penggunaan tanda kurung justru mengesankan desak-mendesaknya kata, dan dalam pada itu bunyi konsonan lebih dominan daripada bunyi vokal.
Ditinjau secara demikian sajak ini kurang berhasil: ia berbicara tentang sepi, tapi ia sendiri tidak sepi. Walaupun begitu, yang lebih menarik di sini ialah bahwa ia merupakan salah satu petunjuk adanya perbedaan suasana-hati antara sajak-sajak Sapardi tahun 1967 dengan sajak-sajaknya tahun 1968.
Perbedan itu bukanlah sesuatu yang ganjil dan terjadi tiba-tiba. Pada hemat saya, ada perkembangan yang konsisten pada sikap Sapardi Djoko Damono yang menyebabkan terjadinya perbedaan itu: Mula-mula adalah ingatan akan Maut, yang tiba-tiba memagut tatkala orang lena dalam percakapan:
mengapa kita masih juga bertjakap
hari hampir gelap
menjekap beribu kata diantara karangan bunga
diruang semakin maja, dunia purnama
sampai takada jang sempat bertanja
mengapa musim tiba-tiba reda
kita dimana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring djenazah menanti–”Saat Sebelum Berangkat” (1967)
Sajak ini, termasuk sajak permulaan bagian tahun 1967, beserta dua sajak berikutnya, “Berdjalan Di belakang Djenazah” dan “Sehabis Mengantar Djenazah” (ketiganya mungkin sekali ditulis dalam waktu yang amat berdekatan), merupakan awal dari suasana murung yang menghuni sajak-sajak selanjutnya. Kesadaran akan kefanaan itu ber-ulang timbul kembali. tetapi kemudian Maut adalah sesuatu yang tak terelakkan: ia adalah bagian dari kehidupan itu juga.
Dan kenyataan inilah yang menumbuhkan suatu sikap pada Sapardi Djoko Damono: sikap untuk menerima nasib eksistensial kita, suatu afirmasi kepada “satu-satunya Duka” itu:
Tiba-tiba malampun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkaupun lengkap menerima
satu-satunja Duka–”Tiba-tiba Malampun Risik” (1967)
Dan sebagaimana ia kagum pada bumi, yang “menerima tanpa mengaduh” dan “jang tua dalam setia” (”Sadjak Putih”, 1967), ia pun kemudian arif akan amsal yang ditunjukkan oleh sekuntum bunga: bunga itu tumbuh dan mekar perlahan-lahan, hidup — tapi tidak untuk seterusnya:
…Matahari memulasnja warna-warni, sambil
diam-diam
membunuhnja dengan hati-hati sekali
dalam Kasih-sajng, dalam rindu-dendam Alam;
lihat: iapun terkulai pelahan-lahan
dengan indah sekali, tanpa satu keluhan.–”Sonnet: Hei! Djangan Kaupatahkan” (1967)
Dengan demikian puisi Sapardi Djoko Damono berkata “ya” kepada kehidupan, dan sebagai konsekuensinya ia pun ingin berkata “ya” kepada kematian. Seluruh sikapnya menunjukkan persiapan — untuk kepergian tiba-tiba itu, menerima Maut, menunggu “jemputan itu” (”Buat Ning”, 1967).
Tetapi seperti yang saya katakan tentang tiga sajaknya terkhir tahun 1967 (”Sadjak Tjinta”, “Ziarah” dan “Pada Suatu Hari Nanti”), di sini pun ada sesuatu yang getir dan murung dalam afirmasinya kepada kematian itu. Maut adalah hal yang menggelisahkan: kita menerimanya karena ia bagian yang tak terelakkan dari kehidupan, tetapi kita juga menolaknya justru karena kita cinta kepada kehidupan. Dan jika kita sampai pada pengakuan, seperti Sapardi Djoko Damono, bahwa “Sorga ternjata ada dalam dongeng-dongeng sadja” (”Sadjak Tjinta”, 1967), kita pun makin sadar akan absurditas itu.
Walaupun demikian, kesadaran akan absurditas itu pada Sapardi Djoko Damono dalam banyak hal membantunya mengatasi kecemasan. Dan kesadaran inilah, yang perlahan-lahan terbentuk dalam proses, yang pada hemat saya menyebabkan Sapardi dalam sajak-sajaknya tahun 1968 tidak lagi bermuram durja. Sapardi djoko Damono tidak lagi tertegun-tegun dan termangu oleh perasaan tentang kefanaan: perasaan itu telah menghablur menjadi konsepsi. Dia menjadi lebih pasti, lebih tegak, dengan suasana hati yang lebih ringan. Kepekaan akan kefanan telah menjadi filsafat tentang kefanaan. Bahwa hidup kita tak kekal, itu bukanlah masalah pokok yang intens lagi.
