caping • Jumat, 26 April 2013 @ 18:39 diunggah oleh zen
Ia hampir dilupakan. Ada yang mencatat ia lahir 21 April, ada juga yang menyebutnya 20 April. Seperti Kartini, kata-katanya, tulisannya, merupakan catatan harapan dan kepedihan perempuan Indonesia yang melawan dan terjepit. Tapi ia bukan Kartini. Penuturannya lebih kompleks, lebih intim, lebih terbuka, dan dengan latar yang lebih luas ketimbang surat-surat Habis Gelap Terbitlah Terang.
Mungkin karena ia seorang novelis dan seorang aktivis gerakan kebangsaan: Soewarsih Djojopuspito.
Saya beruntung mengikuti sebuah paparan tentang sastrawan ini di Serambi Salihara 9 April yang lalu oleh Aquarini Priyatna dari Universitas Padjadjaran. Dari sana saya tahu Soewarsih bukan hanya pencerita yang baik tentang tekad dan jerih seorang istri dan juga aktivis gerakan nasionalisme tahun 1930-an (dalam novel Manusia Bebas); ia juga bisa mendeskripsikan tanpa kikuk gejolak berahi perempuan dan perselingkuhannya (dalam Marjanah).
Ia memang bukan orang yang lazim. Soewarsih lahir di desa Cibatok, 20 km dari Bogor. Dalam Wikipedia disebut ia anak petani buta huruf. Tapi tentang riwayat hidup novelis ini saya banyak menggunakan bahan dari tulisan Gerard Termorshuizen, sejarawan dari Universitas Leiden, yang menemui Soewarsih pertama kali pada 1970 dan sempat menyimpan memoarnya.
Dari bahan ini diketahui Soewarsih anak ketiga Raden Bagoes Noersaid Djojosapoetro. Ayah ini keturunan kesultanan Cirebon. Ibunya yang lemah lembut, Hatidjah, seorang perempuan Tionghoa dari keluarga kaya yang masuk Islam.
Dengan latar keluarga seperti itu, keenam anak keluarga Djojosapoetro bisa hidup tanpa beban. Di posisi sosial mereka, keluarga itu bisa mengirim anak-anaknya ke sekolah di Buitenzorg (kini Bogor). Sang ayah menyukai petualangan, pandai mendalang, dan memperlakukan anak lelaki dan perempuan setara. “Kemajuan itu di tangan wanita”, katanya kepada penduduk desa Cibatok.
Lanjut..
caping • Jumat, 26 April 2013 @ 18:28 diunggah oleh zen
…you know, there’s no such thing as society [Margaret Thatcher].
Jika benar bahwa yang disebut “masyarakat” sesungguhnya tak pernah ada, apa yang terjadi? Jika benar yang ada adalah individu-individu, bukan kebersamaan, apa yang terjadi?
Pada umur 22, Margaret lulus dari Somerville College, Oxford dalam ilmu kimia. Ia diterima bekerja di sebuah perusahaan plastik. Di laboratorium British Xylonite itu ia mengembangkan cara merekatkan polyvinyl chloride ke logam…
Saya kira wajar jika kimiawan yang terbiasa di laboratorium ini menghadapi dunia sebagai himpunan problem untuk dipecahkan dan dikuasai. Wajar bila ia melihat hidup terdiri dari anasir yang terpisah-pisah, bisa dianalisa dan diisolasi. Kesatuan seperti “masyarakat” hanya konsep; dalam pengalaman, kita tak pernah ketemu makhluk itu.
Yang kita temui politik. Yang kita temui politik sebagai antagonisme.
Margaret Thatcher mulai memasuki kancah itu pada 1948 dan jadi anggota Parlemen 10 tahun kemudian. Ia, anak perempuan seorang pemilik toko, menempuh jalan yang tak gampang. Ketika ia jadi pemimpin Partai pada 1975, separuh perempuan Inggris hanya tinggal di rumah sebagai istri atau ibu. Bisa dimengerti bila bagi wanita pertama yang jadi perdana menteri dalam berabad-abad sejarah Inggris ini, politik adalah pergulatan.
