Esei • Senin, 3 Juni 2013 @ 14:39 diunggah oleh

Tentang Kurikulum 2013

Rupanya beberapa hari ini tampang saya muncul di sebuah advertensi di televisi. Sampai detik ini saya sendiri belum tertarik melihatnya. Tapi saya senang sesekali mengerjakan sebuah iklan layanan masyarakat. Khususnya untuk mempromosikan “Kurikulum 2013″.

Banyak yang bertanya mengapa saya bersedia jadi “bintang iklan” untuk sesuatu yang kontroversial. Tidakkah saya hanya dimaanfatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk agenda mereka?

Jawab saya tak bisa panjang: saya bersedia mempromosikan Kurikulum 2013 karena saya menyetujui pemikiran yang mendasarinya. Kementerian tak akan bisa membayar saya sebanyak apapun kalau saya tak menyetujuinya.

Kontroversi yang timbul — termasuk bila itu timbul karena iklan-iklan itu — justru penting, untuk memperjelas apa yang tak jelas, untuk membatalkan apa yang perlu dibatalkan, atau memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.

Saya sendiri bukannya tak punya kritik kepada beberapa bagian dari bangunan yang disebut “Kurikulum 2013″ itu.

***

Saya bukan seorang pedagog. Bukan pula guru. Pengalaman saya mengajar terbatas. Sambil menulis ini saya ingat kata-kata seorang menteri pendidikan: “Tiap orang adalah pendidik — dan makin tua ia makin merasa tahu tentang masalah-masalah pendidikan, meskipun sebenarnya tidak.”

Saya harus tahu diri. Tapi setidaknya saya seorang warganegara yang ingin anak-anak Indonesia terdidik dengan baik. Data tentang ketinggalan murid-murid Indonesia di pelbagai bidang dibandingkan dengan negara sekitar kita sering dikemukakan. Saya ingin ada perubahan yang substansial dalam cara belajar di sekolah kita. Kalau tidak, bangsa kita akan macet di masa depan.

Dengan sumber-sumber yang ada, perbaikan bukan mustahil. Saya ingat Pak Tino Sidin yang beberapa puluh tahun yang lalu muncul di TVRI mengajar anak-anak menggambar. Nama programnya bukan “Belajar Menggambar”, melainkan “Gemar Menggambar”.

Bagi saya Pak Tino sebuah inspirasi: begitulah seharusnya proses belajar berlangsung. Yang penting bukan menghasilkan gambar dengan teknis yang jitu, melainkan menggemari ketrampilan itu.

Dengan itulah proses belajar membentuk sikap. Belajar bukan hanya untuk mengetahui dan menambah informasi. Belajar adalah menjelajah dunia yang selalu baru dan mengasyikkan.

Dari sana tumbuh sikap yang selalu ingin tahu, kecenderungan menemukan dan mencipta, kebiasaan berpikir jernih dan teratur, kemampuan bertukar gagasan dengan orang lain.

Pendek kata: sebuah perubahan dari “pintar” menjadi “gemar”. Dari “gemar” bisa tumbuh pelbagai hal, termasuk menjadi “pintar”. Saya ingat dulu di sekolah menengah guru saya membuat saya menyukai geometri dengan mengatakan: “Kalian di kelas ini bukan untuk jadi insiyur, tapi untuk terbiasa berpikir keras dan logis.” Setelah saya belajar lebih lanjut, saya menemukan kata-kata bagus dari Alfred North Whitehead: “The pursuit of mathematics is a divine madness of the human spirit.”

Selama bertahun-tahun, hanya kadang-kadang, secara kebetulan, saya menemukan guru yang bisa membuat anak-anak terpesona menempuh “pursuit” itu, yang bisa menunjukkan peran imajinasi, bahkan dalam axioma matematika, misalnya dalam teori himpunan.

Selebihnya sekolah-sekolah adalah tempat yang tak membiarkan imajinasi. Nyaris represif.

