caping • Senin, 31 Mei 2010 @ 17:51 diunggah oleh zen

Waisak

Bayi yang kemudian jadi Buddha itu lahir ketika sang ibu memegangi sebatang dahan pohon Sal di Kebun Lumbini.

Adakah ini lambang pertautan antara bayi yang suci itu dengan kehidupan yang bersambung ke ranting dan daun—dari mana oksigen menyebar dan di mana burung pengembara menemukan tempat jeda?

Saya tak tahu. Orang besar yang lahir lebih dari 2.500 tahun yang lalu akan selalu tumbuh dengan legenda, dan tiap legenda punya pertanyaan yang tak pernah putus. Tapi beberapa ”data” dari kehidupan Buddha agaknya bisa jadi bahan percakapan—setidaknya antara saya, yang bukan Buddhis, dan para pembaca, yang mungkin di antaranya Buddhis.

Sang Buddha, seperti kita tahu, lahir sebagai Pangeran Siddharta. Ayahnya, Suddhodhana, adalah Raja Kapilavastu, wilayah di kaki Himalaya. Keluarga ini bagian dari klan Gautama, yang termasuk wangsa Shakya. Dari kitab Jataka kita dapat sedikit cerita tentang kehidupan para aristokrat itu.

Lanjut..

caping • Ahad, 23 Mei 2010 @ 04:24 diunggah oleh zen

Tertib

Saya tak tahu benarkah Tuhan hanya menghendaki dunia yang tertib.

Ada sebuah cerita detektif yang ganjil yang ditulis G.K. Chesterton, The Man Who Was Thursday. Buku ini lain dari cerita detektif biasa: ujungnya mirip sebuah renungan tentang Tuhan—bermula dari ketegangan antara anarkisme dan ketertiban, dengan tokoh seorang agen Scotland Yard yang menyamar sebagai penyair.

Cerita dibuka dengan senja di Saffon Park, sebuah wilayah di tepi Kota London. Di lingkungan rumah-rumah berbatu bata warna terang itu hidup sebuah ”dukuh artistik”, artistic colony. Buku ini tak menyebutnya ”dukuh seniman”, sebab tempat itu tak pernah memproduksi karya seni apa pun. Keistimewaannya: enak dipandang.

Tapi kita diantar untuk tak menyukai suasana di sana. Terutama karena penghuninya. Ada orang bertampang penyair yang semenarik syair, tapi ia sendiri bukan penyair. Atau si Fulan yang berlagak filosof tapi sebenarnya sosok yang bisa membuat filosof merenung. Para wanitanya menyatakan diri bebas, tapi suka memuji para lelaki dengan berlebihan. Orang yang memasuki atmosfer sosial tempat itu akan merasa seperti ”memasuki sebuah komedi yang telah ditulis”.

Lanjut..

caping • Ahad, 16 Mei 2010 @ 19:26 diunggah oleh zen

Gelap

Siang itu saya lihat seorang perempuan berjilbab duduk tekun di depan sebuah mikroskop di sebuah lab. Saya teringat Kartini.

Dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902, Kartini mencantumkan seuntai kwatrin:

Door nacht tot licht
Door storm tot rust
Door strijd tot eer
Door leed tot lust

Banyak orang meleset dari sajak pendek ini. Buku kumpulan surat Kartini yang pertama terbit pada 1911 berjudul Door Duisternis Tot Licht. Kalimat itu agaknya dipilih J.H. Abendanon, pejabat pemerintahan Hindia Belanda yang bersemangat mendukung putri Bupati Jepara itu. Abendanon pula yang menyeleksi surat-surat gadis itu dan menerbitkannya. Penyair Armijn Pane kemudian menerjemahkan buku itu jadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dengan judul itu agaknya orang menemukan sebuah metafor untuk menggambarkan pergulatan Kartini membebaskan diri dari dunia adat yang kuno, kolot, dan mengekang. ”Terang” (licht) adalah kiasan untuk pencerahan sikap dan pikiran: tanda emansipasi dari yang mengekang itu.

Lanjut..

Puisi • Jumat, 14 Mei 2010 @ 18:01 diunggah oleh zen

A Woman Who Was Pounding Salt

In the corner of her eternal kicthen
a woman was pounding salt in her mortar.
“I will create hope,” she said, “on the black stone.”
Smoke was never brief. Its ceiling was the color of the world
in Jeremiah’s dreams.

She herself mused on fish in an aquarium, swimming,
like lazy balloons unaware of their own painted sign
in the sky. “They are the ones who dreaming,”
the said to herself.

Even if she had her own dreams. She dreamt of mounds of flour,
drizzling, like grumbling. On as grassland. Half a dozen
people running, escaping, from the sun. “They are all my
children,” she said. “All are my children.”

