Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
Judul: Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
Penulis: Goenawan Mohamad
Pengantar: Hamid Basyaib
Penerbit Pustaka Alvabet
Edisi Revisi, September 2005
Tebal: xxxii + 481 halaman
Buku ini menghimpun 33 esai Goenawan Mohamad yang ditulis selama 33 tahun karir kepenulisannya. Seperti halnya buku Kata, Waktu, buku yang terbit pada 2005 sengajar diluncurkan untuk merayakan 60 tahun usia penulisnya; rentang waktu yang tidak pendek bagi seorang pribadi, dan rentang yang lebih dari cukup baginya untuk melewati sejumlah faset dan momen penting dalam sejarah Indonesia.
Esai-esai di sini sebagian menyinggung hal-ihwal yang langsung atau tidak pernah terkait dengan penulisnya sendiri, sebagiannya lagi merupakan “tamasya” intelektual mengenai hal-ihwal yang menjadi minat dan perhatian penulisnya sendiri. Ia menulis tentang Khatib Anom, ihwal puisi Saini KM sampai Amir Hamzah dan Sapardi, mencatat kaitan antara Camus dan orang Indonesia, Nietzsche dan pasar sampai telusur ihwal para superhero dalam kesadaran manusia Indonesia.
Hamid Basyaib, dalam kata pengantar untuk buku ini, menyebut Goenawan Mohamad sebagai orang “Barat” yang lahir di Batang, yang melihat melihat segala hal bukan bukan untuk menyimpulkan karena menyimpulkan seringkali melahirkan kekecewaan. Ia, seperti tampak di buku ini juga esai-esainya yang lain, merasa jauh lebih penting mencari dengan bertanya daripada menemukan dengan menjawab.
****
“Model sebuah pasar adalah tempat di mana orang di dekat kita adalah pesaing kita. la mendesak kita untuk berpacu. Kita ingin mengalahkannya dan ia ingin mengalahkan kita. Di dalam pasar, rasa iri bukan hal yang salah, rakus bisa jadi bagus, dan keduanya dilembagakan dalam sebuah sistem. Zarathustra ingin agar dari sini orang pergi ke kesendirian. Tapi bukankah kesunyian satu hal, dan kesendirian adalah hal lain?” [petikan esai Nietzsche di Tengah Pasar]
“…saya kira kita lebih baik berbicara tentang “non-”, atau “anti-”, atau “postintegralisme” ketimbang “postmodernisme”: dengan semangat mengakui dan merayakan integritas, kekhususan dan perbedaan orang lain, liyaliyaning liyan—tapi dengan sikap yang lebih peka kepada konteks, kepada apa yang kita sebut sebagai ’sejarah’.” [petikan esai Marxisme, Postmodernisme, Ketika Tak Ada Lagi Revolusi]
“Dan bagaimana dengan Mister Rigen nanti? Saya kira, heteropia yang kini mewadahinya tidak akan hilang, meskipun kita belum tahu bagaimana posisi wong cilik di sana, dan wong cilik yang bagaimana pula yang akan hadir, sebagai pembuat dan penerima kebudayaan, di masa depan itu. Barangkali untuk menjawab semua pertanyaan tadi, kita hanya bisa menirukan Pak Ageng dalam menghadapi pertanyaan tentang arsitektur kota: “Anu, Mas. Mungkin ya diserahkan waktu saja…”. [petikan esai Heteropia dari Mister Rigen]
*****
Daftar Isi
Bagian Satu: Ketib Anom dan Pintu Menuju Tuhan
Dari kisah Ketib Anom; Sebuah Catatan Lain; Surat terbuka untuk Pramoedya Ananta Toer; Pram; Sjahrir di Pantai; Heteropobia untuk Mister Rigen; Mangan Ora Mangan Kumpul; Setelah Komunisme; Sekadarnya tentang Putu wijaya; Mencoba Berbicara tentang Iman; Pada Suatu Hari, Ikarus; Desember, Desember; Pintu-Pintu menuju Tuhan: Sebuah Pengantar.
Bagian Dua: Camus dan Kemajuan Indonesia
Camus dan Orang Indonesia: sebuah pengantar; Nietzsche, Arung dan Ekstasi; Brecht: Montase dan Marxisme; Marxisme, Postmodernisme, Ketika Tak Ada Lagi Revolusi; Zarathustra di Tengah Pasar; Dari Rodrigo ke de Villa ke Jacques Derrida; Kartini, Sebuah Pesona; Kemajuan dan Kebebasan: Tentang Modernitas, Takdir dan Habermas ; Memilih Alternatif Kemajuan Indonesia (Berhubungan dengan gagasan Soejatmoko);
Bagian Tiga: Para Penyair dan Mata Mereka
Saini dan Puisi Platonis; Nyanyi Sunyi Kedua, Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono 1967-1968; Sebuah Sajak yang Menjadi….; Subagio Sastrowardoyo, Sebuah Interpretasi; Trisno Sumardjo, Puisi modern dan Horatiao; Amir Hamzah dan Masanya; Dari Sunyi ke Bunyi: Sebuah Pengantar.
Bagian Empat: Tentang Seni dan Pasar
Tentang seni dan pasar; Tentang Seni Rupa, Rakyat dan Celeng; Sebuah Tropis, Sederet ‘Nama’; Dari dunia Superhero, Sebuah Laporan.

Juga dengan buku ini. Saya melewatkan untuk tidak mendapatkannya. Sesal. Adakah kairos itu datang, memberi kesempatan untuk mendapatkan buku itu. Karena revolusi yang kedua adalah sebuah banyolan.
mohon info nya bagi yg menyediakan buku ini,