caping • Ahad, 14 Februari 2010 @ 02:08 diunggah oleh zen

Potehi

Di halaman kelenteng itu, di atas sebuah pentas mini, beberapa boneka kecil, dengan busana agung dan rupawan, bergerak. Tokoh-tokoh dalam kisah Cina hilir-mudik, duduk atau berdiri tegak, berargumen atau bertarung, mengusung keranda atau menari, menangis ataupun berpantun….

Saya tak bisa sepenuhnya mengikuti cerita wayang po-te-hi itu. Di halaman kelenteng di Tangerang itu, tak lama setelah hari Cap Go Meh, di sebuah sore sebelum lampion dinyalakan, pikiran saya bolak-balik antara kenangan yang tersimpan setengah abad dan perasaan terkesima hari ini: antara malam ketika pertama kalinya saya menonton teater boneka itu di tahun 1950-an dan sore Maret 2003 itu.

Apa yang terjadi sebenarnya, sehingga pentas itu terasa seperti sebuah buhul yang istimewa dari seutas tali ke masa lalu yang rumit?

Saya duduk di bawah tenda. Kursi-kursi lipat dideretkan dalam tujuh baris. Sekitar 20 orang, kebanyakan perempuan setengah baya dari kelas bawah di sekitar kelenteng, hadir di sana, memandang ke arah sebuah kotak merah yang besar yang agak menjulang—santai, sembari makan otak-otak yang dijajakan di dekat tenda.

Lanjut..

caping • Sabtu, 16 Januari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

Tokoh

SAYA tidak tahu benarkah kita kini masih bisa punya tokoh. Saya juga tidak tahu benarkah kita memang perlu cari tokoh.

Tapi anak-anak muda yang paling resah hari ini mencari tokoh dari puing-puing — dari pelbagai macam puing. Indonesia, yang dalam sejarahnya yang keras cukup banyak menyaksikan penggusuran dan penghancuran, adalah sebuah lingkungan yang peka untuk impian semacam itu. Maka, pahlawan bagi mereka adalah orang-orang yang dengan paras tajam yang robek berdiri terus dari reruntuhan, dengan otot liat, perut kencang, kaki kukuh (meskipun luka) dan berkata, “Kami tahu apa artinya dianiaya.”

Anak-anak muda mencari lambang, juga sumber, kekuatan dari situ. Tentu saja dalam proses itu mereka bisa salah. Sebab, terkadang dari puing-puing yang berkecamuk hanyalah sejenis amarah, perasaan aku-paling-suci, dan pemujaan kepada kekuatan diri, bukan rasa solidaritas dan kepekaan kepada rasa pedih yang menusuk orang lain. Terkadang pahlawan-pahlawan yang bangkit dari reruntuhan, dari penjara, dari kekalahan politik, dari keterdesakan kekuasaan, akhirnya juga tidak bisa bebas dari sindrom jagoan-tua: punya penyakit ego bengkak, merasa tergolong jawara abadi, dan mengira — dengan rasa proporsi yang telah dirundung encok — bahwa perjuangan masa lalu adalah ukuran segala-galanya.

Lanjut..

caping • Senin, 4 Januari 2010 @ 00:46 diunggah oleh zen

Ding

ORANG-orang berseru. Di tembok, kalender dirobek. Tengah malam lewat. Tahun 1986 dipasang. Weker berdering, jam dinding berdetak. Trompet-trompet kertas ditiup dengan mulut menggelembung, trot-trot-trot. Mungkin ada kembang api yang dilontarkan ke angkasa, gemerlapan, gemeretak ….

Sungguh mengherankan bahwa manusia tampaknya selalu membutuhkan bunyi bahkan kegaduhan - untuk menandai babak baru. Kegembiraan? Kecemasan? Kecemasan yang ditekan jauh, dan diganti secara paksa - sampai eksplosif - dengan harapan?

Kita tidak tahu. Setidaknya saya tidak tahu. Saya selalu merasa agak asing dalam keributan seperti itu, tapi saya ingat bahwa (seperti yang dikisahkan dalam nyanyian anak-anak yang terkenal di seluruh dunia itu) keloneng dan waktu selalu bergabung untuk menggugah, mungkin dari lelap, mungkin dari lupa. Bapa Yakub tak boleh tidur.