But the did not know where they went, because thay had not returned since. The youngest, from some Russian town, never
wrote. The eldest had simply vanished. The other four has sent
only one letter with a single sentence,
“We are but traitors, Ma.”

Perhaps there was still a young woman left, on a distant prayer rug, (or maybe that was just a dream returning,)
who did not know her. She often communicated with the silent
language of a factory smoke. She dared not know who she was.
She dared not know.

In the corner of her eternal kitchen
a woman was pounding salt in her mortar.

caping • Jumat, 14 Mei 2010 @ 17:46 diunggah oleh zen

Three Pictures

In the seventeenth century the kingdom of Mataram was ruled by Amangkurat I. Almost all historical records of the time mention his cruelty. “If he felt a bit unhapy,” wrote the Javanese chronicle writers as quoted by Raffles in The History of Java, “he would murder those who were thought to be cause of his unhappines.”

He once gathered together six thousand people in the town square – Islamic religious teacher with heir wives and children. Then , after a signal given by the firing of a cannon, they were all slaughtered in less than thirty minutes. He once put sixty fisherman into a dark cell and left them there to starve to death, because he was upset that one his wives had hied. When he found out that the Crown Prince had taken one of his own concubines, Amangkurat ordered all those involved decapitated, and then commanded his son to stab the young woman while embacing her.

The Babad Tanah Jawi describes this reign of terror in a very matter-of-fact-way, but the dread is nonetheless apparent. All Mataram lived in terror, the chronicle relates. The rains fell out of reason, there were earthquake, and meteors appeared in the sky every day at dark.

Lanjut..

Esei • Kamis, 13 Mei 2010 @ 00:01 diunggah oleh zen

Dari Penjara ke Pigura

Hubungan seni rupa dengan kemerdekaan dimulai dari awal, ketika kuas atau pahat menyentuh bahan. Garis, warna, bidang dan bentuk pun muncul, dan tampak bahwa – terutama dalam seni modern – di sana tak ada satu geometri yang tetap dan pasti. Semua gerak membebaskan diri dari itu. Bahkan juga pada karya Mondriaan: ia menorehkan goresan horisontal dan vertikal dalam kanvas dengan “kesadaran”, katanya, bukan dengan “kalkulasi”.

Warna hampir tanpa batas variasinya, bentuk bisa dalam berjuta-juta beda, dan gerak tangan terkadang memilih arahnya sendiri. Pendeknya, sang perupa bertindak di tengah hal ihwal yang tak sepenuhnya dapat diketahuinya: sebuah situasi di tebing khaos, tapi menjelang ada bentuk. Sang perupa memilih langkah. Makin lama memang makin tampak sebuah sosok. Tapi kita akan tahu, di dasarnya membayang sesuatu yang sengkarut: sesuatu yang tetap tak bisa diutarakan. Besoknya sang perupa pun melukis lagi.

Barangkali penciptaan adalah sebuah “kejadian”.

“Kejadian” — kata ini saya pungut sekenanya dari Alain Badiou — adalah sesuatu yang tak dapat diperhitungkan lebih dulu. Ia mirip loncatan ke dalam gelap. Tapi dengan itu sebuah situasi yang tampak utuh pun terkuak, sebuah kosmos ambrol, dan sesuatu yang baru lahir – seakan-akan ditemukan dan diutarakan buat pertama kalinya dalam hidup.

Lanjut..

caping • Rabu, 12 Mei 2010 @ 22:56 diunggah oleh zen

Zapatista

Di negeri ini, di mana politik berlangung tanpa keyakinan, tapi juga tanpa ironi, saya ingat akan seorang ramping yang bertopeng dan bersenjata, yang keluar dari kancah gerilya di hutan Lacandon di pedalaman Meksiko, dengan kantong peluru di pinggang tapi mengisap pipa kecil seperti seorang penyair yang melamun.

Ia menarik bukan hanya karena ia sebuah sosok yang fotogenik. Ia menarik karena ia, Subcomandante Marcos, adalah contoh sebuah perjuangan dengan keyakinan tapi sekaligus dengan kesadaran akan ironi, seorang yang bertindak untuk sebuah perubahan besar tapi dengan kepekaan akan batas, seorang pemimpin sayap militer gerakan Zapatista yang mencoba memahami sifat perjuangannya sendiri sebagai sebuah paradoks.

“Apa yang harus kita ceritakan adalah paradoks yang sesungguhnya adalah kita,” katanya dalam sebuah wawancara dengan mendiang Gabriel Garcia Marquez, yang dimuat versi Inggrisnya dalam New Left Review nomor Mei-Juni 2001.

Ada yang ganjil memang dalam EZLN, sebuah singkatan untuk tentara pembebasan nasional Zapatista. “Tentara kami sangat berbeda dengan yang lain-lain, karena tentara ini menyarankan agar berhenti sebagai sebuah tentara,” kata Marcos. “Seorang prajurit adalah seseorang yang absurd yang harus menggunakan senjata untuk meyakinkan orang lain; dan dalam arti itu gerakan ini tak punya masa depan jika masa depannya adalah militer.”

