Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:47 diunggah oleh zen
“The lizards, my love, are talking about us.
Nonsense, in other words.”
So said the king to his queen that night.
The passion of bed sated,
silence slipped between bones and sheets.
“Why not believe me? Your dreams shall convince you
as surely as the morning sun.”
The woman broke into tears when Anglingdarma drew up
the seets to cover again her naked breasts; his breath cold
while he kissed her hair.
At morning’s light she tjrew herself upon the burning pyre.
And His Majesty did discern a way to force him to
take flight –with the help of gods
no one knew from whence they came– a way to be untrue.
“Batik Madrim, Batik Madrim, why, then, O Vizier?
Why should one hold constancy more dear than
life and so on and so forth?”
1971
Translator: Nancy Florida
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
Puisi • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:44 diunggah oleh zen
“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.
“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia
“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’
1971
Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen
Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?
1961
Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen
Here
pine trees shed their leaves, and rolls of waves
are routinely cast off.
Here
the season sights on earth,
sand, cold, and night,
as peace summons as fitfully
the wind upon your shivering self.
And woods bloom
into distant spaces: Please come!
There rises a pair of hills, red and pointed
from bare fields
and parched land
where your heart reaches out. A solitary
windmill spins in the gleam of sunset, and
on the edge of the continent
a rainbow spreads.
Do not mortals return at this hour
when the soil resurges,
like a poem
mute in words like crystal,
enchanted, eternal?
1961
Translator: Laskmi Pamuntjak
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
Puisi • Senin, 1 Februari 2010 @ 03:56 diunggah oleh zen
“Pass by, pass by,” someone says politely
to Time. But the cold
brings it to a halt, the city
shuts its doors.
Buildings still try to
declare their names
to the dark. But form Street 108 onwards
there is no more conversation
The moon ia as pale as margarine and
soundless.
The sky does not melt.
Traffic signs and lights
form
a hieroglyphic line,
and on Kilometer 6
there shines a final ray of light,
probably tossed
to the middle of strait:
a glow as slow as
a dancer mimicking a swan.
“Pas by, pass by,” someone says again
to Time.
But the ocean sucks it up and
minutes turn blue.
So rests eternity,
briefly, while the city
tunes in form a distance,
to the End’s footsteps,
like the horn of hunters….
2004
Translator: Laskmi Pamuntjak
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004], p. 210-212.
Puisi • Senin, 1 Februari 2010 @ 03:42 diunggah oleh zen
“Lewat, lewat,” seseorang berkata sopan
kepada Waktu. Tapi dingin
menyetopnya, kota
menutup pintu
Gedung-gedung masih mencoba
menyebutkan nama mereka
kepada gelap. Tapi sejak Jalan 108
tak ada lagi percakapan
Bulan sepucat margarin dan
tak bersuara.
Langit tak meleleh.
Rambu dan lampu
membentuk
deret huruf Mesir,
dan pada kilometer ke-enam
ada sinar terakhir,
mungkin terlontar
ke tengah selat:
cahaya yang sepelan
penari menirukan angsa
“Lewat, lewat,” seseorang berkata lagi
kepada Waktu.
Tapi laut menyedotnya dan
menit membiru.
Kekal pun singgah sebentar
dan kota
mendengarkan Ajal,
dari jauh,
seperti terompet pemburu…
2004
—————————————————-
Dicuplik dari Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004], hal. 210-212.
Puisi • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 14:38 diunggah oleh zen
– sebuah esai*
Saya tinggal di sebuah kota yang dihuni 10.ooo.ooo manusia tapi pada suatu hari ada kemungkinan tak seorang pun yang akan datang menggali kubur. Sehari sebelumnya para pembesar kotapraja mengumumkan, agar penduduk kota maklum, agar penduduk tenang, bahwa di setiap tempat pemkaman publik yang 18 jumlahnya itu para petugas sudah menggali 40 buah kubur sekaligus.
