caping • Kamis, 24 Juni 2010 @ 00:48 diunggah oleh zen
… dia menebarkan ketakutan di benak para musuh kami, dia memberi kekuatan yang lebih hebat ketimbang 1.000 bek dan 10.000.000 kiper.”
Ri Myong-guk, penjaga gawang Korea Utara, menjelang pertandingan di Piala Dunia.
Tuhan dan Kim Jong-il tak datang ke Afrika Selatan. Tapi tiap kesebelasan yang bertanding di Sokkerstad yang mirip belanga Afrika itu harus mengerahkan kekuatan apa saja, termasuk yang gaib, untuk menang. Bagi kiper Korea Utara, Ri Myong-guk, yang gaib adalah kepala negaranya, Kim Jong-il. ”Dia pemain terpenting kami,” katanya tentang tokoh sakit-sakitan yang malam itu mungkin sedang terbaring di Istana Presiden di Pyongyang, 12.447 kilometer jauhnya dari Johannesburg.
Syahdan, pada malam dingin menggigit itu, Ri dan 10 kawannya berjuang. Ratusan juta penonton di seluruh dunia menyaksikan bagaimana tim Korea Utara bermain gigih, rapi, efektif.
Tapi mereka melawan Brasil, juara dunia lima kali. Mereka kalah: 2-1—meskipun kalah dengan bangga, karena mereka telah menunjukkan permainan yang mengesankan. Dunga, manajer tim Brasil, mengakui, ”Sangat berat menghadapi lawan yang begitu gigih dan begitu defensif.” Kata Ri, yang memimpin lini belakang, ”Saat menjaga gawang rasanya seperti menjaga gerbang tanah airku.”
Lanjut..
Esei • Senin, 14 Juni 2010 @ 12:20 diunggah oleh zen
Juni adalah bulan Bung Karno—kesempatan kita mengenang yang kecil dan yang besar dari tokoh ini.
Ada satu kejadian dalam riwayat yang direkam Cindy Adams: ketika Bung Karno pertama kali menikah, ketika ia jadi mempelai bagi Utari.
Utari adalah putri H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, yang menampung Soekarno sewaktu anak kepala sekolah dari Blitar itu berumur 14 tahun dan datang ke Surabaya untuk masuk HBS, sekolah menengah Belanda. Hubungan antara Soekarno dan Tjokroaminoto makin lama makin erat. Pemuda ini praktis jadi kadernya dalam pergerakan. Ia tinggal di rumah keluarga itu sampai 1920, sampai ia lulus dari HBS dan melanjutkan ke Technische Hooge School di Bandung.
Tapi, sebelum itu, Nyonya Tjokroaminoto wafat. Kesedihan merundung suaminya, yang ditinggal dengan beberapa anak yang masih remaja. Mereka dan anak-anak yang indekos, termasuk Soekarno, pun pindah ke rumah lain. Tapi Tjokroaminoto tak terlipur penuh. Untuk meringankan hati orang tua itu, Soekarno memutuskan untuk menikahi Utari—meskipun masih merupakan ”perkawinan gantung”, sebab Utari masih 16 tahun dan Soekarno sendiri baru 20.
Lanjut..
caping • Kamis, 3 Juni 2010 @ 16:26 diunggah oleh zen
Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembalilah ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.
Hari itu 16 Maret yang tak tercatat, karena hari selalu tak tercatat dalam kehidupan orang Palestina, orang-orang yang tahu benar, dengan ujung saraf di tungkai kaki mereka, apa artinya “sementara”. Juga di Kota Rafah itu, di dekat perbatasan Mesir, tempat hidup 140 ribu penghuni-yang 60 persennya pengungsi-juga pengungsi yang terusir berulang kali dari tempat ke tempat. Pekan itu tentara Israel datang, seperti pekan lalu, ketika 150 laki-laki dikumpulkan dan dikurung di sebuah tempat di luar permukiman. Tembakan dilepaskan di atas kepala mereka, sementara tank dan buldoser menghancurkan 25 rumah kaca yang telah mereka olah bertahun-tahun dan jadi sumber penghidupan 300 orang-orang-orang yang sejak dulu tak punya banyak pilihan.
Tentara itu mencari “teroris”, katanya, dan orang-orang kampung itu mencoba melawan, mungkin untuk melindungi satu-dua gerilyawan, mungkin untuk mempertahankan rumah dan tanah dari mana mereka mustahil pergi, karena tak ada lagi tempat untuk pergi.
Lanjut..
Esei • Selasa, 1 Juni 2010 @ 18:03 diunggah oleh zen
Published by the South-South Exchange Programme for Research on the History of Development (SEPHIS) Amsterdam, 2003
It has been more than a year, since I spoke in Tasmania, of all places, about what it means being Indonesian, living in a cata-clysmic time, a time when different religious groups committed large-scale atrocities against each other in several islands of the Malukus, when gruesome TV footages told stories of native Kalimantan suku’s slaughtering Maduranese immigrants, when government soldiers shot a great number of angry citizens in Aceh and in West Papua, labelling them, or not labelling them, as “separatists”. The frenzy has generated widespread feeling of hatred and sense of loss among people at large. The nation’s mood was grim, and sad, and indignant. The Yugoslavian break-up, with much blood and iron (and Yugoslavia was always closer to the Indonesian understanding of the world than say, France) was sitting like a nightmare in the mind of many concerned people in this vast, intricate, perpetually precarious, archipelago.
During this period I met with some members of the Free Aceh Movement, as part of my job to disseminate stories of Indonesian military’s violation of human rights in various places in Indonesia, particularly in Aceh. During these meetings I learned about their harrowing, drawn-out struggle to have their own country, I learned about their pain, their hope and their ideas, and I began to have the feeling that someday these people will carry the day, and Indonesia will have no more Aceh – something which somehow made me very, very sad.
Months later I went to Wamena, a beautiful but listless, cheerless frontier-town in West Papua. Disguised myself, oddly, as a Jesuit, I met with a group of people jailed and tortured by the police – people, some of them are educated members of the local community, whose only crime was trying to hoist their flag, their Papuan flag, next to the red-and-white, the national flag, my flag, on a day they wanted to commemorate. Talking with them in a the small, quiet, Wamena prison, I noticed how strong was their belief in what they were doing, a belief uttered in the thick of their low-voiced expressions of rage, a rage that called their ‘them’ ‘Indonesia’, instead of ‘the government.’ On my return, I began to wonder why should this piece of geography, called “Indonesia”, which was essentially a historical accident, cover this area, so distant from, and so ignored by, the rest of the country where most people live. It was a disturbing piece of thought, I must say, especially because Papua, the land where my parents were interned as political exiles in the 1920s, and where one of my brothers was born, has always been a part of my family history.
Lanjut..