Dalam film tentang riwayat hidupnya, Iron Lady, kita lihat Thatcher (diperankan Merryl Streep) berkata, tegas, congkak: “With all due respect sir, I have done battle, every single day of my life.”
Kata yang dipakainya “battle”, peperangan. Politik baginya tak bergerak karena permufakatan. Ketika ia jadi pemimpin Partai Konservatif pada 1975, ia menegaskan bahwa ia bukan “politikus konsensus”, melainkan “politikus keyakinan”.
Lanjut..
caping • Jumat, 26 April 2013 @ 18:21 diunggah oleh zen
Ada sebuah cerita yang saya temukan di internet dan saya ubah di sana-sini untuk para pembaca:
Pada suatu hari di Slovenia, seorang atheis sedang joging di hutan. Ia menikmati hijau pohon-pohon seraya tubuhnya bergerak di udara pagi.
Tiba-tiba ia dengar suara mengaum. Ketika ia menengok, ia lihat seekor singa besar (dan tampak lapar) mengejarnya.
Ia lari, menerabas semak. Tapi malang tak dapat ditolak: ia tersungkur di sebuah sudut. Singa itu pun tegak di dekatnya bersiap menerkam.
Putus asa total, si atheis sadar: hanya Tuhan yang bisa menyelamatkannya. Ia insyaf. Ia berdoa: “Ya, Tuhan, bebaskan aku dari hewan buas ini. Jadikanlah ia makhluk yang Kristiani”.
Tiba-tiba hutan bercahaya selama 30 detik. Mukjizat terjadi. Tokoh kita tahu, doanya dikabulkan.
Dan terdengarlah suara singa itu, takzim: “Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah nama-Mu. Telah Kau beri aku santapan pagi yang lezat.”
Andaikata peristiwa itu terjadi benar-benar, kita tak akan tertawa. Seseorang yang tersungkur di hadapan seekor singa yang lapar bukanlah adegan yang menggelikan. Keajaiban yang membuat seeokor singa bisa bicara juga bukan kejadian yang lucu. Cerita di atas kocak karena ia satu konstruksi imajinatif yang menabrakkan apa yang mula-mula tampak galib (seseorang ketakutan dan putus asa menghadapi maut) dengan apa yang mendadak tak masuk-akal dan tak terduga (si singa jadi Kristen… dan tetap tak melepaskan mangsanya).
Lanjut..
caping • Selasa, 23 April 2013 @ 18:51 diunggah oleh zen
Saya tak tahu persis dari mana kata “preman”. Ada yang mengatakan asal-usulnya dari kata Belanda vrijman — dengan tekanan pada vrij, “bebas”.
Jika benar demikian, saya kira itu kata yang pas. Mereka jenis penghuni sebuah wilayah yang membebaskan diri dari hukum wilayah itu. Mereka orang-orang yang berada di sebuah ruang juridis-politis, namun menunjukkan diri, terang-terangan atau tidak, sebagai perkecualian — dan dengan demikian mengambil-alih kedaulatan di tangan sendiri.
Bunuh membunuh yang terjadi pekan lalu di Yogya dan Sleman — ketika praktis Republik Indonesia dianggap tak punya arti — adalah pengukuhan bahwa kedaulatan direbut mereka yang tak mengakui hukum sebagai penjaga ketertiban. Bagi mereka, ketertiban hanya bisa lahir dari nyali dan kekejaman. Akhirnya, sebuah paradoks: ketertiban berdiri dengan ketidak-tertiban dan mereka adalah warga dari sebuah negera tapi yang sekaligus berada di luarnya.
Bukan fenomena yang unik sebenarnya. Sang preman bisa ada di mana-mana, muncul dari zaman ke zaman. Pada pertengahan abad ke-19, di Manhattan, New York, ada seorang tokoh yang kemudian dikisahkan kembali hidupnya dalam Gang of New York, sebuah film Martin Scorcese. Ia Bill “the Butcher” Cutting yang kata-katanya seakan-akan bergaung di Yogya dan Sleman malam itu, dan mungkin juga di Jakarta di hari lain:
“Seseorang mencuri milikku, aku potong tangannya. Ia menghinaku, aku copot lidahnya. Ia bangkit melawanku, aku penggal kepalanya, lalu kucoblos dan kupasang di tonggak, tinggi-tinggi, supaya semua orang bisa lihat. Itu yang bikin tata tertib. Rasa takut”.