Saya pernah melihat bagaimana anak-anak diminta mengingat berapa sentimeter tinggi net tennis — bukan diajak menikmati permainannya, setidaknya sebagai penonton. Atau mereka, dalam pelajaran atletik, dilecut untuk bisa lari dalam kecepatan tertentu — bukan untuk merasakan asyiknya kesegaran jasmani.

Saya juga pernah melihat bagaimana buku-buku pelajaran sastra menyebut nama pengarang dan judul bukunya, tanpa anak-anak diberi kenikmatan membaca karya sastra. Baru-baru ini saya menemukan satu pelajaran mengarang yang membagi-bagi satu komposisi dalam, misalnya, “deskripsi”, “eksplanasi”, “resolusi” — sementara saya tahu, sebagai pengarang, bahwa itu pembagian yang tak ada gunanya. Bagi saya, pedoman itu membuat anak-anak tak punya spontanitas dalam menulis, dan tanpa spontanitas, bagaimana kreatifitas tumbuh?

***

Syahdan, karena alasan yang kurang jelas, beberapa bulan yang lalu saya diminta jadi salah seorang “narasumber” bagi penyempurnaan Kurikulum 2013. Saya merasa lega bahwa di samping saya ada Anis Baswedan, Taufik Abdullah, Frnas Magnis Suseno, Yohannes Surya, Juwono Surdarsono, Ahmad Muchlish, Suparno, Ratna Megawangi. Mereka, saya tahu, punya lebih banyak bekal dalam soal ilmu dan pendidikan.

Seraya tak meyakini kapasitas saya sendiri, saya ikuti diskusi tim perumus kurikulum dengan sikap skeptis. Waktu itu saya baru dua kali bertemu (tak lebih dari 10 menit) Muh. Nuh, Menteri Pendidikan & Kebudayaan. Saya tak kenal kemampuan dan tekadnya. Saya sering kecewa dengan menteri-menteri pendahulunya. Dari semua menteri pendidikan yang saya kenal, hanya Daoed Joesoef yang punya konsep jelas, dan berani mempertahankannya di tengah permusuhan, manipulasi penguasa Orde Baru, dan oposisi di luar itu.

Saya juga cenderung ragu untuk bisa berharap dari para birokrat yang umumnya tak ingin mengguncang perahu apapun untuk perubahan.

Tapi berangsur-angsur, saya menemukan beberapa hal yang membuat pandangan saya berubah.

Pertama, perdebatan dalam pertemuan-pertemuan itu cukup terbuka, terus terang, tak jarang sengit — dan pihak kementerian tetap terbuka untuk dikritik. Pelbagai perumusan tentang Kurikulum 2013 berkembang terus karena pendapat positif dan negatif yang diterima.

Kedua, saya merasa bahwa proses perumusan itu banyak menimbulkan salah paham — dan mendorong saya untuk lebih seksama menyimak.

Di hari-hari awal saya menjadi “narasumber”, pada suatu pagi saya menerima sebuah sandek dari seorang teman. Ia mendapat informasi bahwa dalam Kurikulum 2013 bahasa Inggris tak akan diajarkan — bahkan ada pejabat yang menyebutnya “haram”.

Ini mengagetkan, karena saya tahu Tim Perumus tak mengharamkan bahasa Inggris. Yang ditentukan: ia bukan mata pelajaran wajib.

Lebih masuk akal adalah rasa cemas orang di luar akan hilangnya mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Sebuah koran luar negeri bahkan menilai kurikulum yang sedang disiapkan itu akan membawa Indonesia ke Abad Gelap: pelajaran agama ditambah jamnya, sementara pelajaran sains ditiadakan.

Memang sebuah kesalahan jika pelajaran agama diintensifkan — terutama bila ajarannya doktriner — karena mengira generasi muda akan lebih berakhlak dengan cara itu. Hari-hari ini terbukti bahwa tak ada korelasi yang konsisten antara pengetahuan agama seseorang dan akhlaknya.

Tapi memang akhirnya tergantung bagaimana agama diajarkan. Saya cemas jika kompetensi seorang siswa dalam beragama (dan berbudi pekerti) diukur dari banyaknya juz Qur’an yang dihafalnya.

