caping • Ahad, 29 Agustus 2010 @ 23:27 diunggah oleh zen
TAHUN 1815. Dari penjara Bagne de Tulon, setelah 19 tahun dikurung, terpidana dengan No. 24601 itu dibebaskan. Tak punya lagi tempat kembali, ia berjalan tanpa arah, lama dan sendirian.
Ia sebenarnya belum bebas. Hukum mengharuskannya membawa paspor kuning, tanda ia bekas orang rantai. Tapi sebab itu ia tak diterima menginap di losmen mana pun. Maka putus asa, bromocorah itu hanya bisa membaringkan tubuhnya di tepi jalan. Dengan rasa marah dan pahit.
Tapi ini bukan kisah seorang yang marah dan pahit. Les Miserables yang termasyhur itu oleh Victor Hugo dirangkai jadi cerita kehidupan Jean Valjean, si No. 24601 yang berubah.
Kita ingat bagaimana kejadiannya: tiba di Digne, kota kecil di Prancis Selatan, Valjean ditampung menginap oleh Uskup Myriel. Ia diberi makan malam dan tempat tidur—dan dibiarkan bersendiri.
Lanjut..
caping • Senin, 23 Agustus 2010 @ 00:08 diunggah oleh zen
DI sana-sini, dunia perlu orang majenun. Atau penyair. Atau kedua-duanya.
”Kenapa kalian, para penyair, begitu terpesona kepada orang gila?”
”Kami punya banyak kesamaan.”
Dialog ini, dalam film Man from La Mancha, berlangsung dalam sebuah penjara bawah tanah di Spanyol abad ke-17. Si penyair yang menjawab pertanyaan itu adalah Miguel de Cervantes. Dalam catatan sejarah dialah penulis El ingenioso hidalgo don Quijote de la Mancha yang lebih dikenal sebagai Don Quixote: dua jilid panjang yang berkisah tentang seorang majenun. Dalam film ini, diproduksi di tahun 1972, kisah itu diadaptasi dengan pendekatan yang ingin berbicara untuk zaman kita—zaman yang tak mau menerima kegilaan.
Adapun bagian pertama novel ini terbit di tahun 1605 di Madrid. Ia sebuah satire: Don Quixote tampil sebagai tokoh yang ditertawakan. Tapi berangsur-angsur dalam Cervantes terasa tumbuh rasa sayang kepada si majenun ciptaannya.
Lanjut..
caping • Senin, 16 Agustus 2010 @ 16:12 diunggah oleh zen
Puasa: perut yang harus dibiarkan lapar, tenggorokan yang menahan haus selama 12 jam, alat kelamin yang tak tersentuh syahwat. Demikianlah yang jasmani dikendalikan: daging harus dituntun oleh roh. Kalau tidak: dosa.
Maka dari waktu ke waktu, seraya menolak yang jasmani, kita dianjurkan hanya menerima yang ”rohani”. Sejak pukul 4 dini hari, masjid dan surau penuh suara orang menyebut Tuhan, menganjurkan ibadat, meneguhkan iman, menjalankan syariat…. Kita dilengkapi dengan banyak penangkal: kita harus bisa menolak gado-gado, soto, video porno.
Tapi bisakah daging diasingkan? Bisakah tubuh dilihat terpisah? Tampaknya ada yang luput dilihat di sini. Justru pada bulan Ramadan, yang jasmani diam-diam menyiapkan resistansi.
Lanjut..
caping • Selasa, 27 Juli 2010 @ 01:08 diunggah oleh zen
Hampir tiap hari kita menyaksikan anak-anak yang dihilangkan. Orang-orang dewasa telah menguasai mereka. Di layar televisi, mereka dibikin menyanyi seperti para biduan komersial menyanyi, berkhotbah seperti para kiyai berkhotbah, bersaing seperti para pecundang dewasa bersaing.