Lanjut..

caping • Ahad, 3 Januari 2010 @ 13:46 diunggah oleh zen

Gus

– untuk Abdurrahman Wahid

Seandainya aku berada di tempatmu, Gus, akan kubersihkan meja itu dan berjalan ke arah pintu. Aku akan keluar dari kursi itu. Seperti Oedipus yang buta keluar dari takhta dan Kota Thebes.

Mungkin sekali Oedipus gentar. Dengan biji mata yang masih meneteskan darah karena ia tusuk sendiri, ia tak akan tahu nasib yang menghadangnya setelah itu. Mungkin sekali Oedipus getir. Apakah salahnya, sebenarnya Dewa-dewa telah menakdirkannya untuk membunuh ayah kandungnya dan menikahi ibunya sendiri. Dengan kata lain, kesalahan itu bukan niatnya. Bahkan ia telah mencoba mengelak dari takdir itu. Tapi dewa-dewa berkuasa, dan takdir adalah keniscayaan yang, seperti lembing, tajam dan tegar: sesuatu yang tak bisa dibengkokkan, sesuatu yang menghunjam jauh ke dalam hidup. Maka, ia pun melakukan dosa itu, dan ia membuat Thebes dikutuk.

Agar Thebes pulih dari wabah dan kutukan, ia, sang raja, harus membuang si pendosa dirinya sendiri. Tapi apa yang diperoleh Oedipus setelah itu. Bukan pahala. Bukan surga. Tragedi Yunani berbeda dengan kisah-kisah agama samawi yang dimulai dengan Alkitab. Dalam cerita Ayub yang menderita karena diuji Tuhan, ada akhir yang menyejukkan hati: setelah bertahun-tahun nestapa, orang yang tawakal itu mendapatkan balasan yang berlipat-lipat. Dengan kata lain, seperti kata seorang penulis, “Tuhan itu adil, bahkan dalam murka-Nya.” Sementara itu, dalam tragedi Yunani, keadilan dewa-dewa yang menyajikan anugerah bagi mereka yang ikhlas dan tabah adalah sebuah pengertian yang asing. Berbeda dari Ayub, Oedipus akhirnya hanya terlunta-lunta sebagai pengemis dengan mata yang hancur. Ia tak memperoleh kembali penglihatannya. Ia tetap kehilangan mahkotanya.

Tragedy is irrepairable,” kata George Steiner, yang uraiannya saya pinjam untuk paragraf-paragraf ini.

Lanjut..

caping • Ahad, 3 Januari 2010 @ 13:36 diunggah oleh zen

Penulis

– Untuk Abdurrahman Wahid

Gus Dur, kini saya tahu apa kekuatan seorang penulis dan apa pula kelemahannya. Seorang penulis pada dasarnya seorang yang sendiri. Tapi ia percaya betul bahwa kata-kata, begitu lahir dari dirinya, akan punya dampak.

Dalam batas tertentu, ia bisa dikatakan sebuah sosok yang heroik: ia yakin akan daya dunia verbal dalam dan dari dirinya, dan ia juga bersedia menanggung sendiri ongkos yang timbul setelah itu. Ia tak bersandar kepada orang lain. Dari segi ini, Anda memang seorang penulis sejati dan bukan seorang presiden.

Saya belum pernah jadi seorang presiden, tapi dapat saya bayangkan: seorang eksekutif di pucuk itu sunyi. Tapi ini sebuah kesunyian yang berlangsung selama 30 menit setiap habis sarapan. Sesudah itu masuk laci. Seorang presiden bergerak dengan sebuah organisasi. Ia punya strategi, dan ia menyusun langkah untuk mencapai strategi itu. Ia merencanakan. Ia akan memanggil stafnya. Ia akan berembuk dengan mereka. Ia akan menimbang mana langkah yang paling efisien. Ia akan mendengarkan dua atau tiga alternatif. Ia akan memilih, setelah membahas soal logistik: seberapa tenaga dan dana diperlukan untuk menjalankan kebijakan itu. Ia akan memperhitungkan waktu. Kemudian ia akan memutuskan. Dan secara periodik, ia akan mengecek, seberapa jauh tindakan yang diambil itu berbuah, sejauh mana gagal, dan kenapa.

