Narsisus

Narsisus jatuh cinta kepada dirinya sendiri dan tak lama kemudian mati.  Pada umur 15, anak berwajah  rupawan itu dibawa ibunya ke hadapan Tiresias sang penujum.

Dalam Metamorfosis, puisi Ovidius yang digubah di sekitar Roma pada abad ke-4 Sebelum Masehi, digambarkan peramal yang buta itu mengucapkan sesuatu yang aneh: “Bila anak ini tak kenal dirinya sendiri, ia akan hidup panjang…”

Syahdan,  Narsisus pun jadi lelaki dewasa,dan perempuan dan pria pada jatuh cinta kepadanya. Tapi tak ada yang ia acuhkan.  Juga makhluk cantik yang biasanya menggoda: para bidadari bumi yang berdiam di rimba dan sungai.

Salah satu dari mereka adalah Gema. Pada suatu hari, ia melihat Narsisus berburu melintasi ladang-ladang yang jauh.Ia terpikat. Ia ikuti lelaki itu ke manapun dengan sembunyi-sembunyi.  Cintanya membakar diri, “ibarat api membakar belerang,” tapi ia hanya diam. Ia tak bisa merayu. Bidadari itu  telah dikutuk seorang dewi; ia tak bisa bicara, ia cuma mampu mengulang suara orang lain.

Dan itulah yang terjadi ketika Narsisus tersesat. Pemburu itu berteriak:  “Siapa di sekitar sini?”.  Dari semak-semak Gema pun bersuara, mengulang:  “Sekitar sini?”.

Tak bisa lain.Tiap kali Narsisus bicara, hanya ulangan kata-katanya yang menjawab. Sampai akhirnya ia berseru, “Mari, ke sini berdua!”.

“Berdua…!” suara Gema terdengar  — dengan berbahagia sekali, sebab itulah satu-satunya kalimat yang sesuai dengan hatinya. Ia pun muncul dari semak-semak, langsung memeluk Narsisus.

Tapi laki-laki itu mengelak, pergi.

Lanjutkan membaca Narsisus

Sastrawan

Sastrawan, terutama di Indonesia, sering yakin mereka warga masyarakat yang penting — lebih penting ketimbang karya mereka.  Ada “sindrom pujangga” yang  sering  berjangkit.

Di masa lalu, “pujangga” disebut sebagai pemberi fatwa, petunjuk ke pintu kebenaran.  Ia diletakkan, atau meletakkan diri, di tataran yang lebih suci dan mulia  dalam fi’il dan pengetahuan.

Di abad ke-19, Ronggowarsito menamakan salah satu karyanya Serat Wirid Hidayat Jati. Dalam buku kecil itu ia tampak siap memberikan  “hidayah” yang  “benar” kepada pembacanya.  Di abad ke-20, di tahun 1930-an,  ketika sejumlah sastrawan memaklumkan  pembaharuan, “sindrom pujangga” tak berubah. Mereka  namakan majalah mereka  PoedjanggaBaroe.  Mereka, terutama Takdir, memandang sastrawan sebagai pelopor dalam kerja membangun kembali masyarakat,  dalam “reconstructie arbeid“.

Tapi kemudian datang Revolusi 1945. Yang dijebol bukan hanya wibawa pemerintah kolonial. Pembrontakan sosial, kehendak menghabisi aristokrasi atau pangreh praja, yang disebut “feodal”, meledak di Sumatra Timur dan di  pantai utara Jawa Tengah. Tahun 1945: sebuah ledakan anti-hierarki.

Sejak masa itulah, sejak generasi sastrawan di sekitar Chairil Anwar, sastrawan menyebut diri “penulis”. Kata  “pujangga” jadi olok-olok.  Para sastrawan meletakkan diri setara dengan pembaca mereka.  Bersama Chairil, Asrul Sani, dan Rivai Apin menerbitkan sebuah buku puisi berjudul Tiga Menguak Takdir:  sebuah statemen tersirat yang menunjukkan tak ada yang selamanya berada dalam posisi yang menentukan.