Mengapa 40, ada yang bertanya. Mengapa 40 karena seperti terjadi di tahun sebelumnya, dan di tahun sebelumnya lagi, itulah jumlah orang yang mati sakit atau kecelakaan, rata-rata antara 35 sampai 40 pada hari seperti itu, dan mayat-mayat itu, saudara tahu, harus segera dikebumikan, sementara pada hari seperti itu akan tak ada pekerja yang datang untuk mempersiapkan liang lahat. Pada hari itu jutaan orang, termasuk para petugas jawatan pemakaman, akan pergi meninggalkan kota untuk sepekan lamanya. Pada hari itu hampir secara serempak mereka akan menaiki deretan kereta api yang persegi panjang, ratusan bis besar yang berjejal, atau mengarungi laut dengan 12 kapal hitam yang sarat. Pada hari itu mereka akan pergi, dalam kelompok-kelompok kecil atau sendiri-sendiri, mengunjungi distrik-distrik di pedalaman, desa-desa yang dulu terpencil, seakan-akan mengikuti sejenis ziarah massal, atau mungkin juga bukan ziarah sama sekali, tetapi sebuah ritual yang tak sepenuhnya mereka sadari sebagai ritual, jalan kebaktian dan jalan kesengsaraan dan kesukacitaan yang mereka tempuh saban tahun, pelan, berbahaya, berkeringat, beratus-ratus kilometer.
Saya tinggal di sebuah kota yang untuk sepekan lamanya ditinggalkan orang, beratus-ratus kilometer, pada sebuah hari tertentu, di tahun yang kapan saja, sehingga kota ini mendadak lengang, seperti sebuah negeri yang dikalahkan garuda. Pada hari itu tak seorang pun yang bahkan ke telinga anak-anaknya sendiri menyebut, dengan hangat, “ini, ini… kota kita.” Antara “kota” dan “kita” menganga sebuah jarak yang aneh. Sebuah kekosongan. Jika tuan renungkan kekosongan itu, uan seakan-akan mendapatkan sebuah bejana gelas, dan di dalamnya Jakarta, kota itu, akan ampak seperti sebuah bandar, seperti sebuah bandar untuk transit, dengan orang-orang yang antri di sebuah lorong besar menjelang sebuah gerbang perjalanan laut yang tak berkesudahan. Tanpa aracis. Di teluk, ada sebuah bahtera. Ada dek berlapis-lapis. Ada kamar kapal dengan jendela-jendela bulat dengan lampu yang seperti zuhrah, didampingi deretan pelampung jingga yang lentuk seperti donat, ribuan sekoci yang ramping seperti ikan terbang, dan orang ramai berbaju rapi yang memandang cerobong asap yang tak pernah berhenti membuat sinyal.
Lanjut..
Puisi • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:09 diunggah oleh zen
Di dekat rumah yatim-piatu
Sinterklas terbunuh oleh peluru
“Piet Hitam telah menembakku!”
Dan anak-anak termangu
Di dekat persimpangan lima
Polisi menahan seorang mahasiswa Afrika
Ia memang bersenjata, dan konon berkata:
“Aku telah merdeka!”
1973
————————————
Dikutip dari buku “Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001″, halaman 58
Puisi • Rabu, 16 Desember 2009 @ 23:17 diunggah oleh zen
Seperti dalam film lama
kotapun terbelah besi
trem terendam
dalam kabut
hanya ada sisa hingar
sebentar
di ingatan
paling awal
dan suara serakmu, dulu,
pada sebuah jembatan,
pada sebuah sungai tua, ketika
sebuah proyektil
terlontar jauh:
mimpi
selurus mimpi.
waktu itu
lampu iklan biru,
seperti kematian
tak menyentuh
tubuhku.
Kini seperti dalam film lama
toko-toko menghilang
gang & taman tenggelam,
hujan
tak terdengar
dan kau berangkat
dari sisi ini…
Terlalu cepat, kataku
Tidak, katamu. Telah kulihat
kilat lenyap
di gelas hitam
itu
2000
————————————-
Dikutip dari buku “Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001″ Hal. 182-183
Puisi • Rabu, 16 Desember 2009 @ 22:41 diunggah oleh zen
Di sini
cemara pun gugur daun. Dan Kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil
ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: datanglah!
Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
tanah padang-padang terkukur
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerlip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?
1961
———————
Dikutip dari buku “Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001″, halaman 1.