caping • Kamis, 26 Maret 2009 @ 15:05 diunggah oleh zen

Gandhi

BAGI yang mengira bahwa “politik itu kotor” bacalah Gandhi. Bagi yang berdalih bahwa politik adalah muslihat, bacalah Gandhi. “Demikian segala kerendahan hati, saya dapat berkata bahwa mereka yang menganggap agama itu tak ada sangkut pautnya dengan politik sebenarnya tidak mengetahui apa artinya agama tersebut.”

Jika ia yang mengatakan itu, tak akan ada yang berkesimpulan bahwa pengertian “agama” di situ mirip dengan fanatisme. Politik malah seakan terdengar sebagai pengabdian — tanpa permusuhan.

Ia memang pembaca Bhagawat Gita yang terkesan, terutama oleh seloka yang membicarakan kemungkinan keji dari hasrat. Ia juga pembaca Injil di bagian ketika Al Masih masih berkhotbah di bukit. “Aku berkata padamu,” seru Yesus, “janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.”

Itu tidak berarti gerak Gandhi sama sekali tanpa perlawanan. Di tahun 1916, berpidato di pembukaan Universitas Benares Hindu, ia mengucapkan sesuatu yang menyebabkan Annie Besant, pendiri gerakan teosofi itu, berseru kepadanya: “Tolong, jangan teruskan.” Seorang pejabat tinggi pemerintah kolonial Inggris bahkan bergumam: “Kita harus hentikan orang ini dari omongannya yang begitu jorok.”

Jorok? Yang diomongkan Gandhi adalah keberanian menghadapi para feodal setempat, menghadapi para detektif. Bahkan Raja Inggris, yang menunjang suatu sistem di mana para petani begitu lapar dan para pangeran bertatahkan intan berlian.

Tapi tetap saja ia Gandhi. Ia memang menyatakan diri menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial, dan 15 Desember 1921 bahkan menyatakan “perang” serta “pemberontakan”-nya. Ia mengadakan gerakan massa itu. Namun seperti dikatakan oleh seorang penulis biografinya, ia tetap sangat human dan bahkan nyaris sentimental, juga dalam politik di suatu zaman ketika sentimentalitas dicemoohkan. Gandhi, jauh di dalam hatinya, tetap mempercayai ada sesuatu yang baik pada pemerintahan kolonial Inggris.

Tentu, di akhir tahun 1921, sebuah tulisannya dalam Young India berkata: “Lembaga-lembaga yang nampaknya pemurah dari pemerintah Inggris sebenarnya adalah seperti ular dalam dongeng: bermahkotakan berlian cemerlang di kepalanya, tapi penuh racun di taringnya. ”

Tentu di akhir tahun 1921 itu ia tak lagi bicara seperti di tahun 1915, tatkala ia menyatakan loyalitasnya kepada imperium Inggris. Namun Gandhi toh tetap masih menyatakan: “Tak ada negara yang… sama sekali tak ada segi baiknya.”

Dan barangkali dia benar. Dilihat kembali di zaman sekarang, pemerintah penjajahan Inggris di India waktu itu memiliki satu hal yang baik—yang ternyata sering hilang dalam pemerintahan bekas jajahannya. Satu hal itu adalah ideal untuk memberi keleluasaan untuk mencurahkan tenaganya, menampilkan kehormatannya dan, dalam kata-kata Gandhi, “apa saja yang dianggapnya layak bagi hati nuraninya”. Gandhi adalah orang yang jatuh cinta kepada ideal seperti itu.

Seorang penulis resensi tentang buku biografi Gandhi oleh Ved Mehta yang terbit tahun lalu, pun mengatakan bahwa metode perjuangan Gandhi—satyagraha, tanpa kekerasan, puasa dan sebagainya itu—hanya bisa berhasil dalam masyarakat-masyarakat seperti Imperium Inggris dan Amerika Serikat. Yakni masyarakat yang punya kemerdekaan menerbitkan dan berbicara, di mana ada opini publik, dan di mana menerima pengaruh pikiran bukanlah dosa. Juga di mana kekuasaan yang memerintah dikendalikan oleh kemutlakan moral—hingga rasa bersalah timbul pada setiap langkah menindas yang terjadi.

Adakah dengan demikian metode Gandhi tidak universal, dan kebohongan, kekerasan serta kasak-kusuk bisa dihalalkan bagi politik? “Ratusan orang seperti saya boleh enyah, tetapi biarlah kebenaran bertahta,” kata Gandhi di pengantar otobiografinya. “Saya harus merendahkan diri sampai nol.”

18 Februari 1978

Bookmark and Share

Ada 1 Komentar

  1. Fatah Yasin Noor

    Saya teringat Satyagraha Hurip, sastrawan, dimanakah ia sekarang? Hidup tanpa kekerasan, di zaman ini, zaman yang telah mencapai kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berpikir, justru kita banyak kehilangan khalayak yang intim. Selamat berjuang.

Beri Komentar