caping • Selasa, 18 Februari 2014 @ 09:07 diunggah oleh

Racun

Bahasa datang, dan kemudian penghancuran. Kini orang bisa dengan mudah menulis atau membaca kata-kata yang agresif, makian kasar dan kalimat benci yang brutal di internet,70-680 terutama dalam Twitter. Mungkin semua itu hanya ekspresi tak matang dan gagah-gagahan anak muda. Tapi jangan-jangan tak selamanya “anak muda”. Jangan-jangan ada sesuatu yang lebih serius.

“Bahasa tak semata-mata menulis dan berpikir bagiku; ia juga makin lama makin mendikte perasaanku dan mengatur keseluruhan hidup rohaniku dan tanpa sadar aku menyerah sepenuhnya kepadanya. Dan apa yang terjadi jika bahasa yang diolah itu terbuat dari anasir yang N0-120 beracun…?”.

Kata-kata itu ditulis diam-diam oleh Victor Klemperer di Jerman di bawah kekuasaan Nazi, antara tahun 1933 dan 1935 ketika suara kebencian jadi bagian dari hidup sosial-politik.

Klemperer, guru besar sastra di Universitas Teknologi Dresden, mengalami sendiri bagaimana bahasa membubuhkan marka-marka ke jalan kematian. Dikerumuni pidato, poster, pers propaganda yang terus menerus, orang Jerman hidup dalam bahasa yang akhirnya memisahkan mana yang Jerman (asli) dan yang bukan (Yahudi). Klemperer dicopot dari statusnya karena ia ada di bawah kata “Yahudi”, dan ribuan orang lain masuk ke dalam kamar gas.

Catatan-catatan itu kemudian diterbitkan dengan judul LTI – Lingua Tertii Imperii: Notizbuch eines Philologen pada 1947 dan terbit dalam versi Inggris pada 2002. Petilan-petilannya menunjukkan bagaimana traumatiknya pengalaman Klemperer: “Kata-kata dapat seperti dosis-dosis kecil arsenikum: ditelan tanpa disadari, seakan-akan tak punya efek, lalu sejenak kemudian reaksi racunnya merasuk”.

Merasuknya arsenikum yang tanpa disadari itu yang agaknya menyebabkan tak mudah menganalisa bagaimana proses pembinasaan itu bekerja. “Aku sendiri tak pernah bisa mengerti”, tulisnya, “bagaimana ia [Hitler], dengan suaranya yang tak merdu dan bising, dengan kalimat-kalimatnya yang kasar dan bentukannya bukan-Jerman…, bisa memikat orang banyak dengan pidato-pidatonya…”

Lanjut..

caping • Selasa, 18 Februari 2014 @ 09:04 diunggah oleh

Douch

Apa yang dapat dikatakan tentang seorang algojo?

Kita sudah saksikan Anwar Congo dalam film dokumenter The Act of Killing Joshua Oppenheimer: preman Medan yang dengan bangga mengaku telah membantai banyak orang “komunis” di pertengahan 1960-an, tapi di adegan terakhir hampir sepenuhnya diam, hanya batuknya yang terdengar di rumah bekas tempat pembunuhan itu, hanya tubuh tuanya yang lelah menuruni tangga…

Ketika film berakhir, tak ada cerita tentang apa yang terjadi dengan Anwar Congo di saat itu, setelah itu. Akhirnya manusia tak bisa lengkap didokumentasikan, pikir saya. Anwar Congo tak hanya satu.

Mungkin begitu juga Douch. Nama sebenarnya Kang Kek Iew. Dalam sejarah Kambodia yang berlumuran darah selama dasawarsa 1970-an, ia pejabat Khmer Merah yang memimpin Penjara Tuol Sleng, yang juga disebut “S-21″. Ia tokoh kebengisan yang tak kalah mengerikan.

Selama empat tahun Partai Komunis berkuasa di Kambodia, ribuan disekap di tempat yang berarti “bukit pohon beracun” itu.

