Puisi • Kamis, 19 Agustus 2010 @ 16:49 diunggah oleh zen
Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan
Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan
Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi
Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi
Setelah itu, kita tak akan di sini
Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?
Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah
Jangan menangis.
Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
“Ababil! Ababil!” mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.
Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.
(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)
1986
Puisi • Jumat, 14 Mei 2010 @ 18:01 diunggah oleh zen
In the corner of her eternal kicthen
a woman was pounding salt in her mortar.
“I will create hope,” she said, “on the black stone.”
Smoke was never brief. Its ceiling was the color of the world
in Jeremiah’s dreams.
She herself mused on fish in an aquarium, swimming,
like lazy balloons unaware of their own painted sign
in the sky. “They are the ones who dreaming,”
the said to herself.
Even if she had her own dreams. She dreamt of mounds of flour,
drizzling, like grumbling. On as grassland. Half a dozen
people running, escaping, from the sun. “They are all my
children,” she said. “All are my children.”
But the did not know where they went, because thay had not returned since. The youngest, from some Russian town, never
wrote. The eldest had simply vanished. The other four has sent
only one letter with a single sentence,
“We are but traitors, Ma.”
Perhaps there was still a young woman left, on a distant prayer rug, (or maybe that was just a dream returning,)
who did not know her. She often communicated with the silent
language of a factory smoke. She dared not know who she was.
She dared not know.
In the corner of her eternal kitchen
a woman was pounding salt in her mortar.
Puisi • Rabu, 12 Mei 2010 @ 19:53 diunggah oleh zen
Perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi Yeremiah
Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.
Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”
Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“Mak, kami hanya pengkhianat.”
Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu.
Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
1995
Puisi • Senin, 26 April 2010 @ 13:58 diunggah oleh zen
I
And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
before it finally departs.
II
Soon it will die,
the sun that heards children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.
III
On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints areu burried
still and unchanged. The summer was so great.
IV
The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.
Translator: Laksmi Pamuntjak
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
Puisi • Senin, 26 April 2010 @ 13:46 diunggah oleh zen
I
Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.
II
Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti
III
Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.
IV
Kabar terakhir hanya salju
Suara dari jauh, dihembus waktu
Kita tak lagi berdoa. Kita bisa menerka
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta
1967-1968
Puisi • Rabu, 14 April 2010 @ 04:20 diunggah oleh zen
Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada
Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi
1973
————————————————-
Ini adalah satu dari sekian sajak Goenawan Mohamad yang digubah oleh komposer Tony Prabowo. Keduanya beberapa kali berkolaborasi, termasuk mementaskan opera yang naskahnya ditulis oleh Goenawan Mohamad. Mengenai gubahan Tony Prabowo atas sajak Kwatrin tentang Sebuah Poci ini, sebuah catatan dari Sinar Harapan melaporkan:
Lanjut..
Puisi • Rabu, 14 April 2010 @ 04:17 diunggah oleh zen
On a nameless clay
I see your face once more
My eyes are not that dim, obviously
for seeing what is not there
What is the worth of this pot, anyway,
save part illusion?
something that will break one day
and for us to make eternal
1973
Translator: Laksmi Pamuntjak
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:47 diunggah oleh zen
“The lizards, my love, are talking about us.
Nonsense, in other words.”
So said the king to his queen that night.
The passion of bed sated,
silence slipped between bones and sheets.
“Why not believe me? Your dreams shall convince you
as surely as the morning sun.”
The woman broke into tears when Anglingdarma drew up
the seets to cover again her naked breasts; his breath cold
while he kissed her hair.
At morning’s light she tjrew herself upon the burning pyre.
And His Majesty did discern a way to force him to
take flight –with the help of gods
no one knew from whence they came– a way to be untrue.
“Batik Madrim, Batik Madrim, why, then, O Vizier?
Why should one hold constancy more dear than
life and so on and so forth?”
1971
Translator: Nancy Florida
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:44 diunggah oleh zen
“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.
“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia
“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’
1971
Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen
Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?
1961