caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:21 diunggah oleh

Kecapekan

Kita mungkin akan hidup sebagai sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta. Tahun 2014 adalah tahun pemilihan yang paling brutal — brutal dalam wujud kata-kata — sepanjang sejarah kita sejak 1945. Dalam proses yang sengit ini, hampir tiap saat kita mendengarkan “fakta” yang dikatakan untuk diputar-balikkan, bantahan-bantahan yang tak berniat mencari apa yang benar, dan cepat atau lambat, meruyaknya saling tidak percaya — bahkan kebencian. Bersama itu: hilangnya percakapan yang serius.

Percakapan yang serius mengandung keinginan untuk saling mendengarkan, meskipun tak harus untuk saling setuju. Percakapan yang serius tak berarti percakapan tanpa humor; bahkan humor bisa penting di situ. Dalam percakapan yang serius ada asumsi bahwa kata-kata punya sebuah kekuatan, dalam bunyi dan makna, dalam pikiran dan perasaan — kekuatan yang kadang-kadang disebut disebut “maksud”. “Maksud” dalam bahasa Indonesia bisa berarti “makna”, bisa juga berarti “intensi”. Tapi ketika dusta begitu sering diucapkan, maksud pun hanyut — dan kadang-kadang tenggelam — dalam arus bunyi yang desak-mendesak yang dalam gramatika disebut (untuk memakai ucapan Hamlet yang kesal), “kata, kata, kata…”

Mark Twain pernah mengatakan, perbedaan antara dusta dan kucing ialah bahwa kucing hanya punya sembilan nyawa. Dusta, dengan kata lain, jauh lebih sulit mati. Ia hanya bisa dihentikan oleh lawannya yang sering disebut sebagai “kebenaran”. Tapi kebenaran, apapun definisinya, tampaknya kini sudah kecapekan sebelum berhasil mengejar dan menghajar kebohongan.

Pelan-pelan, sebuah masyarakat yang kecapekan oleh dusta, sebuah masyarakat yang tak bisa lagi bercakap-cakap secara serius, akhirnya mirip sebuah koleksi suara berisik yang sebenarnya tak berkata apa-apa. Kita seakan-akan bagian lakon televisi yang disajikan Samuel Beckett: tidak ada lagi dialog. Bahasa sudah habis. Dalam Quad, kita akan melihat para aktor bergerak di pentas dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Kata-kata hanya ditulis Beckett sebagai arahan pementasan. Deleuze membahas lakon tanpa-kata itu dengan judul l’Épuisé, “yang kehabisan tenaga”. Tak ada lagi tenaga untuk saling menyapa. Setidaknya oleh Beckett bahasa ditunjukkan sebagai bagian dari keadaan yang lebih runyam ketimbang sekedar lelah.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:18 diunggah oleh

Kejadian

Do I contradict myself? Very well, then I contradict myself. I am large. I contain multitudes — Walt Whitman

kejadian caping

Puluhan ribu orang berhimpun di sebuah sore yang tak terduga-duga: berlapis-lapis antusiasme, bertimbun-timbun harapan, juga cemas, berbaris-baris wajah yang tak cuma menatap kaku dan pasif.

Saat itu, dalam ruang itu berlangsung sebuah transformasi: kemeriahan itu seketika jadi sebuah “kami” .Sebuah Kami yang siap. Sebuah Aku yang yakin. Sebuah subyek yang, dari saat ke saat, mengutuhkan dirinya.

Di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Juli 2014, konser dua jam untuk Jokowi itu sudah tentu bukan cuma sebuah perhelatan musik; tapi juga bukan hanya satu elemen kampanye politik. Saya kira saya menyaksikan sebuah “kejadian.”

Dalam hal ini kata “kejadian” (dengan akar kata “jadi”) lebih pas ketimbang, (jika kita ikut-ikut membaca Badiou), “l’événement”, Sebab yang semula tak berbentuk seketika hadir — tanpa digerakkan sebuah sistem, tanpa bisa dirumuskan dan dinamai.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:15 diunggah oleh

The Tank Man

Ia disebut “The Tank Man”: seorang berbaju putih yang berdiri sendirian di tengah jalan, menghadang empat tank yang bergerak ke Tiananmen, Beijing.

Hari itu 5 Juni 1989.

