Lakhes
Oleh Goenawan Mohamad,
untuk pertemuan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, 6 Maret 2012.
I
‘Jadi, Nikias, kita belum berhasil menemukan apa itu keberanian’ — Sokrates dalam ‘Lakhes.’
Lebih dari 2000 tahun yang lalu, mungkin setelah musim gugur tahun 424 S.M., usaha untuk memberi definisi tentang ‘keberanian’ gagal. Dalam pertemuan di sebuah palaistra di Athena itu Sokrates dan beberapa orang lain berdebat, mengajukan dan menyoal pendapat, mengusulkan proposisi dan menangkis — terutama antara dua orang jenderal Athena, Nikias dan Lakhes. Sekitar seperempat abad setelah itu, atau katakanlah setelah kematian Sokrates di tahun 399 S.M., Platon, muridnya yang termashur itu, menuliskan dialog itu — mungkin merekonstruksi, mungkin pula menciptakan teksnya dengan separuh imajinasi. Bagian tentang ‘keberanian’ itu diberinya judul ‘Lakhes” (Λάχης).
Kita berterima kasih kepada Romo A. Setyo Wibowo yang — dengan bahasa yang terang dan bersemangat, dengan erudisi dan telaah yang seksama — menerjemahkan, menafsirkan dan menerangkan teks itu. Itulah sebabnya saya dengan senang hati menerima tugas malam ini. Tapi di sini saya tak akan membuat timbangan atas Mari Berbincang Bersama Platon. Keberanian (Lakhes) yang terbit enam bulan yang lalu itu; saya sama sekali bukan seorang yang punya pengetahuan cukup tentang filsafat Yunani. Saya hanya akan berbicara, seraya merenungkan, beberapa pokok soal yang terbangun dari buku itu — dan seperti sudah tampak dari awal paparan ini, saya memulainya dari apa yang terjadi: ‘Lakhes’ adalah sebuah dialog aporetik. Akhirnya para peserta diskusi, para peserta pencarian definisi tentang ‘keberanian’ itu, menemui jalan buntu.
Pada hemat saya, aporia itu tak bisa dihindarkan ketika Sokrates mengarahkan percakapan hari itu ke arah penyusunan definisi. Seperti dikatakan Romo Setyo, Sokrates ‘berambisi mencari definisi universal keberanian’. Sebuah definisi dikatakan ‘universal’, tambahnya, ‘bila bisa diterapkan dan dikenakan pada semua kasus’. Maksudnya, ‘untuk semua manusia dengan perilaku mereka yang beragam’.