caping • Jumat, 7 Agustus 2009 @ 22:59 diunggah oleh zen

Dari Sebuah Sajak Rendra

Fantastis
Di satu Minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar
Wajahnya molek dan suci
Matanya manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih dan halus bagai leli
Lalu berkata :
“Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada”

DEMIKIANLAH bermula sebuah sajak yang sangat bagus. Penulisnya Rendra. Dalam kumpulan Blues untuk Bonnie (terbit 1971), sajak yang panjang itu terbentang 6 halaman: sebuah puisi yang juga sebuah cerita pendek, sebuah kisah surealistis yang memesonakan tentang satu misa yang berakhir dengan buas.

Sang padri muda telah mengatakan, hari itu khotbah tak ada. Ia ingin kembali ke biara, untuk “merenungkan keindahan ilahi”. Tapi orang-orang, gerombolan hadirin itu, tak beranjak. Mereka tetap duduk berdesak-desak. Atau berdiri. Suara mereka mendesah. Mata mereka menatap, bertanya-tanya. Mulut mereka menganga. Mereka berhenti berdoa. Mereka ingin mendengar. Mereka sangat butuh mendengar.

Dan melihat itu, dan mendengar desah mereka, dan menghirup bau mulut mereka yang keras, sang padri muda pun terpekik : “Orang-orang ini minta pedoman. Astaga. Tuhanku, kenapa di saat ini Kau tinggalkan daku.”

“Sebagai sekelompok serigala yang malas dan lapar
mereka mengangakan mulut mereka.
Udara panas. Dan aku terkencing di celana.
Bapak. Bapak. Kenapa kau tingalkan daku”

Meski ngeri seperti Isa Almasih di kayu salib, sang padri memilih untuk tinggal. Ia memuaskan mereka yang menghasratkan khotbah. Setengah jatuh kasihan, setengah jijik kepada jemaat yang berkeringat dan busuk itu, padri muda itu akhirnya bicara.

Apa yang dibicarakannya tak teramat penting sebenarnya. Rumusan-rumusan kearifan bercampur kata-kata tanpa arti. Petuah berselang-seling dengan nonsens. Tapi massa itu tak perduli. Mereka senang, terbuai. Mereka terangsang. Nafsu mereka, kelaparan mereka, terimbangi. Mereka ikut berseru. Mereka bergerak, saling menggosokkan tubuh. Suara mereka menggigil ganjil, melengking serempak, tiap kali sang pengkhotbah mengucapkan kata-kata yang hangat.

Akhirnya adalah suatu proses penghancuran.

Sebagai binatang orang-orang bersorak:
Grr-grrr-hura. Hura.
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Mereka copoti daun-daun jendela.
Mereka ambil semua isi gereja.

Seluruh gereja pun rontok. Tapi ini belumlah klimaks. Kegilaan itu mencapai puncaknya ketika sang padri muda yang elok itu mereka perkosa ramai-ramai, mereka cincang - lalu mereka makan dagingnya, mereka minum darahnya, dan mereka hisap sumsum tulangnya.
Fantastis.

Apakah “massa” sebenarnya? Dalam kamus politik revolusioner ia berada di tempat yang dasar, sekaligus luhur. Ia berarti rakyat jelata yang banyak, sumber pembenaran utama. Karena itu Mao Zedong tak terdengar seperti orang kesepian ketika ia berkata: “Saya sendirian, bersama massa” - lalu meledakkan Revolusi Kebudayaan.

Dalam kamus lain, massa sudah tentu tidak selamanya berupa mereka yang tertindas. Gerombolan orang kulit putih yang suka menggantung orang hitam di Amerika Serikat bagian Selatan juga sebuah “massa”. Dalam pengertian inilah Ortega y’ Gasset berbicara tentang Amerika sebagai “surganya massa”. Ia sedih dan juga ngeri.

Sang padri, dalam sajak Rendra, juga sedih, juga ngeri. Ia mencoba mengelak. “Biarkan aku menjaga sukmaku. Silakan bubar.” Tapi bila ia kemudian memilih untuk jadi korban, mungkin karena ada semacam kenikmatan yang aneh dalam pertemuan itu. Tapi mungkin juga: sebuah kemuliaan yang sederhana.

