caping • Kamis, 14 Maret 2013 @ 08:31 diunggah oleh

Pedagang

Pedagang adalah kelas yang dianggap hina di abad ke-18 Jawa. Dalam kitab Wulangreh, yang disebut sebagai karya Pakubuwana IV, ada sederet petuah bagi para aristokrat muda tentang perilaku yang baik dan yang buruk.

how to remove a lipoma

Dalam bagian ke-8, dengan bentuk tembang Wirangrong, disebutkan empat cacat besar yang harus dihindari kaum ningrat. Yang pertama sifat pemadat (wong madati), yang kedua penjudi (wong ngabotohan), dan yang ketiga penjahat (wong durjana). Yang keempat, sifat “orang berhati saudagar”.

….wong ati sudagar awon, mapan suka sugih watekipun, ing rina lan wengi, mung bathine denetang, alumuh lamun kalonga.

…Iku upamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor, mapan nora marem ing tyasipun, ilanga sadhuwut, gegetun patang warsa, padha lan ilang saleksa.

Orang yang berhati saudagar, menurut Wulangreh, hanya menyukai kekayaan. Siang malam cuma laba yang ia hitung, cemas kalau berkurang. “Uang tujuh karung” pun itu tetap tak akan memuaskannya. Ia akan murung “selama empat tahun” bila jumlahnya berkurang sedikit, seakan-akan hartanya lenyap berjuta-juta.

Di dunia Pakubuwana IV (1788-1820) — raja Surakarta yang disebut juga Sunan Bagus — yang ethis berpaut dengan yang esthetis: kehalusan budi ditandai dengan sikap elegan. Itu sebabnya citra kaum saudagar dalam Wulangreh sebenarnya tak ada kaitannya dengan kejahatan atau kebejatan. Di bagian ke-11 kitab itu, Pakubuwana mengecam orang semasanya yang setelah beroleh kedudukan, bersikap seperti pedagang: sibuk membuat perhitungan, ingin serba cepat dapat, hingga tingkah lakunya pun berantakan: polahe salang-tunjang.

Lanjut..