Esei • Ahad, 11 Oktober 2009 @ 16:34 diunggah oleh zen

Eksotopi [1]

Pada dasarnya eksotopi-lah yang kita lakukan ketika kita membaca sebuah teks dan mengakui integritas teks itu, tetapi sementara itu juga membubuhkan suatu suplemen ke sana, dan itu berarti menciptakan suatu dialog—yakni dialog yang merupakan suatu kelanjutan kreativitas.

I

SELAMA beberapa bulan di tahun 1966, saya berjalan, hampir setiap hari, di atas jalan batu tua yang dirampat rapi di Kota Bruges, kota orang Flam dari abad ke-9 di Belgia, di mana masa silam datang kepada kita dan kitalah yang menjadi tamu. Tiap pagi, orang-orang minum kopi dan pengantar koran mampir dari rumah ke rumah, dan jalan mulai sibuk, bis kota sudah bertugas, tetapi segala hal yang normal di abad ke-20 itu akan segera diletakkan terpaut dengan sesuatu yang menyebabkan Bruges hidup: kehadiran sejarah.

Hampir saban pukul 8:30 saya melintasi kanal Rozenhoedkai, berpapasan dengan air hijaunya yang tak bergegas, yang melintas, terkadang terselip-selip, di antara titian batu dan gedung-gedung bata-merah yang tiga abad. Tiap setengah jam waktu dimaklumkan ke seantero kota: penghuni akan mendengar bunyi keloneng di udara, dentang 47 karilon yang tersimpan di salah satu ruangan di atas menara jaga yang tinggi; di hari-hari itu, tanda waktu itu menirukan patahan melodi Eine kleine Nachtmuziek.

Orang-orang kota dan buku panduan turis akan bercerita bahwa mercu yang menjulang di Balai Pasar itu sebuah konstruksi yang datang dari abad ke-14. Ia berdiri tinggi menghadapi lapangan umum, seakan-akan jadi patokan dari lanskap yang mendampingi Balai Kota. Orang-orang dan buku turis juga akan menunjukkan kepada para pelancong bahwa atap gedung yang berumur 550 tahun itu tak tampak lekang oleh cuaca, dan ornamen keemasannya, yang marak-meliuk, tak tampak aus.

Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga, di Kota Bruges. Tapi tentu saja bukan masa silam saya.

Saya satu-satunya orang yang tak berkulit putih di antara 50 ribu penduduk. Tiap kali saya berjalan melewati pelataran pasar—tempat orang bertemu untuk berdagang dari pelbagai arah angin di zaman dulu—tiap kali itu saya sadar: ada orang-orang yang mustahil jadi “orang Bruges”. Seandainya pun saya akhirnya menjadi seorang warga kota ini, dengan sikap yang tulus sekalipun, saya tidak akan pernah menjadi bagian yang sah dari kenangan yang disimpannya. Saya akan tetap seorang orang luar. Sebagus-bagusnya, saya si jolong yang kasip.

Tiap musim semi penghuni kota ini merayakan sebuah ingatan bersama, terkadang takzim terkadang meriah: prosesi Darah Suci. Dalam sebuah iring-iringan yang panjang, dengan kostum yang beraneka-ragam, mereka memperagakan episode utama dalam Injil, membawakan kisah-kisah heroik Perang Salib, dan menyusun kembali gambar-gambar rupawan para leluhur—dan dengan cara demikian menyusun sebuah katalogus kenangan yang amat rapi, sejak Yesus di Yerusalem sampai dengan para saudagar lokal di abad tengah. Di hari seperti itu, berbagai masa silam yang ruwet dan panjang berjela-jela pun diringkas lurus. Dan dengan itu kenangan yang lempang itu pun jadi tapal batas identitas: kalaupun saya punya
bayangan tentang sejarah nenek moyang saya, bayangan itu pasti tidak ada di dalam identitas itu.

Lebih menarik dan pasti lebih terkenal ketimbang cerita saya tentang Bruges adalah catatan James Baldwin di sebuah dusun Swiss. Ia mengisahkannya kembali dalam Notes of a Native Son.