Douch, direktur “S-21″ sejak 1975, adalah sang pencabut nyawa. Ketika Khmer Merah kalah dan ia ditangkap dan diadili, bukti-bukti ditunjukkan: ada perintah tertulisnya, misalnya, untuk “menghantam sampai hancur” 17 tahanan (8 pemuda belasan tahun dan 9 anak-anak). Dalam daftar 20 tahanan perempuan ia menulis instruksi di bawah tiap nama: “bawa untuk dieksekusi”; “terus diinterogasi”; “untuk eksperimen medis”.

Douch juga mengakui: anak buahnya merenggutkan bayi dari ibu mereka dan membenturkan kepala orok itu ke pohon, sampai mati.

Dari sekitar 17.000 tahanan, hanya tujuh yang hidup.

Lanjut..

caping • Rabu, 22 Januari 2014 @ 10:20 diunggah oleh

Rosa

95 tahun yang lalu, mereka membunuh Rosa Luxemburg.

Hari itu Rabu yang dingin, 15 Januari.  Beberapa orang anggota Garda  Burgergerwehr  dari Wilmersdrof, di  bagian luar  Berlin, menangkap Rosa  Luxemburg dan  temannya sepergerakan,  Karl Liebknecht.  Kedua tokoh sosialis kiri itu, yang menyebut kelompoknya “Spartakus”,  diketahui terlibat dalam pembrontakan terhadap pemerintah. Malam itu mereka di bawa ke arah penjara Moabit. Di tengah jalan mobil berubah arah: ke Tiergarten, taman yang penuh pohon di pusat kota. Di antara semak-semak, Liebknecht ditembak mati.

Rosa diseret ke dalam sebuah mobil lain. Dengan gagang pistol, seorang opsir memukul kepala perempuan berumur 48 tahun itu hingga pingsan. Sebuah revolver membuyarkan otaknya. Mayat Rosa ditenggelamkan di Kanal  Lanswher. Baru beberapa bulan kemudian tubuh itu diketemukan — meskipun tak pernah pasti benarkah itu jenazah Rosa.

Saat-saat  yang gelap,  tulis Hannah Arendt tentang masa itu. Rosa hidup, berjuang, hilang, di bagian abad ke-20 yang diliputi rusuh, kelaparan, pembunuhan massal, dan rasa benci kepada ketidak-adilan yang membuat orang marah dengan suara serak.

Lanjut..

caping • Rabu, 22 Januari 2014 @ 10:18 diunggah oleh

Heteroglassia

Di lantai pentas itu bisa ada rebana,  suling dan ukulele, gambang dan  wayang, gunungan dan kecrek, payung dan setandan pisang. Pernah ada balon yang sebenarnya  kondom-kondom yang ditiup, tak jauh dari seeongggok nasi tumpeng. Pernah ada dua benda yang dibungkus kain, dan sebuah struktur yang mirip pintu masjid, di sebelah sebuah tabung.  Begitu banyak barang-barang, masing-masing sepele dan tak jelas fungsinya.

civil rights essay

Tapi ada pesona.

Di panggung, atau mungkin di lantai pentas, banyak hal bisa terjadi, sebab seorang dalang adalah seorang pesulap, dan Ki Dalang Slamet Gundono adalah pesulap yang tak tepermanai.

Kini ia tak ada lagi di antara kita.  Ia meninggal,  Minggu 5 Januari 2014,  hanya sekitar lima hari setelah dirawat di sebuah rumah sakit di Sukoharjo, dekat Surakarta.  Saya sudah cemas ketika ia mengirim sandek ke telepon genggam saya pada 31 Desember 2013:  “Mas Goen, saya sakit…Kaki saya tak bisa jalan dan sakit luar biasa”.

Lanjut..

caping • Senin, 13 Januari 2014 @ 11:59 diunggah oleh

Pelan

Liquor is quicker – Ogden Nash.

