Migran

Polisi menemukan sebuah truk yang ditinggalkan orang di sebuah desa Austria yang sepi, di tepi jalan raya antara Wina dan Budapest. Bau basing menyeruak. Dengan segera diketahui: ada puluhan mayat yang membusuk di dalam truk itu. Bangkai para migran. Diduga orang-orang ini mati karena tersekat, kehabisan oksigen, dalam bak tempat mereka bersembunyi atau disembunyikan, ketakutan dan berharap untuk bisa menembus wilayah Austria.

Nahas telah jadi rutin dalam kehidupan manusia yang tak lagi bertanahair ini — mereka yang berjalan jauh untuk mengubah nasib. Hanya beberapa hari sebelum truk ditemukan di desa Parndorf itu, di Laut Tengah 40 orang tewas bertimbun-timbun dalam kapal yang lima jam sebelumnya meninggalkan pantai Zuwara di Lybia menuju Italia. Asap dari kamar mesin terus menerus menerobos ke paru mereka di ruang yang berjejal-jejal dan kepanasan itu. Beberapa waktu yang lalu ditemukan kuburan para migran yang dibunuh di perbatasan Malaysia. Hari ini saya dengar seorang bocah kecil mati tenggelam dari atas perahu yang terbalik selepas Jazirah Badrun di Turki; serombongan orang Suriah yang putus asa mencoba menuju pantai Pulau Kos di Yunani. Laut itu kini menampakkan sisi lainnya: bukan sebagai penghubung antara dua benua, melainkan sebagai batas yang keras.

Apa yang digambarkan sekilas tapi mencekam dalam film Biutiful karya Sutradara Alejandro González Iñárritu kini jadi adegan nyata sehari-hari.

Nasib buruk dan dan impian indah adalah bagian yang lazim dalam sejarah — itu juga yang menyebabkan migrasi dan pengungsian terjadi. Dari zaman ke zaman.

Tapi kini kita hidup dengan tiga paradoks. Pertama, inilah masa ketika teknologi mendekatkan manusia dari pelbagai tempat yang berbeda, tapi di pihak lain inilah juga masa ketika makin sulit manusia berpindah tempat. Tahun 2015 mencatat 300 ribu orang meninggalkan negerinya dan bergerak untuk berpindah ke Eropa — dan ceritanya hanya tragedi. Ada yang tewas, ada yang ditangkap dan dikurung dalam karantina-karantina, ada yang berdiri setengah putus asa di pagar perbatasan yang dibangun baru.

Lanjutkan membaca Migran

Wallace

Ilmu dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub.

Dalam salah satu catatannya, Alfred Russel Wallace — orang Inggris yang bersama Charles Darwin menemukan “teori evolusi” — menyatakan betapa ia, baik seorang anak, terkesima melihat kumbang. Kumbang adalah “keajaiban di tiap ladang”. Siapa yang tak mengenalnya “melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar”.

Kesenangan dan keasyikan itulah yang membuat Wallace bertahun-tahun mengamati mahluk hidup dari pelbagai jenis dan habitat. Meskipun ia bukan ilmuwan dalam arti yang lazim. Karena orang tuanya jatuh miskin, pada umur 14 ia harus putus sekolah. Kemudian ia pindah ke wilayah Wales membantu kakaknya yang punya usaha suvei pertanahan.

Di pedalaman itulah ia terpikat kehidupan tumbuh-tumbuhan. Ia mulai menelaah pelbagai tanaman dengan penuh antusiasme. “Siapa yang pernah melakukan sesuatu yang baik dan besar kalau bukan seorang yang antusias?” ia pernah berkata.

Pada usia 25 ia berangkat ke rimba Brazil, di sekitar Sungai Amazon dan Rio Negro — menjelajah lebih jauh.

“Di sini, tak seorang pun, selama ia punya perasaan kepada yang tak tepermanai dan yang sublim, akan kecewa”, tulisnya dari belantara tropis itu. Ia seakan tak bisa berhenti menyebut pepohonan besar yang rimbun, akar dan serat yang tergantung-gantung, burung langka dan reptil yang cantik.