Itulah sebabnya di tahun 1968 Sapardi Djoko Damono lebih sempat untuk mencoba menjadi mengerti masalah-masalah lain selain Maut: ia berbicara tentang siklus kemerdekaan manusia (”Atas Kemerdekaan”), tentang percintaannya yang “sengit” dan “parah” dengan Tuhan melalui alam yang cerah (”Ketika DjariDjari Bunga Terbuka”), tentang suatu “Persetubuhan” “Kau dan Aku” perkawinan tak di manapun, tak-kapan-pun” (”Sadjak Perkawinan”), tentang kegetiran Kain kepada Tuhan ketika ia membunuh Abel (”Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”), tentang perempuan dan lelaki yang bertemu di dalam perkelaminan (”Pertemuan”) dan tentang nasib manusia kini setelah Adam “mengabur dalam dongengan” (”Djarak”).
Sapardi Djoko Samono nampaknya dengan masalah-masalah ini (yang lebih berat dengan pengertian-pengertian daripada dengan kepekaan) merasakan kebutuhan akan bentuk lain. Dibandingkan dengan sajak-sajak tahun 1967, di mana kwatrin 2-bait merupakan bagian terbesar, di tahun 1968 ia lebih banyak menggunakan kwatrin 3-bait; bahkan kita juga dapatkan di sini kwatrin 4-bait dan 5-bait serta dua buat soneta.
Lebih banyaknya bait itu menunjukkan lebih besarnya jumlah kata-kata di tiap sajak: kata-kata datang berdesakan kepadanya. Lalu-lintas pikiran dan asosiasi lebih tangkas dan lebih sibuk: betapa seringnya Sapardi Djoko Damono menggunakan tanda kurung agaknya bisa menunjukan hal itu.
Dari semua itu, saya condong untuk berpendapat bahwa puisi tahun 1968 merupakan puisi “masa peralihan” dalam diri Sapardi Djoko Damono: ia sedang meninggalkan nada sendunya tahun 1967, menuju ke suatu nada baru.
Adanya peralihan ini memang sudah nampak dalam “Sadjak Tjinta”, “Ziarah” dan “Pada suatu Hari Nanti” — dan adanya peralihan itu memang wajar bagi hampir setiap penyair. Seorang penyair yang kreatif tidak akan mengulangi hal yang itu-itu juga. Ia harus meninggalkan periode tertentu dalam puisinya, dan untuk ini ia akan selalu terjatuh pada suatu “masa peralihan”.
Amat wajar pula jika dalam “masa peralihan” itu ia menjadi terasa kurang mantap, belum sepenuhnya terbentuk dalam mengungkapkan masalah-masalah baru yang dihadapinya, tapi sementara itu juga kurang murni lagi dalam mengungkapkan masalah-masalahnya yang lama. Kekurang-murnian itu telah kita lihat pada Sapardi Djoko Damono, ketika ia menuliskan “Dalam Do’a: II”. Sedangkan sajaknya “Atas Kemerdekaan” terasa sekali amat kering:
kita berkata: djadilah
dan kemerdekaanpun djadilah bagai laut
di atasnja: langit dan badai tak-henti-henti
di tepinya: tjakrawala— (1968)
Sajak ini kering, karena ia hanya berisi simbol-simbol: “langit” itu bukanlah langit biru yang sesungguhnya, tetapi perlambang kekuasaan gerak. “Badai” dan “tjakrawala” itu juga sekadar simbol — semuanya abstrak. Berbeda dengan puisinya di tahun 1967, di mana Sapardi lebih banyak mendukung apa yang hendak dikatakannya dengan imaji-imaji sugestif dari suasana alam yang konkret, “Atas Kemerdekaan” adalah sajak yang hanya berbicara kepada pemikiran tanpa menyangkut perasaan. Dalam membacanya kita berpikir, tapi hati kita tak tergerak. Keaadaan yang sama terdapat kembali dalam “Pertemuan” dan “Sadjak Perkawinan”.
Bisakah kita di sini mengatakan bahwa ada kecenderungan yang menegas pada Sapardi untuk menulis puisi metafisik? Mungkin sekali. Dan meskipun tidak semua puisi metafisik bersifat kering, akan tetapi selalu ada kemungkinan untuk menjadi begitu, apabila pikiran-pikiran dikemukakan tanpa intensitas perasaan, apabila konsep-konsep diutarakan tanpa penghayatan subyektif.