Tapi ketika saya baca dokumen terakhir dari Kementerian, saya sedikir lega. Kompetensi dasar dalam agama Islam dirumuskan, antara lain, “Menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. At-Taubah (9) : 119 dan Q.S. Lukman (31) : 14 serta hadits terkait” Juga: “Menunjukkan sikap semangat melakukan penelitian di bidang ilmu pengetahuan sebagai implementasi dari pemahaman dan perkembangan Islam di dunia.”

Di sini saja tampak, tak ada pelecehan terhadap ilmu. Dalam perdebatan yang saya ikuti, dapat saya simpulkan bahwa ilmu pengetahuan alam sebagai mata pelajaran memang tak akan ada (sampai dengan kelas 4 atau, kalau tidak, sampai dengan kelas 6 SD), tapi kompetensi untuk itu tetap dikembangkan. Dalam proses itu, bahasa Indonesia diajarkan sebagai sarana mengobservasi, bertanya, mengumpulkan informasi, menganalisa dan mengkomunikasikan temuan tentang gejala-gejala alam — satu bagian awal dari pendidikan sains.

Hal itu agaknya sejalan dengan kompetensi dasar umum yang jadi tujuan Kurikulum 2013. Dalam dokumen yang saya terima dirumuskan: “Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk critical minds yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.”

***

Tak semua perumusan dalam Dokumen itu melegakan. Banyaknya “agama” disebut bisa menimbulkan kesan bahwa yang disiapkan Kementerian adalah sebuah generasi yang tak akan punya kemungkinan melahirkan seorang Stephen Hawking, ilmuwan yang ulung yang menyimpulkan bahwa Tuhan tak diperlukan dalam penciptaan alam semesta.

Tentu saja, bukan mustahil akan ada seorang ilmuwan atheis dari sekolah-sekolah kita. Tak ada kementerian yang bisa mencegah kemungkinan itu. Tapi saya maklum: sebuah kurikulum yang disiapkan Pemerintah tak akan bisa lepas dari hegemoni nilai di masyarakat. Hari-hari ini hegemoni itu ada pada agama.

Agar hegemoni itu tak berarti ketertutupan, agama harus hadir sebagai sesuatu yang inspiratif dan membebaskan, bukan cuma perskriptif dan mengintimidasi pemikiran.

Saya belum menganggap Kurikulum 2013 akan membawa kreatifitas, imajinasi dan sikap kritis beku karena diintimidasi. Tapi memang beberapa perumusan dalam Dokumen ini memberi kesan keagamaan yang berlebihan.

Kalimat-kalimat untuk kompetensi dasar Bahasa Indonesia, misalnya. Ketiga frase awalnya dimulai dengan kata-kata “mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia…”. Sebuah repetisi yang tak perlu, seakan-akan para perumusnya tak yakin akan efek kata-kata mereka sendiri.

***

Dalam ceramahnya di Komunitas Salihara bulan yang lalu, konseptor utama Kurikulum 2013, Abdullah Alkaff — seorang ilmuwan dari ITS — mengemukakan sesuatu yang menarik: menurut penelitian paling baru, kecerdasan seseorang tak akan bisa banyak dikembangkan. Faktor genetik menentukan. Tapi yang bisa berkembang adalah kreativitas. Kurikulum 2013 bertujuan mengembangkanya.

Saya tak punya bantahan buat itu. Meskipun bukannya saya tak punya keraguan malah waswas. Perubahan kurikulum perlu persiapan yang matang. Penggunaan metode “thematik-integratif” yang akan dipakai dalam Kurikulum 2013 — meskipun sudah banyak dipakai di sekolah-sekolah “elite” di Indonesia — perlu waktu. Konon di Inggris dan Singapura perlu percobaan selama tiga tahun.

Belum lagi bagian persiapan yang strategis: penulisan buku untuk dipergunakan guru dan murid. Dari informasi yang saya dapat, persiapan buku ini tidak memuaskan. Terlalu pendek masa pengolahannya, terlalu terbatas para penulis yang mampu menerjemahkan metode dan isi yang diajarkan.

