caping • Selasa, 27 April 2010 @ 00:18 diunggah oleh zen

Buku

— untuk Hari Buku, 2010

Buku bisa bertaut dengan trauma, setidaknya dalam pengalaman saya.

Ketika saya berumur hampir enam, tentara pendudukan Belanda menangkap ayah dan menggeledah seisi rumah. Di hari itu, setelah bapak diikat tangannya dan dinaikkan ke atas truk, kami sekeluarga duduk ketakutan. Satu kejadian masih saya ingat: dua orang serdadu mengangkut sejumlah buku dari kamar kerja ayah dan melemparkan jilid-jilid itu ke dalam sumur.

Saya tak tahu buku apa yang dibuang, dan kenapa. Yang penting bagi saya hanya ini: sorang serdadu mematahkan bedil kayu mainan saya dan membuangnya juga ke dalam sumur.

Buku dan senapan mainan: tanda permusuhan? Beberapa puluh tahun kemudian seorang kakak saya yang dekat dengan ayah (saya agak jauh dari beliau) ingat bahwa di perpustakaan bapak ada buku dengan sampul bergambar Karl Marx. Mungkin kitab macam itu yang harus ditiadakan. Juga senjata, serius ataupun tidak.

Lanjut..

Puisi • Senin, 26 April 2010 @ 13:58 diunggah oleh zen

Autumn Quatrains

I

And so, in the cold, the process begins: the night arrays the leaves,
making the death bed.
Day will end the year
before it finally departs.

II

Soon it will die,
the sun that heards children to the beach.
Leaving only drizzle.
Shifting colors. And you do not understand.

III

On the calendar the season is mute.
Even I am bored with the calendar.
Beneath the red leaves, Your footprints areu burried
still and unchanged. The summer was so great.

IV

The latest news is snow.
A distant murmur, ushered by time.
We pray no more. We fail to know.
We have only dusk, the worn-out final heat.

Translator: Laksmi Pamuntjak

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]

Puisi • Senin, 26 April 2010 @ 13:46 diunggah oleh zen

Kwatrin Musim Gugur

I

Di udara dingin proses pun mulai: malam membereskan daun
menyiapkan ranjang mati.
Hari akan melengkapkan tahun
sebelum akhirnya pergi.

II

Kini akan habis matahari
yang membujuk anak ke pantai
Tinggal renyai.
Warna berganti-ganti. Dan engkau tak mengerti

III

Pada kalender musim pun diam.
Pada kalender aku pun bosan.
Di bawah daun-daun merah, bersembunyi jejak-Mu singgah
Sunyi dan abadi. Musim panas begitu megah.

IV

Kabar terakhir hanya salju
Suara dari jauh, dihembus waktu
Kita tak lagi berdoa. Kita bisa menerka
Hanya ada senja, panas penghabisan yang renta

1967-1968

Esei • Senin, 26 April 2010 @ 13:35 diunggah oleh zen

Rusli dalam Wuwei

Rusli adalah serangkaian gores dan kuas yang seakan-akan tak selesai, warna yang tidak mengorak meriah seperti kembang dalam kebun yang lengkap, kanvas yang seakan-akan selalu menunggu.

Lukisannya adalah sebuah laku wuwei. Dalam pengertian Taoisme, kata itu konon berarti keadaan tidak melakukan apa-apa, tapi justru banyak hal terjadi karena itu.

***

Ada sebuah sajak Bertolt Brecht tentang Lao Tze. Dan dari sana kita menyadari bagaimana bahasa bekerja dalam puisi: seperti air yang lembut bergerak, yang mengikuti arahnya sendiri, di mana sang penyair tak hadir secara kukuh. Bahkan seakan-akan ia telah menanggalkan dirinya. Tapi, arus bahasa itulah yang membasuh kata-kata dari maknanya yang mandeg, dan dengan itulah kata-kata muncul bercahaya, saat mereka saling bersentuhan.

Lanjut..

Esei • Senin, 26 April 2010 @ 13:31 diunggah oleh zen

Dari Penjara ke Pigura

Hubungan seni rupa dengan kemerdekaan dimulai dari awal, ketika kuas atau pahat menyentuh bahan. Garis, warna, bidang dan bentuk pun muncul, dan tampak bahwa – terutama dalam seni modern – di sana tak ada satu geometri yang tetap dan pasti. Semua gerak membebaskan diri dari itu. Bahkan juga pada karya Mondriaan: ia menorehkan goresan horisontal dan vertikal dalam kanvas dengan “kesadaran”, katanya, bukan dengan “kalkulasi”.

Warna hampir tanpa batas variasinya, bentuk bisa dalam berjuta-juta beda, dan gerak tangan terkadang memilih arahnya sendiri. Pendeknya, sang perupa bertindak di tengah hal ihwal yang tak sepenuhnya dapat diketahuinya: sebuah situasi di tebing khaos, tapi menjelang ada bentuk. Sang perupa memilih langkah. Makin lama memang makin tampak sebuah sosok. Tapi kita akan tahu, di dasarnya membayang sesuatu yang sengkarut: sesuatu yang tetap tak bisa diutarakan. Besoknya sang perupa pun melukis lagi.

Barangkali penciptaan adalah sebuah “kejadian”.

Lanjut..

