Esei • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:42 diunggah oleh zen
Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.
Mitologi Yunani itu tak bercerita apa yang yang terjadi ketika ia terhempas ke permukaan ombak. Tapi, di tahun 1555, Brueghel Yang Tua melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, perupa termasyhur Belanda abad ke-16 itu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya.
Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi. Di bagian depan, seorang petani menggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bertelekan pada tongkat tampak melihat ke langit jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di sebelah kanan, tampak punggung seorang yang duduk ke arah teluk, mungkin memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air –sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.
Lanjut..
Esei • Senin, 8 Maret 2010 @ 21:40 diunggah oleh zen
“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.
Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan.
“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.
Lanjut..
Esei • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:01 diunggah oleh zen
SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, The Beautiful di tepi Sungai Neva, sore itu.
Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara dingin. Begitu musik tiup itu berhenti, pintu belakang bus terbuka, dan seorang kakek gemuk turun dengan logat New York: “Saya mau kasih mereka uang”. Lalu ia meletakkan sepuluh rubel di kotak penadah derma, di arah kaki pengamen. Lalu band pun melagukan The Star Spangled Banner.
Itu tahun 1991. Di Rusia nampaknya orang sedang menjadikan negara kapitalisme besar abad 20, sebagai kiblat baru. Setidaknya, kiblat lama sudah dianggap runtuh.
Di akhir November 1991 itu buat pertama kalinya dalam sejarah, di Lapangan Merah di Moskow, Revolusi Oktober (yang menurut hitungan kalender internasional sebetulnya terjadi di bulan November) tidak diperingati. Tidak ada parade 7 November itu. Tidak ada pemimpin yang berdiri di panggung kehormatan, pentas batu pualam merah yang didirikan di atas musoleum Lenin.
Lanjut..
Esei • Ahad, 21 Februari 2010 @ 22:11 diunggah oleh zen
Sekhak
Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.
Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.
Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”
Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.
”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”
Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”
Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.
Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.
Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.
2010
Lanjut..
Esei • Ahad, 21 Februari 2010 @ 21:28 diunggah oleh zen

Di Indonesia, rasialisme Negara punya sejarah yang lebih panjang ketimbang sejarah Republik. Bahkan lebih tua ketimbang entitas yang disebut sebagai “negara”.
Ketika Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Hoakiau di Indonesia dan kemudian ditangkap, saya baru datang ke Jakarta. Umur saya 19.
Saya datang dari sebuah sekolah menengah di udik, di Jawa Tengah. Di tahun 1960 itu, saya tak tahu apa yang terjadi di dunia. Saya tak tahu bahwa sebuah buku dilarang dan seorang pengarang terkenal dipenjarakan. Minat saya waktu itu agak terbatas. Kini saya bersyukur dapat membaca buku ini, yang hampir 40 tahun bersembunyi sebagai buku yang dilarang. Kini saya tahu apa yang terjadi, kurang-lebih.
Membaca Hoakiau di Indonesia membuat saya tercengang akan kukuhnya Pramoedya Ananta Toer dengan argumentasi. Ia siap dengan catatan sejarah, statistik dan kutipan koran. Barangkali ini memang harus ia lakukan. Ia mengguncang asumsi yang umum berlaku. Ia bukan sekadar bertolak dari anggapan bahwa “ras” bukanlah sebuah kepastian yang absolut. Ia juga mengungkapkan bahwa tak benar keturunan Cina anak emas pemerintah kolonial.
Ia mempersoalkan gambaran perbedaan sosial-ekonomi antara Hoakiau dan “pribumi”, sesuatu yang (menurut data statistik) memang tak teramat tajam di pedalaman Indonesia di tahun 1950-an.
Lanjut..
Esei • Sabtu, 6 Februari 2010 @ 00:58 diunggah oleh zen
– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986
Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat. Kumpulan Dukamu Abadi adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.
Peristiwa-peristiwa tersebut penting untuk kita catat bukan saja sebagai bab baru dari sapardi Djoko Damono, tetapi juga merupakan salah satu tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya.
Masa lalu itu adalah seperti yang kita ingat, periode tahun-tahun terakhir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode yang membayangkan desakan kuat pengaruh kesusastran realisme-sosialis, baik dalam diri para pengikutnya maupun para penentangnya.
Lanjut..
Esei • Sabtu, 6 Februari 2010 @ 00:57 diunggah oleh zen
– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986
Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono bukanlah jawaban, yang dikatakan secara verbal, jelas dan dengan perasaan yakin akan kepastian-kepastiannya sendiri. Puisi ini sebagian besarnya termangu, lahir dalam rasa terpencil, sadar bahwa segalanya toh akan “susut dari Suasana” (”Kepada Istriku”, 1967), dan peka sekali akan pergantian-pergantian yang terjadi dalam proses waktu.