Mereka dicetak. Model mereka bukan datang dari imajinasi sendiri. Mereka dikepung. Di rumah, di sekolah, di tempat ibadah, anak-anak harus mengikuti apa yang dipetuahkan. Si bocah mesti menuruti tatanan simbol-simbol yang dijadikan sendi kehidupan ibu-bapa.
Tentu, masih ada dunia fantasi mereka sendiri. Tapi ini pun sebagian besar sudah dibentuk oleh selera orang-orang yang punya pengaruh: pemilik taman hiburan, entrepeneur baju dan sepatu, industri mainan, produser acara TV, pengelola jasa-jasa iklan, pengarah kindergarten dan sekolahdasar.
Lewat itu semua, tiap hari anak-anak sedang hendak dihilangkan.
Lanjut..
caping • Kamis, 24 Juni 2010 @ 00:48 diunggah oleh zen
… dia menebarkan ketakutan di benak para musuh kami, dia memberi kekuatan yang lebih hebat ketimbang 1.000 bek dan 10.000.000 kiper.”
Ri Myong-guk, penjaga gawang Korea Utara, menjelang pertandingan di Piala Dunia.
Tuhan dan Kim Jong-il tak datang ke Afrika Selatan. Tapi tiap kesebelasan yang bertanding di Sokkerstad yang mirip belanga Afrika itu harus mengerahkan kekuatan apa saja, termasuk yang gaib, untuk menang. Bagi kiper Korea Utara, Ri Myong-guk, yang gaib adalah kepala negaranya, Kim Jong-il. ”Dia pemain terpenting kami,” katanya tentang tokoh sakit-sakitan yang malam itu mungkin sedang terbaring di Istana Presiden di Pyongyang, 12.447 kilometer jauhnya dari Johannesburg.
Syahdan, pada malam dingin menggigit itu, Ri dan 10 kawannya berjuang. Ratusan juta penonton di seluruh dunia menyaksikan bagaimana tim Korea Utara bermain gigih, rapi, efektif.
Tapi mereka melawan Brasil, juara dunia lima kali. Mereka kalah: 2-1—meskipun kalah dengan bangga, karena mereka telah menunjukkan permainan yang mengesankan. Dunga, manajer tim Brasil, mengakui, ”Sangat berat menghadapi lawan yang begitu gigih dan begitu defensif.” Kata Ri, yang memimpin lini belakang, ”Saat menjaga gawang rasanya seperti menjaga gerbang tanah airku.”
Lanjut..
caping • Kamis, 3 Juni 2010 @ 16:26 diunggah oleh zen
Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembalilah ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.
Hari itu 16 Maret yang tak tercatat, karena hari selalu tak tercatat dalam kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di tungkai kaki mereka, apa artinya “sementara”. Juga di Kota Rafah itu, di dekat perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni-yang 60 persennya pengungsi-juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 300 orang-orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.
Tentara itu mencari “teroris”, katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada lagi tempat untuk pergi.
Lanjut..
caping • Senin, 31 Mei 2010 @ 17:51 diunggah oleh zen
Bayi yang kemudian jadi Buddha itu lahir ketika sang ibu memegangi sebatang dahan pohon Sal di Kebun Lumbini.
Adakah ini lambang pertautan antara bayi yang suci itu dengan kehidupan yang bersambung ke ranting dan daun—dari mana oksigen menyebar dan di mana burung pengembara menemukan tempat jeda?
Saya tak tahu. Orang besar yang lahir lebih dari 2.500 tahun yang lalu akan selalu tumbuh dengan legenda, dan tiap legenda punya pertanyaan yang tak pernah putus. Tapi beberapa ”data” dari kehidupan Buddha agaknya bisa jadi bahan percakapan—setidaknya antara saya, yang bukan Buddhis, dan para pembaca, yang mungkin di antaranya Buddhis.
Sang Buddha, seperti kita tahu, lahir sebagai Pangeran Siddharta. Ayahnya, Suddhodhana, adalah Raja Kapilavastu, wilayah di kaki Himalaya. Keluarga ini bagian dari klan Gautama, yang termasuk wangsa Shakya. Dari kitab Jataka kita dapat sedikit cerita tentang kehidupan para aristokrat itu.