Bill “The Butcher” sendiri tewas dalam serbuan tentara yang hendak menegakkan ketertiban. Ia terpelanting jatuh oleh sebuah ledakan. Akhirnya seorang anak muda yang hendak membalas kematian ayahnya menikamnya. Kata-kata terakhirnya: “Thank God, I die a true American.”
Lanjut..
Esei • Rabu, 3 April 2013 @ 10:51 diunggah oleh zen
– Pengantar untuk Pementasan “Gundala Gawat”
Kira-kira dua tahun yang lalu, dalam sebuah acara ulangtahun seorang teman, Butet berkata kepada saya: “Mas, mbok kamu menulis lakon untuk Gandrik”.
Tanpa berpikir panjang — saya sulit berpikir panjang di depan Butet; kami sama-sama gampang cepat ketawa — saya setuju.
Saya menyukai humor teman-teman dari Yogya. Kota ini memang tanah air orang-orang lucu. Saya tak putus dirundung geli oleh Basio, Dagelan Mataram, Guno, Teater Gapit, Teater Lungit, Teater Gandrik. Saya tak akan bisa melupakan bagaimana kocaknya Almarhum Heru Kesawa Murti memerankan sang hakim dengan model Rhoma Irama dalam lakon Pengadilan Susila: seorang hakim yang berpantalon cutbrai, memegang gitar dan berkata berkali-kali: “Santai, santai….”
Mengingat itu semua, (dan sedih bahwa Mas Heru tak akan ikut lagi dalam pementasan), saya seharusnya berpikir 4 kali sebelum setuju. Meskipun Butet pernah menjuluki saya “pelawak yang menyamar sebagai penyair”, sebenarnya di dalam lubuk hati saya yang entah di mana saya tahu: tak mudah menulis sesuatu yang bisa membuat orang tertawa tanpa menjadi ditertawakan.
Untung saya punya sedikit pengalaman. Lakon saya, Visa, tentang orang-orang yang bingung untuk dapat visa di kedutaan Amerika (yang setelah 11 September 2001, jadi negara yang serba curiga), dipentaskan pertama kali oleh Teater Lungit dalam bahasa Jawa di Teater Salihara. Di antara penonton saya lihat Sapardi Djoko Damono (dia penyair tulen, bukan pelawak) yang tertawa terus. “Lucu iki, lucu tenan!”, ia bilang. Ia meyakinkan saya: Yes, you can!
Lanjut..
caping • Rabu, 3 April 2013 @ 10:44 diunggah oleh zen
…in the end, everybody breaks, bro. It’s biology.
Agen CIA dalam film Zero Dark Thirty itu telah mengubah orang yang dinterogasinya: tahanan itu akhirnya cuma bangunan biologis. Tubuh itu dicancang pada kaki dan tangan. Sesekali ia dibaringkan seraya kepalanya dibungkus kain untuk ditenggelamkan dalam air sampai hampir tak bernafas. CIA ingin orang ini membuka celah ke persembunyian Usamah Bin Ladin. Untuk itu, di ruang penyiksaan yang kumuh itu ia diformat jadi sebuah kantung yang diinjak agar dari dalamnya muncrat informasi.
Sebuah kantung yang diinjak, sebentuk benda biologis, sebuah kehidupan yang sepenuhnya bugil, la vita nuda: ia materi tanpa proteksi. Ketika orang dihilangkan harga diri, rasa malu, rasa bersalah, dan keyakinannya, ia tak diharap bisa bertahan. Everybody breaks.
Kita tahu film itu fiksi, tapi kebrutalan itu bukan. Dan sebuah fiksi, sebagaimana sebuah puisi, sering dibebani tafsir yang tak diniatkannya sendiri. Orang-orang kanan Amerika, para Senator dan CIA, menuduh Zero Dark Thirty melebih-lebihkan peran penyiksaan dalam perburuan Bin Ladin, dan dengan demikian mencoreng muka Amerika. Sebaliknya orang-orang kiri menuduh Sutradara Kathryn Bigelow bertindak seperti sineas Leni Rahfenstahl mengagungkan Naziisme delapan dekade yang lalu. Seorang penulis terkenal memperingatkan Bigelow: kau akan dikenang sebagai “wanita pelayan penyiksaan”.
