Foto, Naskah Pentas, Puisi • Rabu, 25 Januari 2012 @ 19:57 diunggah oleh zen

U

Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda dan berkata, ‘Kutemukan ini; coba kau simpan’.

Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan berangkat membunuh Boma di perbatasan.

Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, ‘Wah!’ dan pergi.

Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam. Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun kuda itu pulang tak berpenunggang.

Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun berlalu ia lupakan.

Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan malu menyembunyikan kesedihan.

Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. ‘Ini cerita perjalanan yang lama’, demikian ia berkata kepada anaknya yang menatapnya dengan takjub.

‘Aku melihat kuda itu, Ayah’.
‘Apa warnanya, Isa?’

‘Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua’.

‘Bukan seorang ksatria yang kurus?’
‘Bukan’.

Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.

Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari. Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur, terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.

Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun surga.

2012

Bookmark and Share
Naskah Pentas • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:54 diunggah oleh zen

The King’s Witch

Opera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang. Goenawan Mohamad menuliskan libretto dengan penafsiran baru, juga sudut pandang baru, atas legenda yang sangat populer ini. Dipentaskan pada 1-2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, The King’s Witch tidak dipentaskan dengan aria (dialog yang dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara bernyanyi.

Bookmark and Share
Naskah Pentas, PDF • Kamis, 19 Februari 2009 @ 19:18 diunggah oleh gm

Surti dan Tiga Unggas: Sebuah Monolog

SEBUAH RUANG DENGAN DUA PERMUKAAN.

DI ATAS TAMPAK SEBUAH KATIL TERTUTUP KAIN.

DI BAWAH: SEBUAH GAWANGAN DENGAN BANDUL, SELEMBAR MORI DUA KACU YANG SUDAH SEBAGIAN DIBATIK, SEBUAH DINGKLIK, SEBUAH WAJAN DI ATAS ANGLO, SEBUAH TEPAS. SELEMBAR TAPLAK. BEBERAPA CANTING. SEBUAH BANGKU.

DI LATAR BELAKANG BISA DITAMBAHKAN LAYAR, TEMPAT DIPROYEKSIKAN SATU ATAU BEBERAPA FOTO HITAM-PUTIH, DARI TAHUN 1945-AN. ATAU TAK PERLU APA-APA.

PEREMPUAN ITU 33 TAHUN. NAMANYA SURTI.
SENDIRI.
__

BUNYI KECREK.

Saya ingin bercerita panjang. Saya hanya bisa melakukannya jika saya sendirian, seperti sekarang, ketika rumah kosong.

Saya ingin mengatakan tentang satu hal yang tak pernah bisa saya katakan dengan lurus. Saya selalu bingung di mana awalnya, di mana akhirnya. Barangkali semua cerita seharusnya demikian, tapi saya tahu saya harus memilih. Tidak gampang. Tidak gampang.
Lanjut..

Bookmark and Share
Naskah Pentas • Kamis, 19 Februari 2009 @ 19:14 diunggah oleh gm

Kali or Gandari’s Blindfold

PROLOGUE

CHARACTERS: SANJAYA & CHORUS.

CHORUS: No thing existed, nor did nothing exist,
There was no space spread, no sky beyond.
There was no sign of night, no sign of day
There was neither death nor immortality.

NARRATOR: And all things were one,
Like an ocean,
Until one day the edge cracked,
The sun breathed,
And My Creatures came.

Outside the conclave of the gods,
Brahma created Death
He said, ‘Kali will come,
She will wave her purple hands,
And things will be all right.’
Inside, the gathering said nothing.
Later someone saw Death hopping
From a slow-moving moon,
Dancing with a headless corpse.

It was Kali’s first dance.

Lanjut..

Bookmark and Share