Maka agaknya kita harus bersabar — juga dalam menyiapkan dan memberikan kritik. Yang agak menggembirakan ialah bahwa meskipun Kurikulum 2013 akan diterapkan tahun ini — karena tahun 2014 akan jadi tahun politik dan pertimbangan sehat bisa tak berlaku — jumlah sekolah yang akan menerapkannya, sepanjang yang saya dengar, cuma 6000. Setapak demi setapak ini penting, sambil memperbaiki apa saja yang masih timpang.

Menteri Nuh seorang yang mampu dan punya komitmen untuk memperbaiki pendidikan sekolah kita. Tapi pelajaran pahit dalam Ujian Nasional yang kacau tempo hari bisa jadi caveat: aparat yang ada di kementerian manapun di Republik Indonesia mengharuskan siapapun, bahkan Presiden, untuk bersiap mengatasi salah-urus di bawah dan di sekitarnya.

mac internet security software

Jakarta, 23 Mei 2013.

 

19 Komentar

  1. Maryatun

    Saya seorang pengajar di kota Tangerang. Sekolah saya termasuk salah satu sekolah yg diamanahkan menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru. Namun sangat disayangkan sampai saat ini saya belum mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kurikulum ini. Saya sudah coba membaca beberapa tulisan di internet, sayangnya tidak dapat memberikan gambaran yg jelas. Dari pihak dinas pendidikan juga belum ada penjelasan. Sehingga sebagai pelaku pendidikan saya khawatir bahwa hanya terjadi perubahan nama kurikulum namun isinya tidak berubah. Sehingga apapun yang diharapkan dari pelaksanaan kurikulum 2013 akan melenceng.
    Kemudian bila saya saja yg posisinya berada dekat pusat pemerintahan belum mendapatkan informasi mendetil, bagaimana dengan sekolah-sekolah di pelosok. Saran saya, perubahan kurikulum apapun itu agar mensosialisasikan secara menyeluruh kepada guru-guru yang merupakan unjung tombak dunia pendidikan.
    Terima kasih atas perhatiannya

  2. jaja jamaludin

    Tuhan dan Tatanilai Dalam Kurukulum 2013

  3. Bukik

    Ada banyak proses-proses mikro dalam penyusunan kurikulum 2013, yang perlu dirangkai, direfleksikan, sebelum jadi padu
    Sayang, ada yang terburu nafsu
    Ingin segera jadi, seolah pendidikan seperti bikin mi

  4. zulfikar

    Menarik, dimana pak gunawan muhammad menjabarkan proses kurikulum secara netral (yg saya rasa saat membaca)

    Saya juga guru, berpendapat bahwa kurikulum ini terburu-buru, bahkan mahasiswa s1 pun tidak akan lulus kuliah kalau membuat bukunya. Hanya 6 minggu. Latar belakang kurikulumpun masih perlu ditinjau lagi, benarkah dengan penambahan jam belajar disekolah itu baik dan benar? Benarkah KTSP tidak bisa menyelesaikan masalah itu? Adakah solusi lain sebelumnya? Dan mengapa dokumen kurikulum sampai saat ini publikpun belum tahu?

  5. tutut kumoro w

    Pengembangan kurikulum adalah keniscayaan di rangkaian pendidikan, dalam bentuk penggantian maupun perubahan. Bagaimana kita sampai hati menggunakan suatu kurikulum usang ketinggalan zaman yang kita berikan kepada peserta didik kita?

    Tentu saja silang pendapat antithesis akan muncul, baik untuk menolak (dengan alasan kurikulum yang baru ini sekedar proyek, amburadul, bermuatan politis tertentu)atau mendukung (mengedepankan model tematik-integratif untuk menjawab tantangan zaman, sebagai strategi kebudayaan). Hal itu akan memberikan perbaikan dalam pengembangan kurikulum yang dilaksanakan.

    Harapan saya, sebagai guru, kurikulum apapun bentuknya, semoga tidak mengorbankan masa depan para peserta didik dan menggadaikan kepentingan bangsa dan negara.