Kontroversi belum berakhir. Tapi satu hal tercapai. Zero Dark Thirty – dengan realisme yang mengesankan — telah memaparkan bahwa “perang melawan terorisme” mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri. Para penggeraknya menyebutnya “perang yang adil”, karena terorisme adalah keji. Tapi perang itu justru awal dari laku yang tak adil dan yang keji.
Lanjut..
caping • Rabu, 3 April 2013 @ 10:35 diunggah oleh zen
Demikianlah kisah hari Pasah
Ketika seluruh alam diburu resah
Oleh goda, zinah, cinta dan kota…
- Cathedrale de Chartres, Sitor Situmorang.
Kapankah alam tak diburu resah, dan hidup tak terdiri dari benturan yang sering ganjil?
Pertanyaan itu muncul ketika saya menemukan kembali sajak yang langka dalam sastra Indonesia ini tadi malam –tapi tak hanya tadi malam.
Sajak Sitor Situmorang ini langka karena ia bertolak dari sebuah hari Paskah di Prancis, yang tak pernah ditulis penyair Indonesia sebelumnya, juga karena di sana bertaut (1) bentuk kwatrin yang rapi, konvensional, dan (2) ekspresi yang tak lurus, non-linear, bahkan campur aduk — benturan yang sering ganjil.
Campur aduk: di dalamnya kita bertemu dengan seorang laki-laki pendatang yang guyah di kota yang “diburu resah”, di sebuah katedral angker dari abad ke-12, seorang asing di negeri asing tapi merasa nyaman dengan keasingan itu: “Di bumi Perancis/Di bumi manis”.
Bait pertama sajak ini melukiskan rasa harap-harap cemas tentang Tuhan ketika hari pucat bersalju:
Akan bicarakah Ia di malam sepi
Kala salju jatuh dan burung putih-putih
Lanjut..
caping • Kamis, 14 Maret 2013 @ 08:31 diunggah oleh zen
Pedagang adalah kelas yang dianggap hina di abad ke-18 Jawa. Dalam kitab Wulangreh, yang disebut sebagai karya Pakubuwana IV, ada sederet petuah bagi para aristokrat muda tentang perilaku yang baik dan yang buruk.
Dalam bagian ke-8, dengan bentuk tembang Wirangrong, disebutkan empat cacat besar yang harus dihindari kaum ningrat. Yang pertama sifat pemadat (wong madati), yang kedua penjudi (wong ngabotohan), dan yang ketiga penjahat (wong durjana). Yang keempat, sifat “orang berhati saudagar”.
….wong ati sudagar awon, mapan suka sugih watekipun, ing rina lan wengi, mung bathine denetang, alumuh lamun kalonga.
…Iku upamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor, mapan nora marem ing tyasipun, ilanga sadhuwut, gegetun patang warsa, padha lan ilang saleksa.
Orang yang berhati saudagar, menurut Wulangreh, hanya menyukai kekayaan. Siang malam cuma laba yang ia hitung, cemas kalau berkurang. “Uang tujuh karung” pun itu tetap tak akan memuaskannya. Ia akan murung “selama empat tahun” bila jumlahnya berkurang sedikit, seakan-akan hartanya lenyap berjuta-juta.
Di dunia Pakubuwana IV (1788-1820) — raja Surakarta yang disebut juga Sunan Bagus — yang ethis berpaut dengan yang esthetis: kehalusan budi ditandai dengan sikap elegan. Itu sebabnya citra kaum saudagar dalam Wulangreh sebenarnya tak ada kaitannya dengan kejahatan atau kebejatan. Di bagian ke-11 kitab itu, Pakubuwana mengecam orang semasanya yang setelah beroleh kedudukan, bersikap seperti pedagang: sibuk membuat perhitungan, ingin serba cepat dapat, hingga tingkah lakunya pun berantakan: polahe salang-tunjang.