Saya menyukai pagi: dengan gerimis atau sinar matahari, saya akan berjalan mengikuti bayang-bayang pohon sepanjang alur, atau sebaliknya,  duduk tiga menit memejamkan mata di depan jendela terbuka. Ada  sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek. Ada suara burung yang cerewet — ya, pagi adalah suara burung yang cerewet.  Juga suara tokek, bunyi berat yang  sabar satu demi satu, seakan-akan melawan kecepatan detik.

Mungkin saya menyukai pagi karena di sana saya  berlindung dari kecepatan detik.

Meskipun bisa tak bertahan.  Sebab jika pada menit berikutnya saya  buka laptop, akan menghambur apa yang disebut “informasi” — ribuan kata, suara, angka dan  gambar yang desak mendesak,   singkir menyingkirkan: kabar dari situs dot.com, salam dan umpatan dan keluhan minta perhatian di Twitter, foto-foto pamer diri di Facebook, pesan-pesan sejenak dari teman dan orang yang tak dikenal di telpon genggam….Mereka melintas.   Mereka tenggelam. Mereka diingat, tak lengkap. Mereka mungkin statemen, mungkin salah faham yang bergegas.  Mereka berubah.

Di depan laptop, dunia  melawan pagi.

Di depan laptop, di luar iPad, di luar kamar, kita diproyeksikan seolah-olah terancam:  makhluk yang  akan runtuh bila tak bergerak cepat.  Klaus Schwab, pendiri the World Economic Forum, menyebarluaskan kecemasan itu: “Kita bergerak dari sebuah dunia di mana yang besar memakan yang kecil ke arah dunia di mana yang cepat menelan yang pelan.”

Lanjut..

caping • Minggu, 5 Januari 2014 @ 17:56 diunggah oleh

Religio

Agama adalah monster: beberapa dasawarsa menjelang kelahiran Isa Almasih, Lucretius, penyair dan pemikir Romawi, menggambarkan religio sebagai makhluk mengerikan yang menindas manusia.

….di seluruh negeri,
hidup manusia rusak terlindas
di bawah beban berat agama,
yang menampakkan kepalanya,
dari lapis langit,
mengancam manusia yang fana
dengan wajah yang menakutkan.

Lucretius menuliskan itu di pembukaan De Rorum Natura (“Tentang Kodrat Benda-Benda”). Ia menuliskannya ketika republik Romawi berkecamuk oleh revolusi dan kontra-revolusi, antara tahun 145-130 Sebelum Masehi.

Sampai hari ini, kita hampir tak tahu apa-apa tentang Lucretius, kecuali karyanya itu. Kita hanya bisa memperkirakan bagaimana suasana dalam periode yang disebutnya sebagai “masa rusuh tanahair kita” itu, dan bagaimana agama berperan.

De Rorum Natura menggambarkan betapa gelap dan gairahnya hasrat manusia untuk mashur dan berkuasa — gelap dan sia-sia. Seraya orang-orang mendaki ke puncak kehormatan, mereka selalu dalam bahaya. “Rasa iri, bagaikan sambaran petir, terkadang melontarkan mereka dari puncak hingga terperosok ke dasar Tartarus yang busuk”.

Dalam pandangan Lucretius, ambisi dan kecemburuan itu akan berakhir ke titik yang kosong. Sisiphus membawa batu berat itu ke puncak, tapi tiap kali baru itu terlontar kembali ke kaki gunung.

Tiap kekuasaan — seperti ditunjukkan dalam sejarah Romawi — segera berakhir. Maka manusia, kata Lucretius, jika harus memilih, sebaiknya “tinggal diam”, ketimbang punya kuasa dan mahkota.

