Ia Ketemu Rakyat
1976: seorang tokoh muda anggota parlemen mengalami sesuatu yang agak luar biasa: ia ketemu rakyat. Dengan tergopoh-gopoh hal ini diceritakannya kepada seorang kenalannya. “Sudah sekian tahun saya tak pernah naik bis kota. Tapi pagi itu mobil mogok di tengah jalan, dan tak ada taksi. Maka saya cegat bis. Dan di dalamnya saya ketemu rakyat.”
“Rakyat?” tanya kenalannya, seorang tokoh pengusaha muda. “Betul, eh?”
“Betul. Dalam bis itu belum banyak penumpang. Di sebelah kiri saya agak ke depan, seorang penyapu jalan yang sudah keriput parasnya masih tampak gagah memakai topi dinas. Di dekatnya tukang kayu. Ya, ia pasti tukang kayu: ia menyisipkan pahat besar di sabuk yang melingkari baju surjan luriknya. Ia menyedot sejenis rokok. Di jendela depan di belakang sopir seorang penjual mainan kertas meletakkan jualannya di sampingnya—dan tiba-tiba tampak kertas merah-oranye yang kasar itu seperti dekorasi penting dalam ruang bis yang biru muram itu. Di luar, pagi sudah seperempat jalan. Hari itu hari Minggu; jalanan agak sepi.
“Kedengarannya menarik betul pengalamanmu,” kata temannya.
“Tapi ada yang agak embrassing,” sambung si anggota parlemen. “Waktu itu, kondektur, anak muda sekitar 20 tahunan, menyodorkan karcis. Gugup juga saya menggapai¬-gapai dompet. Sebab saya harus berpikir: berapa, sih, sekarang harga karcis bis?”
“Hampir saya berikan Rp 500, dengan harapan jumlah itu tak terlalu besar untuk diberi uang kembali dan tak terlalu kecil hingga jadi kurang. Tapi kebetulan jari saya menyentuh uang receh Rp 100. Saya ulurkan agak ragu-ragu… ternyata diambil, dan karcis saya terima berikut uang kembalinya. Tanpa menghitung berapa uang kembali itu, saya masukkan semuanya ke saku. Saya berlagak seperti orang yang sudah biasa naik bis. Meskipun akibatnya saya tak tahu persis sampai sekarang harga karcisnya…”
Suaranya tidak menunjukkan rasa geli. Ia memandang ke luar jendela kantor yang ber-AC itu, terdiam. Di luar tampak rumput halaman yang hijau, pohon dan bunga-bunga.
1977: anggota parlemen muda itu ikut kampanye. Di suatu penerbitan ia membaca bahwa pemilu adalah suatu pendidikan politik—dan ia setuju. Tapi baginya itu bukan pendidikan politik untuk rakyat. Sebab rakyat itulah yang mendidik saya, begitu kata tokoh kita ini dalam hati. Malam itu, ia habis kampanye dalam satu rapat yang hangat.
Di sana ia telah mengambil pelajaran lain: Kampanye ini mungkin omong kosong saya, tapi bukan omong kosong rakyat. Rakyat toh berteriak dengan antusias ketika orang menyerukan tentang korupsi atau tentang perbedaan perlakuan hukum dan kesejahteraan. Artinya: mereka punya respons. Mereka punya perasaan dan persepsi, yang tumbuh dari pengalaman selama ini—pengalaman yang merupakan sejarah yang tak pernah direkam, didengarkan, atau diberi hak. Saya belajar banyak dari sana.
Maka esok harinya ia berangkat ke suatu acara rapat umum lagi. Di depan corong pengeras suara, ia menyaksikan ratusan orang menantikan suaranya—bagaikan para juri yang awas. Tapi ia kini sudah bisa mulai secara lebih baik: “Saudara-¬saudara —saya adalah murid saudara-saudara. Maafkanlah justa saya. Saya telah bertemu dengan rakyat, dan ternyata ia bukan anak-anak…”
19 Maret 1977