23 Agustus 1980

Bookmark and Share

4 Komentar

  1. Hendrawan

    Sajak besar, berisi.. dan tentu saja tidak mudah dimengeti oleh kami ini..

  2. Muhamad Inditiya Gegar laras

    Saya membaca, maskud saya mengikuti, beberapa tulisan terkahir Mas Goen soal sosok Pak Willy. Tulisan ini adalah bagian yang dipermak pada CAPING TEMPO yang berjudul RENDRA (1935…). Tahun 1935 memang mengingatkan juga pada sosok lain yang tidak kalah garang, raksasa lain, yaitu Edward Said.

    Seperti biasa tulisan Mas Goen (maaf saya pakai GM saja) adalah sebuah upaya ulet mendefenisikan bukan menafsirkan karena seringkali dalam CAPING atau esai panjangnya GM tidak pernah berhasil, jarang,membiarkan tulisan dalam kelonggaran, tetapi ketat, detail, tetapi mengeleminir. Dalam versi CAPING tadi, ada beberapa repetisi, seperti mengulang pendapat Sanusi Pane atau mengkhotbahkan kembali wahyu modernisme STA. repetisi adalah startegi dalam sebuah penulisan, tetapi dengan berbagai improvisasi. pada setiap repetisi dalam tulisan-tulisannya GM saya merasakan GM sudah begitu lelah dan terasa “tua” sekali, kadang kehilangan tenaga (daya dalam istilah almarhum pak willy). Saya teringat diskusi saya dengan teman di Yogya asal Lombok bahwa GM ada sebuah daya yang semakin luruh di saat senjanya.

    dalam tulisan di Caping itu misalnya, GM sangat ambisius mendefenisikan “Perkemahan Kaum Urakan” di Pantai Selatan itu. Ada yang berlebihan di sana dalam penjelasan GM. Pada saat yang bersamaan, ada yang ditekankan untuk mengikuti pendapatnya/tafsirannya mengenai perkemahan itu. Perkemahan itu tidak terkait dengan Ken Arok dan apa yang ada dalam CAPING itu tetapi perkemahan itu adalah artikulasi (dalam istilah Mouffee) tentang persoalan anak muda pada masa itu, demikian kata pak Bakdi Soemanto pada peringatan 7 Hari meninggalnya Pak Willy di taman budaya yogya.

    Soal Pak Willy yang dalam reportase wartawan Tempo edisi terabaru juga adalah sosok yang limbung (gugur) pada masa akhirnya. tetapi ada sesuatu yang luar biasa pada diri almarhum pak Willy adalah upayanya yang sangat sungguh-sungguh untuk menumbuhkan alternatif-alternatif. Dan yang terpenting bahwa Pak Willy adalah sosok tokoh terakhir yang benar-benar memiliki akar. walaupun memilih memiliki jamaah, tetapi dia adalah daya yang benar-benar mempengaruhi orang-orang
    di sekitarnya. Afiliasi dan daya (tariknya) pada komunitas dan pandangan tertentu. Afiliasi seringkali tidak penting bagi banyak kalangan saat ini dalam kerja intelektual. Pada Pak Willy afiliasi adalah skandal yang harus dipersoalkan kalau tidak benar. Dia adalah daya yang menampung dan membayangi orang-orang di sekitarnya. Saya sangsi ada lagi penyair atau intelektual seperti ini…

    Kalau soal konsistensi saya kira kita tidak menemukan nya lagi pada figur-figur intelektual kita, termasuk pak Willy. Konsistensi adalah kata yang muspra dari jagat kepenulisan kita.

  3. Angelina Hendarto

    Massa tanpa pemimpin seperti badan tanpa otak
    Pemimpin yang berhasil adalah yang mampu menggerakkan srigala-srigala itu menghancurkan gereja, walau bukan berarti menjadi pemimpin yang baik.
    Pergolakan massa dan huru hara adalah pertarungan antara otak-otak pintar (pemimpin) yang memperalat badan bodoh (massa)

    Angelina Hendarto

  4. Siti Aisah

    Namanya juga Catatan Pinggir ya?

Beri Komentar