Kata-kata bukannya tak perlu bagi seorang presiden.

Lanjut..

caping • Kamis, 31 Desember 2009 @ 01:46 diunggah oleh zen

Gus Dur

Gus Dur adalah seorang pelintas batas. Atau barangkali bataslah yang melintasi Gus Dur.

Berhadapan dengan Abudurrahman Wahid kita berhadapan dengan seorang kyai tetapi juga bukan kyai, seorang yang bukan kyai tetapi juga kyai. Saya pemah melihatnya berbaju piyama Cina yang ringan, bersarung palekat yang sudah pucat dan tentu saja berpeci (seraya mengenakan sepatu). Tapi saya pernah pula melihat gambarnya, bersama istrinya, mengenakan pakaian petani Belanda abad lampau—sebagai turis Nederland.

Genealoginya kukuh sebagai santri dari pedalaman Jawa Timur, tetapi ia mengenal peta Menteng di Jakarta—daerah kelas atas Indonesia ketika kelas atas tidak seperti sekarang —seintim ia mengenal daerah kanak-kanaknya.

Gus Dur di sana-sini menulis risalah agama. Saya ingat deskripsinya yang akrab tentang para ulama terkenal dan tak terkenal di pelbagai pesantren. Tapi Gus Dur juga menulis komentar yang pintar tentang pertandingan sepakbola. Atau sebuah esai pendek yang cemerlang tentang film. Orang kagum kepada luasnya cakupan pengetahuannya, tetapi juga bisa mengganggapnya sebagai seorang “diletant” terus menerus.

Siapakah dia sebenarnya? Dimana ia harus ditaruh?

Lanjut..

caping • Kamis, 31 Desember 2009 @ 01:34 diunggah oleh zen

Gus Dur

SUKARNO tak pernah, Soeharto apalagi, Habibie belum. Baru Gus Dur membuat sesuatu yang bersejarah ini: di depan sebuah pertemuan internasional di Bali, dialah presiden Indonesia pertama yang bisa membuat hadirin tertawa. Para kepala negara terdahulu berpidato dengan gagah, serius, atau mendayu-dayu. Tanpa humor. Tapi Gus Dur tidak.

Presiden yang hampir buta itu berbicara tentang dirinya dan juga tentang wakil presidennya, Megawati, yang enggan berkomentar. “Kami berdua akan jadi sebuah tim yang sempurna,” katanya dalam bahasa Inggris yang bagus, tanpa teks. “Saya tak bisa melihat, dia tak bisa omong.” Para hadirin tergelak mendengar olok-olok itu. Harian Financial Time beredar ke seluruh dunia dan menulis tentang Gus Dur yang “memikat” (to charm) dunia.

Selama bertahun-tahun retorika Indonesia adalah retorika kekuasaan. Di mimbar, Bung Karno bergemuruh seperti gelombang samudra magis yang berseling petir. Pidato Soeharto datar-lurus seperti barisan tentara yang maju dengan disiplin. Habibie memberi sambutan dengan nada naik-turun seperti sebuah kapal udara ringan yang melintasi perbukitan. Samudra, tentara, pesawat terbang—semua itu kiasan untuk bermacam daya yang menaklukkan.

Sebaliknya, retorika Gus Dur adalah retorika pertemuan. Di dalamnya ada yang dalam bahasa Inggris disebut wit dan dalam bahasa Prancis l’esprit—yakni kemampuan melontarkan ungkapan yang tangkas, cerdas, jenaka.

Lanjut..

caping • Ahad, 27 Desember 2009 @ 11:57 diunggah oleh zen

Dengan Tiga Antidot

Sebuah tahun lagi di milenium ini akan berakhir, tapi bukan sejarah.

Saya selalu merasa ada sesuatu yang ganjil dalam argumen Francis Fukuyama yang termasyhur itu bahwa, sejak satu dasawarsa yang lalu, kita tiba di “akhir sejarah”. Harus dikatakan di sini bahwa ia tak mengatakannya dengan tempik sorak. Komunisme memang gagal. Tapi justru itu kini tak ada lagi pergulatan untuk perubahan besar—kecuali usaha memperbaiki sistem yang ada, seperti memperbaiki rumah yang telah siap, berdikit-dikit, di sana-sini. Modernitas, bagi Fukuyama, tak akan mungkin ditarik kembali ke gudang tua.