Terutama bagi seorang penyair yang, seperti Sapardi Djoko Damono, memilih lirik sebagai pengucapannya, filsafat apapun yang hendak dituangkan dalam puisi bukanlah sekadar rangkaian perumusan ide-ide.
Filsafat itu seharusnya tampil sebagai sesuatu yang personal, sebagai suatu sikap hidup. Dalam pada itu filsafat itu pun semestinya bisa membangkitkan sesuatu yang personal pula dalam diri pembaca: simbol-simbol yang abstrak saja tidak cukup. suatu pemahaman emosional terhadap pikiran (”emotional apprehention of thought”, kata Herbert Read tentang puisi metafisik) harus disertakan juga.
Dengan mengemukakan semua itu tidak berarti bahwa dalam “masa peralihan” tahun 1968 ini Sapardi Djoko Damono hanya menghasilkan sajak-sajak yang belum berarti. Pun tidak selamanya Sapardi Djoko Damono terasa kurang murni lagi dalam masalah sentralnya yang lama: kematian.
Sajak “Kupandang Kelam Merapat Kesisi Kita”, sebuah kwatrin 4-bait, yang ditulis dengan kelancaran dan keterauran yang khas, menunjukkan betapa ia lebih pasti dengan pengertiannya tentang kefanaan, mengatasi sentimentalitas, tetapi tanpa kekeringan emosi:
kupandang kelam jang merapat ke sisi kita
siapa itu di sebelah sana, tanjamu tiba-tiba
(malam berkabut seketika)
Barangkali mendjemputku
barangkali berkabar penghudjan kita
kita terdiam sadja di pintu. Menunggu
atau ditunggu, tanpa djandji terlebih dahulu
kenalkah ia padamu, desakmu (Kemudian sepi
terbata-bata menghardik berulang kali)
bajang-bajangnjapun hampir sampai di sini.
Jangan utjapkan selamat malam; undur pelahan
(pastilah sudah gugur hudjan
dihulu sungai itu); itulah Saat itu, bisikku
kuketjup udjung djarimu; kaupun menatapku
bunuhlah ia, suamiku (Kutatap kelam itu
bajang-bajang jang hampir lengkap mentjapaiku
lalu kukatakan: mengapa Kau tegak disitu)
Dengan kalimat-kalimat bersahaja yang jelas, sajak ini telah menggunakan teknik sebuah cerita ringkas: ada latar (setting), ada peran: sepasang suami-isteri yang sendiri, ada peristiwa dan perkembangan: saat kematian yang datang. Adegan-adegan tersusun dari bait ke bait, mendaki secara beraturan. Suasana terasa berlangsung dalam kata-kata “kelam”, “hujan”, “sepi”, “malam berkabut”. Dan dalam suasana semacam itulah Maut datang meremang dan menghampir dari “sebelah sana” yang muram.
Di ruang yang mendengar hujan dan menyimakkan kelam itu sang suami tahu benar bahwa tanda-tanda telah dekat: kelam itu berangsur merapat. “Siapa itu di sebelah sana”, isterinya bertanya. Suami itu diam: ia sudah merasa bahwa Jemputan itu telah tiba. “Kenalkah ia padamu”, isterinya mendesak. Tapi suami itu tetap diam. Ruangan sepi. Sementara itu bayang-bayang itu sampai padanya tanpa suara. “Itulah Saat itu”, bisiknya. Sadar bahwa ia harus pergi, diciumnya ujung jari isterinya. Perempuan itu pun tahu isyarat apa yang telah datang, lalu mengucapkan sebuah ikhtiar penghabisan yang putus asa: “bunuhlah ia, suamiku”. Laki-laki itu hanya menatap bayang-bayang yang hampir lengkap mencapainya dan berkata: Mengapa “Kau tegak disitu”.
Perkataan itu adalah sebuah pertanyaan yang ambigu, dan dengan demikian sebuah pertanyaan yang menghadirkan pertanyaan. Adakah ia meminta Maut agar merenggutkannya lebih cepat ataukah ia mencoba memprotes dengan suara lemah, menyesali kedatangan itu? Adegan-adegan berakhir tanpa jawaban — dilimbur Sepi.