    ”Didik dan persiapkanlah anak-anakmu, sesuai zamannya, karena mereka diciptakan untuk hidup pada masa yang berbeda dengan masamu” (Ali bin Abi Thalib ra)

  6. Purwanto

    Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

    Membaca tulisan bung GM rasanya bikin hati senang. Banyak tahu tapi tetap merendah dan tidak menggurui,kritis tapi tetap santun, ekploratif tapi tetap menenangkan dan mau mendengar. semestinya pejabat yang mencanangkan kurikulum 2013 bisa bersikap seperti bung GM ini. Okelah tujuan dari penerapan kurikulum baru ini memang baik, tapi tolong dengerkan juga orang lain, sehingga barang baru ini dapat semakin sempurna.

  7. agung permana

    yang diperlukan sekarang adalah sebuah sistem yang matang, dan tidak selalu berganti ganti,ganti mentri ganti kurikulum,,ini lah yang membuat gagal, rasanya rindu kurikulum era nya pak harto

  8. lia

    senang sekali membaca tulisan ini. sebagai seorang guru yang merasa kurang nyaman dengan kurikulum baru ini, saya merasa dicerahkan untuk tidak buru-buru memberikan nilai pada sesuatu yang belum dijalankan. terimakasih

  9. Grace Ariyana

    Saya membaca blog ini dlm rangka mempersiapkan sebuah presentasi di hadapan para orang tua siswa di tempat saya mengajar. Kurikulum 2013 ini memang barang baru bagi kita semua. Dan secara jujur, saya pun masih mengalami kebingungan dlm mempersiapkan bahan mengajar. Tapi ada hal menarik yang semakin membuat saya ingin mengeksplorasi kurikulum 2013 ini, yaitu tujuan dibuatnya kurikulum ini. Saya guru di sebuah sekolah nasional plus yang notabene menerapkan 2 kurikulum sekaligus (Singapore dan Nasional Kurikulum), terkadang saya bertanya, mengapa banyak sekolah yg akhirnya berlomba2 menerapkan 2 kurikulum sekaligus yang pada akhirnya membuat siswa bingung, overload, dan harus jujur diakui, kehilangan nasionalismenya). Tapi akhirnya kebingungan itu terjawab, tidak memadainya kurikulum di Indonesia yang membuat sekolah2 akhirnya harus mengadopsi kurikulum dr luar negeri. Kurikulum kita selama ini hanya sebatas knowledge tanpa memipersiapkan life skill bagi para siswa. Siswa hanya dicekoki dengan berbagai informasi, tanpa tahu apa gunanya bagi kehidupan. Sebagai contoh, saya dulu selalu bertanya pada orang tua saya, apa gunanya saya harus belajar “integral rangkap 3″ ? Sampai hari ini saya tidak merasakan kegunaan dr susah payahnya saya belajar integral rangkap 3 itu.
    Tapi pada akhirnya, ketika saya melihat dan mulai membaca-baca tentang kurikulum 2013 dan mempelajari buku yang ada, saya merasa menemukan secercah harapan bagi kurikulum di Indonesia.
    Saya sangat senang ketika buku2 itu bisa memberi guidance bagi para guru untuk bisa mengajar dengan interaktif dan eksploratif.
    Secara pribadi, saya sungguh bersemangat untuk mengembangkan dan menerapkan kurikulum ini. Saya berharap, dengan kurikulum ini saya bisa membuat anak2 didik saya untuk bisa menikmati sebuah proses pembelajaran, mampu mengeksplorasi pemikiran mereka, mampu menggali kreativitas mereka, sehingga kelak mereka menjadi orang2 yang kritis, kreatif, mampu berpikir out of the box, dan pastinya menjadi anak2 Tuhan yang taat dan berkarakter.