Sikap itu tampaknya datang bersama apa yang mereka baca sebagai kesusastraan: karya para penulis dunia yang — setelah konflik-konflik besar di Eropa dan Asia menebarkan korban  — melihat kesusastraan gagal menyelamatkan manusia  dengan petuah dan pesan. Para penulis mulai memandang diri sendiri dengan ironis. Seseorang pernah bertanya apa pesan yang hendak diungkapkan Hemingway dalam bukunya. “Tak ada pesan dalam novel-novel saya”, jawab penulis  Farewell to Arms itu. “Kalau saya mau sampaikan pesan, saya kirimkan lewat pos”.

Lanjutkan membaca Sastrawan

Gembrot

Bukan kematian yang membuat seorang penakluk runtuh, melainkan kegemukan. Itulah yang terjadi pada Raja William ketika ia berusia 59.

Pada pagi di awal September 1087 itu, di sebuah pertempuran untuk menaklukkan sebuah kota Prancis, baginda terlontar dari atas kudanya. Perutnya yang membuncit   menabrak bagian depan pelana dan ia tak bisa dengan tangkas menjaga keseimbangan.  Ia terjungkel dan  tewas.

Masalah yang timbul tak berhenti di situ. Ketika pemakaman  dimulai, ternyata sarcophagus batu yang disiapkan untuknya  terlalu sempit. Ketika para padri dan petugas mencoba menjejalkan tubuh gembrot itu agar bisa masuk peti mati itu, perut jenazah meletup. Bau busuk menebar.  Para pelayat dengan cepat-cepat menyelesaikan upacara sambil menahan muntah.

Mungkin sejak itu orang berhenti menghubungkan tubuh besar dengan kewibawaan seseorang — setidaknya dalam kasus William Sang Penakluk.

Berkuasa di Inggris dan  Normandia selama bertahun-tahun,   mula-mula ia mungkin merasa bahwa tubuhnya yang makin memuai punya aura tersendiri.  Tapi akhirnya ia juga sadar: ada yang salah dengan kegemrbotan itu. Raja Philip dari Prancis   menyamakan perut raja Inggris itu dengan perut perempuan hamil tua.  Dan ia tahu itu bukan sebuah pujian.  Ia, seorang raja yang buta huruf, mencoba diet dengan ngawur:  ia menggantikan makanan dengan minuman keras.

Tapi ia memang hidup di sebuah zaman dan sebuah kebudayaan yang memandang  gemuk, bahkan gembrot, secara tak konsisten.  Ketika bencana kelaparan masih sering terjadi, orang Eropa menafsirkan kegemukan dan pinggang tebal sebagai indikator ketahanan dan akhirnya jadi sebuah prestise. Maka ada masanya ketika  beruang yang tambun jadi lambang kekuatan, meskipun kemiudian, pada periode lain lambang keunggulan yang tepat adalah singa:  ramping di pinggang, perkasa di dada.

Lanjutkan membaca Gembrot

Bocah

Seorang bocah menggambar.  Ia bayangkan seekor ular sanca menelan utuh seekor gajah.  Dalam gambarnya, sosok gajah itu sudah tak tampak lagi. Yang kelihatan: perut si ular yang menggelembung.

Si bocah pun menunjukkan gambar itu kepada orang dewasa.

“Kau tak takut melihat ini?” tanyanya. “Kenapa harus takut melihat gambar sebuah topi?” jawab si orang dewasa.

pangeran kecilDi situlah, sebagaimana diutarakan dalam Pangeran Kecil Antoine de Saint Exupéry, orang dewasa gagal.  Mereka tak gentar, tapi itu karena mereka tak bisa membayangkan sesuatu yang lain dari apa yang kasat mata, yang praktis dan lazim.  Mereka tak betah berbincang tentang ular yang menelan gajah di rimba yang aneh. Mereka lebih tertarik membicarakan “jembatan, dan golf, dan politik, dan dasi”.

Imajinasi telah mengering di dunia mereka — sebuah dunia yang terpisah dari kehidupan anak-anak yang berkhayal dan bermain.

