Esei • Sabtu, 6 Februari 2010 @ 00:58 diunggah oleh zen

Nyanyi Sunyi Kedua [I]

– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986

Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat. Kumpulan Dukamu Abadi adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.

Peristiwa-peristiwa tersebut penting untuk kita catat bukan saja sebagai bab baru dari sapardi Djoko Damono, tetapi juga merupakan salah satu tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya.

Masa lalu itu adalah seperti yang kita ingat, periode tahun-tahun terakhir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode yang membayangkan desakan kuat pengaruh kesusastran realisme-sosialis, baik dalam diri para pengikutnya maupun para penentangnya.

Ia dimulai dengan penulisan sajak-sajak “berjuang” oleh hampir siapa saja, dan diakhiri dengan sajak-sajak pergolakan akhir tahun 1966 – di mana kepahlawanan, nasib sosial, prinsip-prinsip besar, pemujaan kepada tanah air dan rakyat banyak serta optimisme sejarah menyusun satu-satunya perbendaharaan tema milik bersama.

Kini periode itu tengah dilepaskan. Di sekitar tahun-tahun 1967-1968 suasana pembebasan sedang dirasakan. Eksperimen-eksperimen baru terjadi dalam prosa, puisi dan teater Indonesia mutakhir: kita serasa sedang menyaksikan munculnya semacam gerakan avant-garde seperti yang terjadi di tahun 1945 dan sesudahnya. Meskipun di tahun-tahun ini para penulis datang tanpa berkelompok dan tanpa surat-kepercayaan bersama, namun semangat mereka itu (sebagian besar dari mereka bukanlah penulis-penulis baru) menyatakan bahwa elan kreatif sedang ditemukan kembali.

Ke-42 sajak dalam DukaMu Abadi ditulis dalam suasana seperti itu. Sebagaimana saya katakan di atas, kumpulan yang terdiri dari sajak-sajak 1967-1968 Sapardi Djoko Damono ini adalah juga suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.

Perkembangan baru? Dalam beberapa hal, sajak-sajak ini mungkin tidak menjanjikan sesuatu yang baru: Sapardi Djoko Damono masih tetap pada disiplin dan kerapian ekspresi, yang agaknya memang merupakan cirinya sejak mula. [1]

Ia nampaknya sebisa mungkin menahan diri dari kekenesan mencari-cari cara persajakan lain: ia nampaknya masih bisa hidup dengan soneta dan kwatrin. Ia tak berusaha mencengangkan pembaca dengan keanehan-keanehan serta permainan yang sering kita jumpai pada beberapa penyair yang lebih kemudian. Sapardi Djoko Damono agak konservatif dalam soal bentuk — satu sikap yang lebih tegas lagi kita dapatkan pada Hartojo Andangdjaja dan Saini K.M.: dua penyair lain yang mendapatkan tempat baik dalam penilaiannya. [2]

Walaupun demikian, pada hemat saya, pertautan kembali dengan lirik di sini menjelaskan segala-galanya. Dengan lirik, dengan pengucapan subjektif, yang ringkas karena mempertahankan keutuhan emosi, dan yang lebih banyak menggunakan imaji-imaji sugesif daripada mengutarakan pernyataan-pernyataan konklusif, seorang penyair sebenarnya telah menampilkan diri secara tertentu: ia telah memilih untuk tidak berbicara lagi tentang semboyan dan prinsip-prinsip besar.

Dalam DukaMu Abadi Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik: ia pun telah membebaskan diri dari desakan pengaruh sajak-sajak “berdjuang” waktu lampau. Ia tak lagi berbicara tentang “pelaut yang tabah” yang “telah berdjanji kepada Sedjarah/untuk pantang menjerah”, atau tentang rakjat “jang sedang gemuruh bergerak/dalam teriakan-teriakan, dengan tangan-tangan terkepal”, seperti yang kita dapatkan dalam dua sajaknya yang sumbang di masa lalu. [3]

Ia juga tak lagi menuliskan pujaan kepada “Lelaki-lelaki” yang merupakan “pencipta setia sejarah yang panjang, ahli waris jaman”, atau mengutuk “seorang algojo” yang telah membunuh saudara-saudaranya sendiri dalam proses “pesta harum bunga, rapat-rapat gelap dan bisik-bisik rahasia”. [4]

Ia tak mengulangi lagi membicarakan tokoh-tokoh abstrak: sebab sesungguhnya, para pelaut, rakyat, lelaki-lelaki dan algojo itu tak lain hanyalah tokoh-tokoh abstrak. Ia, kini, telah berbicara tentang sesuatu yang lain, yang lebih dekat dengan dirinya, lebih personal: potret manusia yang konkret.