Siapa dia? Tak ada yang tahu. Bisa jadi ia warga biasa yang tiba-tiba tak bisa menahan marah melihat tentara datang lagi setelah membunuh puluhan demonstran di Lapangan Tiananmen 40 jam sebelumnya. Mungkin ia hendak berseru: “Kembalilah kalian! Korban sudah cukup!”.

Kita tak tahu itukah yang dikatakannya. Tapi sejak itu, dunia mengenangnya: sosok pemberani yang diabadikan kamera dari jauh, tubuh yang bagaikan sebatang tiang yang tegak — tiang putih yang menyangga hal-hal yang tak kasat mata: keinginan bebas dari takut dan kekerasan, keberanian bersikap, dan tekad yang mempercayai dialog, bahkan dialog dengan pasukan infrantri yang siap tempur.

Orang bisa mengatakan, “The Tank Man” menghendaki apa yang mustahil. Sebab Pemerintah begitu kuat. Penguasa di Beijing itu bisa dengan mudah mematikan suara yang menuntut kemerdekaan bersuara dan mematikan mereka yang tak disukai bersuara.

Juga: mematikan ingatan tentang semua kematian itu.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:14 diunggah oleh

Air Kelapa

Ada sesuatu yang menarik bila kekuasaan bermula dari cerita tentang kata dan air kelapa.

Kita menemukannya dalam dongeng Jawa tentang pendiri kerajaan Mataram.

Tersebutlah pada suatu pagi Ki Ageng Giring, seorang peladang, memanjat pohon nyiur di halamannya untuk memetik sebutir kelapa. Ia ingin membuat santan. Tapi di pucuk pohon itu tiba-tiba terdengar suara: “Barang siapa yang meminum air kepala yang kau pegang itu, akan ia turunkan anak cucu yang berkuasa di kerajaan masa depan.”

Dengan gemetar Ki Ageng Giring memetik nyiur itu, meluncur turun dan pulang. Tapi hari masih pagi; ia belum haus. Buah kelapa itu hanya ia lobangi untuk bisa direguk airnya nanti lalu ia letakkan di para-para dapur. Ia pun kembali ke kebun untuk mencangkul.

Tak disangka-sangka, tetangga dan sahabat karibnya, Ki Ageng Pemanahan, yang baru saja sibuk membersihkan semak-semak, mampir. Karena haus tak tertahan, melihat nyiur yang sudah disiapkan di dapur itu, ia mengambilnya dan mereguk airnya.

Dan demikianlah jadinya: Ki Ageng Pemanahan adalah progenitor pendiri kerajaan Mataram. Anaknya, seorang pemuda cerdik dan pemberani, Sutawijaya, menjadi seorang prajurit yang makin lama makin dipercaya di kerajaan Pajang. Ia berhasil menewaskan Arya Penangsang, seorang bangsawan yang tak mau takluk. Atas jasanya, Sutawijaya diberi gelar Panembahan Senapati dan sebentang wilayah. Berangsur-angsur, daerah itu ia kembangkan jadi kerajaan yang disebutnya dengan nama “Mataram”, seperti kerajaan Jawa dari zaman keemasan sebelum Islam. Ia memerintah dari 1584 sampai meninggal pada 1601.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:12 diunggah oleh

Babi Yar

Pada 1961, Yevgeny Yevtushenko menulis sajak tentang orang-orang yang terbunuh di jurang panjang yang suram di timur laut Sungai Dnieper:

Akulah tiap orang tua
yang di sini
ditembak mati.
Akulah tiap anak
yang di sini
ditembak mati

Duapuluh tahun sebelumnya, di jurang di Ukraina itu, di Babi Yar, hampir 34 ribu orang Yahudi — termasuk anak-anak, orang tua, perempuan — dibunuh pasukan Jerman hanya dalam waktu dua hari, 29-30 September 1941.

Yevtushenko bukan Yahudi; sajak itu, “Babi Yar,” menyatakan, “dalam diriku tak ada darah Yahudi”. Tapi ia menggugat apa yang terjadi di tempat itu sebagai kebuasan yang sedang dilupakan — dan dengan demikian juga kebuasan lain di masa lalu yang tak diakui. Penyair Rusia ini menuliskan sajaknya setelah Stalin mangkat dan orang bisa membacanya sebagai pengingat kekejaman yang pernah terjadi di masa lalunya sendiri — sebagaimana kita di Indonesia akan bisa membacanya dengan ingatan yang mirip.

