Esei • Jumat, 2 September 2011 @ 01:51 diunggah oleh zen

Emansipasi: Ngelmu Kuwi…

(Jawaban untuk Martin Suryajaya dan tidak hanya untuk Martin Suryajaya)

I

Apa yang akan terjadi jika pada suatu hari pemikiran saya dianggap demikian berpengaruh, atau setidaknya demikian utuh? Saya akan kaget. Bagi saya tak mengapa dianggap hanya sebagai desas-desus. Ini bukan untuk berendah-hati: saya tak pernah memandang diri saya seorang pemikir yang punya sistem, atau dalam sistem, apalagi sistem yang bisa dinamai. Bolak-balik saya orang yang lebih akrab dengan dunia sastra dan seni. Dunia itulah yang membuat saya sesekali ‘menukik lebih dalam’ (istilah Bung Hatta) ke percaturan teori dan filsafat, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pengalaman di sana.

Membangun sebuah pemikiran yang utuh, membangun satu sistem filsafat, tidak termasuk dalam keinginan dan kemampuan saya.

Mungkin sebab itu jika saya menerima Marxisme, (meskipun tanpa sertifikat dari Martin, Hilmar Farid dan lain-lain yang tampaknya berwewenang untuk memberikannya), saya tak akan membuatnya jadi iman yang mendongkrak kebanggaan diri dan membikin saya ‘tenang’. Bagi saya sikap terbaik adalah mengikuti apa yang saya gambarkan dari semangat Gus Dur: berjalan menjelajah dan memperlakukan keyakinan ideologis (atau ‘iman’) sebagai suluh. Bukan sebagai benteng.

Orang memperlakukan keyakinan ideologis sebagai benteng biasanya ketika ia merasa keyakinannya sedang diserang dan ia sendiri takut guyah. Dalam ‘posisi benteng’ inilah misalnya ide dari pihak yang –bukan-kita dianggap sebagai [peluru] pistol yang berbahaya karena bisa membunuh atau melumpuhkan ‘iman’. Meskipun sebagaimana tampak dalam sejarah percaturan pendapat, konfrontasi dengan sebuah ide – juga ide yang paling tak kita setujui sekalipun – justru bisa mematangkan kita.

Memperlakukan keyakinan sebagai benteng berarti menutup diri, merasa perlu menjaga kemurnian ajaran. Heterodoksi adalah musuh. Mereka yang tak punya ‘surat kepercayaan’ sebagai sekutu dijauhi, dan tafsir yang datang dari orang luar dicurigai – tentu saja apa dan siapa itu ‘luar’ ditentukan pada saat mundur ke dalam benteng. Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Sabtu, 13 Agustus 2011 @ 22:44 diunggah oleh zen

Tanggapan Untuk Martin Suryajaya

Pengantar: Dalam indoprogress.com yang lalu dimuat tulisan Martin Suryajaya, Kritik dan Emansipasi: Kontribusi bagi Pendasaran Epistemologi Politik Kiri: Sebuah Kritik Umum atas Goenawan Mohamad. Di sini saya bermaksud menanggapinya.

Kritik Martin terhadap pemikiran saya bertolak dari beberapa asumsi yang sayang sekali tak punya dasar, berkenaan dengan latarbelakang pemikiran itu – dan menunjukkan ia tak melihat kesejarahan secara tepat dari sebuah ide.

1. Premis Martin: saya pasti memusuhi Marxisme. Dasarnya: “Goenawan Mohamad sebagai bagian dari seniman yang diorganisir oleh PSI yang sedang kalah angin dari PKI di tahun 60-an.” Atau: “Kita tahu dia menulis dari awal tahun 60-an dari perspektif PSI yang begitu ketakutan terhadap PKI.”

“Kita tahu…”. Tapi rupanya Martin tidak tahu.

Ketika saya masuk ke gelanggang penulisan di tahun 1960-an, PSI sudah tak ada. PSI sudah jadi “partai terlarang” sejak saya masih di SMA. Saya tak pernah membaca karya Syahrir termasuk “Perjuangan Kita” – apalagi itu termasuk buku yang dilarang — sebelum tahun 1970-an. Syahrir sendiri sudah dipenjarakan. Saya mengenal Syahrir lebih intensif kemudian, terutama dari biografi yang ditulis Rudolf Marazek (1994). Saya berteman dengan beberapa kader PSI, atau yang saya duga demikian, tapi PSI sendiri sebagai partai — juga sebuah partai kecil — sudah lumpuh. Orang ketakutan kalau dianggap “PSI”. Mereka paria politik waktu itu. Kampanye mengganyang mereka sangat intensif hingga PSI jadi sebuah stigma. Sampai sekarang.