  10. Nupriyanto

    sebenarnya kurikulum 2013,bila diterapkan cukup bagus…sy mengamati selama ini gaya mengajar seorang guru hanya melulu mencatat dan menerangkan,sy bnyak menanyakan kepada siswa..selama ini belajar mereka sudah mencapai ttik jenuh…tdk heran..byk siswa dikelas…cuma bengong,ngantuk,bahkan tertidur..karena hanya mendengar,mencatat itu saja kegiatannya dikelas…seharusnya siswa diarahkan untuk belajar kreatif,berani menyampaikan pendapat,berani bertanya dll.
    walau sy bukan guru…tapi sya slalu mengamati..dan sy pernah ikut diklat 2011, mengenai perubahan metode pembelajaran yang menitik beratkan menggali potensi siswa…nah akhirnya ditemukan metode yg disebut dengan PAIKEM. yaitu Pengajaran Aktif.Inovatif,Kreatif,Efektif dan Menyenangkan…. nah kurikulum 2013, sepertinya mengarah ke PAIKEM tersebut..sy setuju sekali…

  11. cucu supriatna

    kurikulum 2013?? masih gelap. tak ada sosialisai yg mendetail ttg itu. apa karena sekolah saya berada dipelosok negri? mungkin saja, cukup orang kota saja yg tau ttg itu. orang pelosok cukup manggut-manggut saja. ABS (Asal Bapa Senang)

  12. Albertus Hariprasetya Malang

    Terkait dengan keefektifan pencapaian tujuan pembelajaran contoh RPP kurikulum 2013 terkesan hanya garis-garis besar saja, buatkan contoh format RPP yang lebih operasional, sebab pemegang kendali peserta didik adalah guru yang harus memahami kondisi peserta didik dari segi psikologis, sosiologis dan karakter materi pelajaran terkait fenomena alam dan masyarakat.

  13. Hanifa

    Saya seorang guru SMA yang menerapkan kurikulum 2013. Membaca artikel ini membuat saya terdorong untuk menuliskan komentar. Secara teori ataupun konsep bolehlah kita bilang kurikulum ini terlihat begitu sophisticated dengan kesadaran-kesadaran untk lebih memajukan sisi moral peserta didik. Namun, tampaknya pembuat kurikulum ini tidak melihat ke lapangan langsung. Sebagai guru bahasa inggris saya sudah membaca draft kompetensi pada kurikulum baru. Dan komentar saya adalah ‘lucu’. ya, kurikulum terbaru ini begitu ‘lucu’ dan tampak terkesan hanya tambal sulam seolah-olah dibuat untuk sekedar pencitraan semata. Materi bahasa inggris dibuat hanya untuk 2 jam dengan tuntutan materi yang lebih banyak. Bayangkan lebih banyak dari KTSP. Kesimpulan saya mengenqai kurikulum terbaru ini adalah kurikulum ini seperti menyimpan sebuah ‘misi’ titipan yang tidak jelas arahnya. Saya yakin kurikulum ini tidak sepenuhnya mampu memperbaiki moral bangsa ini.

  14. wahyu elviera

    Axell sekarang kelas IV SD jadi pilot project kurikulum 2013,semoga masa depannya tidak seribet peluncuran kurikulum ini . Kalian sibuk pro dan kontra , lupa memberitahu kami para orang tua, bagaimana mendukung agar anak siap untuk menjalaninya .Mari berjiwa besar dan ubah mindset kita.

  15. NINI

    guru-guru yang berkompeten dan berdedikasi tinggi terhadap profesinya seharusnya tidak perlu risau dengan perubahan disana sini terhadap kurikulum. jikalau kita sebagai tenaga pengajar memahami betul tiga hal mengenai bagaimana ilmu itu diberikan maka kebijakan apapun yang diterapkan pemerintah tidak akan berpengaruh terhadap etos kerja kita. apasaja yang termasuk dalam tiga hal tadi? yaitu:
    1. materi pelajaran dan pengalaman belajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara umum di tingkat usianya.
    2. materi pelajaran dan pengalaman belajar juga disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat minimal masyarakat sekitarnya, serta
    3. materi pelajaran dan pengalaman belajar dapat merefleksikan peningkatan keakuratan target kegiatan siswa.