Pidato • Rabu, 21 April 2010 @ 20:15 diunggah oleh zen

Habis Gelap Terbitlah Terang

– A speech for the Ubud Literary Festival (11 October 2004)

Today, as the organizer of this unusual gathering told me, we are here to celebrate a transition ‘from darkness to light’. I must confess that when I heard the idea for the first time, I thought it had something to do with a typically Balinese problem – which is how to be free from a chronic blackout.

Later I was told that the phrase has a double import. And I found it to be quite powerful.

One is a metaphor for the change of ambience currently taking place in Indonesia — from a life of hatred, destruction and fear, to a life of trust and openness. The two bombs that killed almost 200 innocent people in Kuta in 2002 left a deep wound here and in other places, but Indonesia’s 2004 peaceful and free elections seem to redeem a lost hope.

The second meaning behind ‘from darkness to light’ refers to a book published in 1911. The book I am referring to is Door duisternis tot Licht, as it is called in Dutch, or, in the Indonesian version, Habis Gelap Terbitlah Terang. I am sure many of you have heard about it: it is a book comprising letters, tormented but thoughtful, written by the first Indonesian feminist, Kartini. Today’s gathering, initiated and organized by women from different parts of the world, is designed also to commemorate her. Kartini died in 1904, so this is a centennial memorial.

Lanjut..

Esei • Rabu, 21 April 2010 @ 20:11 diunggah oleh zen

Kartini, Sebuah Persona

Kartini: satu tokoh epik dan tokoh tragik sekaligus. Dalam pelbagai segi ia memenuhi syarat untuk itu: perempuan rupawan, cerdas, perseptif, pemberontak tapi juga anak bupati Jawa, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur 24 tahun.

Tak mengherankan bila pemikir feminisme Indonesia awal ini lebih sering dihadirkan dalam bentuk “siapa”. Sepengetahuan saya, masih sedikit usaha meletakkan pikiran dan argumen Kartini – yang kemudian diterbitkan setelah ia meninggal – dalam kaitannya dengan pikiran dan argumen orang cendekia lain di awal abad ke-20, seperti H.O.S Tjokroaminoto, Tan Malaka, Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, S.Takdir Alisyahbana, Syahrir dan lain-lain, ketika masyarakat Indonesia menghadapi soal-soal modernitas dan identitas, kemajuan dan tradisi, kondisi kolonial dan pembebasan, agama dan semangat Aufklärung.

Surat-surat Kartini kepada Stella Hollander, (seorang perempuan muda biasa di Negeri Belanda, yang tahu sedikit-sedikit tentang “Hindia” melalui bacaan dan perspektif kaum “progresif”) dapat bermanfaat untuk itu: membahas Kartini bukan sebagai tokoh, tapi pokok. Dari sini kita akan dapat mengikuti, misalnya, deskripsi dan tinjauannya tentang hubungan antara birokrasi kolonial dan rakyat setempat, antara birokrasi itu dan pemerintahan Hindia Belanda – dalam perbandingan dengan gambaran Multatuli dalam Max Havelaar — penggunaan dan penyalah-gunaan kekuasaan dan simbul-simbulnya, juga reaksinya terhadap keadaan pathologis masyarakat waktu itu, yang hidup di bawah diskriminasi rasial dan apartheid bahasa.

Menarik juga untuk mencoba melihat apa yang tidak disentuh Kartini. Lanjut..

caping • Rabu, 21 April 2010 @ 19:59 diunggah oleh zen

Monginsidi, Chairil, Kartini….

Shot? so quick, so clean an ending?
Oh that was right, lad, that was brave
Yours was not an ill for mending,
’Twas best to take it to the grave

– A.E. Housman (1859-1936)

Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar, tanggal 5 September 1949.

Ada yang mencatat bahwa beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu memberi maaf kepada regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Mungkin saat itu ia menukil Injil Lukas yang merekam apa yang dikatakan Yesus di saat-saat penyaliban. Tapi mungkin juga ia – yang tak mau meminta grasi kepada pemerintahan kolonial — sudah lama menerima apa yang datang bersama zamannya.

Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi — sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya — ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya “sebagai bunga yang sedang hendak mekar…digugurkan oleh angin yang keras”.

Lanjut..

Pidato • Rabu, 14 April 2010 @ 16:49 diunggah oleh zen

In a Time of Intolerance

Let me begin with a compliment. In this part of the world, I mean in South-East Asia, journalists are invariably regarded as suspicious individuals or, if not, a worrying lot; so it is a commendable decision on the part of The Temasek Foundation and the Wee Kim Wee School of Communication and Information to invite them to be the central part of our gathering today.

In parallel, I would like to thank both institutions for giving me the honour to speak at this special event.

As kindly suggested to me by Prof. Cherian George, Head of Journalism & Publishing Department of the Wee Kim Wee School, the topic of our conversation today is the role of journalism in a time of intolerance.

I trust that you all agree that the word “intolerance” should be on our radar screen today. It is a burning issue that prompts us to pay heed to, given the daily savagery we have been exposed to by the media.

Lanjut..

Puisi • Rabu, 14 April 2010 @ 04:20 diunggah oleh zen

Kwatrin tentang Sebuah Poci

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973

————————————————-
Ini adalah satu dari sekian sajak Goenawan Mohamad yang digubah oleh komposer Tony Prabowo. Keduanya beberapa kali berkolaborasi, termasuk mementaskan opera yang naskahnya ditulis oleh Goenawan Mohamad. Mengenai gubahan Tony Prabowo atas sajak Kwatrin tentang Sebuah Poci ini, sebuah catatan dari Sinar Harapan melaporkan:

Lanjut..