Entah mengapa, stigma itu juga dilekatkan kepada inteligensia yang tak jelas partainya – dan dalam generasi saya itu cukup banyak: Arief Budiman, Marsillam Simanjuntak, Nono Makarim, dan lain-lain. Mereka sering dianggap ‘PSI’ tapi sama sekali bukan orang PSI. Dari kelompok generasi itu, yang dekat dengan PSI (sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Sosialis) adalah mendiang Soe Hok Gie.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Selasa, 21 Desember 2010 @ 17:21 diunggah oleh zen

Dari Suatu Hari Yang Pendek di Yogyakarta

Yogyakarta, 17 Desember 1949.

Bung Karno mengenakan satu setel pakaian yang mungkin didesainnya sendiri. Krah itu memanjang ke atas, menutupi seluruh leher. Jas dengan sederet kancing itu tanpa dasi. Di bahunya ada epaulet tipis seperti tanda pangkat seorang marsekal. Pici hitamnya tampak lebih tinggi dari biasa, satu kontras yang necis buat seluruh kostum yang putih sampai warna sepatu.

Dengan sosoknya yang lebih jangkung dari orang-orang di sekitarnya, dengan tubuh yang ramping dan paras tampan, ia sadar ia bintang utama dalam prosesi itu.

Mereka berjalan melewati gerbang Kraton, menuju balairung Sitihinggil. Di depan: Fatmawati Sukarno, cantik di bawah kerudungnya yang berenda, bersama Rahmi Hatta, rupawan dengan rambutnya yang hitam pekat. Bung Karno di saf berikutnya berjalan didampingi Mohammad Roem. Di belakangnya: Bung Hatta, berjas warna terang.

Sejumlah opsir tentara, berdasi yang diselipkan ke baju seragam khaki, berjalan menyusul. Kemudian tampak sebarisan perempuan, memakai gaun, dengan wajah santai dan riang, mungkin pegawai kementerian atau aktivis politik.

Lalu acara resmi pun di mulai di ruang yang lazim dipakai untuk menghadap raja-raja Yogya itu: upacara pengambilan sumpah Presiden Republik Indonesia Serikat.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Kamis, 2 Desember 2010 @ 02:11 diunggah oleh zen

Bebuka Kanggo Novel “Wong Njaba”

Pengantar: Saya diminta Henri Chambert-Loir untuk menulis pengantar novel Albert Camus “l’Etranger” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa jadi “Wong Njaba”. Saya belum yakin bahwa judul itu menarik, tapi itu soal lain. Yang bagi saya “menarik” (dan menantang) ialah harus menulis satu esei tentang pemikiran seorang Prancis dalam bahasa Jawa. Ternyata sulit sekali. Lebih sulit ketimbang menuilis tembang dan teks wayang. Silakan baca dan dikoreksi.

Albert Camus kuwi sakwijining pujangga Prancis sing linuwih ing sastra anggitan lan gagasan. Apik ing perkara ngroncé basa, limpad ing nglimbang budi lan pangerti. Mula mèh kabèh tulisané amot pamikir sing bisa kanggo nggagas perkaraning kauripan lan uga dadi sangu wawasan kanggo sapa baé sing dhemen nyatitèni tekdiring titah, lelakoning dumadi.

Sapandulon, Camus mau nduwè panyurasa lan gagasan sing surem bab jangka lan jangkahé menungsa. Kanggoné Camus, sipaté urip kuwi satata, ora langgeng, mobah-mosik tanpa panuju. Menungsa mesthi mati, ora ngerti apa sakjané sing dikarepké sing gawé urip — apa manèh ora bisa dipesthèkke yèn “gusti sing murbèng dumadi” kuwi sakjatiné ana.

Kahanan mau sing dijenengeni “absurditas”. Sing dadi masalah, apa absurditas kuwi patut dadi wewaton kanggo nulak apa-apa sing ana ing alam donya. “Ana pitakonan siji sing pancèn wigati ing tlatah filsafat, yakuwi nglayu. Naker uriping manungsa, apa pancèn ambejaji dilakoni, kuwi prasasat njawab pitakonan sing paling dhasar.” Mengkono kuwi pambukaning buku Le Myth de Sisyphe (Caritaning Sisifus) sing diterbitké ing taun 1943.