Lanjut..
caping • Rabu, 20 Februari 2013 @ 10:34 diunggah oleh zen
Jemaat makin tak terlihat di negeri kelahiran Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri.
Peribadatan lengang. Gereja-gereja jadi gedung menganggur yang harus dibongkar. Majalah Der Spiegel 14 Februari yang lalu mencatat: di Jerman, selain di wilayah Protestan, juga di Bavaria yang Katolik, misa tak ramai lagi.
Di Börssum, di Niedersachsen, cuma 5% penduduk yang datang ke misa di Gereja Santo Bernward tiap Minggu (sementara beaya perawatan mencapai €134.500). Kesimpulan: gereja yang hanya makan ongkos itu harus dirubuhkan. Lain lagi biara St. Maximin di Trier: jadi tempat olahraga sekolah. Herz-Jesu-Kirche di Klatenberg: tempat latihan dansa dan pilates. Di Essen, ada 83 rumah peribadatan Katolik yang harus diratakan dengan tanah.
Pastor Michael Kemper ingat ia memimpin misa Corpus Christi terakhir di Duisburg. Dengan sayu ia mengenang bagaimana dulu ia berjalan di bawah kanopi altar, dengan jubahnya yang berwarna pucat, melewati barisan umat yang makin muram. “Menutup gereja ini membuat saya sakit,” ia berkata.
Tapi barangkali telah tiba suatu tanda, bukan tentang akhir zaman, melainkan tentang satu “pandangan dunia yang punah, sebuah kebudayaan yang melenyap”, untuk meminjam kata-kata Octaivio Paz. Penyair ini berbicara tentang satu bagian sejarah Meksiko, negerinya, dan bukan tentang nasib Gereja Katolik — tapi di sana juga, Gereja itu kini terasa jadi satu visión del mundo yang sedang kehilangan daya hidup.
Roberto Blancarte, seorang sosiolog dan sejarawan, (dikutip Latin American Herald Tribune 15 Februari), mencatat bahwa lebih dari 1000 orang di Meksiko meninggalkan Gereja tiap hari selama dasawarsa terakhir.
Lanjut..
caping • Kamis, 14 Februari 2013 @ 20:02 diunggah oleh zen
Mungkin ini tiap hari terjadi di Tokyo: di stasiun Shibuya, ribuan orang ke luar masuk peron atau berjalan dari gerbang barat menyeberang — dari tempat patung anjing Hachikō yang mati menunggui tuannya yang tak kunjung pulang, ke arah toserba “Shibuya 109″ yang membuka dengan meriah lebih dari 100 boutique.
Anak-anak muda masih seperti dulu. Mereka tak putus-putusnya bergerak riang, riuh, mengingatkan kembali gaya gyaru gadis-gadis a-be-ge tahun 1970-an yang mencoba melepaskan diri dari sikap jinak dan konformitas. Tapi, pada saat yang sama, mereka adalah bentuk konformitas yang baru.
Di sini hidup adalah degup siang dan malam — terutama malam. Setelah pukul 18, lampu-lampu iklan digital menegaskan bahwa yang gemebyar, yang mewah, yang meriah, adalah pertemuan antara hasrat dan kemustahilan. Kapitalisme busana menampakkan ambisinya di ratusan papan iklan dan layar DOOH dengan ukuran besar: di tubuh manusia kota, pakaian adalah pertarungan untuk menggapai satu mode yang modelnya terlampau rupawan untuk ditiru, tapi selalu ditiru. “A fashion is nothing but an induced epidemic.“ Saya kira George Bernard Shaw benar.
Epidemi itu terutama berkecamuk di kelimun seperti di Shibuya ini. Lebih dari setengah abad yang lalu David Riesman menulis The Lonely Crowd, tapi sampai sekarang observasinya masih kena: kalangan metropolis ini adalah orang-orang yang other-directed, ”diarahkan-liyan”. Bukan lagi diarahkan tradisi. Juga bukan lagi digerakkan kecenderungan diri yang terbentuk sejak kecil.
Lanjut..