Pangeran Kecil dengan lembut mengukuhkan  keterpisahan itu: di satu pihak wilayah anak dengan keasyikan dan keindahan yang tersendiri; di lain pihak dunia orang dewasa yang dibentuk teknologi, uang, dan pertarungan. Buku kecil ini sebuah kritik. Ia menjauhi kehidupan yang dikuasai rasionalitas untuk  meraih hasil. Saint Exupéry mengajak kita menyaksikan sebuah kehilangan yang bernama dunia modern. Kita tak bisa lagi mengatakan hahwa manusia tinggal di dunia secara puitis, “dichterisch wohnet der Mensch“, untuk memakai ungkapan Heidegger. Tak ada lagi padang pasir tempat kita berjumpa si pangeran kecil. Kini manusia menghuni dunia dan ia menghitung.

Beda yang tajam itu pernah dilukiskan Tagore dalam sajak terkenal ini:  “Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Lanjutkan membaca Bocah

Cinta


— untuk Haidar Bagir.

Cinta: sebuah pengertian yang menggetarkan hati dan membingungkan selama berabad-abad, sepatah kata yang dengan mudah jadi banal tapi juga bisa membuat orang merelakan dirinya sendiri. Kita tak bisa merumuskannya. Ia bukan bagian dari yang secara konseptual kita ketahui.

“Cinta tak punya definisi,” konon demikianlah kata Ibnu Arabi, sufi dan pemikir kelahiran Spanyol dari abad ke-12 itu dalam risalahnya, Futuhat. “Ia yang mendefinisikan cinta berarti tak mengenalnya…sebab cinta adalah minum tanpa hilang haus.”

Cinta: kita hanya menangkapnya sebagai proses. Ia tak pernah bisa dipotret utuh. Seabad kemudian, Jalaluddin Rumi, sufi yang paling masyhur mengungkapkan pengertian itu, menyebutnya Ishq, Cinta adalah “laut ke-Tak-Ada-an,” kata Rumi. Tabir kerahasiaan selalu mengerudunginya. “Apapun yang kau katakan atau lakukan untuk menanggalkan tabir itu, kau akan menambahkan selapis tabir lagi di atasnya”. Menemui Cinta, “intelek lumpuh kakinya”.

Agaknya karena itu, dalam ribuan baris Masnawi dan diwannya, Rumi hanya mengemukakannya dalam kiasan, dalam alegori dan dalam bentuk negasi — dengan sederet kata bukan: Cinta adalah “sebuah pohon yang tegak bukan di atas tanah bukan di atas pokok, bahkan bukan di mahkota Surga.”

Mungkin Cinta hanya jelas sebagai antitesis. Dalam renungan Rumi, Cinta sering nampak sebagai kekuatan di kubu yang berlawanan dengan nalar. Sementara intelek atau nalar sibuk menerangi ruang dan meraih dunia, Cinta punya hidup dan aktivitasnya sendiri:

Lanjutkan membaca Cinta

Indonesia

Seorang dokter kapal menyediakan nama bagi Indonesia. Pada 1861, Adolf Bastian, kelahiran Bremen, Jerman, berlayar di Asia Tenggara. Ia kemudian menulis sejumlah buku. Salah satunya dibaca banyak orang: Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884-1894. Dari buku ini nama “Indonesia” mulai menandai kepulauan yang ribuan jumlahnya itu.

Bastian berpengaruh karena ia bukan hanya seorang dokter kapal. Ia lulus ilmu hukum, lulus biologi, ia berminat dalam ilmu yang di zamannya disebut “ethnologi”, dan ia juga dokter. Bahwa ia jadi dokter kapal, itu tanda keinginannya menjelajah bagian bumi yang lain. Pada 1873, ia ikut mendirikan Museum für Völkerkunde di Berlin, dengan koleksi besar karya manusia dari pelbagai penjuru.

Dokter kapal yang tak henti-hentinya mengarungi laut melintasi batas ini — dan meninggal dalam perjalanan di usia 80 — yakin bahwa ada yang menyatukan sesama manusia: “gagasan-gagasan dasar”, Elementergedanken.

Umat manusia, tulis Bastian, “punya segudang gagasan yang dibawa lahir dalam diri tiap orang,”. Gagasan elementer itu muncul dalam pelbagai variasinya dari Babilonia sampai dengan Laut Selatan.

Lanjutkan membaca Indonesia

Tangis

Siapa tahu matahari seorang yang buta? ― Les Misérables

Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia. Les Misérables, yang terbit pertama kali 1 April 1862, ingin lebih dekat ke bumi dan peka kepada tangis Prancis. Satu baris kalimatnya yang termashur: “Siapa yang tak menangis, tak melihat”.