Tentu, pembantaian Jerman terhadap orang Yahudi tak terbandingkan — karena tiap kekejaman sebenarnya tak bisa dibandingkan. Seperti yang di Babi Yar itu. Seorang sopir truk pasukan Jerman yang berada di tempat itu menceritakan kesaksiannya:

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:11 diunggah oleh

Politik

“Seperti kandil padam,” kata suster yang menyaksikan kematian Václav Havel pada pukul 9:50 pagi. “Begitu diam.”

Di ranjang itu tak ada suara, memang. Tapi kita tahu: orang tak akan diam, juga setelah kematian.

Ketika berita wafat bekas presiden itu menyebar dari Hrádeček, desa kecil di timur laut Praha itu, ke seluruh Republik Cek, orang pun berhimpun. Mereka mengenangnya: sastrawan pembangkang yang memimpin gerakan menentang kediktatoran Partai Komunis. Presiden pertama yang mereka pilih. Kepala negara yang kemudian turun dari jabatannya dan menyisih ke Hrádeček. Seorang tua yang menanggung sakit sampai di pagi 18 Desember 2011 itu: wafat.

Tak jelas adakah orang yang menangis. Tapi Havel kembali didengar.

Ia hampir dilupakan. Duapuluh dua tahun jarak waktu antara hari kematian itu dan 17 November 1989, hari meletusnya demonstrasi pertama anti-pemerintah di Národní Třída. Dalam periode itu banyak hal terjadi: revolusi berhasil menumbangkan rezim dan ideologinya, tanpa jalan kekerasan: “Revolusi Beludru”, 1989; Havel dipilih jadi presiden, pertama kali, 1990, dan demokrasi datang ke Cekoslowakia.

Tapi kegembiraan dengan segera disisipi kekecewaan — terutama ketika Cekoslowakia pecah menjadi Republik Cek dan Slovakia.

Selama itu, Havel, bekas pejuang kemerdekaan yang jadi kepala negara itu dielu-elukan di seluruh dunia. Tapi pelan-pelan tampak, ia tak selamanya seorang pemimpin yang berhasil. Akhirnya ia meninggalkan kursinya — dengan nada muram ketika berbicara.

Bukan karena ia kehilangan kekuasaan; kekuasaan selalu di panggulnya dengan enggan dan kikuk. Suaranya tak cerah karena ia merasa ada yang hilang.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:10 diunggah oleh

Bukan Si Miskin

Presiden yang menolak tinggal di Istana dan memilih hidup di ladang dan menempati rumahnya sendiri di lorong tak beraspal dan sehari-hari hanya dijaga dua pengawal di kelokan jalan dan ditemani seekor anjing berkaki tiga yang setia dan ke mana-mana mengendarai sebuah VW kodok tahun 1987 berwarna kusam: ia bukan tokoh sebuah dongeng Amerika Latin. Ia benar ada, di abad ke-21: José Mujica, presiden Uruguay.

Dalam usia 78 tahun, ia, yang dipanggil “Pepe”, seorang kakek rombeng, dengan sepatu usang dan baju acak-acakan. Ia bergaji 20 ribu dollar, tapi 90% dari uang itu ia berikan untuk sumbangan buat orang-orang yang kekurangan. Sisanya praktis senilai pendapatan rata-rata orang Uruguay. Bersama isterinya, Lucía Topolansky, yang juga seorang senator, ia tetap mengolah ladangnya yang ditanami kembang krisan, tanpa pembantu.

Ia tak peduli bila orang menyebutnya pak tua eksentrik. Ia tak mau disebut sebagai “presiden paling miskin di dunia.” Ia punya pengertian sendiri tentang “miskin”. Orang yang paling miskin, demikian katanya, “adalah orang yang punya banyak keinginan.”

Mungkin ia terdengar seperti seorang Budhis yang menganggap hasrat dan lobha (atau “loba” dalam bahasa Indonesia) adalah pangkal penderitaan. Tapi orang Marxis (atau bekas Marxis) ini tak inginkan pencerahan. Mungkin ia terdengar seperti seorang pengikut Gandhi yang melaksanakan “hidup di tingkat bawah, tapi pikiran di tingkat tinggi”. Tapi José Mujica bagi saya lebih menakjubkan ketimbang Gandhi.

