Yang Keras
Saya telah mengenal kekerasan, bahkan sebelum saya bisa bilang “tidak”.
Jika seorang Indonesia harus menulis autobiografinya, mungkin sekali ia akan mencantumkan kalimat seperti itu. Saya mengalaminya. Anda juga. Kita punya riwayat yang sama: sejarah sebuah negeri yang tak serta merta sunyi, tentram, damai, seperti Telaga Sarangan dalam nyanyian orkes keroncong. Tanah ini memang tanah tumpah darah.
Ingatan saya yang paling jauh ke masa kecil adalah ingatan samar-samar tentang sebuah ruang yang gelap. Si Bungsu dipangku ibu di sebuah kursi goyang. Hampir seluruh keluarga berkumpul, tapi tak seorang pun bicara.
Kemudian hari, setelah dewasa, baru saya tahu apa yang terjadi pada saat itu: kami semua bersembunyi di dalam lubang perlindungan besar yang dibangun Bapak di halaman rumah. Hari itu adalah suatu hari di masa Jepang. Kata-kata tegang, tapi menarik, dan begitu dekat, adalah “bom” dan “perang”. Dan kami ketika itu harus membiasakan diri.
Bom dan perang memang kemudian terjadi, dan terus terjadi. Masa Jepang habis orang-orang tak bicara soal merdeka. Bapak menaikkan bendera merah putih dengan mata basah. Tapi pasukan Belanda masuk kembali. Seorang penduduk tertembak kakinya. Di malam pertama pasukan asing itu menduduki kota kami, seorang pemuda pemberani melemparkan granat ke markas mereka. ia sendiri tertembak mati, dengan jidat hancur.
Berapa orang mati dengan cara begini? Dua pemuda roboh menggelepar-gelepar di sawah tak jauh dai tempat kami bermain, setelah sepasukan Belanda –entah karena apa– memberondongkan peluru ke arah mereka. Bapak dieksekusi. Paman dieksekusi. Bapak si Dowo, anak tetangga, menurut cerita orang yang melihat, suatu siang dilemparkan dari truk dengan tangan terikat. Lalu para prajurit itu (mungkin anak-anak muda periang dari Assen atau Zuid-Bijerlanda) menarik picu, hampir tanpa membidik. Saya tahu, si Dowo dan ibu dan adik-adiknya tenggelam sejak itu.
Kita mengenal kekerasan seperti kita mengenal kakek, ayah, dan paman-paman kita. Kita ingat urutannya, dan kita sadar kedekatannya. Bi Eni, pembantu di rumah, bisa bercerita dengan suara gemetar bagaimana rasanya hidup di desa yang terkepung gerilya DI. Ia melihat rumah yang dibakar, orang yang ditembak dari jarak dekat, anak-anak yang menjerit.
Maka, bila ada ketakutan, bila ada kecurigaan, bila ada sakit dan amarah –bagaimana kita bisa ambil jarak dari semua ini? Kita tak tahu. Barangkali sampai kita bersua dengan seorang asing: seorang dari sejarah yang lebh tenang, dari perubahan zaman yang necis.
Suatu hari, saya ceritakan sepotong riwayat hidup saya kepada V.S. Naipaul. Saya heran bahwa pengarang terkenal itu heran. Dalam Among the Believers ia menulis, “Indonesia here lived through so much…” –seakan-akan itu suatu yang luar biasa.
Banyak memang yang kita alami. Dentam dan darah. badik dan bedil, celurit dan api, hadir dalam layar sesak kesadaran kita. Bahkan yang keras itu pun terungkap dalam bahasa politik kita.
Untuk menghantam musuh-musuhnya, Bung Karno memperkenalkan kata ganyang dan kremus. Pramoedya Ananta Toer memperkenalkan istilah babat. Yang pertama membayangkan kekuatan meluluhlantakkan dengan rahang dan gigi, yang kedua menyiratkan satu hantaman dengan parang, untuk merobohkan lalang dan belukar.
Nasib kita memang tidak unik. Namun, tak setiap bangsa kiranya punya sederet pengalaman dahsyat itu dalam satu generasi. Kekerasan dan kebengisan memang ada dalam setiap kurun, tapi pada suatu tahap, hal-hal itu bisa saja surut dan berubah jadi legenda. Atau jadi kisah nyata, tapi yang membikin heran. Atau semacam pornografi, yang dikutuk sebelum disembunyikan di bawah bantal.
Hanya saja kita, di sini, bukanlah sekadar tukang cerita. Suka atau tak suka, kita pelaku. Kita mungkin juga korban dan sasaran.
Mungkin Anda menonton film Pengkhianatan G-30-S/PKI hampir 20 tahun setelah peristiwa yang sebenarnya terjadi. Mungkin Anda gentar melihat kejadian buas di sana, Namun, jelas, kegentaran itu tidak sama dengan kegentaran melihat film penggantungan dilakukan Nazi pada masa Perang Dunia II. Sebab, kita, meskipun sebagai penonton, belum terbebas dari apa yang bengis dan menakutkan dari masa sebelum, dan sesudah, 1 Oktober 1965. Sebab, kita bukan tamu. Kita bukan orang asing. Kita punya beban sejarah, yang tak ada pada mereka: bukan hanya sebuah trauma, tapi juga harapan. Bahkan ketidaksabaran.
Demikianlah, di akhir Oktober 1965, di suatu senja di sebuah jalan di Paris yang dingin, seorang pemuda Indonesia sejenak ternganga. Di atas gedung Stasiun St. Lazaire, sederet lampu membentuk huruf yang bergerak dan menyusun kalimat: berita utama hari itu. Salah satunya bercerita ringkas, tentang kekerasan dan kematian yang tengah berlangsung di Pulau Jawa.
Pemuda itu tahu apa yang terjadi. Tapi temannya, seorang asing, bertanya, “Kenapa hal semacam ini bisa dibiarkan?”
Dan, tentu saja, yang ditanya tak menjawab.
6 Oktober 1984
salut bwt GM
Saat saya bermain game strategi seperti “Age empire” atau “raise of nation” mungkin itu yang dirasakan orang seperti Hitler, Napoleon, Hannibal, Alexander dll, permainan yang sangat exciting. Mereka memanfaatkan nationalism untuk memenangkan sebuah game tanpa sadar telah membuat penderitaan sesama manusia…
Angelina Hendarto