Menara Kembar di World Trade Center New York itu—sebuah lambang modernitas yang muluk menjulang—memang dihancurkan, dan beribu-ribu orang yang merasa berumah di sebuah dunia “pra-modern” bertepuk tangan. Tapi, di luar demokrasi liberal dan ekonomi pasar, tak tampak ada alternatif lain yang bisa diandalkan. Dengan teror dan kekerasan ataupun dengan pidato dan pemilihan, tak ada. Komunisme pasti bukan, dan Islam entah.

Fukuyama memang dapat meyakinkan, jika kita lihat betapa besar bondongan orang yang mengarungi ruang dan waktu untuk menikmati buah kapitalisme—sejak para buruh tamu yang datang menghambur ke Eropa dan Amerika Serikat dari Turki dan Filipina, sampai dengan para penikmat komoditi di pelosok Asia dan Afrika.

Tapi saya terkadang bertanya-tanya: benarkah sejarah sebuah progresi garis-lurus? Benarkah modernitas tak selamanya mengandung dalam dirinya sesuatu yang menentangnya, atau tampak menentangnya?

Lanjut..

caping • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:15 diunggah oleh zen

The Man from Galilee

Tapi soalnya lebih dalam: the man from Galilee menerima manusia bukan sebagai hasil abstraksi, melainkan sebagai kehadiran-kehadiran yang konkrit.

SEORANG wartawan pernah bertanya kepada Ronald Reagan, “Siapakah yang Anda jadikan pola hidup Anda?” Jawab Reagan, “The man from Galilee.”

Tentu saja Reagan tak bersendiri. Berjuta-juta manusia kini merasa mengikuti jejak itu, meskipun tak semua sama dan sebangun dengan Reagan, yang makmur, yang necis, yang mensyukuri tanah airnya sebagai negeri pilihan. Di tahun 1965, misalnya, seorang padri Katolik bernama Camillo Torres bergabung dengan para gerilyawan di Colombia yang panas. Dia juga merasa mengikuti apa yang telah dinyatakan he man from Galilee.

Berbeda dengan Reagan, dia tak bersama orang-orang yang kaya. Di Amerika latin yang bergelimang kemiskinan yang terinjak-injak, Torres ikut perjuangan bersenjata. Yang makmur, yang gembil, yang berpakaian halus di istana-istana, bukan berada di pihaknya. Bukankah yang miskin yang justru kepadanya telah dijanjikan, oleh the manrom Galilee itu, kebahagiaan? Bukankah mereka yang lapar, yang akan dipuaskan?

Lanjut..

caping • Kamis, 24 Desember 2009 @ 21:06 diunggah oleh zen

Tokoh Revolusioner

…seperti Hegel, yang terkesima atas kata-kata Yesus: “Belum pernah kata-kata serevolusioner itu diucapkan.”

NAMANYA Yesus. Konon kata ini berasal dari bahasa Romawi, Yesus atau dari bahasa Yunani, lesous. Konon pula asal sebenarnya adalah Yeshu’a yang–menurut seorang ahli–berarti “pertolongan Yahwe”. Dan Yahwe, tentu saja, adalah Tuhan bagi orang Yahudi sebagaimana Allah bagi orang Islam.

Jika kita bicara lewat buku sejarah, dia memang pemuda Yahudi. Selama beberapa ratus tahun setelah ia wafat orang sebenarnya belum bisa memastikan, kapan persisnya dia lahir. Sejak abad kedua, gereja Kristen Timur merayakan Natal pada 6 Januari. Dalam pertengahan abad ke4 gereja Barat, termasuk Roma, merayakannya 25 Desember.

Tapi akhirnya, kepersisan tak teramat penting di sini. Di ujung abad ke-4 baik gereja Timur maupun Barat sepakat, bahwa 25 Desember adalah hari kelahirannya. Dan seperti Kiekergaard, filosof Denmark itu, kita pun setuju bahwa kenyataan historis tidak relevan bagi iman.

Lanjut..