– A speech for the Ubud Literary Festival (11 October 2004)
Today, as the organizer of this unusual gathering told me, we are here to celebrate a transition ‘from darkness to light’. I must confess that when I heard the idea for the first time, I thought it had something to do with a typically Balinese problem – which is how to be free from a chronic blackout.
Later I was told that the phrase has a double import. And I found it to be quite powerful.
One is a metaphor for the change of ambience currently taking place in Indonesia — from a life of hatred, destruction and fear, to a life of trust and openness. The two bombs that killed almost 200 innocent people in Kuta in 2002 left a deep wound here and in other places, but Indonesia’s 2004 peaceful and free elections seem to redeem a lost hope.
The second meaning behind ‘from darkness to light’ refers to a book published in 1911. The book I am referring to is Door duisternis tot Licht, as it is called in Dutch, or, in the Indonesian version, Habis Gelap Terbitlah Terang. I am sure many of you have heard about it: it is a book comprising letters, tormented but thoughtful, written by the first Indonesian feminist, Kartini. Today’s gathering, initiated and organized by women from different parts of the world, is designed also to commemorate her. Kartini died in 1904, so this is a centennial memorial.
Let me begin with a compliment. In this part of the world, I mean in South-East Asia, journalists are invariably regarded as suspicious individuals or, if not, a worrying lot; so it is a commendable decision on the part of The Temasek Foundation and the Wee Kim Wee School of Communication and Information to invite them to be the central part of our gathering today.
In parallel, I would like to thank both institutions for giving me the honour to speak at this special event.
As kindly suggested to me by Prof. Cherian George, Head of Journalism & Publishing Department of the Wee Kim Wee School, the topic of our conversation today is the role of journalism in a time of intolerance.
I trust that you all agree that the word “intolerance” should be on our radar screen today. It is a burning issue that prompts us to pay heed to, given the daily savagery we have been exposed to by the media.
Humanisme dalam Pemikiran Tokoh- tokoh Indonesia: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer. Salihara, Sabtu, 20 Juni 2009, 16:00 WIB.
Let me begin with shadows. Among the notes I received in the preparation of this festival I found associating ‘shadows’ with ‘terror’ – something evil, foul, violent, and/or repressive. Coming from a Southeast Asian country, I would like to contest such a signification even if I understand why it prevails: living in a world of contrasts, often flagrant ones, you cannot always appreciate the metaphorical ‘shadow’ as a play of possibilities, implying the inherent incompleteness of light and darkness.
This festival, organized in Berlin, in a time when people are preoccupied with the issue of what ‘Europe’ is and what it is not, can itself serve as a reminder of such contrasts, while unwittingly repressing other possible meanings of ‘shadow’. On one side the host city, the capital of a reunited Germany, is a member of the proud geography that enjoys being, as it were, at the Hegelian end of history; on the other side, the focus of the festival is a cluster of countries (even when they are represented by their ‘politics of fun,’ perhaps with a certain irony in the verbal use of ‘politics’ and ‘fun’), distinct for being sites of anguish, beset by violence and lack of freedom. Lanjut..
Goenawan Mohamad (GM): Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.
P: Kenapa tidak bisa?
GM: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.
P: Tapi menulis esai juga perlu energi?
GM: Aaa… ya, tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa (menulis novel).
Orasi yang disampaikan untuk Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, 25 Nopember 2007.
SEBENTAR lagi kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan Slamet Gundono, yang kebetulan pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu: Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.
Dalam kesempatan ini, saya akan bertolak dari lakon itu untuk membicarakan setidaknya dua anggapan, atau salah anggapan, yang dewasa ini acap kita jumpai ketika orang berbicara tentang kesenian. Pada hemat saya, diskusi mengenai hal itu penting sekarang. Kita hidup di sebuah masa yang ditandai oleh tuntutan yang berlebihan kepada manusia – baik melalui kekuatan dalam pasar, maupun kekuatan dalam masyarakat, yang makin mengasingkan dunia kehidupan dari kesempatan untuk bebas, mengalir, dan berbeda.
