Puisi • Jumat, 3 Februari 2012 @ 18:23 diunggah oleh zen

Aung San Suu Kyi

Seseorang akan bebas dan akan selalu
sehijau kemarau

Seseorang akan bebas dan sehitam asam
musim hujan

Seseorang akan bebas dan akan lari
atau letih

Dan langit akan sedikit dan bintang
beralih

Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat
pagoda

Seseorang akan bebas dan sorga akan
tak ada

Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi
tandan yang terjulai

Tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan
ke Mandalay

1996-1997

Bookmark and Share
Puisi • Jumat, 3 Februari 2012 @ 18:21 diunggah oleh zen

Aung San Suu Kyi (English Version)

Someone will be set free and stay as eternal
as the green of the dry season

Someone will be set free and be as sour-black
as the monsoon

Someone will be set free and will run
or tire

And the sky will shrink and the stars
Shift

And between the pole of the seven flags and the pale peak
of the pagoda

Someone will be set free
and disappear

But perhaps someone will be set free and see
the dangling stems

stems on the handkerchief tree, stems on the slopes of the road
to Mandalay

1996-1997

(translated from the Indonesian version by Eddin Khoo).

Bookmark and Share
Foto, Naskah Pentas, Puisi • Rabu, 25 Januari 2012 @ 19:57 diunggah oleh zen

U

Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda dan berkata, ‘Kutemukan ini; coba kau simpan’.

Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan berangkat membunuh Boma di perbatasan.

Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, ‘Wah!’ dan pergi.

Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam. Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun kuda itu pulang tak berpenunggang.

Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun berlalu ia lupakan.

Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan malu menyembunyikan kesedihan.

Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. ‘Ini cerita perjalanan yang lama’, demikian ia berkata kepada anaknya yang menatapnya dengan takjub.

‘Aku melihat kuda itu, Ayah’.
‘Apa warnanya, Isa?’

‘Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua’.

‘Bukan seorang ksatria yang kurus?’
‘Bukan’.

Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.

Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari. Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur, terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.

Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun surga.

2012

Bookmark and Share
Puisi • Rabu, 25 Januari 2012 @ 19:56 diunggah oleh zen

Not

Malam itu ia coba tirukan,
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.

Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
‘Aku tak ingin lagu’,
katanya.

Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.

‘Kau selalu menghendaki yang sulit’
– itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dinihari sebelumnya.

Ia mengangguk. ‘Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja’, sahutnya, ‘Tuhan yang sudah lama mati.’
Dan ia kembali memetik senar.

Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.

Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.

‘Bersama sebuah not’.

2012

Bookmark and Share
Puisi • Kamis, 2 Desember 2010 @ 18:29 diunggah oleh zen

Gandari

Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal…

la, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:

Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.

Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.

Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.

“Mereka lari dari koloni kusta,” kata Gandari dalam hati,
“dan mereka lihat warna hitam
yang berhimpun di atas bukit.”

Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.
Air naik deras ke langit:
sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,
menghantam danau.

Dan angkasa gemetar
Dan mengubah diri ke dalam putting beliun.

Lanjut..

Bookmark and Share
Puisi • Selasa, 7 September 2010 @ 09:29 diunggah oleh zen

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966

Bookmark and Share
Puisi • Kamis, 19 Agustus 2010 @ 16:49 diunggah oleh zen

Tigris

Sungai demam
Karang lekang
Pasir pecah
pelan-pelan

Gurun mengerang: Babilon!
Defile berjalan

Lalu Tuhan memberi mereka bumi
Tuhan memberi mereka nabi

Antara sejarah
dan sawah
hama
dan Hammurabi

Setelah itu, kita tak akan di sini

Kau dengarkah angin ngakak malam-malam
ketika bulan seperti
susu yang tertikam
ketika mereka memperkosa
Mesopotomia?

Seorang anak berlari, dan seperti dulu
ia pun mencari-cari
kemah di antara pohon-pohon tufah

Jangan menangis.

Belas adalah
Iblis karena Tuhan telah menitahkan airmata
jadi magma, bara yang diterbangkan bersama
belibis, burung-burung sungai yang akan
melempar pasukan revolusi
dengan besi dan api
“Ababil! Ababil!” mereka akan berteriak.
Bumi perang sabil.

Karena itulah, mullah, jubah ini
selalu kita cuci dalam darah di tebing
Tigris yang kalah
Dari Najaf ada gurun. Kita sebrangi
dengan geram dan racun. Dan tiba di Kerbala
akan kita temui pembunuhan
yang lebih purba.

(Ibuku. Seandainya kau tahu kami adalah anak-anakmu)

1986

Bookmark and Share
Puisi • Jumat, 14 Mei 2010 @ 18:01 diunggah oleh zen

A Woman Who Was Pounding Salt

In the corner of her eternal kicthen
a woman was pounding salt in her mortar.
“I will create hope,” she said, “on the black stone.”
Smoke was never brief. Its ceiling was the color of the world
in Jeremiah’s dreams.

She herself mused on fish in an aquarium, swimming,
like lazy balloons unaware of their own painted sign
in the sky. “They are the ones who dreaming,”
the said to herself.

Even if she had her own dreams. She dreamt of mounds of flour,
drizzling, like grumbling. On as grassland. Half a dozen
people running, escaping, from the sun. “They are all my
children,” she said. “All are my children.”

But the did not know where they went, because thay had not returned since. The youngest, from some Russian town, never
wrote. The eldest had simply vanished. The other four has sent
only one letter with a single sentence,
“We are but traitors, Ma.”

Perhaps there was still a young woman left, on a distant prayer rug, (or maybe that was just a dream returning,)
who did not know her. She often communicated with the silent
language of a factory smoke. She dared not know who she was.
She dared not know.

In the corner of her eternal kitchen
a woman was pounding salt in her mortar.

Bookmark and Share
Puisi • Rabu, 12 Mei 2010 @ 19:53 diunggah oleh zen

Perempuan Itu Menggerus Garam

Perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi Yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”

Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“Mak, kami hanya pengkhianat.”

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu.

Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.

1995

Bookmark and Share
Puisi • Senin, 26 April 2010 @ 13:58 diunggah oleh zen

Autumn Quatrains

I

And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
before it finally departs.

II

Soon it will die,
the sun that heards children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.

III

On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints areu burried
still and unchanged. The summer was so great.

IV

The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.

Translator: Laksmi Pamuntjak

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]

Bookmark and Share