Buku • Kamis, 25 Oktober 2012 @ 12:45 diunggah oleh

9 Volume Catatan Pinggir

Telah hadir: 9 volume Catatan Pinggir yang diterbitkan secara serentak.

Sejak 1976, Catatan Pinggir [awalnya bernama "Fokus Kita"] jadi bagian tak terpisahkan dari Majalah Tempo. Dengan menghitung beberapa tahun vakum akibat pembredelan Tempo (setelah pembredelan, Catatan Pinggir sempat muncul lagi di majalah Forum Wartawan Independen, walau tak lama) berarti sudah 36 tahun usia Catatan Pinggir. Angka itu niscaya akan terus bertambah karena sampai sekarang Catatan Pinggir masih tetap hadir saban Tempo terbit.

Catatan Pinggir volume I pertama kali dibukukan pada 1982 oleh Penerbit Grafiti dengan diberi Kata Pengantar oleh [alm.] Th. Sumartana. Sejak itu, Catatan Pinggir I terus dicetak ulang, disusul volume-volume berikutnya. Terakhir, volume ke-9 terbit pada 2011.

Lanjut..

Buku • Jumat, 25 Desember 2009 @ 19:54 diunggah oleh

“Tan Malaka dan Dua Lakon Lain”

tan-malaka-dan-dua-lakon-lain

Judul Buku: Tan Malaka dan Dua Lakon Lain
Penulis: Goenawan Mohamad
Penyunting: Sitok Srengenge
Penerbit: KataKita
Cetakan: I, Oktober 2009
Halaman: 128 halaman

Dalam buku ini ada tiga buah lakon dengan bentuk yang berbeda-beda.

Yang pertama, “Tan Malaka”, adala sebuah naskah yang ditulis untuk karya operas Komponis Tony Prabowo, yan direncanakan akan diproduksi tahun 2010 di Teater Salihara, Jakarta. Ia disebut “sebuah esai, sebuah opera” karena bentuk esai berperan besar dalam libretto ini.

Berbeda dengan dua libretto yang saya buat, “The King’s Witch” dan “Kali”, yang boleh dikatakan berupa montase puisi yang ditulis tanpa diarahkan untuk musik dan pentas, teks “Tan Malaka” saya tulis dengan mengacu ke kemungkinannya dibentuk dalam kur, aria, multimedia, dan posisi di pentas

Yang kedua, “Surti dan Tiga Sawunggaling”, sebuah monolog untuk aktor perempuan. Semula saya menulisnya untuk dibawakan Sri Qadaryatin dari Teater Garasi, Yogya. Rencana itu belum pernah terlaksana. Tapi tentu saja lakon ini bisa dimainkan oleh siapa saja.

Yang ketiga, “Visa”, adalah lakon satu babak. Naskah ni diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Jawa dan dipentaskan Teater Lungid di Solo, Jakarta, dan Surabaya. Dari pementasan itu saya dapat beberapa ide tambahan. Versi yang dimuat di buku ini belum dipentaskan sama sekali.

Silakan membaca.

G.M

Buku • Jumat, 29 Mei 2009 @ 20:29 diunggah oleh

Setelah Revolusi Tak Ada Lagi

1192972336265625

Judul: Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
Penulis: Goenawan Mohamad
Pengantar: Hamid Basyaib
Penerbit Pustaka Alvabet
Edisi Revisi, September 2005
Tebal: xxxii + 481 halaman

Buku ini menghimpun 33 esai Goenawan Mohamad yang ditulis selama 33 tahun karir kepenulisannya. Seperti halnya buku Kata, Waktu, buku yang terbit pada 2005 sengajar diluncurkan untuk merayakan 60 tahun usia penulisnya; rentang waktu yang tidak pendek bagi seorang pribadi, dan rentang yang lebih dari cukup baginya untuk melewati sejumlah faset dan momen penting dalam sejarah Indonesia.