Lanjut..

caping • Rabu, 12 Mei 2010 @ 20:13 diunggah oleh zen

Protes

DI daerah pesisir utara Jawa Tengah yang datar dan berdebu, di pertengahan abad ke-19, seseorang menulis sejumlah buku. Ia adalah Haji Mohamad Rifangi.

Waktu itu usianya pasti sudah agak lanjut. Ia dilahirkan pada1786 di wilayah Kendal, beberapa puluh kilometer dari Semarang. Ia juga pasti orang yang berilmu dan berpengikut. Ia anak seorang pengulu, dan itu berarti bukan seorang santri kampung sembarangan. Pada satu tahap dalam riwayatnya, ia berangkat ke Mekkah, dan bermukim selama delapan tahun. Setelah itu, ia kembali, ke tempat ia dilahirkan. Tapi sikapnya berubah.

Ia bentrok dengan para ulama. Baginya, kehidupan beragama sebagaimana yang dilihatnya di sekitarnya itu keliru. Dan ia mengutarakan soal itu dengan keras. Mungkin karena ini, ia sempat difitnah dan masuk penjara. Tapi Rifangi punya nasib baik: setelah istrinya meninggal, ia menikah dengan janda demang yang makmur. Lepas dari penjara, Rifangi pun pindah ke Kalisalak, mendirikan pusat pengajian dan menulis sejumlah buku.

Lanjut..

Puisi • Rabu, 12 Mei 2010 @ 19:53 diunggah oleh zen

Perempuan Itu Menggerus Garam

Perempuan itu menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.
“Aku akan menciptakan harapan,” katanya, “pada batu hitam.”
Asap tidak pernah singkat. Bubungan seperti warna dunia
dalam mimpi Yeremiah

Ia sendiri melamunkan ikan, yang berenang di akuarium,
seperti balon-balon malas yang tak menyadari warnanya,
ungkapannya, di angkasa. “Merekalah yang bermimpi,”
katanya dalam hati.

Tapi ia sendiri bermimpi. Ia memimpikan busut-busut terigu, yang
turun, seperti hujan menggerutu. Di sebuah ladang. Enam
orang berlari seakan ketakutan akan matahari.
“Itu semua anakku,” katanya. “Semua anakku.”

Ia tidak tahu ke mana mereka pergi, karena sejak itu tidak ada
yang pulang. Si bungsu, dari sebuah kota di Rusia, tak pernah
menulis surat. Si sulung hilang. Empat saudara kandungnya
hanya pernah mengirimkan sebuah kalimat,
“Mak, kami hanya pengkhianat.”

Barangkali masih ada seorang gadis, di sajadah yang jauh,
(atau mungkin mimpi itu hanya kembali,)
yang tak mengenalnya. Ia sering berpesan dengan
bahasa diam asap pabrik. Ia tak berani tahu siapa dia,
ia tidak berani tahu.

Perempuan itu hanya menggerus garam pada cobek
di sudut dapur yang kekal.

1995

caping • Rabu, 12 Mei 2010 @ 19:43 diunggah oleh zen

Cul-de-Sac

Politik jadi sebuah cul-de-sac ketika ia selamanya ditentukan oleh penghitungan kekuatan. Ia hanya jalan bolak-balik di tempat yang sama, di gang buntu itu, ketika ia kehilangan panggilan untuk melintasi langkahnya sendiri yang diukur. Para pelakunya jadi penunggang yang pada dasarnya anteng di komedi kuda-putar: mereka menerima kenyataan bahwa politik adalah persaingan bukan untuk memperoleh hal-hal yang muluk dan rumit, melainkan untuk mendapatkan apa yang mungkin saja.

Persoalannya, memang, adakah sesuatu yang lain – katakanlah yang muluk dan rumit — yang bisa menyeru dan memukau di luar cul-de-sac itu? Adakah sebuah cakrawala yang ingin diraih, bukan berupa kekuasaan yang lebih besar, melainkan apa yang “baik” bagi kehidupan bersama, sesuatu yang membuat manusia bukan sekedar elemen pasif dari sebuah situasi?

Bahwa kini pertanyaan itu timbul, itu karena zaman makin lama makin dibentuk oleh skeptisisme. Bahkan mungkin sinisme. Hidup sepenuhnya dianggap percaturan kekuasaan; tak ada yang di luar itu. Juga ketentuan mana yang “baik” dan “buruk” dianggap sebagai nilai-nilai yang dibuat dan ditentukan oleh adu kepentingan dan daya pengaruh; bukan oleh sesuatu yang transendental.

Lanjut..