Hans Magnus Enzensberger: Puisi dan Intelektual Publik

…Enzensberger ingin menegaskan “kecanggihan yang sejati yang terdapat pada hal-hal yang sehari-hari dan dianggap sederhana”.
SAYA cuma mengenal Hans Magnus Enzensberger secara selintas, di awal tahun 1960-an, di majalah Encounter yang terbit di London. Di berkala bulanan itu ada kutipan pendek dari sebuah esai Jerman, dan di sana saya temukan nama itu. Seingat saya, dalam esai itu Enzensberger mengutarakan bagaimana bahasa Jerman –- setelah Hitler dan Naziisme — seperti harus belajar kembali menyebut nama benda-benda sehari-hari, seperti “piring”, “cangkir”, “pisau”….
Yang terjadi adalah usaha membebaskan bahasa dari teror dan trauma yang berkecamuk – teror dan trauma newspeak kekuasaan totaliter, yang seperti digambarkan Orwell dalam novel 1984, meringkus pikiran dan perilaku manusia. Bahasa menjerat dan sekaligus terjerat: bahasa Jerman di bawah Nazi –- sebagaimana bahasa Indonesia dari masa “demokrasi terpimpin” dan “Orde Baru” — dikerumuni oleh apa yang abstrak dan umum sifatnya.
Dalam bahasa Nazi, kita kenal kata seperti Volk (bangsa), Lebensraum (ruang hidup), Reich. Dalam bahasa Indonesia di masa lalu itu kita dibomardir dengan kata “Revolusi”, “Rakyat”, “Neoimperialisme”, “bahaya laten”, “Pembangunan”. Dan kita ingat, baik dalam bahasa Jerman di bawah Hitler dan bahasa Indonesia di bawah Sukarno dan Suharto, akronim jadi demikian penting.
Maka ikhtiar bahasa pasca-Nazi yang disebutkan Enzensberger adalah ikhtiar untuk menegaskan kembali apa yang kemudian disebutnya sebagai “resistansi dari yang spesifik dan yang kongkrit”.
Esai yang saya baca selintas itu saya ingat benar karena pada waktu itu juga saya merasakan bagaimana perlunya bahasa Indonesia membebaskan diri dari beratnya kata-kata besar, khususnya slogan-slogan. Pada waktu itu pula, tahun 1963, saya menulis sebuah esai berjudul “1000 Slogan dan Satu Puisi”.
***
Bukan maksud saya di sini untuk mengenang dan mengutip tulisan saya sendiri. Yang ingin saya lakukan di sini adalah menyambut dengan antusias terbitnya buku ini – sebagai bukti, bahwa walaupun Enzensberger tak dikenal di sini, pengalaman dan sikapnya tidak harus jatuh di tanah yang asing di antara kita.
Saya sangat bergembira bahwa seperti dikatakan dalam pengantar Agus Sardjono, Enzensberger ingin menegaskan “kecanggihan yang sejati yang terdapat pada hal-hal yang sehari-hari dan dianggap sederhana”.
Saya kira salah satu hal yang sering dilupakan dari puisi adalah kemampuannya merayakan benda-benda yang hadir, benda-benda biasa saja tapi pada saat yang sama “misterius”.
Dalam hal itu, Enzensberger memang benar ketika ia tak bisa menerima apa yang dikatakan Adorno dengan dramatis, bahwa setelah apa yang terjadi di kamp konsentrasi di Auschwitz, menulis puisi adalah tindakan biadab.
“Jika kita ingin terus hidup”, tulis Enzensberger, “kalimat itu harus ditampik”.
Justru menulis puisi adalah membebaskan kita dari apa yang dikecam Adorno sendiri sebagai abstraksi dari “berpikir identitas.” Justru puisi menebus kembali apa yang dikuras habis oleh akal instrumental yang mereduksi dunia ke dalam konsep yang bisa dikuasai, ditetapkan, dan digunakan.
Yang bagi saya menarik adalah bahwa Enzensberger bukan penyair seperti Rilke. Penyair ini, selama bekerja dan dekat dengan pematung Rodin, mengembangkan puisi yang menyambut apa yang bisa dilihat, dicium, diraba – dengan kata lain: benda-benda. Ding-Gedichte Rilke menghadirkan macan kumbang di kebun binatang, hujan yang jatuh, anggur yang matang, angin yang berdesau dan lain-lain kejutan kecil dari hidup yang punah dilindas Revolusi Industri.
Tampak ada beda yang jelas antara kedua sastrawan ini. Bagi Rilke, keakraban kembali dengan benda-benda itu berkait dengan kesendirian – seperti kita ingat dari sajaknya Herbstag yang diterjemahkan dengan indahnya (“Musim Gugur”) oleh Chairil Anwar.