Dalam kondisi itu, kesenian adalah bagian dari dunia kehidupan yang masih vital, betapapun terkucil. Tak mengherankan bahwa ketiga anggapan yang akan saya uraiakan ini sangat kuat berakar.
Pertama, kesenian umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpikir bagaimana keindahan lahir, siapa yang menentukan “indah” atau “tak indah”, mengapa satu ekspresi kesenian sebuah masa tak jarang ditampik oleh ekspresi kesenian dari masa sesudahnya, mengapa ada generasi baru yang menafikan generasi seni sebelumnya, walaupun tetap ada karya-karya seni yang tak henti-hentinya memberikan makna baru.
Dengan kata lain, benarkah keindahan adalah sesuatu yang begitu penting, dan benarkah ia sesuatu yang universal?
Pidato untuk Nurcholish Madjid Memorial Lecture II, 2008
I.
17 Oktober 1952: di pagi hari itu sekitar 5000 orang muncul di jalanan Jakarta. Pada pukul 8, mereka sudah berhimpun di luar gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Tak jelas siapa yang memimpin dan organisasi apa yang mengerahkan mereka, tapi yang mereka tuntut diutarakan dengan tegas: “Bubarkan Parlemen”. Kata sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan Demokrasi untuk Parlemen”.
Tak lama kemudian mereka memasuki gedung perwakilan rakyat itu, menghancurkan beberapa kursi dan merusak kantin yang biasanya diperuntukkan bagi para legislator.
Dari sini, rombongan demonstran bergerak ke jalan lagi. Peserta makin bertambah besar. Akhirnya mereka, mencapai 3o ribu orang banyaknya, sampai ke Istana Negara. Mereka ingin menghadap presiden. Bung Karno, yang mengetahui apa yang dituntut para dernonstran itu, akhirnya muncul. Dalam pidato singkat ia mengatakan: ia tak akan
membubarkan Parlemen. Ia tak ingin jadi diktator. Ia hanya berjanji pemilihan umum akan diselenggarakan segera.
Ringkas kata, Bung Karno menolak. Tapi rekaman ucapannya menunjukkan bahwa ia juga punya ketidaksukaan yang sama kepada “demokrasi liberal” yang dianggapnya sebagai cangkokan “Barat” itu. Di tahun 1959, ia membubarkan dewan perwakilan pilihan rakyat dan mengubah Indonesia dengan menerapkan “demokrasi terpimpin”. Lanjut..
Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.
KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.
Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.
Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.
Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?
Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya. Lanjut..
Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi – yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.
Demikian petikan pidato Goenawan Mohamad, Menggali Pancasila Kembali, dalam peluncuran politikana.com di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin 27 April 2009. Naskah PDF dapat Anda baca dan unduh dari halaman Dokumen PDF.
Petikan ceramah dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Fresh atau Freedom Sharing di Salihara, 23 Februari 2009.
Dalam gambar: Goenawan Mohamad dan Budiono Darsono.
Foto: Zen R.S.
Saya membaca beberapa blog dan beberapa di antaranya membuat saya terkesan. Beberapa dari mereka tulisannya makin bagus. Bahkan dalam facebook pun sebenarnya banyak catatan yang layak dibaca. Ulil Absar Abdalla, yang sepertinya lebih banyak menulis di facebook daripada belajar [dengan nada kelakar, red], mengatakan hal itu pada saya beberapa waktu lalu.
Saya tertarik fenomena ini karena saya tahu bagaimana susahnya mengajari orang menulis sewaktu masih aktif di Tempo. Saya tidak tahu apakah ini menandakan makin tumbuhnya tradisi tulis atau lebih karena interaksi di antara sesama blogger dalam memberi komentar yang membuat beberapa tulisan blogger makin bagus.
Tapi, saya percaya, beberapa tahun ke depan, tidak sekarang, mungkin sepuluh tahun lagi, makin banyak orang yang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis karena blog. Lanjut..