Lanjut..

caping • Minggu, 5 Januari 2014 @ 17:47 diunggah oleh

Berkabung

Membaca sejarah, menyusun sejarah, adalah berkabung. Kita menyadari ada kematian. Kita menemui yang tak bisa lagi dihidupkan. Kita takziah ke dunia tokoh-tokoh yang tak ada lagi dan peristiwa yang tak bisa diulangi. Kita mencoba menghadirkannya kembali — tapi pada saat itu juga kita tahu, selalu ada yang luput. Bukan karena amnesia.

Sebuah riwayat — lihat film Soekarno, Lincoln, atau October, Ten Days That Shook the World — hadir di sebuah layar putih. Dengan kata lain, ia disusun dalam seraut bentuk. Bangunan naratif itu menghendaki awal dan akhir. Apa gerangan yang terjadi sebelum awal dan sesudah akhir itu? Sang penyusun cerita terpaksa menghilangkannya. Bentuk adalah reduksi yang meringkus dan meringkas data yang bertaburan, susup-menyusup, berubah terus, centang perenang.

Bentuk itu, kisah sejarah itu, terbangun oleh kenangan, bukan oleh ingatan. Saya membedakan ingatan dari kenangan. Yang pertama rekaman pengalaman yang kita bayangkan tersimpan di sebuah ruang imajiner dengan label “masa lalu”. Ingatan mudah ditata. Kenangan sebaliknya: ia tak tertata dalam ruang terpisah. Ia mengalir memasuki masa kini, bagian dari masa kini, mengubah secara kualitatif masa kini. Kenangan membikin masa lalu manunggal dengan semua masa. Waktu bukan ruang yang terkotak-kotak.

Tapi para penyusun kitab sejarah membuat arsitektur: cerita mereka terdiri dari bab demi bab, sebagaimana sebuah film terdiri dari adegan demi adegan. Keruwetan ditiadakan, bahkan dalam karya historiografis yang biasanya tak dianggap “modern.”

Seperti Syair Singapura Dimakan Api yang ditulis Abdullah bin Abdulkadir Munsyi di abad ke-19: cerita sejarah ini disampaikan dalam bentuk puisi, tapi bukan puisi yang ekspresif yang menyeruak acak-acakan dari jiwa yang terkena trauma. Syair itu dengan runut bercerita.

Lanjut..

caping • Minggu, 5 Januari 2014 @ 17:36 diunggah oleh

Monumen

untuk Hanung Bramantyo

Tokoh sejarah rata-rata mati dua kali. Pertama kali ia dimakamkan. Kedua kali ketika ia dibangun sebagai monumen. Mandela akan mengalami itu, seperti halnya Sukarno. Sebuah monumen berniat mengekalkan, tapi akhirnya membekukan. Sang tokoh akan dianggap telah selesai, tinggal dipuja.

Di tahun 1924 di Rusia, negeri yang menegakkan monumen di hampir tiap kota, satu acara resmi dibuka untuk merayakan hari kelahiran Penyair Pushkin, pencipta novel puitik Eugene Onegin yang termashur itu. Untuk acara itu Mayakovski menulis sebuah sajak. Pada suatu malam, demikian penyair itu bercerita, ia copot patung Pushkin dari pedestalnya di Trevsrakay bulvar, Moskow. Ia ajak sang penyair abad ke-19 itu berjalan-jalan, bertukar-pikiran.

Bagi Mayakovski, tiap monumen, juga yang dibangun untuk dirinya, harus diledakkan dengan dinamit. “Begitu benci aku kepada tiap benda mati/Begitu gandrung aku kepada tiap bentuk hidup!”

Tapi ia sendiri mati dua kali. Pertengahan April 1930, penyair berumur 37 itu menembak dirinya sendiri. Ditinggalkannya satu catatan: “Jangan salahkan siapapun karena kematianku, dan mohon jangan bergosip. Orang yang sudah mati sangat tak menyukai itu…”

Gosip tak bisa dicegah — juga pertanyaan kenapa Mayakovski bunuh diri. Lunacharski, tokoh kebudayaan Revolusi Oktober, seorang penelaah puisi yang jernih pandangnya, berbicara tentang dualisme dalam diri dan puisi Mayakovski: yang satu keras bagaikan logam dan yang lain lembut. Mungkin akhirnya dualisme itu tak dapat diatasinya lagi.