Saya tidak tahu sampai berapa jauh persetujuan Sapardi Djoko Damono terhadap tulisan Conrad Aiken yang diterjemahkannya di tahun 1968. Tetapi bagi saya kumpulan DukaMu Abadi menampilkan kepada kita apa yang di-katakan Aiken tentang puisi: “potret manusia dengan peluh di kening, darah di tangan, siksa-neraka di hati, dengan gayanya, dengan absurditasnya, dengan kejalangannya, keyakinan-keyakinannya dan keragu-raguannya”. [5]

Itulah sebabnya saya melihat ke-42 sajak dalam kumpulan ini sebagai perkembangan baru. Berbeda dengan sajak-sajak berjuang sebelumnya, Sapardi Djoko Damono telah menyusupkan diri dalam masalah-masalah yang lebih otentik: teka-teki hidup dan teka-teki kematian, satu pokok soal yang oleh puisi realisme-sosialis dan sebangsanya justru disensor dari kesadaran kita.

Kini ia telah membebaskan diri dari sensor itu. Kini baginya bukan suatu yang tak patut untuk mengetengahkan kegelisahan dan potret jujur seorang yang fana. Pembebasan ini juga merupakan penemuan kembali, yakni penemuan kembali kepada perasaannya yang sebenarnya tentang kehidupan. Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah sajaknya yang paling murni, yang ditulisnya di tengah-tengah keculasan dan kesumbangan sajak-sajak heroik di tahun 1965, ia berkata: “barangkali hidup adalah/do’a jang pandjang, dan sunji adalah minuman keras”. [6]

Kini, dengan kata-kata lain tetapi dengan perasaan yang sama, ia sebenarnya telah mengulangi apa yang dikatakannya itu: seluruh kumpulan puisi DukaMu Abadi pada hakikatnya adalah sepotong dari “do’a yang pandjang” itu. Kumpulan ini ditujukan buat Tuhan: “buatmu, Mu”, dan dalam “Prologue”-nya ia mengucapkan nasib eksistensial kita: “sepi manusia, djelaga”.

Setelah Amir Hamzah hampir tigapuluh tahun yang lalu menyusun Njanji Sunji, sajak-sajak ini adalah nyanyi sunyi kedua seorang penyair Indonesia. Saya harap saya tak terlalu berlebih-lebihan mengatakan itu. Saya hanya mau mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono di sini telah menunjukkan, secara utuh, tentang satu kenyataan: kita adalah yatim-piatu.

Kesadaran akan kenyataan itu barangkali suatu kesadaran yang murung tentang situasi kita. Tapi saya beranggapan, bagaimana pun juga, ia adalah sah untuk zaman ini. seperti dikatakan sapardi Djoko Damono: Adam yang dikisahkan oleh nenek moyang itu telah mengabur dalam dongengan,

dan kita tiba-tiba disini
tengadah ke langit: kosong-sepi…

—”Djarak” (1968)

Apalagikah yang tinggal? Sajak empat baris yang diletakkan di ujung kumpulan DukaMu Abadi itu menggambarkan posisi kita dengan baiknya: kita telah dipisahkan begitu jauh oleh suatu jarak dengan manusia pertama yang diusir dari sorga. Agaknya jarak tersebut bukan sekadar jarak waktu, jarak sejarah yang menenggelamkan kenang-kenangan. Jarak itu lebih berupa, katakanlah, jarak metafisik. Ketika adam meninggalkan sorga yang hangat berselimutkan perlindungan dan kepastian itu, ia memang telah dilemparkan. Tetapi paling sedikit ia masih cukup dekat dengan sumber Kepastian sendiri: langit tidak sekosong dan sesepi yang dilihat anak-cucunya dalam kurun waktu kita. Adam tidak teramat gelisah dan tidak menulis lirik.

Puisi Sapardi Djoko Damono adalah suara-suara kegelisahan dan kesenyapan, lirik yang lahir dari posisi keyatim-piatuan. Manusia tidak sebatang kara, tetapi ia ditinggalkan tanpa testamen yang cukup. Manusia berada dalam sejarah, tetapi arah dan jawaban yang diberikan kepadanya ternyata belum pernah memadai untuk mengerti teka-teki hidup dan kematian itu. Hidup tak berada lagi dalam garis-garis kepastian yang sistematis. Yang lalu telah lalu, tanpa petunjuk, dan tentang nenek-moyang:

Tidak, mereka hanja kenangan.
Hanja batang-batang tjemara jang menusuk langit
jang akarnja pada bumi keras.
Sebenarnja kita belum pernah mengenal mereka;
ibu-bapa kita jang mendongeng
tentang tokoh-tokoh itu, nenek-mojang kita itu,
tanpa menjebut nama.
Mereka hanjalah mimpi-mimpi kita,
kenangan jang membuat kita merasa
pernah ada.