Lanjut..
Comments Off
caping • Ahad, 23 Mei 2010 @ 04:24 diunggah oleh zen
Saya tak tahu benarkah Tuhan hanya menghendaki dunia yang tertib.
Ada sebuah cerita detektif yang ganjil yang ditulis G.K. Chesterton, The Man Who Was Thursday. Buku ini lain dari cerita detektif biasa: ujungnya mirip sebuah renungan tentang Tuhan—bermula dari ketegangan antara anarkisme dan ketertiban, dengan tokoh seorang agen Scotland Yard yang menyamar sebagai penyair.
Cerita dibuka dengan senja di Saffon Park, sebuah wilayah di tepi Kota London. Di lingkungan rumah-rumah berbatu bata warna terang itu hidup sebuah ”dukuh artistik”, artistic colony. Buku ini tak menyebutnya ”dukuh seniman”, sebab tempat itu tak pernah memproduksi karya seni apa pun. Keistimewaannya: enak dipandang.
Tapi kita diantar untuk tak menyukai suasana di sana. Terutama karena penghuninya. Ada orang bertampang penyair yang semenarik syair, tapi ia sendiri bukan penyair. Atau si Fulan yang berlagak filosof tapi sebenarnya sosok yang bisa membuat filosof merenung. Para wanitanya menyatakan diri bebas, tapi suka memuji para lelaki dengan berlebihan. Orang yang memasuki atmosfer sosial tempat itu akan merasa seperti ”memasuki sebuah komedi yang telah ditulis”.
Lanjut..
caping • Ahad, 16 Mei 2010 @ 19:26 diunggah oleh zen
Siang itu saya lihat seorang perempuan berjilbab duduk tekun di depan sebuah mikroskop di sebuah lab. Saya teringat Kartini.
Dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902, Kartini mencantumkan seuntai kwatrin:
Door nacht tot licht
Door storm tot rust
Door strijd tot eer
Door leed tot lust
Banyak orang meleset dari sajak pendek ini. Buku kumpulan surat Kartini yang pertama terbit pada 1911 berjudul Door Duisternis Tot Licht. Kalimat itu agaknya dipilih J.H. Abendanon, pejabat pemerintahan Hindia Belanda yang bersemangat mendukung putri Bupati Jepara itu. Abendanon pula yang menyeleksi surat-surat gadis itu dan menerbitkannya. Penyair Armijn Pane kemudian menerjemahkan buku itu jadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dengan judul itu agaknya orang menemukan sebuah metafor untuk menggambarkan pergulatan Kartini membebaskan diri dari dunia adat yang kuno, kolot, dan mengekang. ”Terang” (licht) adalah kiasan untuk pencerahan sikap dan pikiran: tanda emansipasi dari yang mengekang itu.
Lanjut..
caping • Jumat, 14 Mei 2010 @ 17:46 diunggah oleh zen
In the seventeenth century the kingdom of Mataram was ruled by Amangkurat I. Almost all historical records of the time mention his cruelty. “If he felt a bit unhapy,” wrote the Javanese chronicle writers as quoted by Raffles in The History of Java, “he would murder those who were thought to be cause of his unhappines.”
He once gathered together six thousand people in the town square – Islamic religious teacher with heir wives and children. Then , after a signal given by the firing of a cannon, they were all slaughtered in less than thirty minutes. He once put sixty fisherman into a dark cell and left them there to starve to death, because he was upset that one his wives had hied. When he found out that the Crown Prince had taken one of his own concubines, Amangkurat ordered all those involved decapitated, and then commanded his son to stab the young woman while embacing her.
The Babad Tanah Jawi describes this reign of terror in a very matter-of-fact-way, but the dread is nonetheless apparent. All Mataram lived in terror, the chronicle relates. The rains fell out of reason, there were earthquake, and meteors appeared in the sky every day at dark.
Lanjut..