caping • Kamis, 16 Juli 2009 @ 21:01 diunggah oleh zen

4 Juli

Tapi Napoleon sempat menembakkan suaranya kepada si tua pejuang kemerdekaan, “Siapa yang memaklumkan bahwa pembangkangan adalah sebuah kewajiban?”

DALAM umur 19 tahun, seorang anak bangsawan Prancis berangkat berperang - menyeberangi lautan - ke benua lain yang jauh, Amerika. Dengan sedih ia tinggalkan istrinya, untuk bertempur, bukan buat orang setanah airnya, melainkan buat sekelompok pemberontak asing.

Apa gerangan yang dicarinya?

Sejarah kemudian bercerita bahwa Gilbert de Lafayette pergi melintasi Lautan Atlantik yang luas di abad ke-18 itu, karena cintanya kepada sebuah hal yang tak begitu jelas: kemerdekaan.

Tapi mungkin perkaranya tak sesederhana itu.

Pada mulanya memang sebuah pernyataan bertanggal 4 Juli 1776, yang diteken oleh sejumlah wakil daerah di koloni Inggris di Amerika. Isinya: sebuah pengumuman pemberontakan kepada kekuasaan pemerintah, nun di London. Deklarasi itu juga sebuah pembenaran yang kemudian mengguncangkan seluruh dunia: bahwa rakyat punya hak untuk meniadakan sebuah pemerintahan yang tak mereka setujui.

Pernyataan 4 Juli 1776 jauh dari Philadelphia itu terdengar sampai di Prancis tiga bulan kemudian - telat, seperti banyak ihwal di abad ke-18. Pada waktu itu, Versailles masih jadi pusat kekuasaan politik, kelanjutan dari jaman megah sang “Raja Matahari”, Louis XIV, yang berkuasa tanpa batas.

Keturunannya, Louis XVI, yang didampingi Ratu Maria Antoinette, masih punya Icher yang belum dipenggal rakyat. Para artistokrat masih hidup dengan kekayaan yang riang berpendar-pendar. Tak ada yang menggugat mereka secara serius. Kelas yarig lebih miskin dan di bawah menjerit tapi hanya bergema di kamar-kamar yang gelap.

Gilbert de Lafayette, tentu, tak usah menjerit. Ia keturunan ningrat lama. Dan lebih dari bangsawan lain, ia kaya: pewaris tanah luas dengan penghasilan 145 ribu lire setahun. Mertuanya juga berasal dari klan Noallles yang terkenal, yang dekat dengan raja.

Tapi ia toh pergi memihak sejumlah pemberontak yang nasibnya belum pasti. Ia gelisah.

Biografi Lafayette, yang ditulis dengan memikat oleh Olivier Bernier di tahun 1983, menceritakan semua itu: di balik latar cemerlang Lafayette, ia orang yang tersisih. Remaja yang kurus dan tak tampan ini, yang kehilangan bapak sejak kecil, yang datang dari daerah Chavaniac yang jauh dari ibu kota, besar menjadi seorang yang kikuk.

Bagi seorang yang kikuk, kalangan ningrat di Versailles adalah sebuah tempat yang celaka. Di sini pemuda-pemuda bersolek dan berparfum, tampan dan bijak bestari, luwes dan ranggi, antara perempuan cantik dan anggur yang garang.

Gilbert tidak. Di sebuah acara dansa quadrilles yang diselenggarakan Ratu, si canggung ini bahkan pernah jadi bahan tertawaan: ia jatuh terjerembab.

Lafayette pergi dan situasi seperti itu. Tentu, ia tak menyadari betul kekurangannya sendiri. Tapi pandangan meremehkan dari sekitarnya, bahkan dari bapak mertuanya, membuat ia selalu cenderung ambil langkah besar untuk membuktikan kemampuan. Demikianlah ia bertolak ke Amerika, tanpa izin stana, dengan membeli kapal dari uangnya sendiri.

Seperti dituiisnya dalam sepucuk surat yang jujur, ia lakukan semua itu bukan cuma untuk para pembela kemerdekaan yang mencoba mempertahankan diri di Amerika Serikat yang baru ditegakkan itu. Ia juga ingin memperoleh apa yang diharapkan masyarakat aristokrat Prancis dari para pemudanya kegemilangan, la gloire.

Dan ternyata ia berhasil, setelah sederet frustrasi dan kesalahan dan ketololan. Dengan sejumlah tentara pemberontak yang dipimpinnya, bersama resimen Prancis yang kemudian dikirim untuk membantu, Lafayette ikut mengalahkan pasukan Inggris yang mencoba menghabisi pemberontakan di seberang Atlantik itu. Si kikuk yang pernah diketawakan di Versailles ini kemudian jadi buah bibir di salon-salon di Paris.

Tapi cerita Lafayette bukan hanya cerita dengan tema anak itik yang buruk rupa yang kemudian jadi segagah gangsa. Cerita tokoh ini adalah cerita tentang sebuah proses terjadinya pengertian kemerdekaan, pada seorang yang datang dari dunia yang justru tak menghendaki kemerdekaan.

Apa yang diperoleh Lafayette akhirnya bukan cuma kegemilangan. Dari Amerikalah ia dapat keharuman nama seorang yang berpihak kepada la liberte - dan ia terus meletakkan dirinya di sana.

Lalu Revolusi Prancis pun pecah. Kaum aristokrat dibasmi, Raja dan Ratu dipancung, dan dunia bergerak ke zaman baru. Lafayette berada di kancah itu: seorang yang dianggap memusuhi kelasnya sendiri, dan akhirnya ditolak di pihak mana saja terutama ketika Revolusi, yang mula-mula meneriakkan “kemerdekaan”, berkembang jadi mesin penindas kemerdekaan.

Demikianlah Napoleon, opsir revolusi itu, kemudian jadi diktatur, lalu mengangkat diri jadi Maharaja, lalu memerintah praktis tanpa batas, Lafayette menolak tawaran untuk duduk dalam Senat. Hubungannya dengan rezim baru pun patah.

Maka, ketika suatu hari diketahui seorang jenderal mencoba menumbangkan Sang Maharaja baru, tak ayal Lafayette pun dicurigai. Ia tak ditangkap, sebab ia memang tak terlibat.

Tapi Napoleon sempat menembakkan suaranya kepada si tua pejuang kemerdekaan, “Siapa yang memaklumkan bahwa pembangkangan adalah sebuah kewajiban?”

Lafayette.

Bookmark and Share

Ada 1 Komentar

  1. sudiansah

    tuliasan yang disampaikan cukup lugas dan berbobot tentang tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. I love this naracy

Beri Komentar