— “Ziarah” (1967)

Sajak ini, berbeda dari sajak-sajak permulaan tahun 1967: tak dituliskan dalam kwatrin, dan dengan demikian mengesankan suatu irama yang berbeda. Ia termasuk ke dalam satu kelompok tersendiri dengan dua sajak terakhir tahun 1967, “Sadjak Tinta” dan “Pada Suatu Hari Nanti”. Ketiga sajak ini, dengan kalimat-kalimat yang tanpa rima dan tak melodius, terdengar keras dan angkuh. Nada kalimat pertama “Pada Suatu Hari Nanti” amat tipikal buat ketiganya: “Begini: kita mesti berpisah”.

Tetapi, dan di sini Sapardi Djoko Damono mengingatkan kita pada Subagio Sastrowardojo, ada sesuatu yang ironis dalam kekerasan dan keangkuhan itu. Ada sesuatu yang getir, yang murung di balik kalimat-kalimatnya yang kukuh. “Sekarang harus kita tahankan/terik surja itu, tanpa seorang Bapa” (“Sadjak Tinta”). Posisi keyatim-piatuan kita menjadi jelas, tragik kita menekan, memestikan kita untuk berani: justru dalam kefanaan yang tak terelakkan.

Siapa jang mengantarkan kita?
Hati kita sendiri, lebih unggul dari
derita, lebih unggul dari putus-asa, lebih unggul
dari sepi; ditanamnja pohon jeruk
di pekarangan bebas rumah kita, ditjoretkannja
kapur penolak bala di tiap pintu,
lalu kita tusuk sendiri duabelah mata kita
agar tak terlihat lagi adegan-adegan tjinta,
agar tak sakithati mengenngkannja.

— “Pada Suatu Hari Nanti” (1967)

Paradoks antara keberanian dan kegetiran itu, satu hal yang juga kita dapatkan dalam sajak “Aku” Chairil Anwar, dalam sajak seperti ini memungkinkan penyairnya secara langsung dan wajar menampilkan kontras-kontras dan “surprise-surprise” — dan dengan demikian menyajikan satu gagasan tanpa khotbah, tanpa deret-deret baris heroik yang monoton. Keberanian itu tanpa kepahlawanan. Sekali lagi, pada akhirnya kita tetap yatim-piatu dan tetap fana.

Adalah menarik bahwa Tuhan, dalam posisi kita sedemikian itu, oleh Sapardi tidak ditampilkan sebagai deus ex machina. Nasib eksistensial kita, sunyi dan kerahasiaan riwayat kita, sepi dan kejelagaan kita — pendeknya: kemurungan itu, dalam DukaMu Abadi tidak memaksakan kehadiran Tuhan untuk memecahkan keruwetan adegan-adegan supaya selesai. Adegan-adegan murung itu tak pernah selesai.

Itulah mungkin sebab yang mendorong Sapardi Djoko Damono untuk merekam kembali beberapa kali suasana muram yang sama dalam lebih dari 5 sajak kumpulan ini. Pengulangan semacam ini memang membosankan, dan menyebabkan beberapa sajak bisa dilupakan begitu saja dari klise sajak yang lain. Namun agaknya Sapardi tidak terlalu bisa disalahkan dalam hal itu: kumpulan DukaMu Abadi adalah catatan-catatan satu tema pusat. Mereka merupakan ungkapan dari “do’a jang pandjang”: hidup yang tak bisa membebaskan diri dari sunti di satu pihak dan Tuhan di lain pihak.

Tak bisa disangkal lagi bahwa puisi ini adalah puisi religius. Meski demikian, di sini pembicaraan dengan Tuhan tidaklah direkam sebagai satu pertemuan luar biasa dan tersendiri:pertemuan itu tidak bersifat luar biasa, sebab ia berlangsung terus dalam sajak-sajak Sapardi. Tuhan tidak hadir sebagai sesuatu yang baru dan menarik perhatian, melainkan sebgaai Kehadiran yang selalu terbayang di tiap baris. Ketika Sapardi Djoko Damono menuliskan “buatmu, Mu”, terasa ia dengan lirih hendak merumuskan kesadarannya akan Kehadiran itu.

Juga sebuah sajak tahun 1968, “Gerimis Ketjil Di Djalan Djakarta, Malang”:

seperti engkau berbitjara di udjung jalan
(waktu dingin, sepi grimis tiba-tiba
seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu
untuk kembali berduka)
untuk kembali kepada rindu,
pandjang dan tjemas
seperti engkau jang memberi taat tanpa lampu-
lampu
supaja menjahutmu, Mu

Perulangan bunyi “mu” dan pergantian “mu” — dengan “m” (kecil) — dengan “Mu” — dengan “M” (besar) menjelaskan segalanya: di dalamnya terbayang suatu persona kedua, suatu engkau, yang dekat dan intim tetapi juga jauh dan sayup.