Victor Hugo ingin mata kita basah dan melihat, dengan peka, ke sekitar. Pada umumnya ia berhasil, setidaknya di antara pembacanya 200 tahun yang lalu. Konon penerbitan pertama novel ini di Brussel tertunda karena para juru cetak terisak-isak waktu membaca manuskripnya.

Sang novelis tak ingin jadi pemikir besar. Ia tak mau menatap semesta dan melihat sejarah semata-mata sebagai survei wilayah. Ia tak mau sibuk dengan tata zodiak hingga ia tak melihat anak kecil yang mencucurkan air mata.

Tak mengherankan bila novel yang terdiri dari lima bagian panjang ini padat dengan tokoh kecil yang melata, kaya akan adegan yang menyayat hati dengan khasanah kata yang tak habis-habisnya. Paragraf demi paragraf bergerak antara renungan sang pengarang dan dialog para peran — sebagian besar les misérables, para nestapa. Fantine, gadis yang hamil, ditinggalkan pacar dan jadi pelacur. Cosette, yatim yang terdampar; Jean Valjean, lelaki yang dihukum keras karena mencuri sepotong roti.

Tapi tak hanya itu. Novel ini memang terkadang terasa seperti sebuah melodrama yang majemuk, tapi Les Misérables sesungguhnya sebuah novel politik. Melalui bab demi bab, kita berangsur-angsur masuk ke dalam latar Paris menjelang Revolusi 1830. Suara rakyat, khususnya kaum buruh, makin nyaring di depan umum, di kedai-kedai anggur dan di salon-salon pertemuan. “Demam revolusi berjangkit. Tak ada titik di kota Paris atau di Prancis yang bebas darinya. Urat nadi berdenyut keras di mana-mana. Bagaikan membran yang tercipta dari inflamasi dan membentuk tubuh manusia, jaringan perkumpulan rahasia mulai menyebar ke seluruh negeri.”

Dalam jaringan itu, di kamar-kamar belakang yang setengah tersembunyi, para buruh bersumpah akan segera turun ke jalan begitu tanda pertama dibunyikan. Dan barikade pun dibentuk. Aparat kekuasaan ditantang. Tembak-menembak terjadi. Darah tumpah dan asap memenuhi trotoar. Di celah-celah itu, tampak “mulut-mulut yang menyemburkan napas api”, “wajah-wajah yang luar biasa”.

Di adegan seperti itu kita lihat: politik adalah sebuah tiwikrama, ketika manusia bergulat untuk mengubah keadaan jadi sebuah dunia yang lebih baik.Politik mentransformasi manusia yang rutin, terbatas, dan terpisah-pisah, menjadi subyek yang menggerakkan dan digerakkan tuntutan yang melebihi keterbatasan dan kepentingan dirinya.

Di Indonesia kita telah menyaksikan transformasi itu dalam politik di awal abad ke-20 semasa pergerakan nasional dan ketika perang kemerdekaan meletus pada 1940-an: di saat seperti itu, politik tumbuh dari tuntutan dan empati — dari “melihat” dan “menangis”.

Lanjutkan membaca Tangis

Al-Ludd, 1948-2014-….

Sejarah yang brutal, sengsara, dan tak berujung itu mungkin dimulai di sebuah kota kecil Palestina, 15 kikometer di tenggara Tel Aviv. Orang Arab menyebutnya al-Ludd (الْلُدّ), orang Yahudi menyebutnya Lod.

Sebelum zaman diguncang Perang Dunia II, di kota itu penduduk Arab hidup tenang berdampingan dengan para pemukim Yahudi yang datang sejak 1903. Di lembah al-Ludd, seorang Yahudi pendatang mendirikan sebuah pabrik sabun dari minyak zaitun; yang lain sebuah rumah yatim piatu korban pengusiran paksa di Eropa Timur.

Tak ada yang benar-benar berhasil. Tapi kemudian, pada 1927, datang Siegfried Lehman.

