Pidato • Sabtu, 23 Januari 2010 @ 00:26 diunggah oleh zen
I
Let me begin with shadows. Among the notes I received in the preparation of this festival I found associating ‘shadows’ with ‘terror’ – something evil, foul, violent, and/or repressive. Coming from a Southeast Asian country, I would like to contest such a signification even if I understand why it prevails: living in a world of contrasts, often flagrant ones, you cannot always appreciate the metaphorical ‘shadow’ as a play of possibilities, implying the inherent incompleteness of light and darkness.
This festival, organized in Berlin, in a time when people are preoccupied with the issue of what ‘Europe’ is and what it is not, can itself serve as a reminder of such contrasts, while unwittingly repressing other possible meanings of ‘shadow’. On one side the host city, the capital of a reunited Germany, is a member of the proud geography that enjoys being, as it were, at the Hegelian end of history; on the other side, the focus of the festival is a cluster of countries (even when they are represented by their ‘politics of fun,’ perhaps with a certain irony in the verbal use of ‘politics’ and ‘fun’), distinct for being sites of anguish, beset by violence and lack of freedom. Lanjut..
Pidato, wawancara • Rabu, 25 November 2009 @ 00:12 diunggah oleh zen
Playboy (P): Kenapa tidak pernah menulis novel?
Goenawan Mohamad (GM): Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.
P: Kenapa tidak bisa?
GM: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.
P: Tapi menulis esai juga perlu energi?
GM: Aaa… ya, tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa (menulis novel).
Lanjut..
Pidato • Selasa, 24 November 2009 @ 00:55 diunggah oleh zen
Orasi yang disampaikan untuk Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Airlangga, Surabaya, 25 Nopember 2007.
SEBENTAR lagi kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan Slamet Gundono, yang kebetulan pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu: Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.
Dalam kesempatan ini, saya akan bertolak dari lakon itu untuk membicarakan setidaknya dua anggapan, atau salah anggapan, yang dewasa ini acap kita jumpai ketika orang berbicara tentang kesenian. Pada hemat saya, diskusi mengenai hal itu penting sekarang. Kita hidup di sebuah masa yang ditandai oleh tuntutan yang berlebihan kepada manusia – baik melalui kekuatan dalam pasar, maupun kekuatan dalam masyarakat, yang makin mengasingkan dunia kehidupan dari kesempatan untuk bebas, mengalir, dan berbeda.
Dalam kondisi itu, kesenian adalah bagian dari dunia kehidupan yang masih vital, betapapun terkucil. Tak mengherankan bahwa ketiga anggapan yang akan saya uraiakan ini sangat kuat berakar.
Pertama, kesenian umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpikir bagaimana keindahan lahir, siapa yang menentukan “indah” atau “tak indah”, mengapa satu ekspresi kesenian sebuah masa tak jarang ditampik oleh ekspresi kesenian dari masa sesudahnya, mengapa ada generasi baru yang menafikan generasi seni sebelumnya, walaupun tetap ada karya-karya seni yang tak henti-hentinya memberikan makna baru.
Dengan kata lain, benarkah keindahan adalah sesuatu yang begitu penting, dan benarkah ia sesuatu yang universal?
Lanjut..
Pidato • Ahad, 14 Juni 2009 @ 04:05 diunggah oleh zen
Pidato untuk Nurcholish Madjid Memorial Lecture II, 2008
I.
17 Oktober 1952: di pagi hari itu sekitar 5000 orang muncul di jalanan Jakarta. Pada pukul 8, mereka sudah berhimpun di luar gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Tak jelas siapa yang memimpin dan organisasi apa yang mengerahkan mereka, tapi yang mereka tuntut diutarakan dengan tegas: “Bubarkan Parlemen”. Kata sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan Demokrasi untuk Parlemen”.
Tak lama kemudian mereka memasuki gedung perwakilan rakyat itu, menghancurkan beberapa kursi dan merusak kantin yang biasanya diperuntukkan bagi para legislator.
Dari sini, rombongan demonstran bergerak ke jalan lagi. Peserta makin bertambah besar. Akhirnya mereka, mencapai 3o ribu orang banyaknya, sampai ke Istana Negara. Mereka ingin menghadap presiden. Bung Karno, yang mengetahui apa yang dituntut para dernonstran itu, akhirnya muncul. Dalam pidato singkat ia mengatakan: ia tak akan
membubarkan Parlemen. Ia tak ingin jadi diktator. Ia hanya berjanji pemilihan umum akan diselenggarakan segera.