Terlibat dalam Kehadiran yang sedemikian, yang terasa dekat ke hati tetapi tak terpahami “penuh seluruh”, penyair ini pun tumbuh dengan sikp yang ambivalen terhadapNya: kadang puisinya luluh dalam Kehadiran itu, kadang ia dengan pahit menyesaliNya. Dalam “dua Sadjak Dibawah Satu Nama” ia memihak pemberontakan Kain yang telah membunuh Abel: “Berapa djaman telah menderita/semendjak Iapun mengusir kita dari Sana”.

Mengapa Tuhan tega mengusir manusia dari Sorga, membuangnya ke bumi, dan menyebabkannya menderita? Tak ada jawaban yang memadai buat pertanyaan ini, Tuhan tetap diam sunyi. Dan Kain pun memutuskan

kalau Kaupun bernama Kesunjian, baiklah
tengah-hari kita bertemu kembali: sehabis
kubunuh anak itu. di tengah ladjang aku tinggal
sendiri
bertahan menghadapi Matahari
dan Kaupun disini. Pandanglah duabelah tanganku
berlumur darah saudaraku sendiri
pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti
dendam manusia jang setia tetapi etrsisih ketepi
benar. Telah kubunuh Abel, kepada siapa
tertumpu sakit hati alam, dendam pertama
kemanusian,
awan-awan dilangit kan tetap bergerak, angin
senantiasa
menggugurkan daunan; segala atasnamamu:
Kesunjian

–”Dua Sadjak Dibawah Satu Nama, II” (1968)

Dalam ambivalensi seperti itulah puisi Sapardi Djoko Damono lebih dari sekedar puisi keagamaan: ajaran-ajaran agama Kristen memang nampak dalam beberapa sajaknya, dulu dan kini, tetapi ia berbeda dengan penyair-penyair Kristen yang kita kenal, Fridolin Ukur dan suparwata Wiraatmadja. Seperti Subagio Sastrowardojo yang juga berasal dari suatu lingkungan sosial Jawa, Sapardi Djoko Damono tidak menampakkan suatu ikatan kuat dengan tradisi keagamaan apapun.

Demikianlah puisinya: merupakan ibadat yang personal, suatu perhubungan dengan Tuhan yang kadang-kadang tampil secara tak terduga. Jika puisi ini adalah do’a seperti yang saya katakan di atas, maka do’a itu adalah semacam “Do’a” Chairil Anwar. Tuhan bukanlah masalah yang sudah selesai bagi Sapardi.

Bukan sesuatu yang mengherankan jika justru karena itu ia lebih otentik daripada penyair-penyair keagamaan dalam berbicara tentang kerinduan, dan lebih mampu untuk menghadirkan teka-teki kematian kepada kita. Puisinya lahir dari teka-teki tersebut, dan bukan pengabar Kitab apapun. Karena itulah ia terasa lebih gelisah dan lebih terdorong untuk berani bertanya tak putus-putusnya. Bagian sajak-sajak Sapardi yang paling intens dalam kalimat-kalimat tanyanya yang tak selesai, seperti dalam “Sonnet X”:

siapa menggores di langit biru
siapa meretas di awan lalu
siapa mengkristal di kabut itu
siapa mengertap di bunga laju
siapa tjerna di warna ungu
siapa bernafas di detak waktu
siapa berkelebat setiap kubuka pintu
siapa mentjair di bawah pandangku
siapa terutjap di celah kata-kataku
siapa mengaduh di bajang-bajang sepiku
siapa tiba mendjemput berburu
siapa tiba-tiba menjibak tjadarku
siapa meledak dalam diriku
siapa aku

— (1968) –

Sajak ini adalah salah satu dari sajak yang paling orisinal dari sapardi Djoko Damono. Kendati pertanyaan besar “siapa Aku” sering kita jumpai, dengan segala pretensi kefilsafatan atau ketasawufan, semacam yang banyak terkandung dalam pelbagai karya mistik Jawa, dalam sajak tersebut pertnyaan itu lebih merupakan ungkapan puncak kegelisahan di tengah misteri. Tak ada tanda tanya sebuah pun di sana, tetapi ia tetap sesuatu yang kejang meraih-raih jawaban: baris demi baris itu tidak sekadar disusun untuk mencapai efek puitis dengan pengulangan, melainkan langkah-langkah resah yang menuju ke arah klimakas. Setiap kali langkah itu adalah pertanyaan, setiap kali langkah itu terkaget dan termangu: kita dengar suara keras konsonan-konsonan yang kemudian tiba-tiba tersentak, disusul oleh vokal “u” pada setiap ujung — dan pertanyaan itu belum juga terjawab, hanya berakhir pada kekosongan yang sama. Dan tanda-tanya pun akan terasa sebagai sesuatu yang berlebih.

Adakah kita sia-sia? Barangkali.

Beri Komentar