Gandhi tak pernah duduk di tahta; Mujica justru persis berada di situ. Dengan kata lain, ia berada di ruang kekuasaan dan pelbagai godaannya, sementara Gandhi tidak. Gandhi, yang di masa mudanya seorang advokat yang hidup cukup, memililih kebersahajaan yang ekstrim sebagai pernyataan politik dan spiritual. Mujica tak demikian. Ia tak mengubah dirinya. “Gaya hidup saya adalah konsekuensi dari luka-luka saya,” katanya kepada Jonathan Watts dari The Guardian, akhir tahun lalu. “Saya anak sejarah saya sendiri.”

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:09 diunggah oleh

Caraka

Hermes, yang bertugas menyampaikan pesan dewa-dewa Yunani Kuno kepada manusia, konon berjalan hanya di malam hari. Ia, sang caraka, menempuh jalur dan tikungan yang sulit.

Kearifan acapkali datang dalam perumpamaan; Hermes adalah salah satunya. Sebuah pesan, apalagi dari yang maha jauh, tak pernah transparan. Mungkin itu sebabnya dengan latar yang gelap dan tak lurus oknum mithologi yang misterius ini tampil dalam pelbagai awatara. Hanya ada satu identasnya yang agak tetap: ia seorang putra Zeus, raja kahyangan itu; ia lincah dalam pelbagai hal yang berhubungan dengan kata-kata.

Nama Hermes terkait dengan ermeneus, sang penafsir. Setidaknya itu yang disebut dalam rekaman percakapan Sokrates dengan Kratylos di abad ke-4 Sebelum Masehi. Sokrates, sebagaimana dikutip Plato, menjelaskan bahwa sang penafsir dianggap juga sang pembawa pesan — tapi juga sang “pencuri”, “pendusta”, dan “tukang menawar”.

Dan semua awatara itu, kata Sokrates, ada urusannya dengan bahasa. Hermes adalah si cerdik dalam hal cerita dan percakapan.

“Cerdik.” “Pencuri.” “Pendusta.” “Tukang menawar”. Dengan imaji-imaji Hermes yang hanya berjalan di malam hari itu agaknya kita diharapkan mafhum bila sebuah pesan tak pernah terjamin akan transparan dan seutuhnya lurus. Bila pesan adalah ibarat utusan dari satu pihak ke pihak lain, bentrokan bukan hal yang luar biasa.

Ada sebuah dongeng tentang asal-usul huruf Jawa yang mengisyaratkan itu. “Ha-na-ca-ra-ka….” adalah kisah tentang dua orang utusan Raja Ajisaka yang sama-sama setia, tapi akhirnya bersengketa. Yang satu diberi pesan bagina agar menjaga keris pusakanya selama ia mengembara ke tempat lain. Yang lain diberi pesan untuk mengambilnya kembali. Ajisaka yakin pesan itu punya makna yang sama: perintah yang menegaskan miliknya, titah yang harus ditaati. Tapi sang raja keliru. Makna itu tak bisa lagi lurus ketika menempuh proses interpretasi. Kedua utusannya saling membunuh. Ajisaka ingin mencegah hal yang sama terjadi; ia bermaksud menstabilkan makna dengan mencatatnya dalam huruf hitam di atas putih.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:06 diunggah oleh

Undang

Saya sering ingat cerita yang ganjil itu, cerita Kafka, tentang seorang yang datang dari udik agar diterima oleh Hukum. Tapi ia hanya sampai di depan sebuah pintu yang dijaga. Sang penjaga, berbaju wul, berhidung besar dengan kumis hitam orang Tartar, mengatakan kepadanya bahwa belum saatnya ia diterima.

Itu yang terus menerus dikatakannya.

Dan orang dari udik itupun menunggu. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Sang penjaga sebenarnya tak jelas-jelas menghalanginya. Ia mengatakan, kalau mau, tuan bisa saja masuk tanpa izin. Tapi, tambahnya, bersiaplah: setelah lewat pintu itu akan ada pintu lain, dengan penjaga lain, yang makin perkasa, makin perkasa, tak putus-putus.

Tamu itupun akhirnya tak mencoba menerobos ke dalam. Ia hanya duduk di depan pintu. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Lama kelamaan tubuhnya melemah. Akhirnya ia mati. Ia mati sambil menyadari bahwa selama itu rupanya tak ada orang lain yang minta diterima Hukum melalui pintu itu. Pintu ini, kata sang penjaga, memang disediakan hanya buat tuan.