Berbeda dari Rilke, Enzensberger seorang intelektual publik. Ia bukan seorang yang soliter. Saya kebetulan membaca sebuah tulisan yang mengutip sebuah wawancaranya di tahun 1979. Ia mengatakan, di kepala seorang pengarang berkecamuk suara dan gema macam-macam. Baginya kesusastraan adalah sebuah ikhtiar kolektif, dan ia tak tertarik pada monolog. Enzensberger, yang juga seorang penulis esei, berbicara dan mengambil pisisi dalam pergolakan politik. Kepergiannya ke Kuba untuk hidup bersama rakyat negeri yang sedang berevolusi itu menunjukkan ia bukan hanya seorang pencatat dan penafsir dunia.
Dalam buku yang kita biacarakan ini ia dengan tepat dibandingkan dengan Brecht: sastrawan yang juga memihak dalam perjuangan orang banyak. Bahkan seperti disebutkan oleh Damshäuser dalam pengantar buku ini, pada tahun 1960-an Enzensberger jadi “semacam pahlawan” bagi para mahasiswa kiri yang menghendaki revolusi di Jerman.
Tapi sepanjang yang sedikit saya mengerti, ada perbedaan Enzensberger dengan Brecht. Brecht hidup dengan Partai Komunis sebagai pemegang garis kebenaran; Enzensberger tak berada di bawah partai apapun. Dalam buku ini dikutip kata-katanya kepada Peter Weiss, seorang sastrawan komunis: “Bagi saya argumentasi lebih penting daripada ideologi. Pandangan hidup yang tidak berkontradiksi tak saya butuhkan.”
Tapi barangkali Brecht yang hidup di tahun 1930-an tak sepenuhnya berbeda dari penyair yang dielu-elukan oleh kaum kiri di tahun 1960-an ini. Seperti Brecht, Enzensberger memaparkan kebenaran sebagai montase.
Sebuah obitur dictum-nya mengatakan: “Kebenaran, sebuah montase”. Kebenaran tak pernah hadir dengan wujud utuh sekaligus. Brecht juga memilih montase. Baginya karya sastra seperti yang dianjurkan realisme sosialis ala Grigory Lukacs –- yang menjadikan novel Balzac sbagai tauladan — tak cocok untuk dirinya. “Balzac tak bermain-main dengan montase”, kata Brecht. Itu sebabnya karya Brecht mengandung keragaman, kontradiksi, ketidak-utuhan. Dan agaknya demikian juga karya Enzensberger.
Bagi saya, itu menyebabkannya bertambah menarik untuk kita sekarang. Dewasa ini, orang cenderung meletakkan pada pundak seorang intelektual publik peran yang mirip dengan peran para nabi dalam Perjanjian Lama: orang-orang suci yang seperti Nabi Amos dan Yeremiah berada di luar dinding kota dan memperingatkan malapetaka bila para penghuni itu lengah.
Tapi mungkinkah dalam posisi itu, seorang intelektual publik seperti Enzensberger berpegang pada kebenaran sebagai sebuah montase, bukan sebuah totalitas yang siap menjawab?
Seperti ditunjukkan dalam buku ini, Enzensberger tak akan menyamakan penyair dengan nabi ala Perjanjian Lama. Ia bermain dalam ironi. Ironi mengandung ketangkasan pikiran, tapi juga kesediaan menerima bahwa pikiran harus hidup dalam inkonsistensi dan khaos. Seorang ironis pandai mengambil jarak, dengan humor dalam dosis sedikit atau banyak, dengan kebenaran yang seakan-akan sudah selesai.
Saya kira itulah yang ia sampaikan dalam sajak “Rondeau”. Pada akhirnya kita yang bicara tak akan bisa jadi nabi.
Maka jadilah engkau seperti kau adanya
dan teruslag bergumam sendirian,
wahai makhluk tak berguna
Walhasil, seorang penyair juga punya batas, tapi juga punya harga. Justru sebagai “makhluk yang tak berguna”, ia secara sengaja atau tidak melakukan resistansi terhadap sebuah kehidupan yang dibentuk oleh “industri kesadaran”, kalau kita memakai kata Enzensberger tentang imperialisme kekuasaan media.
“Tak berguna”: Ironi itu, cemooh itu, adalah juga kerendahan-hati, kearifan, dan sekaligus perlawanan. Sebab “guna” telah didefinisikan oleh sebuah sistem sosial di mana manusia hidup, di bawah desakan modal dan media, dengan “antena di kuduk/si pelahap bisu dengan otak kudisan”, seperti ditulisnya dengan sarkastis dalam “Puisi bagi Mereka yang Tak Baca Puisi”.
Komunitas Salihara, 10 Agustus 2009.
* Pengantar untuk peluncuran buku Coret Yang Tidak Perlu, kumpulan puisi Hans Magnus Enzensberger (terjemahan Agus R. Sardjono dan Berthold Damshäuser), terbitan Horison, 2009.
ketika sisipus sudah lelah si tengah jalan menanjak itu, bolehkah leki-laki berjubah hitam itu datang…
Datangkanlah si Jubah hitam itu bersama bayangnya sekali gus!!! Heheh!
Apa otak ku ini kudisan, ya!
Salam!