Mantan dokter tentara Jerman itu lahir di Berlin pada 1892 dari keluarga Yahudi yang kaya dan dermawan. Pada 1917 ia mendirikan rumah penampungan bagi yatim-piatu Yahudi di kota Kovnia, Lithuania. Tapi keadaan memburuk; di sini pun orang Yahudi dimusuhi. Ia memutuskan pindah ke Palestina.

Seperti para pendahulunya, ia memilih lembah di atas al-Ludd. Di sana ia dirikan sebuah “desa-pemuda”, dengan nama Ben Shemen. Di situ para anak asuh dilatih beternak, berkebun, berladang anggur, sambil bersekolah. Menjelang 1946, ada 500 murid dari umur 12 sampai dengan 18 yang tercatat di Ben Shemen: sebuah zona kecil Zionis yang damai — yang tak disangka kelak akan bertaut dengan perang, pembantaian, dan pembuangan.

Pada mulanya, hubungan Lehmann dengan penduduk Arab di al-Ludd akrab. Ketika gempa bumi menghancurkan sebagian kota dan menewaskan sejumlah penduduk, dokter Yahudi-Jerman itu datang merawat korban yang luka-luka. Kliniknya terbuka bagi orang-orang Palestina. Para pemuda Zionis membangun sebuah air mancur tempat penduduk kota bisa minum ketika hari terik. Tiap akhir pekan, murid-murid Ben Shehmen berkunjung ke dusun-dusun Arab di sekitar itu. Di tiap festival desa-pemuda, pemain musik dan penari masyarakat Arab diundang serta.

Tapi suasana seperti gambar di kartupos yang cantik itu tak bertahan. Di tahun-tahun itu dunia digedor pelbagai hal. Timur Tengah berubah jadi sebuah tragedi dengan peta baru. Sehabis Perang Dunia II negara-negara pemenang mengesahkan sebuah tempat bagi sisa-sisa orang Yahudi yang hendak dihabisi Hitler. Inggris melepaskan posisinya sebagai pengampu wilayah Palestina, dan bagi kaum Zionis yang berjuang buat kemerdekaan bangsa Yahudi, itulah negeri yang dijanjikan Tuhan dan sejarah. Pada 14 Mei 1948, David Ben-Gurion memaklumkan berdirinya Negara Israel di wilayah itu — wilayah yang mereka anggap diwariskan buat mereka tapi yang berabad-abad lamanya dihuni orang Arab. Tak ayal, tentara Arab dari sekitar pun menyerbu.

Mereka gagal. Bahkan sebaliknya yang terjadi: Israel memperluas kekuasannya. Di awal Juli, Operasi Larlar diluncurkan untuk merebut beberapa wilayah di Palestina, termasuk al-Ludd.

Lanjutkan membaca Al-Ludd, 1948-2014-….

Memihak

Kau tak memihak. Kau tak ingin pandanganmu tersekat barikade. Kau ingin tunjukkan, di balik tiap barikade, baik di kubu yang di sana maupun yang di sini, bertengger yang kotor dan keji. Ada siasat dan alat penghancuran yang disiapkan. Kau ingin tegaskan bahwa peranmu (“Aku cendekiawan”, katamu) adalah melawan itu. Ingin kau garis-bawahi kembali nalar yang jernih, standar kebaikan yang tak berat sebelah, dan hatinurani yang didengar.

Sebab itu kau tak ingin memihak.

Tapi aku memihak.

Baiklah aku jelaskan kenapa. Di hari-hari pemilihan Presiden 2014 ini, justru dengan memihak — tapi tak asal memihak — aku memutuskan ikut dalam ikhtiar menemukan tujuan yang kau ingin capai, tujuan yang aku ingin capai.

Bedanya: aku tak berdiri di menara pengawas. Bagiku menara pengawas itu hadir di jarak yang semu. Ia tampak jauh, atau menganggap diri jauh, menjulang ke dekat langit. Tapi fondasinya terletak di sepetak tanah. Lokasinya bukan cuma akrab dengan pucuk pohon yang hijau, tapi juga air payau dan pelbagai tahi. Aku tak ingin berada di menara itu bukan karena tak nyaman dengan najis. Aku tak ingin di sana karena merasa tak bisa pura-pura menatap bumi dari luar sejarah yang bergolak.