Dongèng mau dicuplik saka mitologi Yunani, nyritakké sakwijning wong sekti, setengah déwa, Sisifus jenengé, sing nandhang pepancasaning para déwa. Sisifus dipidana kudu ngangkut watu gedhé siji, digéndhong ing gegeré, munggah gunung dhuwur nganti pencit. Nanging sak tekané ing pucuk, watu mau bakal dipesthèkké ngglindhing mengisor manèh. Sisifus kudu mèlu mudhun. Watu mau kudu dijupuk manèh lan disunggi. Sisifus ya kudu mbalèni napak menggèh-menggèh menyang puncak. Mengkono kuwi saklawasé. Ora bakal cuthel, ora ana pamungkas.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Jumat, 12 November 2010 @ 17:08 diunggah oleh zen

On Morality and the City: a Response to Abdoumaliq Simone

# A Talk at Serambi Salihara, November 11, 2010

I have to confess that in this conservative time, I am not completely comfortable sitting here to speak of “morality.” The question Abdoumaliq Simone poses in his summary may become a good start for our discussion (“Does morality in the city now mean people leaving each other alone, even as globalization and Facebook brings us all together?”). Yet, morality, to me, is a politically loaded word. My problem is that I see it as a normative order, normally reinforced by the discourse of faith and social cohesion, while I am aware of the incommensurability of such an order with its very claim of universality. I am of the opinion that society, especially in its urban setting, is shaped by a partially settled and historically contingent system of regularities.

Hence there is a perpetual contention. No Hegelian Sittligkeit, or norms of morality operating inside a community generating a natural sense of coherence, is without conflict or exclusion. I am in full agreement with Simone when he quotes James Tully suggesting that today “cultures are continuously contested, imagined, and reimagined, transformed and negotiated, both by their members and through their interaction with others”.

It is interesting that Tully, as Simone quotes him, speaks of the other way of looking at cultures (or other identities like cities, for that matter) which is “a panopticon of fixed, independent and incommensurable worldviews in which we are either prisoners or cosmopolitan spectators in the central tower.” Tully speaks of it negatively. This brings me to what I believe to be an antithesis of the “panoptical” perspective. Being a writer, I find it in works of literature touching upon urban lives and landscapes. These are the kind of modality that articulates, to borrow Michel de Certeau’s description, a “poetic geography on top of the geography of the literal, forbidden or permitted meaning.”

Let me begin with a story by Pramoedya Ananta Toer in his collection, Cerita dari Jakarta, written in the early 1950s. In the story, Aminah, a prostitute, lies down, near death, on a Fromberg Park bench. Suddenly, the past and the present, things distant and near, appear to her simultaneously.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Kamis, 11 November 2010 @ 17:17 diunggah oleh zen

Maridjan

marijan1

Mbah Maridjan: sebuah pertanyaan. Ia tewas di tempatnya bertugas di Gunung Merapi, karena ia sejak lama menolak turun menghindar dari letusan yang telah berkali-kali menelan korban itu. Kesetiaannya mengagumkan, tapi apa arti tugas itu sebenarnya?

Ia, meninggal dalam usia 83, mungkin sebagai pelanjut dari alam pikiran yang dikukuhkan Kerajaan Mataram sejak abad ke-17. Ia pernah bercerita, Merapi adalah tempat terkuburnya Empu Rama dan Permadi, dua pembuat keris yang ditimbuni Gunung Jamurdipa karena telah mengalahkan dewa-dewa. Kedua orang itu tak mati. Mereka hidup, menghuni gunung yang kemudian disebut Merapi itu-yang jadi semacam keraton para arwah. Dan ke sanalah Raja Mataram (Islam) pertama, Panembahan Senapati (1575-1601), mengirim juru tamannya yang berubah jadi raksasa. Si raksasa diangkat sebagai “Patih Keraton Merapi”, dijuluki Kiai Sapujagat. Dengan itu, Panembahan Senapati, yang dikisahkan mempersunting Ratu Laut Selatan, menunjukkan bahwa kuasanya juga membentang ke arah utara. Dan di situlah pelanjut Kerajaan Mataram, atau Yogyakarta sejak abad ke-19, mengangkat orang untuk jadi kuncen Merapi.