Dan memang Sepi itulah yang berkuasa di sini. Suara sang isteri dalam ruang itu tak berdaya mengubahnya: suara itu hanya salah satu dari pelbagai suara yang membisik ke sana, terlintas tanpa tanda kutip. Ia memang merupakan serangkaian interupsi di tengah “soiloquy” sang suami yang sedang merasakan Maut mendekat, tetapi interupsi itu hanya tampil sebagai kontras yang lirih: tak ada tanda tanya, tak ada tanda seru. Kontras lirih itu cuma perlawanan-perlawanan lemah untuk mengatasi Sepi.
Seolah-olah, atau memang barangkali demikian, kesepian itu identik dengan selalu hadirnya Maut, selalu hadirnya Tuhan dan selalu hadirnya misteri tentang semua ini.
Barangkali sunyi adalah minuman keras. Sapardi Djoko Damono menyukai minuman keras itu: ia bisa masuk berlena-lena karenanya. Tetapi serentak dengan itu ia pun tahu bahwa, sebagai minuman keras, ada sesuatu yang tak wajar di dalamnya. Sajak-sajaknya terikat dan mencandu sunyi, sekaligus juga tersiksa oleh sunyi. apapun kenikmatan yang ia peroleh dari padanya, Saprdi djoko Damono agaknya sadar tentang hal itu dalam puisinya. Beberapa waktu yang lalu ia menulis:
akan sampai setiap kali padamu
puisi jang memberontak kepada sunji
dan hidup dalam sunji
menolak dan kembali mentjintai sunji–”Solitude” (1965-?)
Sajak ini adalah sebuah sajak yang jelek, kering, sebuah sajak dalil-dalil. [7]
Tetapi justru karena berisikan dalil-dalil, ia menampakkan pendirian saprdi secara lebih tegas tentang diri dan puisinya: Suatu ambivalensi sikap terhadap sunyi.
Dan jika bagi Sapardi kesunyian itu memang identik dengan selalu hadirnya Maut, Tuhan dan misteri, maka di situ pun kita bisa memahami ambivalensi sikapnya akan hal-hal tersebut: suatu pasang-surut antara pemberontakan dan penerimaan, antara penerimaan dan percintaan kembali.
Saya kira tidak ada yang teramat ganjil dalam sikap sedemikian itu. Seperti pernah disebutkan di bagian awal karangan ini, hidup terutama bagi Sapardi Djoko Damono tidak lagi berada dalam garis-garis kepastian sistematik. Manusia telah merasa dicampakkan di bawah langit kosong-sepi, menjadi yatim piatu di hadapan Kebenaran. Ia harus menentukan pilihan dan pendirian-pendiriannya sendiri. Ia merdeka, dan karena itu tanpa wasiat. Ia adalah, untuk memakai kata-kata W.S. Rendra, “kesangsian yang kreatif”. Ia sunyi dalam memutuskannya atau tidak.
Sajak-sajak DukaMu Abadi membayangkan itu. Orang bisa mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono tidak teramat orisinal dalam mengucapkannya, orang bisa melihat adanya pengaruh yang kuat dari penyair-penyair lain dalam puisinya. Walaupun demikian, kalaupun pengaruh itu ada, pengaruh itu bukan hanya mencecah pinggiran kesadaran Sapardi, bukan sekadar pengaruh permukaan, tetapi telah masuk jauh dan ikut mengembangkan sikap penyair ini dari dalam.
Sikap itulah yang terutama menarik hati saya dalam menulis kritik ini, sebab saya beranggapan, bahwa sikap itu lahir secara sah dari masa kita sekarang.
– 1968 –
Catatan:
1. Lihat sajak-sajak “Dingin Benar Malam Ini”, “Keluarga Tertjinta”, “Tjerita Dari Kota Kami”, Majalah Sastra, No. 8, Desember 1961. Juga “Sadjak Orang Gila”, Sastra, No. 7, Nopember 1961.
2. Sapardi Djoko Damono, “Puisi Indonesia Mutakhir”, Majalah Basis, September 1967.
3. “Do’a Para Pelaut Jang Tabah” dan “Do’a Di Tengah Massa”, Basis, nomor khusus puisi (Semerbak Sadjak”), Januari 1966.
4. “Sonnet: Lelaki-lelaki Telah Turun Kelaut” (1964) dan “Kepada Seorang Algodjo” (1965), Majalah Horison, Mei 1968, Th. ke-III.
5. “Puisi dan Pikiran Manusia Modern”, esai Conrad Aiken, diterjemahkan Sapardi Djoko Damono beserta dua esai penyair lain; Horison, oktober 1968, Th. ke-III.
6. “Pada Suatu Malam”, Basis, Januari 1966.
7. Basis, Januari 1966.