caping • Jumat, 3 Februari 2012 @ 18:35 diunggah oleh zen
GAJAH mati meninggalkan belangnya, Aung San mati meninggalkan Suu Kyi.
Tentu, wanita itu bukan hanya seraut gading dari nama besar mendiang ayahnya. Suu Kyi kini pemimpin oposisi untuk hak-hak asasi di Myanmar dan penerima Hadian Nobel Perdamaian 1991. Namun, memang ada yang tak terelakkan bila seseorang jadi anak seorang tokoh pergerakan nasional yang dianggap pahlawan. Komitmen Suu Kyi tak bisa dilepaskan dari ayah itu, Aung San, dan tanah air itu, Myanmar.
Ia memang menikah dengan seorang Inggris, dan ia lebih lama hidup di luar negeri. Tapi, sebelum perkawinannya, ia sudah menulis surat kepada Michael, calon suaminya itu: “… kalau bangsaku memerlukan aku, kau harus menolongku untuk menjalankan kewajibanku bagi mereka.”
Maka ketika Myanmar jadi gelap, setelah sejumlah demonstran yang menentang pemerintah di Rangoon ditembaki, ia tak menampik untuk dipilih sebagai pemegang obor. “Kamu bukan cuma berani karena keyakinanmu, Suu, tapi juga karena hubungan-hubunganmu,” kata seorang teman keluarga.
Lanjut..
Puisi • Jumat, 3 Februari 2012 @ 18:23 diunggah oleh zen
Seseorang akan bebas dan akan selalu
sehijau kemarau
Seseorang akan bebas dan sehitam asam
musim hujan
Seseorang akan bebas dan akan lari
atau letih
Dan langit akan sedikit dan bintang
beralih
Dan antara tiang tujuh bendera dan pucuk pucat
pagoda
Seseorang akan bebas dan sorga akan
tak ada
Tapi barangkali seseorang akan bebas dan memandangi
tandan yang terjulai
Tandan di pohon saputangan, tandan di tebing jalan
ke Mandalay
1996-1997
Puisi • Jumat, 3 Februari 2012 @ 18:21 diunggah oleh zen
Someone will be set free and stay as eternal
as the green of the dry season
Someone will be set free and be as sour-black
as the monsoon
Someone will be set free and will run
or tire
And the sky will shrink and the stars
Shift
And between the pole of the seven flags and the pale peak
of the pagoda
Someone will be set free
and disappear
But perhaps someone will be set free and see
the dangling stems
stems on the handkerchief tree, stems on the slopes of the road
to Mandalay
1996-1997
(translated from the Indonesian version by Eddin Khoo).