Maridjan, yang biasa dipanggil “Mbah”, sejak 1982 diangkat Hamengku Buwono IX untuk tugas itu. Betapa penting kehormatan itu bagi si jelata yang lahir di Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi itu. Ia menyandang gelar kebangsawanan “Raden”; nama resminya Surakso Hargo.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 8 September 2010 @ 01:10 diunggah oleh zen

Bung Karno dan Islam

I

Bung Karno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Qur’an sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi, ibunya seorang perempuan Hindu Bali. [1]

Seperti dikatakannya di tahun 1962, di hadapan Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Jakarta:

Ibu adalah meskipun beragama Islam asal daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, theosofi. Jadi kedua kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.

Apa yang diajarkan orangtuanya? Ada sebuah detail dalam Sukarno, an Autobiography as told to Cindy Adams, yang sekilas menunjukkan dasar etis yang diajarkan sang ayah, seorang guru, kepadanya. [2] Pada suatu hari si kecil Karno memanjat pohon jambu di pekarangan rumah. Tak sengaja ia membuat sarang burung di dahan itu jatuh. Ayahnya memarahinya: anak itu harus menghargai hidup makhluk apapun.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Jumat, 20 Agustus 2010 @ 16:11 diunggah oleh zen

Al-Ghazali dan Kepastian

I

JIKA ada yang berubah dari zaman kita, itu tampak dalam cara orang membaca Al-Ghazali. Salah satu kutipan yang termashur dari karya otobiografi pemikirannya, al-Munqidh min al-Dalal (‘Selamat dari Sesat’) menekankan niatnya yang teguh untuk satu hal: kepastian dalam pengetahuan.

‘Tujuanku adalah untuk mencerap realitas yang terdalam dari hal ihwal; aku ingin menangkap hakikat pengetahuan. Pengetahuan yang pasti adalah yang membuat hal yang diketahui mewedarkan dirinya tanpa membiarkan secercah pun peluang untuk ragu atau kemungkinan apapun untuk salah dan berilusi, dan tak pula hati kita membiarkan kemungkinan semacam itu. …Orang harus dilindungi dari kekeliruan, dan harus begitu terpaut erat dengan kepastian hingga usaha apapun, misalnya, untuk mengubah sebungkah batu menjadi emas atau sebatang tongkat menjadi seekor ular, tak akan membangkitkan ragu atau menimbulkan kemungkinan yang berlawanan….’

Tampak di mana ia meletakkan penekanan, dan apa yang terasa sebagai hasrat orang alim yang mendapatkan julukan hiperbolik hujjat al-Islam ini: ia tak hendak memberi ‘peluang untuk ragu’, ia haus akan ‘hakikat pengetahuan’.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Kamis, 19 Agustus 2010 @ 21:33 diunggah oleh zen

Dari Sinai s/d Al-Ghazali

Bahan percakapan di Fakultas Filsafat Universitas Parahiyangan, Bandung, 25 April 2008.

Pengantar diskusi ini – bukan sebuah teks ceramah – terdiri dari enam.bagian yang tak saya kaitkan satu sama lain dengan ketat dan koheren. Dengan demikian saya mengharapkan pertemuan ini jadi sebuah proses bersama untuk menelaah persoalan tentang Tuhan dan re-presentasinya.

[A]

Inilah satu adegan di kaki Gunung Sinai, sebagaimana dikisahkan dalam Alkitab, di hari ketika Musa dan Bani Israel datang “untuk menjumpai Allah”.

Apa yang mereka jumpai? Gunung itu sepenuhnya ditutupi asap: Tuhan “turun ke atasnya dalam api.” Seluruh gundukan bumi itu gemetar. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Syahdan, Allah pun memanggil Musa ke puncak. Tuhan memperingatkan agar manusia jangan coba menembus asap untuk mendapatkan dan melihat-Nya.

Di saat itu juga turunlah firman: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi bawah, atau yang ada di dalam air…”.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 18 Agustus 2010 @ 16:28 diunggah oleh zen

Tatal 70

Dalam kalimat-kalimat yang seperti mabuk, Allen Ginsberg pernah menyerukan:

“Everything is holy! Everybody’s holy! holy! holy!”

Tapi jika demikian, jika tiap hal suci, yang-lain bukan mukjizat lagi.

Bookmark and Share