Beberapa kali dalam sajak-sajaknya Sapardi Djoko Damono menggunakan kata keterangan tekanan “pun” di sela-sela suasana sunyi puisinya: kita mendengarnya sayup-sayup bagaikan bunyi gerak jarum jam, yang menandakan bahwa suatu pergantian telah terjadi dalm hening waktu dan kesenyapan:
masih terdengar sampai disini
DukaMu Abadi. Malampun sesaat terhenti
sewaktu dinginpun terdiam, diluar
langit yang membayang samar
–”Prologue” (1967)
Lanjut..
Esei • Ahad, 24 Januari 2010 @ 00:06 diunggah oleh zen
– Berhubungan dengan Gagasan Soedjatmoko
KEMAJUAN, modernisasi, pembangunan: kita sudah lama berbicara menganjur-anjurkan hal-hal itu, tapi nampaknya kini kita harus merenungkan kembali. Gagasan-gagasan kemajuan yang di Indonesia dikenal sejak dasawarsa-dasawarsa abad ke-20 tengah diuji oleh perkembangan kenyataan-kenyataan menjelang akhir abad.
Seperti yang mungkin sudah dapat Anda duga, dengan mengatakan demikian saya tentu ingin ikut-ikut berbicara tentang kegalauan yang sekarang terjadi di negara-negara industri: ancaman runtuhnya keseimbangan ekologis — satu hal yang sudah sering dikemukakan, baik di kalangan PBB maupun di majalah Playboy, baik di Universitas Tokyo maupun di Universitas Padjajaran.
Ini bisa saja dianggap sebagai kegemaran baru intelektuil. Betapapun juga, seraya merasa terhenyak oleh proyeksi malapetaka para sarjana M.I.T, The Limits of Growth, yang jadi buah bibir di mana-mana itu, dewasa ini orang diingatkan kembali kepada kata-kata Pascal: “Yang menjadi matang melalui kemajuan, musnah oleh kemajuan”.
Padahal, kemajuan itulah salah satu hasrat pokok orang-orang terkemuka Indonesia semenjak mereka mencita-citakan lahirnya negeri ini.
Lanjut..
Esei • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 12:42 diunggah oleh zen
Mengapa kita repot mengurusi bahasa Indonesia?
Jawabannya tak hanya satu. Tapi ada satu pengalaman yang memberi saya motivasi baru untuk ikut bersibuk-diri dengan urusan ini.
Sekali pada tahun 2004 saya menemani Jilal Mardhani yang ingin menyelenggarakan satu pagelaran musik di Singapura. Ia memilih Esplanade, pusat kesenian di kota itu. Kami datang dan ditemui direktur program. Ia halus dan sopan. Ia menolak ide yang ditawarkan.
Esplanade bukan tempat yang cocok, katanya. Menurut statistik, penonton Melayu hanya sedikit yang datang kemari.
Saya bingung sejenak. Mengapa menyebut “penonton Melayu”? Tak pernah terlintas di kepala saya bahwa pertunjukan yang ditawarkan Jilal ditujukan hanya untuk kalangan etnis tertentu.
Tapi kemudian saya sadar: di Singapura, teater terbagi-bagi menurut bahasa yang dipergunakan sebuah kelompok etnis. Lakon Rendra yang puitis, Kereta Kencana, sebuah adaptasi atas Les Chaises-nya Ionesco, tak akan bisa dinikmati orang Singapura dari etnis Cina, yang umumnya tak memahami bahasa Melayu, baik Melayu-Singapura ataupun Melayu-Indonesia.
Lanjut..
Esei • Selasa, 12 Januari 2010 @ 18:40 diunggah oleh zen
Melalui pengalaman, saya tahu bahwa penyair-penyair yang buruk adalah penyair yang menulis prosa yang buruk. Puisi kadangkala menyesatkan. Gairah yang menggerakkan seseorang untuk menulis sajak memberinya alasan yang sah buat menyusun sesuatu yang tidak terlampau urut, terang dan padu –yang oleh orang Inggris disebut lucidity.
Di hadapan sebuah sajak kita tidak mempertengkarkan apa yang dikatakan seorang penyair, bagaimana proses diskursifnya, apa pula argumentasinya untuk sampai kepada suatu pernyataan, suatu kesimpulan. Ini tidak berarti bahwa puisi tidak memerlukan sebuah koherensi. Puisi menuntut “disiplin” agar koherensi itu terjaga, dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras dan keseimbangan. Hanya saja prosesnya melintasi jalan yang berbeda dengan prosa. Tidak mengherankan bila mereka yang tidak memiliki daya untuk menjadi koheren – satu hal yang diperlukan dalam menulis puisi – pada akhirnya akan dapat diketahui dalam tulisannya yang lain.
Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Ia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Ia lebih dikenal sebagai penyair. Namun bagi saya telaahnya tentang puisi, pemikiran dan pendapatnya yang dalam kesusastraan Indonesia modern pada masanya hanya ditemukan dalam tulisan Sutan Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani (setelah Hartojo Andangdjaja, nama yang harus disebut di sini agaknya ialah Sapardi Djoko Damono).
Kekhususan Hartojo ialah bahwa ia sepenuhnya memikirkan puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya -–yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur -–menunjukkan bahwa ia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.
Lanjut..