caping • Senin, 25 Oktober 2010 @ 21:21 diunggah oleh

Teater

Tak cuma menafsirkan kenyataan, tapi juga mengubahnya.

Marx mengemukakan ini, meskipun tak persis begitu, ketika ia berbicara tentang filsafat. Statemennya dapat juga diterapkan untuk ideologi dan agenda politik. Tapi di sini saya ingin mengemukakan hal yang sama untuk sesuatu yang lebih bersahaja: produksi kesenian. Terutama teater.

Teater tak cuma sebuah tafsir atas kenyataan. Bekerja dalam teater mengajarkan kepada saya bahwa pada mulanya memang bukan teks, satu kesimpulan yang juga berlaku untuk hal-hal lain dalam hidup. Ketika saya menulis libretto untuk Opera Tan Malaka, saya menyusun sebuah teks yang agak rinci. Saya sudah merancang bagaimana adegan diaktualisasikan dalam pentas, unsur apa saja yang harus hadir di sana, bagaimana para pemeran bergerak. Tapi dalam proses produksi, banyak hal berubah.

Lanjut..

caping • Minggu, 10 Oktober 2010 @ 18:52 diunggah oleh

Yang-Lain

Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna.

Saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Tapi ia ingat: mantra yang lengkap itu tak diberikan kepadanya oleh gurunya, Rama Bargawa. Sang guru membatalkan memberinya versi yang penuh, karena ia dianggap telah berdusta: ketika ia datang berguru, Karna tak mengaku ia datang dari kasta ksatria kasta yang bagi Rama Bargawa, yang berasal dari kaum brahmana dan punya dendam khusus kepada para ksatria, harus dimusnahkan.

Tapi hamba memang bukan dari kasta itu, Karna ingin memprotes ketika sang guru membongkar “kepalsuan” dirinya. Tapi protes itu, seperti air matanya, harus ia tahan. Ia segera kembali ke asrama, mengemasi pakaian dan busur serta panahnya, lalu pergi seperti dikehendaki: seorang murid yang diusir.

Lanjut..

Pidato • Selasa, 5 Oktober 2010 @ 15:35 diunggah oleh

Pada Mulanya Bukanlah Negara

Language and, presumably, literature are things that are more ancient and inevitable, more durable than any form of social organization

Joseph Brodsky

I

Penyair, seperti Joseph Brodsky, adalah saksi bahwa bahasa memang tak mudah dijinakkan. Brodsky menerima Hadiah Nobel di tahun 1987, sekian belas tahun setelah ia dianggap ‘benalu masyarakat’ (tuneyadets) oleh Pemerintah Uni Soviet, dan dimasukkan ke klinik orang sakit jiwa, dan kemudian dikurung di sebuah penjara Leningrad, dan kemudian dikirim ke tempat kerja paksa di wilayah Arkhangelsk, dan kemudian, di tahun 1972, dibuang ke luar negeri: ia menerima sebuah penghargaan tinggi untuk kepenyairannya seraya jadi bukti bahwa kesusastraan adalah gejala bahasa yang tak bisa dijebak, dan bahwa bahasa itu sendiri adalah sebuah arus yang tak bisa dijangkau oleh kekuasaan dari luar dirinya — khususnya kekuasaan Negara. Bahasa, kata Brodsky, ‘lebih mampu untuk mutasi’. [1]

Tiap kali kita berbicara tentang hubungan antara bahasa dan kekuasaan, kita akan kepergok dengan ‘mutasi’ itu.

Itu sebabnya beberapa premis patut dipersoalkan kembali. Seperti dalam statemen ini:

Lanjut..