Lanjutkan membaca Wallace

Gurun

Di sebuah gurun pasir, seorang penggembala menyingkir dari kemarahan seorang Nabi. Dalam kisah terkenal Jalaluddin Rumi ini — dalam kitab Masnawi — Musa mendengar doa yang aneh dari mulut penggembala itu: “Oh, Tuhan, di manakah Kau? Bolehkah aku jadi sahaya-Mu, menjahit kasut-Mu dan menyisir rambut-Mu? Bolehkah aku mencuci baju-Mu dan membasmi kutu-Mu dan membawakan-Mu susu?…”

Bagi Musa, doa yang terlampau bergelora itu awal kekafiran: menyamakan Tuhan dengan manusia yang butuh air susu adalah sikap yang kurang ajar.

Maka Musa berteriak: “Sumbat mulutmu dengan kain!…Kalau kau tak hentikan tenggorokanmu memuntahkan kata-kata seperti itu, api akan datang dan membakar orang-orang…”

Mendengar itu si penggembala berhenti berdoa. “Ah, Musa. telah kau bakar sukmaku dengan penyesalan…”.

Ia pun merobek gamisnya dan seraya nafasnya melenguh dalam, ia menengok ke ujung gurun dan dengan seketika pergi.

Di saat itu, demikian dikisahkan Rumi, Tuhan menegur Musa: “Telah kau pisahkan hamba-Ku dari Aku. Engkau datang untuk merukunkan, atau untuk meretakkan? Jangan kau memisah-misahkan; hal yang Aku benci adalah perceraian. Telah kuberikan kepada tiap orang bentuk ekspresi yang tersendiri…Aku tak tergantung pada kemurnian maupun najis, tak tergantung pada kemalasan maupun kegairahan sembahyang”.

Mendengar teguran Tuhan, Musa bergegas lari ke tengah gurun mengejar sang penggembala. Ketika mereka bertemu lagi, sang Nabi memberitahu kabar gembira itu: “Sudah datang perkenan Tuhan: kau tak perlu mencari aturan atau cara untuk sembahyang. Ungkapkan saja apa yang dikehendaki hatimu”.

Lanjutkan membaca Gurun

Tiga Huruf

Tiga aksara muncul enam kali dalam Qur’an,  Alif Lam Mim — dan  orang bertanya-tanya apa artinya.

Tafsir pun datang  silih berganti.  Ada yang mengatakan bahwa bentuk tiga huruf itu melambangkan jalan hidup manusia. Ada pula yang membacanya sebagai bagian dari “matematika” Tuhan dengan angka-angka.

Saya tak tahu mana yang benar.

Alif yang bergandeng dengan Lam dan bergandeng lagi dengan Mim itu agaknya  menunjukkan betapa tak tepermanainya hubungan antara yang yang maha-tak-tergambarkan dan bahasa manusia.

Sering dikatakan hubungan itu terjadi dalam wahyu. Wahyu datang dan jadi pengalaman religius yang intens,  yang tak dapat diulangi, yang hanya bisa dirasakan sendirian dan mampu mengubah hidup seseorang:  “the individual pinch of destiny“, dalam kata-kata William James. Wahyu turun dan sang penerima  menadahnya  dengan gentar gemetar, terguncang  terpesona.  Tak ada kata-kata.

Tapi tak untuk selama-lamanya.  Pada suatu saat kemudian, si penerima wahyu akan membutuhkan kata-kata. Memang, seorang yang baru berada dalam sebuah pengalaman religius  bisa memilih  diam  bersama ketak-mampuannya — atau keengganannya — bercerita. Tapi kemudian bisa saja ia merasa perlu memakai bahasa — juga buat dirinya sendiri — agar pengalamannya yang unik itu tak sekedar sekali terjadi dan sudah itu  tak bisa ditengok kembali.

Bahasa adalah perekam.  Itulah sebabnya catatan harian ditulis, pengalaman dikisahkan, puisi digubah. Dengan itu orang ingin menghadirkan kembali apa yang dialami, meskipun tentang hal yang sebenarnya tak dapat dihadirkan kembali.  Jalaludin Rumi pernah mengatakan ada “rahasia yang tak terungkapkan” dan itu adalah Cinta, tapi pada saat yang sama ia menulis berpuluh baris tentang “rahasia” itu.