Mungkin ada cinta yang gagal. Mungkin Mayakovski — penyair revolusioner ketika revolusi Rusia sedang mengkosolidasikan kekuatannya — mulai melihat ada yang membeku dalam dirinya — juga dalam tahap revolusi itu.

Lanjut..

caping • Jumat, 6 Desember 2013 @ 14:54 diunggah oleh

Dari Djémila ke Sela-Sela Sejarah

Kira-kira 20 tahun sejak ia dilupakan, Albert Camus dikenang kembali. Di hari ulang tahunnya ke 100 simposia diadakan di seluruh dunia. Pekan lalu di Bandung peringatan satu abad penulis Prancis itu berlangsung selama sebulan. Seluruhnya dirancang dan diselenggarakan para mahasiswa; tak semuanya dari sastra Prancis.

death penalty argument essay

Di malam terakhirnya, 28 Novermber 2013, sekitar 400 hadirin, sebagian besar berumur di bawah 35, berjubel di auditorium IFI (Institut Français Indonesia) untuk mendengarkan ceramah tentang pengarang itu.

Mengapa Camus? Saya tak bisa menjawabnya dengan pas.

Camus bukan hanya satu cerita, dan kita bukan hanya satu pikiran. Lanjut..

caping • Selasa, 26 November 2013 @ 12:50 diunggah oleh

Titah

Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercacat, karena  peradaban bisa menakutkan.

Mungkin  benar Freud pernah mengatakan manusia pertama yang memulai peradaban adalah ia yang melontarkan kata penghinaan, bukan melontarkan batu. Barangkali ia  hendak menunjukkan, ada agresi yang  disembunyikan dengan bahasa dan dalam bahasa ketika manusia menjadi “beradab.”  Tapi yang tak  ditegaskannya: agresi yang berubah jadi bahasa itu bukanlah untuk melukai. Bahasa “hanya” menjerat dan menaklukkan.  Tanda awal peradaban adalah Titah.

Salah satu titah paling purba meninggalkan jejak yang panjang.  Kurang-lebih 2600 tahun sebelum tarikh  sekarang, ratusan ribu budak Mesir dikerahkan untuk mengangkut 800 juta bungkah batu  melalui perjalanan  15000 kilometer. Beban itu, jarak itu, harus ditanggungkan untuk membangun  piramida besar dan kecil di sekitar Kairo, tempat mummi para Firaun diawetkan.  Tak jauh dari sana,  tampak potongan batu yang seperti ditaruh tanpa niat: tanda  kubur lain. Di sanalah liang bagi para budak. Sekian ribu tahun yang lalu itu, tiap hari ratusan mereka, yang bekerja, tewas di kaki konstruksi yang mereka tegakkan.

Di gurun pasir Mesir itu, kekuasaan tampaknya hendak menaklukkan waktu.  Di dalam dan di luar piramida  seakan-akan tak ada jam yang bergerak.  Titah itu abadi.

Tapi Pablo Neruda, sang penyair, menyadari bahwa tak ada Titah yang abadi.  Pada 1943 ia pulang dari hidupnya di luar negeri, kembali ke Chile, mampir di Peru dan mengunjungi Maccu Piccu, bangunan megah bangsa Inca  dari abad ke-15 yang terletak di ketinggian 2400 meter dari permukaan laut. Di sana ia sadar, ketika waktu ditaklukkan dan   membeku di antara batu-batu, ada yang  harus menanggungkannya:  para budak, tentu saja.  Di puncak itu, seperti kita baca dalam sajaknya  Alturas de Maccu Piccu,   satu bagian dari Canto General, Neruda terpesona, tapi ia juga bertanya: Lanjut..