caping • Selasa, 16 November 2010 @ 21:04 diunggah oleh zen

Des

Des Alwi adalah seonggok sejarah Indonesia dalam miniatur yang padat. Juga berwarna-warni. Jika kita lihat lelaki ini duduk di bawah pohon ketapang berumur 100 tahun yang menaungi halaman hotelnya di Bandaneira, jika kita ingat sosok yang tambun tinggi itu sudah ada di tempat itu pada 1936 dan, sebagai anak kecil, melihat Hatta dan Syahrir jadi orang buangan yang turun dari kapal dengan paras pucat, kita bisa iri kepadanya: begitu banyak yang telah dilihatnya, begitu beragam pengalamannya, begitu pas ia di pulau Maluku itu. Begitu “Indonesia”.

Des Alwi seperti Bandaneira: elemen yang sering tak diingat, tapi saksi penting dari riwayat Indonesia—dalam hal ini Indonesia sebagai sebuah perjalanan kemerdekaan. “Di sini,” kata Rizal Mallarangeng, yang telah dua kali ke Bandaneira dengan rasa kagum kepada para perintis kemerdekaan yang dibuang ke pulau itu, “bermula apa yang kemudian menjadikan Indonesia.” Dia benar: di sini berawal kolonialisme dan antitesisnya.

Kita bisa baca: di Banda-lah pada 1529 usaha kolonisasi Eropa dipatahkan; di sini kontingen orang Portugis terus-menerus diserang hingga mereka batal membangun sebuah benteng. Hampir seabad kemudian, pada 1609, ketika sepasukan Belanda mencoba memperkuat Benteng Nassau, para pemimpin Banda, disebut “orang kaya”, membunuh laksamana asing itu dengan segenap stafnya.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Jumat, 12 November 2010 @ 17:08 diunggah oleh zen

On Morality and the City: a Response to Abdoumaliq Simone

# A Talk at Serambi Salihara, November 11, 2010

I have to confess that in this conservative time, I am not completely comfortable sitting here to speak of “morality.” The question Abdoumaliq Simone poses in his summary may become a good start for our discussion (“Does morality in the city now mean people leaving each other alone, even as globalization and Facebook brings us all together?”). Yet, morality, to me, is a politically loaded word. My problem is that I see it as a normative order, normally reinforced by the discourse of faith and social cohesion, while I am aware of the incommensurability of such an order with its very claim of universality. I am of the opinion that society, especially in its urban setting, is shaped by a partially settled and historically contingent system of regularities.

Hence there is a perpetual contention. No Hegelian Sittligkeit, or norms of morality operating inside a community generating a natural sense of coherence, is without conflict or exclusion. I am in full agreement with Simone when he quotes James Tully suggesting that today “cultures are continuously contested, imagined, and reimagined, transformed and negotiated, both by their members and through their interaction with others”.

It is interesting that Tully, as Simone quotes him, speaks of the other way of looking at cultures (or other identities like cities, for that matter) which is “a panopticon of fixed, independent and incommensurable worldviews in which we are either prisoners or cosmopolitan spectators in the central tower.” Tully speaks of it negatively. This brings me to what I believe to be an antithesis of the “panoptical” perspective. Being a writer, I find it in works of literature touching upon urban lives and landscapes. These are the kind of modality that articulates, to borrow Michel de Certeau’s description, a “poetic geography on top of the geography of the literal, forbidden or permitted meaning.”

Let me begin with a story by Pramoedya Ananta Toer in his collection, Cerita dari Jakarta, written in the early 1950s. In the story, Aminah, a prostitute, lies down, near death, on a Fromberg Park bench. Suddenly, the past and the present, things distant and near, appear to her simultaneously.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Kamis, 11 November 2010 @ 17:17 diunggah oleh zen

Maridjan

marijan1

Mbah Maridjan: sebuah pertanyaan. Ia tewas di tempatnya bertugas di Gunung Merapi, karena ia sejak lama menolak turun menghindar dari letusan yang telah berkali-kali menelan korban itu. Kesetiaannya mengagumkan, tapi apa arti tugas itu sebenarnya?

Ia, meninggal dalam usia 83, mungkin sebagai pelanjut dari alam pikiran yang dikukuhkan Kerajaan Mataram sejak abad ke-17. Ia pernah bercerita, Merapi adalah tempat terkuburnya Empu Rama dan Permadi, dua pembuat keris yang ditimbuni Gunung Jamurdipa karena telah mengalahkan dewa-dewa. Kedua orang itu tak mati. Mereka hidup, menghuni gunung yang kemudian disebut Merapi itu-yang jadi semacam keraton para arwah. Dan ke sanalah Raja Mataram (Islam) pertama, Panembahan Senapati (1575-1601), mengirim juru tamannya yang berubah jadi raksasa. Si raksasa diangkat sebagai “Patih Keraton Merapi”, dijuluki Kiai Sapujagat. Dengan itu, Panembahan Senapati, yang dikisahkan mempersunting Ratu Laut Selatan, menunjukkan bahwa kuasanya juga membentang ke arah utara. Dan di situlah pelanjut Kerajaan Mataram, atau Yogyakarta sejak abad ke-19, mengangkat orang untuk jadi kuncen Merapi.

Maridjan, yang biasa dipanggil “Mbah”, sejak 1982 diangkat Hamengku Buwono IX untuk tugas itu. Betapa penting kehormatan itu bagi si jelata yang lahir di Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi itu. Ia menyandang gelar kebangsawanan “Raden”; nama resminya Surakso Hargo.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Rabu, 10 November 2010 @ 17:21 diunggah oleh zen

Kayon

Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.

Kayon: lambang gunung, lambang hutan, isyarat untuk awal, isyarat untuk penutup. Dari jauh bentuk itu mirip sebuah siluet segi tiga di bawah cahaya. Tapi dari dekat akan kelihatan di gunungan itu tersembunyi (dalam ukiran yang renik) pohon-pohon rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul. Ada sebuah gapura dengan tempat kunci berbentuk teratai. Ada sepasang raksasa bersenjata yang tegak simetris. Ada harimau, banteng, kera, burung merak dan burung-burung lain. Juga wajah seram banaspati.

Dengan kata lain, di gunungan itu tersimpan bermacam hal, tapi bertaut dalam satu misteri, sesuatu yang angker, tapi juga teduh: sebuah wilayah kehidupan yang lain. Ketika arena di luarnya memaparkan kisah intrik, nafsu, dan perang yang tak henti-hentinya, di kerimbunan yang agung itu hidup berlangsung anteng dan syahdu. Dalam kayon, waktu yang mengalir detik demi detik seakan-akan tak ada lagi. Di dalam gunungan, arus menit dan jam seakan-akan diinterupsi dan distop. Segala hal seakan-akan berada di luar waktu.

Tapi manusia tidak. Ia akan kembali menghadapi, bahkan terlibat dengan, peristiwa-peristiwa yang berubah dan terkadang mengguncang. Terletak terpisah tapi tak jauh dari medan peristiwa, kayon adalah sebuah kontras.

Lanjut..

Bookmark and Share