Dengan kata lain, ada “rahasia yang tak terungkapkan” namun rahasia itu  terasa mendesak agar diungkapkan.  Ada cinta yang ibarat lautan tak bertepi tapi kemudian sesekali kita ingin menengoknya kembali.  Ketegangan  selalu terjadi dalam diri seseorang yang berada dalam hubungan yang akrab dan bergelora: sang pencinta tahu  kata-kata tak mampu menguraikan kegandrungannya,  namun  pada saat yang sama ternyata ia membutuhkan daya verbal untuk merekonstruksi dan “membaca” kegandrungan itu. Mirip ketika kita terbangun tidur yang lelap dan mencoba menyusun sebuah narasi yang utuh dari kegalauan mimpi.

Yang sering kita lupa: ketika narasi terbentuk, kita sebenarnya telah membuat tafsir.  Menengok kembali dan mengutarakan pengalaman kita adalah membuat interpretasi.

Lanjutkan membaca Tiga Huruf

Narsisus

Narsisus jatuh cinta kepada dirinya sendiri dan tak lama kemudian mati.  Pada umur 15, anak berwajah  rupawan itu dibawa ibunya ke hadapan Tiresias sang penujum.

Dalam Metamorfosis, puisi Ovidius yang digubah di sekitar Roma pada abad ke-4 Sebelum Masehi, digambarkan peramal yang buta itu mengucapkan sesuatu yang aneh: “Bila anak ini tak kenal dirinya sendiri, ia akan hidup panjang…”

Syahdan,  Narsisus pun jadi lelaki dewasa,dan perempuan dan pria pada jatuh cinta kepadanya. Tapi tak ada yang ia acuhkan.  Juga makhluk cantik yang biasanya menggoda: para bidadari bumi yang berdiam di rimba dan sungai.

Salah satu dari mereka adalah Gema. Pada suatu hari, ia melihat Narsisus berburu melintasi ladang-ladang yang jauh.Ia terpikat. Ia ikuti lelaki itu ke manapun dengan sembunyi-sembunyi.  Cintanya membakar diri, “ibarat api membakar belerang,” tapi ia hanya diam. Ia tak bisa merayu. Bidadari itu  telah dikutuk seorang dewi; ia tak bisa bicara, ia cuma mampu mengulang suara orang lain.

Dan itulah yang terjadi ketika Narsisus tersesat. Pemburu itu berteriak:  “Siapa di sekitar sini?”.  Dari semak-semak Gema pun bersuara, mengulang:  “Sekitar sini?”.

Tak bisa lain.Tiap kali Narsisus bicara, hanya ulangan kata-katanya yang menjawab. Sampai akhirnya ia berseru, “Mari, ke sini berdua!”.

“Berdua…!” suara Gema terdengar  — dengan berbahagia sekali, sebab itulah satu-satunya kalimat yang sesuai dengan hatinya. Ia pun muncul dari semak-semak, langsung memeluk Narsisus.

Tapi laki-laki itu mengelak, pergi.

Lanjutkan membaca Narsisus

Sastrawan

Sastrawan, terutama di Indonesia, sering yakin mereka warga masyarakat yang penting — lebih penting ketimbang karya mereka.  Ada “sindrom pujangga” yang  sering  berjangkit.

Di masa lalu, “pujangga” disebut sebagai pemberi fatwa, petunjuk ke pintu kebenaran.  Ia diletakkan, atau meletakkan diri, di tataran yang lebih suci dan mulia  dalam fi’il dan pengetahuan.

Di abad ke-19, Ronggowarsito menamakan salah satu karyanya Serat Wirid Hidayat Jati. Dalam buku kecil itu ia tampak siap memberikan  “hidayah” yang  “benar” kepada pembacanya.  Di abad ke-20, di tahun 1930-an,  ketika sejumlah sastrawan memaklumkan  pembaharuan, “sindrom pujangga” tak berubah. Mereka  namakan majalah mereka  PoedjanggaBaroe.  Mereka, terutama Takdir, memandang sastrawan sebagai pelopor dalam kerja membangun kembali masyarakat,  dalam “reconstructie arbeid“.

Tapi kemudian datang Revolusi 1945. Yang dijebol bukan hanya wibawa pemerintah kolonial. Pembrontakan sosial, kehendak menghabisi aristokrasi atau pangreh praja, yang disebut “feodal”, meledak di Sumatra Timur dan di  pantai utara Jawa Tengah. Tahun 1945: sebuah ledakan anti-hierarki.