Ia orang hitam pertama yang pernah datang berkunjung ke desa itu, yang sebenarnya bukan tempat yang tak mudah dijelang. Jauhnya cuma empat jam perjalanan mobil dari Milano, dan hanya tiga jam dari Lusanne. Baldwin bahkan seorang tamu yang agak dikenal; ia pernah empat kali datang ke sini. Orang-orang dusun itu tahu namanya, meskipun mereka tak pernah menggunakannya dalam bertegur sapa. Mereka juga tahu bahwa Baldwin, yang warna kulitnya gelap, yang rambutnya keriting hitam, adalah seorang pengunjung dari Amerika, meskipun mungkin mereka, dengan sikap yang ramah dan polos, tak pernah benar-benar percaya akan hal itu. Bagi mereka, dan ini mereka utarakan tanpa rasa benci, seorang hitam harus datang dari Afrika—seperti semua orang hitam yang pernah mereka “tolong” masuk Kristen, ketika mereka memberi derma bagi kolekte gereja dusun mereka untuk kegiatan misi.

Di situlah Baldwin menjadi sadar bagaimana sejarah membuat faksi-faksi; sejarah telah jadi sebuah ruang yang eksklusif, menunjukkan ras, menegaskan biologi. Tak peduli betapapun sudah terbiasanya ia dengan tempat itu dan tetangga-tetangga itu, ia akan senantiasa berada di luar dunia yang diciptakan oleh orang kulit putih dusun Swiss itu bersama nenek moyang mereka. Maksud saya: dunia peradaban Eropa, agama Kristennya yang misioner, penaklukan di Afrika, pertautannya dengan perbudakan. Dan tak hanya sampai di situ: juga pabrik arloji Swiss, industri farmasi, bank-bank besar yang tak mencolok, jalan-jalan Jenewa yang rapi dan membosankan, bahkan juga bentangan urban Kota New York—kota yang tak pernah dilihat para penduduk dusun itu dari generasi ke generasi, kota yang jadi bagian hidup Baldwin.

Notes of a Native Son akhirnya sebuah penerimaan yang murung, bahwa sejarah yang semacam itulah yang menghuni pikiran orang hitam, seperti sebuah mimpi buruk dari mana ia tak akan pernah terbangun. Ia sebenarnya ingin melupakan masa silam itu, tapi masa silam itu garis hidupnya. Di sini saya ingin mengutip apa yang dikatakan Baldwin tentang para tetangganya di dusun Swiss itu:

Yang paling buta huruf di antara mereka sekalipun akan terpaut pada Dante, Shakespeare, Michelangelo, Aeschylus, Da Vinci, Rembrandt dan Racine, satu hal yang tak akan terjadi pada diri saya. Katedral di Kota Chartres itu mengungkapkan sesuatu kepada mereka, sesuatu yang tak akan pernah diutarakannya kepada saya. Juga gedung Empire State New York, seandainya pun kelak di antara mereka ada yang sempat melihatnya. Dari himne dan taxi mereka datanglah Beethoven dan Bach. Kembali ke beberapa abad yang silam akan tampak mereka dalam kejayaan penuh—dan saya di Afrika, menyaksikan para penakluk berdatangan. [1]

Kata-kata itu adalah sederet kesaksian tajam sebuah kepedihan. Bagi Baldwin, ada sesuatu yang mempertalikan antara kata “sejarah” dan “Barat”. Baginya, Barat adalah masa-silam-masa-kini-masa-depan sebuah ras, dan akan menjadi masa depan bagi ras atau penghuni dunia yang lain. Barat adalah sesuatu yang dengan demikian berarti menang, menaklukkan, menenggelamkan, merasuk: sesuatu yang menghadapi yang-Lain sebagai sisi yang akhirnya akan “ditobatkan” dan niscaya akan terangkum oleh sejarah, oleh Barat itu, oleh orang-orang yang, dalam kata-kata Baldwin, “telah membuat dunia modern”. [2]

Esai itu ditulis di tahun 1953. Mungkin sebab itu ia tak berhasil mencatat sebuah pokok yang penting: bahkan kalaupun sejarah ikut membantu memproduksikan “ke-Niger-an” Baldwin, sejarah itu tak punya klaim yang alamiah dan total atas dirinya. Kesinambungan dengan masa lalu lahir dari kenangan yang selektif—itu yang nanti akan saya kemukakan ketika saya berbicara lagi tentang Bruges—dan begitu juga halnya tali yang mempertautkan para tetangga Baldwin di dusun Swiss dan pencakar langit orang putih nun jauh di New York. Masa lalu, baik masa lalu mereka maupun masa lalu Baldwin, tak pernah punya koridor satu.