Pandanganku mungkin terbatas. Mungkin aku kehilangan perspektif yang mencakup semua. Tapi aku tak pernah yakin bahwa “melihat” selalu sama dengan “mengetahui”, dan “mengetahui” sama dengan “mengalami”. Ketika aku memihak, ada yang hilang dari penglihatanku, tapi aku mengalami sesuatu

Yang sangat menonjol dalam pemilihan presiden 2014 adalah peredaran fitnah yang deras, dalam derajat yang tak pernah dialami sejarah politik Indonesia. Mungkin ini bisa terjadi karena perpindahan fokus dari ideologi ke tokoh — sebuah trend yang menegas karena kekuasaan televisi. Di layar yang gemilang itu, wajah dan citra lebih penting ketimbang program dan pikiran. Dan wajah dan citra itulah yang oleh fitnah hendak dirusak.

Tapi fitnah yang menderas itu juga karena persaingan politik telah diperlakukan sebagai permusuhan absolut. Kau tentu ingat, “perang” telah dipakai untuk menggambarkannya. Lebih tajam lagi: perang antara “kafir” dan “Islam”. Dalam permusuhan yang mutlak itu, tak ada lagi nilai-nilai yang dianggap berlaku bersama. Fitnah dan dusta dihalalkan, karena pertarungan macam itu adalah pertarungan tanpa kemungkinan rekonsiliasi. Pihak yang memfitnah merasa pantas mengecualikan diri dari nilai-nilai bersama tentang yang jujur dan yang tidak.

Lanjutkan membaca Memihak

Kecapekan

Kita mungkin akan hidup sebagai sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta. Tahun 2014 adalah tahun pemilihan yang paling brutal — brutal dalam wujud kata-kata — sepanjang sejarah kita sejak 1945. Dalam proses yang sengit ini, hampir tiap saat kita mendengarkan “fakta” yang dikatakan untuk diputar-balikkan, bantahan-bantahan yang tak berniat mencari apa yang benar, dan cepat atau lambat, meruyaknya saling tidak percaya — bahkan kebencian. Bersama itu: hilangnya percakapan yang serius.

Percakapan yang serius mengandung keinginan untuk saling mendengarkan, meskipun tak harus untuk saling setuju. Percakapan yang serius tak berarti percakapan tanpa humor; bahkan humor bisa penting di situ. Dalam percakapan yang serius ada asumsi bahwa kata-kata punya sebuah kekuatan, dalam bunyi dan makna, dalam pikiran dan perasaan — kekuatan yang kadang-kadang disebut disebut “maksud”. “Maksud” dalam bahasa Indonesia bisa berarti “makna”, bisa juga berarti “intensi”. Tapi ketika dusta begitu sering diucapkan, maksud pun hanyut — dan kadang-kadang tenggelam — dalam arus bunyi yang desak-mendesak yang dalam gramatika disebut (untuk memakai ucapan Hamlet yang kesal), “kata, kata, kata…”

Mark Twain pernah mengatakan, perbedaan antara dusta dan kucing ialah bahwa kucing hanya punya sembilan nyawa. Dusta, dengan kata lain, jauh lebih sulit mati. Ia hanya bisa dihentikan oleh lawannya yang sering disebut sebagai “kebenaran”. Tapi kebenaran, apapun definisinya, tampaknya kini sudah kecapekan sebelum berhasil mengejar dan menghajar kebohongan.

Pelan-pelan, sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta, sebuah masyarakat yang tak bisa lagi bercakap-cakap secara serius, akhirnya mirip sebuah koleksi suara berisik yang sebenarnya tak berkata apa-apa. Kita seakan-akan bagian lakon televisi yang disajikan Samuel Beckett: tidak ada lagi dialog. Bahasa sudah habis. Dalam Quad, kita akan melihat para aktor bergerak di pentas dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Kata-kata hanya ditulis Beckett sebagai arahan pementasan. Deleuze membahas lakon tanpa-kata itu dengan judul l’Épuisé, “yang kehabisan tenaga”. Tak ada lagi tenaga untuk saling menyapa. Setidaknya oleh Beckett bahasa ditunjukkan sebagai bagian dari keadaan yang lebih runyam ketimbang sekedar lelah.

Lanjutkan membaca Kecapekan