wawancara • Rabu, 25 November 2009 @ 00:18 diunggah oleh zen
Playboy (P): Apa bedanya penggarapan Panji Sepuh sekarang dengan yang 12 tahun lalu?
Goenawan Mohamad (GM): Kalau dulu di atas tanah rata. Sekarang ada panggung, saya ingin memberi tekanan pada masalah kekuasaan. Meski geraknya tetap meditatif tapi faktor fisik tampak seperti panggung, layar. Penarinya dulu empat sekarang tujuh.
Dalam Panji Sepuh sebenarnya tidak ada naskah, hanya tari. Saya diminta menulis tembang jawa dua stanza lagu panggung. Lalu beberapa kata Jawa untuk koor, musik yang dibikin Tony Prabowo bagus sekali. Seperti koor Gregorian dalam bahasa Jawa. Musiknya tidak memakai gamelan, tapi gender yang digosok. Tidak ada alat pukul sama sekali.
Dulu sempat dipentaskan di Jakarta beberapa kali, di Melbourne, Bali, Solo, Seoul. Ide koreografinya dari Sulistyo Tirtosudarmo. Yang lain-lain menambahkan, mengolah. Saya waktu itu lihat prosesnya usul ini usul itu, Belajar saya.
P: Dari dulu Anda banyak menyumbangkan puisi dan prosa untuk seni pertunjukan. Kalau kali ini, Anda terlibat langsung dalam produksinya?
GM: Saya terlibat penuh dalam Panji Sepuh dan Pastoral. Jadi akan ada dua dua nomor, Pastoral dan King’s Witch. Pastoral itu sajak saya dan saya jadi sutradara juga. Kalau King’s Witch saya hanya konsultan. Lebih banyak membantu persiapan di luar panggung, organisasi produksi. Kebetulan saya berpengalaman di Tempo ada gunanya. Jurnalistik, seperti juga teater, adalah kerjasama berbagai elemen. Ada desain, ada penulisan, logistik, ada budget, ada time table, teater juga begitu. Ada peran juga. Cuma kalau di teater apalagi setelah saya alami, tidak terus-menerus.
Lalu saya lihat (penggarapan) Kali, opera di Amerika. Saya yang membuat libretto-nya. Sebenarnya yang dibikin lebih dulu King’s Witch tapi yang dipentaskan duluan Kali. King’s Witch hanya dalam bentuk workshop. Di situ saya belajar bagaimana sutradara bekerja, bagaimana organisasi teater. Saya mulai banyak ide masuk. Kebetulan saya lihat La Galigo di New York. Menurut saya La Galigo itu gagal.
P: Kenapa gagal?
GM: Menjadi datar, legendanya kurang mencekam. Hampir seperti gambar komik anak-anak. Flat.
Lanjut..
Pidato, wawancara • Rabu, 25 November 2009 @ 00:12 diunggah oleh zen
Playboy (P): Kenapa tidak pernah menulis novel?
Goenawan Mohamad (GM): Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.
P: Kenapa tidak bisa?
GM: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.
P: Tapi menulis esai juga perlu energi?
GM: Aaa… ya, tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa (menulis novel).
Lanjut..
wawancara • Kamis, 8 Oktober 2009 @ 04:45 diunggah oleh zen

JIL: Mas Goen, kalau mengenang masa lalu, apa makna merdeka bagi orang-orang Indonesia yang pertama kali merasakannya di tahun 1945?
GOENAWAN MOHAMAD: Jika membaca atau melihat semacam memoir, cerita fiksi, atau catatan apapun pada hari-hari itu, tampak sekali adanya antusiasme yang meluas untuk merdeka. Selalu ada pendapat yang mengatakan bahwa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia hanya pekerjakaan elitis, karena perubahan politik kadang-kadang hanya dikerjakan sekelompok elit. Pendapat demikian tidak tepat.
Suatu kelompok elitis tidak akan bertahan lama dan tak akan mampu mengubah keadaan tanpa dukungan popular secara langsung. Kalau kita melihat potret-potret setelah proklamasi kemerdekaan, dan terutama tentang rapat umum di IKADA, jelas sekali terlihat adanya antusiasme banyak orang, dan itu bisa dimengerti. Sudah lama orang mendengar kata merdeka, dan sudah lama pula mereka dijanjikan untuk itu setelah merasakan ketidakadilan yang tampak sekali di masa-masa penjajahan.
JIL: Kalau membaca Sejarah Indonesia Modern yang dikarang sejarawan asal Australia, MC Ricklefs, kita akan tahu bahwa ketika proklamasi Indonesia merdeka diikrarkan Soekarno-Hatta, banyak sekali yang berlum tahu….
Betul, yang mendengarkan ikrar kemerdekaan Soekarno-Hatta itu mungkin tak banyak. Tapi pada hari-hari berikutnya, dukungan makin meluas. Itu disebabkan media berkomunikasi waktu itu memang masih sangat terbatas. Pada zaman Jepang, radio dikontrol pemerintah Jepang dan orang Indonesia yang punya radio juga tak banyak. Tapi melalui gerakan-gerakan politik zaman itu, berita tentang kemerdekaan bisa juga disiarkan. Saya pernah mendengar cerita Ibu Trimurti yang kenalan orang tua saya. Konon, dia harus mengabarkan berita tentang kemerdekaan itu sampai ke Jawa Timur dengan memakai mobil yang bobrok. Usaha-usaha demikian banyak sekali dilakukan oleh para aktivis politik saat itu.
Lanjut..
wawancara • Senin, 31 Agustus 2009 @ 20:53 diunggah oleh zen
Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.
MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?
Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.
M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?
GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.
Lanjut..
al-ghazali,
atheisme,
cak nur,
gabriel marcel,
iman,
majalah madina,
Puisi,
rumi,
saya tak bisa jadi atheis,
teologi,
wawancara