Lagi pula, masa silam itu tak hadir begitu saja di sana. Ia merupakan kelanjutan dari pemaknaan sosial. Sebab itu ia mewarisi perkara-perkara tafsir, yang jawaban-jawabannya tak pernah tak bisa disangkal. Gambaran yang berasal dari abad-abad yang telah silam tidak dengan sendirinya menampilkan sebuah suku Swiss yang mengarungi laut ke Afrika dan menaklukkan nenek moyang James Baldwin yang terpuruk.

Namun bisakah kita menyalahkah kepedihan itu? Masa ketika Baldwin menulis itu adalah suatu masa, ketika mobilitas benda dan manusia belum begitu riuh dan rancu, ketika di Eropa dan Amerika perubahan berlangsung tenang, tak nampak dan tak bergejolak, ketika fragmentasi dan keanekaragaman hidup belum muncul menyeruak tanpa pola yang pasti.

Orang juga bisa mengatakan bahwa ketika itu dua sekutu di Atlantik baru saja mengatasi krisis yang bernama Perang Dunia II, dan Barat masih sangat yakin akan misinya untuk modernisasi dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai berfungsi, tetapi, seperti yang terjadi dalam Perang Korea, ia hanya penerjemahan atas hasrat Amerika dan sejumlah negara Eropa. Di masa itu, “Barat”, dan dalam hal ini berarti Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, praktis memegang hak tunggal untuk dianggap dan menganggap diri sebagai mata, pandangan, kesadaran, kekuatan, yang memproduksikan dirinya sendiri dan yang-Lain. Kekuatan kolonial Eropa memang telah runtuh di mana-mana, tapi suatu corak yang telah tertera sejak zaman imperialisme Eropa berlanjut: Barat-lah yang menciptakan Barat, dan menciptakan Timur sekaligus.

Kita ingat tentu, bahwa Edward Said dalam buku yang terkenal itu, Orientalism, telah menunjukkannya dengan tajam. Yang menarik bagi saya bukanlah argumentasinya, yang saya anggap agak berlebihan, yakni bahwa penulisan para orientalis merupakan suatu variable yang “dependen”
secara ideologis, dan bahwa motif-motif politik dari para pelindung ilmu pengetahuan di Barat sepenuhnya mensubordinasikan otonomi penelaahan kaum orientalis. Yang menarik bagi saya—karena soal ini akan menjadi penting dalam pembicaraan kali ini—ialah karena Said menunjukkan cacat formal paling menonjol dari orientalisme: yakni memasang apa yang bukan Barat, dalam hal ini Islam, suatu sifat yang tunggal, dan mengatasi sejarah. Dengan kata lain, suatu hakikat, suatu esensi yang tak berubah dan tanpa konteks apapun. Islam hanya ada sebagai suatu Gestalt yang merupakan hasil konstruksi kaum orientalis sendiri.

II

SAYA tidak tahu bagaimana persis “Islam” atau “Barat”, “sejarah” dan “peradaban” muncul, masing-masing seakan-akan sebagai sebuah kesatuan, bukan keragaman yang nyaris tanpa batas. Kalau Adorno benar, pada mulanya adalah pikiran. Ia mengatakan: “Berpikir berarti mengidentifikasikan”. Kita berpikir, maka kita pun tak bisa lepas dari merumuskan identitas-identitas, membentuk pengertian-pengertian dan kategori-kategori. Dengan kata lain, membentuk serta menggunakan konsep.

Membentuk serta menggunakan konsep berarti menguasai keanekagaraman dan sengkarut fenomena di luar kesadaran, dan serentak dengan itu meletakkan mereka di dalam satu kurungan yang sama, dan membekukan mereka sampai terjadi kesamaan: suatu proses abstraksi. Baldwin, di dusun kecil di Swiss itu, berada di bawah bayang-bayang berat dari abstraksi itu: secara mendalam ia adalah makhluk yang jadi beku.

Maka ketika orang berbicara tentang peradaban, seperti misalnya dilakukan oleh Samuel Huntington dalam esainya The Clash of Civilizations [3] — yang mengemukakan kemungkinan akan terjadinya sengketa baru di masa ini, yaitu sengketa antara peradaban Barat dan Islam—ia sebenarnya berbicara tentang himpunan-himpunan identitas. Huntington menyebutkan “bahasa”, “adat”, “agama”, “sejarah” dan “institusi” sebagai “unsur-unsur obyektif” yang membentuk peradaban: di situ pun ia membayangkan sifat homogen, atau setidaknya satu-padu, dari tiap-tiap elemen itu.