Sejak masa itulah, sejak generasi sastrawan di sekitar Chairil Anwar, sastrawan menyebut diri “penulis”. Kata  “pujangga” jadi olok-olok.  Para sastrawan meletakkan diri setara dengan pembaca mereka.  Bersama Chairil, Asrul Sani, dan Rivai Apin menerbitkan sebuah buku puisi berjudul Tiga Menguak Takdir:  sebuah statemen tersirat yang menunjukkan tak ada yang selamanya berada dalam posisi yang menentukan.

Sikap itu tampaknya datang bersama apa yang mereka baca sebagai kesusastraan: karya para penulis dunia yang — setelah konflik-konflik besar di Eropa dan Asia menebarkan korban  — melihat kesusastraan gagal menyelamatkan manusia  dengan petuah dan pesan. Para penulis mulai memandang diri sendiri dengan ironis. Seseorang pernah bertanya apa pesan yang hendak diungkapkan Hemingway dalam bukunya. “Tak ada pesan dalam novel-novel saya”, jawab penulis  Farewell to Arms itu. “Kalau saya mau sampaikan pesan, saya kirimkan lewat pos”.

Lanjutkan membaca Sastrawan

Gembrot

Bukan kematian yang membuat seorang penakluk runtuh, melainkan kegemukan. Itulah yang terjadi pada Raja William ketika ia berusia 59.

Pada pagi di awal September 1087 itu, di sebuah pertempuran untuk menaklukkan sebuah kota Prancis, baginda terlontar dari atas kudanya. Perutnya yang membuncit   menabrak bagian depan pelana dan ia tak bisa dengan tangkas menjaga keseimbangan.  Ia terjungkel dan  tewas.

Masalah yang timbul tak berhenti di situ. Ketika pemakaman  dimulai, ternyata sarcophagus batu yang disiapkan untuknya  terlalu sempit. Ketika para padri dan petugas mencoba menjejalkan tubuh gembrot itu agar bisa masuk peti mati itu, perut jenazah meletup. Bau busuk menebar.  Para pelayat dengan cepat-cepat menyelesaikan upacara sambil menahan muntah.

Mungkin sejak itu orang berhenti menghubungkan tubuh besar dengan kewibawaan seseorang — setidaknya dalam kasus William Sang Penakluk.

Berkuasa di Inggris dan  Normandia selama bertahun-tahun,   mula-mula ia mungkin merasa bahwa tubuhnya yang makin memuai punya aura tersendiri.  Tapi akhirnya ia juga sadar: ada yang salah dengan kegemrbotan itu. Raja Philip dari Prancis   menyamakan perut raja Inggris itu dengan perut perempuan hamil tua.  Dan ia tahu itu bukan sebuah pujian.  Ia, seorang raja yang buta huruf, mencoba diet dengan ngawur:  ia menggantikan makanan dengan minuman keras.

Tapi ia memang hidup di sebuah zaman dan sebuah kebudayaan yang memandang  gemuk, bahkan gembrot, secara tak konsisten.  Ketika bencana kelaparan masih sering terjadi, orang Eropa menafsirkan kegemukan dan pinggang tebal sebagai indikator ketahanan dan akhirnya jadi sebuah prestise. Maka ada masanya ketika  beruang yang tambun jadi lambang kekuatan, meskipun kemiudian, pada periode lain lambang keunggulan yang tepat adalah singa:  ramping di pinggang, perkasa di dada.

Lanjutkan membaca Gembrot

Bocah

Seorang bocah menggambar.  Ia bayangkan seekor ular sanca menelan utuh seekor gajah.  Dalam gambarnya, sosok gajah itu sudah tak tampak lagi. Yang kelihatan: perut si ular yang menggelembung.

Si bocah pun menunjukkan gambar itu kepada orang dewasa.

“Kau tak takut melihat ini?” tanyanya. “Kenapa harus takut melihat gambar sebuah topi?” jawab si orang dewasa.

pangeran kecilDi situlah, sebagaimana diutarakan dalam Pangeran Kecil Antoine de Saint Exupéry, orang dewasa gagal.  Mereka tak gentar, tapi itu karena mereka tak bisa membayangkan sesuatu yang lain dari apa yang kasat mata, yang praktis dan lazim.  Mereka tak betah berbincang tentang ular yang menelan gajah di rimba yang aneh. Mereka lebih tertarik membicarakan “jembatan, dan golf, dan politik, dan dasi”.

Imajinasi telah mengering di dunia mereka — sebuah dunia yang terpisah dari kehidupan anak-anak yang berkhayal dan bermain.