Kita tak tahu mengapa. Tapi sebelum ajal datang, sang tamu melihat cahaya kemilau bersinar dari balik pintu. Hukumkah itu? Seperti apakah gerangan yang disebut “Hukum”? Mengapa ia, yang sudah disiapkan pintu masuk khusus, tetap tak diterimanya?

Bermacam-macam tafsir dibuat tentang cerita ini. Saya cenderung melihat, Kafka menggoda kita untuk memperlihatkan betapa besarnya aura hukum bagi orang dari udik itu: seakan-akan ada sesuatu yang transendental dalam dirinya — meskipun sebenarnya tidak. Aura itu bertaut dengan misteri, dan orang-orang tak melihat, atau menyidik, asal-usulnya. Si tamu dengan gampang patuh.

Tak jelas riwayatny.a. Ia tak disebut datang untuk menerima vonis atau mau protes. Ia hanya patuh, dan bukan karena terpaksa. Saya kira orang udik itu datang karena ia selama hidup mengalami jarak yang begitu jauh antara “hukum”dan “undang-undang”.

Hukum, dalam bahasa Jerman yang dipakai Kafka di sini, adalah Gesetz. Kata dasarnya setzen, “memasang, mengatur”, tak jauh dari kata Inggris, law, yang asal katanya dari bahasa Norse lama yang berarti “meletakkan di dasar, menata”. Dalam bahasa Indonesia “hukum” tak persis sama dengan “undang-undang”. Undang-undang bukan sekedar seperangkat aturan yang dipasang, melainkan sesuatu yang di-undang-kan. “Undang” terkait dengan unsur pokok dalam kata “meng-undang”, yang berarti mengajak.

Lanjut..

caping • Jumat, 25 Juli 2014 @ 23:05 diunggah oleh

Richard

Kini kita hidup dengan politik yang berubah: politik sebagai show-business. Telah datang para pesohor yang cantik, tampan, wangi, merdu, bertubuh bagus dan tak berkeringat. Mereka dipasang, atau memasang diri, sebagai orang-orang yang diharapkan dipilih dalam sebuah persaingan kekuasaan.

Televisi, di sebuah negeri di mana hampir tiap rumah punya pesawat penyebar informasi itu, mempertegas seni panggung ini. TV telah jadi medium yang menggantikan peran pesan; isi yang hendak disampaikannya tak penting lagi. The medium is the message — kalimat Marshall McLuhan setengah abad yang lalu itu kini punya gema baru. Tak penting agenda apa yang hendak diperjuangkan politisi/bintang dan bintang/politisi itu. Yang penting: nun di sana ada sosok audio–visual yang menarik.

Nun di sana…. Televisi telah membangun pentas politik dari jarak jauh; kata tele (dari kata Yunani Kuno, tèle) sangat penting diingat. Dalam kejauhan itu, yang tampil adalah “citra” — sebuah kata yang maknanya dideskripsikan dalam sajak Usmar Ismail (dan diberi melodi oleh Komponis Cornel Simanjuntak) sebagai “bayangan”. Dan tak cuma “bayangan”; citra selalu terkait dengan “kabut”. Di kejauhan, yang gemerlap sama saja dengan yang tak jelas.

Sebab itu siapa yang melihat gerak-gerik seorang politikus sebagai “pencitraan” (artinya palsu) akan salah. Dalam kabut yang meliputi citra, kita tak akan pernah tahu mana yang asli. Pada akhirnya, orang harus percaya penuh atau orang harus curiga penuh. Kata “pencitraan” akhirnya jadi sebuah umpatan yang latah dan sia-sia.

Sebenarnya semua ini terjadi bukan dari titik nol. Hubungan politik dengan teater — dengan permainan peran dan penampilan diri — punya sejarah yang panjang. Dari panggungnya di The Globe, di tepi Sungai Thames di akhir abad ke-16, Shakespeare telah mengungkapkan itu. Permainan kekuasaan ditentukan oleh kiat mengelabui dan pura-pura. Dalam Hamlet, sang pangeran menyiapkan pembalasan kematian ayahnya dan tak seorang pun tahu pasti, juga ia sendiri, apakah ia telah setengah sinting. Dalam Macbeth, sang panglima perang mengundang rajanya menginap di kastilnya untuk kemudian dibunuh di waktu tidur.

Lanjut..