Tak mengherankan, bila bagi Huntington, Barat, sebuah kata sentral dalam argumentasinya, juga suatu identitas tersendiri yang bergeming. Seperti dinyatakan oleh Fouad Ajami, dalam sebuah komentar yang tajam tentang risalah Huntington, [4] “Barat itu sendiri tidak diperiksa dalam esai Huntington. Tidak ada retakan yang melintasinya. Tak ada suara multikulturalis yang didengar. Ia tertib dalam kubunya sendiri”.

Dengan kata lain, pada Huntington, ada asumsi, atau ilusi, tentang kubu-kubu yang utuh. Dalam mengidentifikasi Barat, ia sebenarnya telah menyingkirkan, dari ruang bersama, semua anasir yang menampik untuk menyerah kepada identitas itu. Maka peradaban yang dibayangkan Huntington adalah sebuah hasil pembersihan dan penggusuran.

Tetapi bukan perumusan dan bahasa belaka yang bekerja dalam proses penyingkiran itu. Bukan hanya karena is disebut “Niger” maka orang seperti Baldwin—yang menganggap, tentu saja, bahwa pencakar langit dan lanskap kota di New York sebagai bagian dari latar belakang hidupnya—tidak merasa termasuk sebagai bagian yang wajar dari “sejarah” (”Barat”) yang menciptakan arsitektur itu. Ada kekuatan yang lebih kuat dari kata. Imperialisme telah membuktikannya.

Maka masalahnya bukan lagi masalah proses kognitif, masalahnya bukanlah sekadar masalah perubahan episteme, bila kita ingin bebas dari tekanan, gencetan, dan pembisuan. Bagi mereka yang merasa terjerat oleh sejarah, dan merasa bahwa sejarah itu terjerat dalam dirinya, langkah menuju emansipasi memerlukan sesuatu yang lain.

Saya sudah sebutkan bahwa Baldwin menuliskan esainya di tahun 1953. Dua puluhan tahun kemudian, banyak hal berubah—atau diubah. Mereka yang berada “di luar sejarah” mulai membentuk sebuah atau beberapa buah kehadiran. Bukan saja mereka telah, atau sedang, dalam proses membebaskan diri dari penjajahan, tetapi karena persaingan antara Amerika Serikat (dan Eropa Barat) dengan Uni Soviet menjadikan posisi mereka, para penghuni Dunia Ketiga, menjadi diperhitungkan.

Di tahun 1955 di Bandung ada Konferensi Asia-Afrika. Setelah itu, dengan segera Afrika menjadi lambang utama tentang pembisuan yang dilakukan oleh Eropa terhadap dunia di luar dirinya. Di tahun 1956, Konferensi Sastrawan dan Seniman Kulit Hitam (Le Congres des Ecrivains et Artists Noirs) diselenggarakan di Paris. Sejumlah besar datang dari Afrika, dan James Baldwin hadir sebagai salah satu anggota delegasi penulis hitam dari Amerika.

Di hari pembukaan Alioune Diop, redaktur Presence Africaine, berpidato. Ia menyebut konferensi itu “Bandung kedua”. Seperti di Bandung, kata Diop sebagaimana dilaporkan oleh Baldwin, orang berkumpul di sana karena sebuah kenyataan bersama: bahwa mereka tunduk kepada Eropa atau, sekurang-kurangnya, “kepada pandangan Eropa tentang dunia”. Namun selama dasawarsa terakhir, kata Diop, perubahan telah terjadi dalam soal nasib dan aspirasi orang-orang yang bukan Eropa, terutama orang hitam, yang “oleh sejarah diperlakukan dengan enteng”. Sebab sejarah, (“this history with a large K”), bagaimanapun tak lebih dari “interpretasi Barat tentang kehidupan dunia”.