  16. hartantounpatti

    menurut saya sebagai seorang mahasiswa S1 kurikulum 2013 ini sangat terburu-buru, guru cenderung terbeban dengan pergantian tiap kurikulum tanpa kepastian mana yang cocok digunakan di indonesia. contohlah negara lain khususnya… yang saya herankkan kurikulum cenderung hanya berlaku 5 tahun dan tiap pergantian mentri maka bergantilah kurikulum baru… disi letak dan titik kelemahan implementasi kurikulum saat ini. guru tdak terfokus pada salah satu kurikulum ssaja. lagi pula, metode, strategi, dan model yang sekian banyak pun dapat mempengaruhi kinerja guru di lapangan.

    kemungkinan mentri pendidikan tidak mempertimbangkan dampak negatif bagi guru yang tiap waktu harus mengikuti kegiatan pelatihan dengan beban lain disisi mengajarnya yang tuntutan jam yang sangat banyak.

    saat ini siaapa yang dipersalahkan?

  17. R Muhammad Mihradi

    Kurikulum 2013
    Pertama, saya bukan pendidik, hanya pengajar di perguruan tinggi yang tidak berlatar pendidikan. Sehingga amat minim pemahaman soal kurikulum di pendidikan dasar dan menengah.
    Kedua, dengan argumentasi pertama, maka saya mengomentari kurikulum 2013 dalam optik awam saya. Karena, ketika anak saya di sekolahkan pada sekolah alam, maka setelah baca sekilas mengenai kurikulum 2013, maka sekolah alam (yang menurut pengakuan pendirinya bahwa sekolah alam dicekal kemendikbud) ternyata telah diterapkan sekolah alam. Misalnya mengenai kurikulum pendekatan tematik integratif, sekolah alam hampir 15 tahun sudah melaksanakannya. di sekolah alam, siswa bila sedang belajar menanam tumbuhan, maka tidak hanya mempelajari sisi cara menanam, namun juga ilmu biologi soal tanaman, ilmu agama menyangkut akhlak kita untuk memelihara tanaman dan seterusnya. Jadi satu aktivitas bisa berbagai tematik. Yang mengharukan, sekolah alam membatasi untuk SMA hanya dua tahun karena tahun ketiga hanya perulangan dan akibat itu maka sekolah alam kesulitan perizinan. Semoga ini membuka wawasan pengambil kebijakan.
    Di sekolah alam siswa dilatih tidak hanya teori namun praktik. SMP sekolah alam sudah belajar berdagang ke pasar-pasar, menganalisis hasil jualannya dan merencanakan sisi pemasaran, ketika anak di SMP lainnya sibuk belajar di meja dan dinding semata.
    Saya rasa, bila kemendikbud berbesar hati, belajarlah pada eksprerimen sekolah alam yang mendasarkan pada leadership, akhlak dan enterpreunership, tiga hal yang defisit di republik ini. Moga Mas GM menyempatkan diri mampir ke sekolah-sekolah alam yang menjamur di negeri ini (yang dikenal sekolah tanpa seragam dan raportnya deskriptif narasi, bukan angka-angka) dan kurikulum 2013 baru hendak memperkenalkan raport deskriptif narasi tadi.

  18. junaidi

    yang mau penelitian tentang pendidikan juga menjadi bingung gara-gara kurikulum kami bertanya kepada sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 pun belum mengetahui persis bagaimana penerapannya
    kurangnya sosialisasi dinas pendidikan yang luar biasa kurang

  19. Adib Belaria Abadi

    kalau bagi saya, sistem memang sangat berpengaruh terhadap kualiatas, sedangkan dunia iklan yang ada di TV misalkan: menawarkan prodak pendidikan yang seolah sekarang beli dan besok bisa langsung di lihat hasilnya. dan ini adalah kesalahan besar!
    investasi pendidikan harus dirunut dari hulu sampai hilir, butuh waktu dan komitmen tinggi disamping perlunya peningkatan kualitas guru yang dimuali dari peningkatan persepsi profesi seorang guru yang tidak lebih baik dari seorang pengacara atau dokter.
    kalau berkenan silahkan berkunjung ke….
    http://afektif.com/
    Salam Hangat dan Hormat Dari Sumatera Selatan Untuk Pak Gun.