Esai-esai di sini sebagian menyinggung hal-ihwal yang langsung atau tidak pernah terkait dengan penulisnya sendiri, sebagiannya lagi merupakan “tamasya” intelektual mengenai hal-ihwal yang menjadi minat dan perhatian penulisnya sendiri. Ia menulis tentang Khatib Anom, ihwal puisi Saini KM sampai Amir Hamzah dan Sapardi, mencatat kaitan antara Camus dan orang Indonesia, Nietzsche dan pasar sampai telusur ihwal para superhero dalam kesadaran manusia Indonesia.

Hamid Basyaib, dalam kata pengantar untuk buku ini, menyebut Goenawan Mohamad sebagai orang “Barat” yang lahir di Batang, yang melihat melihat segala hal bukan bukan untuk menyimpulkan karena menyimpulkan seringkali melahirkan kekecewaan. Ia, seperti tampak di buku ini juga esai-esainya yang lain, merasa jauh lebih penting mencari dengan bertanya daripada menemukan dengan menjawab. Lanjut..

Buku, Puisi • Minggu, 15 Maret 2009 @ 01:36 diunggah oleh

Empat Sajak dalam "Manifestasi"

can i get my ex boyfriend back fast

manifestasi_2

Antologi sajak Manifestasi ini diterbitkan pada September 1962 oleh penerbit Tinta Mas yang kala itu masih berkantor di Jl. Kramat Raya 60, Jakarta. Saat antologi ini terbit, Goenawan baru berusia 21 tahun. M Sarbini AFN, yang sajaknya juga termuat di sini, menjadi penyusun antologi ini. Sementara Ali Audah, sastrawan yang juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra berbahasa Arab, menuliskan kata pengantar.

Selain sajak-sajak Goenawan Mohamad, dimuat pula sajak karya Armaya, Djamil Suherman, Hartojo Andangjaja, Mohammad Diponegoro, M Sarbini dan M Yoesmanam. Total jenderal sajak yang dimuat di sini berjumlah 33 buah.

Salah satu sajak yang cukup populer yang muncul di antologi ini adalah sajak Hartojo Andangjaja berjudul Rakyat yang dibuka oleh dua baris berbunyi: “Rakjat ialah kita/djutaan tangan jang mengajun dalam kerdja…”

Goenawan sendiri menyumbang empat sajak yang semuanya berasal dari periode awal kepenyairannya. Empat sajak itu masing-masing berjudul: Expatriate, Almanak, Meditasi dan Dimuka Djendela (di situ aslinya memang tertulis “dimuka”, bukan “di muka”). Kecuali sajak Almanak, tiga sajak lainnya sudah lebih dulu tayang di Majalah Sastra yang diasuh oleh HB Jassin. Lanjut..

Buku • Rabu, 25 Februari 2009 @ 14:43 diunggah oleh

“Kata, Waktu”

kata-waktu3

“Kata, Waktu” berisi esai-esai Goenawan Mohamad –-terbanyak diunduh dari Catatan Pinggir—yang sudah diseleksi dan dipilih oleh Nirwan Ahmad Arsuka. Dari seribuan esai Goenawan yang diseleksi, buku ini “hanya” memuat sekitar 650-an esai saja, itu sudah termasuk esai-esai pendek yang ditulis jauh sebelum Majalah Tempo dan Catatan Pinggir lahir.

Buku ini diterbitkan pada 2001 untuk memperingati 60 tahun usia penulisnya. Itu sebabnya, buku ini, kemungkinan tidak akan diterbitkan kembali.

Editor sekaligus penyeleksi naskah buku ini, Nirwan Ahmad Arsuka, menulis kata pengantar yang –salah satunya– memberi tanggapan balik terhadap Ignas Kleden yang melancarkan beberapa pokok kritik terhadap esai-esai Goenawan dalam kata pengantar untuk buku “Catatan Pinggir vol. 2”. Lanjut..