Lihatlah, kata Diop, “keanekaragaman budaya” yang diwakili oleh para peserta konferensi di Amphiteater Descartes di Sorbonne itu: pelbagai budaya yang sejati yang diabaikan oleh Barat, karena memang enak, bagi Barat sendiri, untuk bersikap demikian. [5]

Tahun 1950-an berlalu, dan makin lama memang nyaring artikulasi “bukanBarat” seperti yang diutarakan Diop. Yang pasti, artikulasi itu telah mengambil bentuk yang lebih dari sekadar kata-kata. Perang kemerdekaan Aljazair, perang Vietnam, perjuangan Palestina, eksperimen Maoisme, Revolusi Islam di Iran, juga “petropolitik” Arab Saudi, apa yang pernah disebut sebagai superioritas manajemen gaya Jepang, kemajuan ekonomi di Asia Pasifik—semua itu, berbaur atau saling bertentangan, dengan satu dan lain cara, pasti telah menghadirkan apa yang bukan-Barat sebagai alteritas dan alternatif yang menarik dalam kesadaran orang di Amerika dan Eropa.

Apalagi sementara itu, dalam hidup sehari-hari, mereka, terutama di tahun 1970-an, mengalami proses kemerosotan hegemoni, bersamaan berlangsungnya pelbagai perubahan dalam kapitalisme yang ada. Setidaknya ketertarikan orang di sana terhadap tulisan Franz Fanon, Ali Shariati, ide-ide Ivan Illich (Deschooling Society) atau Schumacher (Small is Beautifid) bagi saya menunjuk dengan jelas pengaruh kehadiran bukan-Barat itu.

Tentu saja ini bukan hal yang sepenuhnya baru: ketertarikan kepada yang eksotis, yang Timur atau yang primitif telah lama nampak: Artaud dalam teater, Picasso dalam seni rupa, untuk menyebut dua nama saja, sudah mencoba menjelang yang bukan-Barat terlebih dulu. Ada kritik bahwa yang seperti itu hanyalah suatu “penjarahan” dalam bentuk lain. Tetapi dalam masa pasca-1950-an (atau 1960-an, barangkali) latar belakangnya berbeda: beberapa pokok pikiran yang kemudian dikenal atau dikemas sebagai “postmodernis” semakin dirasakan memberi jawab kepada guncangan yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat yang masih terasa hingga kini. Orang hidup dengan guncangan yang bergelombang dari gerakan pembebasan perempuan, gerakan kulit hitam, gerakan lingkungan dan pelbagai bentuk “politik-mikro” serta “politik identitas”, ketika partai-partai revolusioner lama terasa macet dan demokrasi liberal tidak lagi bisa menggugah.

Hegemoni dan homogenitas digugat, konsensus diragukan, dan perbedaan disemarakkan. Ada seorang penulis yang bahkan mengatakan bahwa
pengetahuan manusia dewasa ini dibentuk oleh pengetahuan tentang mereka yang ditolak, yang tak terpakai, yang tersisihkan. Mungkin itu sebabnya sekarang orang tidak berpikir tentang sintesis atau asimilasi, atau bahkan bukan tentang dialektika.

Ada satu istilah Mikhail Bakhtin yang bisa dipinjam di sini: “eksotopi”.

Jika sintesis dan dialektika (dalam pengertian Hegelian atau Marxis) adalah sesuatu yang dapat termuat dalam satu subyek tunggal, dan mengatasi kontradiksi dalam suatu pandangan yang monologis, maka eksotopi berbeda. Pada dasarnya eksotopi-lah yang kita lakukan ketika kita membaca sebuah teks dan mengakui integritas teks itu, tetapi sementara itu juga membubuhkan suatu suplemen ke sana, dan itu berarti menciptakan suatu dialog—yakni dialog yang merupakan suatu kelanjutan kreativitas. [6]

Catatan kaki

[1] Notes of a Native Son (Boston: Beacon Press, 1984), 159-175.

[2] Ibid.

[3] Majalah Foreign Affairs, nomor musim panas 1993.

[4] Fouad Ajami, “The Summoning”, Foreign Affairs, September/Oktober 1993, 3.

[5] James Arthur Baldwin, Nobody Knows My Name (Vintage International, Vintage Books, 1993), 14-15.

[6] Gary Saul Morson & Caryl Emerson, Mikhail Bakhtin, Creation of a Prosaics, (Standford, California: Standford University Press), 1990, 55-56.

Ada 1 Komentar

  1. Angelina Hendarto

    Sejarah memang telah membuat faksi, hamba-tuan atau orang kaya-orang miskin. Tetapi sejarah juga yang menciptakan peradaban, termasuk terbentuknya agama dan sekte yang akan melahirkan faksi kembali…Thanks to GM

Beri Komentar