Pangeran Kecil dengan lembut mengukuhkan  keterpisahan itu: di satu pihak wilayah anak dengan keasyikan dan keindahan yang tersendiri; di lain pihak dunia orang dewasa yang dibentuk teknologi, uang, dan pertarungan. Buku kecil ini sebuah kritik. Ia menjauhi kehidupan yang dikuasai rasionalitas untuk  meraih hasil. Saint Exupéry mengajak kita menyaksikan sebuah kehilangan yang bernama dunia modern. Kita tak bisa lagi mengatakan hahwa manusia tinggal di dunia secara puitis, “dichterisch wohnet der Mensch“, untuk memakai ungkapan Heidegger. Tak ada lagi padang pasir tempat kita berjumpa si pangeran kecil. Kini manusia menghuni dunia dan ia menghitung.

Beda yang tajam itu pernah dilukiskan Tagore dalam sajak terkenal ini:  “Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Lanjutkan membaca Bocah

Cinta


— untuk Haidar Bagir.

Cinta: sebuah pengertian yang menggetarkan hati dan membingungkan selama berabad-abad, sepatah kata yang dengan mudah jadi banal tapi juga bisa membuat orang merelakan dirinya sendiri. Kita tak bisa merumuskannya. Ia bukan bagian dari yang secara konseptual kita ketahui.

“Cinta tak punya definisi,” konon demikianlah kata Ibnu Arabi, sufi dan pemikir kelahiran Spanyol dari abad ke-12 itu dalam risalahnya, Futuhat. “Ia yang mendefinisikan cinta berarti tak mengenalnya…sebab cinta adalah minum tanpa hilang haus.”

Cinta: kita hanya menangkapnya sebagai proses. Ia tak pernah bisa dipotret utuh. Seabad kemudian, Jalaluddin Rumi, sufi yang paling masyhur mengungkapkan pengertian itu, menyebutnya Ishq, Cinta adalah “laut ke-Tak-Ada-an,” kata Rumi. Tabir kerahasiaan selalu mengerudunginya. “Apapun yang kau katakan atau lakukan untuk menanggalkan tabir itu, kau akan menambahkan selapis tabir lagi di atasnya”. Menemui Cinta, “intelek lumpuh kakinya”.

Agaknya karena itu, dalam ribuan baris Masnawi dan diwannya, Rumi hanya mengemukakannya dalam kiasan, dalam alegori dan dalam bentuk negasi — dengan sederet kata bukan: Cinta adalah “sebuah pohon yang tegak bukan di atas tanah bukan di atas pokok, bahkan bukan di mahkota Surga.”

Mungkin Cinta hanya jelas sebagai antitesis. Dalam renungan Rumi, Cinta sering nampak sebagai kekuatan di kubu yang berlawanan dengan nalar. Sementara intelek atau nalar sibuk menerangi ruang dan meraih dunia, Cinta punya hidup dan aktivitasnya sendiri:

Lanjutkan membaca Cinta

Indonesia

Seorang dokter kapal menyediakan nama bagi Indonesia. Pada 1861, Adolf Bastian, kelahiran Bremen, Jerman, berlayar di Asia Tenggara. Ia kemudian menulis sejumlah buku. Salah satunya dibaca banyak orang: Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894. Dari buku ini nama “Indonesia” mulai menandai kepulauan yang ribuan jumlahnya itu.

Bastian berpengaruh karena ia bukan hanya seorang dokter kapal. Ia lulus ilmu hukum, lulus biologi, ia berminat dalam ilmu yang di zamannya disebut “ethnologi”, dan ia juga dokter. Bahwa ia jadi dokter kapal, itu tanda keinginannya menjelajah bagian bumi yang lain. Pada 1873, ia ikut mendirikan Museum für Völkerkunde di Berlin, dengan koleksi besar karya manusia dari pelbagai penjuru.

Dokter kapal yang tak henti-hentinya mengarungi laut melintasi batas ini — dan meninggal dalam perjalanan di usia 80 — yakin bahwa ada yang menyatukan sesama manusia: “gagasan-gagasan dasar”, Elementergedanken.

Umat manusia, tulis Bastian, “punya segudang gagasan yang dibawa lahir dalam diri tiap orang,”. Gagasan elementer itu muncul dalam pelbagai variasinya dari Babilonia sampai dengan Laut Selatan.

Lanjutkan membaca Indonesia