Ringkas kata, Bung Karno menolak. Tapi rekaman ucapannya menunjukkan bahwa ia juga punya ketidaksukaan yang sama kepada “demokrasi liberal” yang dianggapnya sebagai cangkokan “Barat” itu. Di tahun 1959, ia membubarkan dewan perwakilan pilihan rakyat dan mengubah Indonesia dengan menerapkan “demokrasi terpimpin”. Lanjut..
Pidato • Senin, 1 Juni 2009 @ 07:02 diunggah oleh zen
Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.
KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.
Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.
Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.
Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?
Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya. Lanjut..
Pidato • Rabu, 29 April 2009 @ 13:51 diunggah oleh Antyo

Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi – yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.
Demikian petikan pidato Goenawan Mohamad, Menggali Pancasila Kembali, dalam peluncuran politikana.com di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin 27 April 2009. Naskah PDF dapat Anda baca dan unduh dari halaman Dokumen PDF.
Pidato • Senin, 2 Maret 2009 @ 12:17 diunggah oleh zen

Petikan ceramah dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Fresh atau Freedom Sharing di Salihara, 23 Februari 2009.
Dalam gambar: Goenawan Mohamad dan Budiono Darsono.
Foto: Zen R.S.
Saya membaca beberapa blog dan beberapa di antaranya membuat saya terkesan. Beberapa dari mereka tulisannya makin bagus. Bahkan dalam facebook pun sebenarnya banyak catatan yang layak dibaca. Ulil Absar Abdalla, yang sepertinya lebih banyak menulis di facebook daripada belajar [dengan nada kelakar, red], mengatakan hal itu pada saya beberapa waktu lalu.
Saya tertarik fenomena ini karena saya tahu bagaimana susahnya mengajari orang menulis sewaktu masih aktif di Tempo. Saya tidak tahu apakah ini menandakan makin tumbuhnya tradisi tulis atau lebih karena interaksi di antara sesama blogger dalam memberi komentar yang membuat beberapa tulisan blogger makin bagus.
Tapi, saya percaya, beberapa tahun ke depan, tidak sekarang, mungkin sepuluh tahun lagi, makin banyak orang yang tidak lagi mengalami kesulitan dalam menulis karena blog. Lanjut..
Pidato • Jumat, 20 Februari 2009 @ 07:11 diunggah oleh gm
A speech at the ceremony of the Alumnus of the Year 2007 award, at the Euroopean Parliament, Brussels, 6 December 2007
The honor you have bestowed to me this evening is a gesture of immense generosity – an act of reaching and remembering, because this opportunity is given to an ancien of Collège d’Europe coming from a distant history and geography.
On this occasion I wish I had more words of gratitude than I presently have at my disposal. I thank you not only for nominating me for the Alumnus of the Year award, but also to reconnect me with one of the most valuable memories of my life – which is learning about new things at the College, forging friendship with a delighful group of people — some of whom are here tonight — and simply being in Bruges.
For several months in 1966 I walked, almost every day, on the neatly paved cobblestone paths of this old Flemish town, where the past came to us and we became its guests. Each day, people drank their coffee, the newspaper boy went on his daily rounds, the streets gathered pace, buses resumed their duties, yet all such 20th century normalcy were linked with that which gave this town its pulse: the presence of history. Lanjut..
Pidato • Kamis, 19 Februari 2009 @ 22:40 diunggah oleh gm
Goenawan Mohamad’s opening speech at the World Poetry Festival, Kuala Lumpur, 17 August 2004
I would like to thank you for having me here, in this extraordinary gathering of poets, and for giving me the honour to begin our conversation.
However, I must confess my nervousness; I know that each time poets get together they become acutely self-conscious of their peculiar trade, especially in today’s world. When words relentlessly multiply, like they do nowadays, the verbal deluge makes us wonder what will happen next to the hidden side of language, which is silence.
I hope you understand my hesitation. From this rostrum I will be speaking about silence, yet I cannot help using so many words.
Lanjut..