Humanisme dalam Pemikiran Tokoh-tokoh Indonesia
Humanisme dalam Pemikiran Tokoh- tokoh Indonesia: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer. Salihara, Sabtu, 20 Juni 2009, 16:00 WIB.
Humanisme dalam Pemikiran Tokoh- tokoh Indonesia: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer. Salihara, Sabtu, 20 Juni 2009, 16:00 WIB.
I WAS in New York on September 11, 2001. I was still in New York in the wake of The Attack – some five days after they destroyed the Twin Towers and killed more than 4000 people. I saw how the City suffered, and felt its agony. But during the terror, the grief, and the anger pervading the rest of the country, I was particularly struck by what I saw as God’s return to the public arena. People spoke, sang, or scribbled words calling His name, trusting His mercy, affirming His power.
Religion is no longer a mere “experience”, something related to, as Williams James puts it, “the individual pinch of destiny”. Religion has become, once again, a restorative site of social solace, and a rallying cry among the indignant. And this applies to countries far away from the United States, countries in which God has different names and is beseeched for different aims.
I think it’s about such phenomenon that Clifford Geertz, modifying James’s thesis, speaks of “personal inflections of religious engagement that reach far beyond the personal into the conflicts and dilemmas of our age.” 1
This may tell us something about our time. Probably for this reason, the anthropologist persuades us to learn more about this “vast remaking of judgment and passion.” This “vast remaking,” however, can blur one’s view of different “personal inflections of religious engagement.” On that account, Geertz suggests that we need “the sort of inquiry” that James pioneered, i.e. “the sort of openness to the foreign and unfamiliar, the particular and the incidental.”
DI MANAKAH letak nilai puisi? Yaitu, antara kemampuannya berkomunikasi dengan pembaca dan bagaimana dia bisa menjadi ajang si penyair untuk unjuk gaya; Antara puisi terang-benderang dan puisi gelap; Antara puisi yang selempang pengumuman dan puisi yang rumit tak dimengerti; Antara puisi yang terlalu menghamba pada pembaca dan puisi yang tak peduli pada pembaca.
Ada rumusan sangat bagus dari Goenawan Mohamad soal nilai puisi dan bagaimana puisi harus bisa berkomunikasi dengan pembaca. Saya [baca: Hasan Aspahani] menyimpulkannya dalam enam butir dan memberi penjelasan — tepatnya penafsiran semampunya — sebagai berikut ini:
Pasal 1. Dalam puisi, pada mulanya adalah komunikasi. Karena itu, puisi yang tidak palsu dengan sendirinya dan sudah seharusnya mengandung kepercayaan kepada orang lain, yaitu pembacanya.
Penjelasan: Penyair percaya bahwa pembaca puisinya bisa menerima bahkan menikmati puisi dan pesan yang ada dalam puisinya. Niat awal dari penyair adalah keinginan untuk berkomunikasi dengan pembacanya lewat puisi, bukan sekadar unjuk gaya, berakrobat kata-kata. Ini tentu saja bukan sebuah komunikasi yang praktis, seperti komunikasi kita dengan penjaga kios rokok di tepi jalan, ketika kita ingin beli rokok.
“The lizards, my love, are talking about us.
Nonsense, in other words.”
So said the king to his queen that night.
The passion of bed sated,
silence slipped between bones and sheets.
“Why not believe me? Your dreams shall convince you
as surely as the morning sun.”
The woman broke into tears when Anglingdarma drew up
the seets to cover again her naked breasts; his breath cold
while he kissed her hair.
At morning’s light she tjrew herself upon the burning pyre.
And His Majesty did discern a way to force him to
take flight –with the help of gods
no one knew from whence they came– a way to be untrue.
“Batik Madrim, Batik Madrim, why, then, O Vizier?
Why should one hold constancy more dear than
life and so on and so forth?”
1971
Translator: Nancy Florida
———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]
“Cicak itu, cintaku, berbicara tentang kita.
Yaitu nonsens.”
Itulah yang dikaakan baginda kepada permaisurinya, pada malam itu. Nafsu di ranjang telah jadi teduh dan senyap merayap antara sendi dan sprei.
“Mengapakah tak percaya? Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi.”
Perempuan itu terisak, ketika Anglingdarma menutupkan kembali
kain ke dadanya dengan nafas yang dingin, meskipun ia mengecup rambutnya.
Esok harinya permaisuri membunuh diri dalam api.
Dan baginda pun mendapatkan akal bagaimana ia harus melarikan diri –dengan pertolongan dewa-dewa entah dari mana– untuk tidak setia
“Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku? Mengapa harus seorang mencintai kesetiaan lebih dari kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?’
1971
Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.
Mitologi Yunani itu tak bercerita apa yang yang terjadi ketika ia terhempas ke permukaan ombak. Tapi, di tahun 1555, Brueghel Yang Tua melukis adegan itu. Dalam Lanskap dengan Kejatuhan Ikarus, perupa termasyhur Belanda abad ke-16 itu tak memaparkan sebuah kecelakaan yang menyedihkan ataupun sebuah peristiwa yang dramatis. Justru sebaliknya.
Di kanvasnya, yang tampak adalah sebuah pemandangan pastoral, cerah dan penuh warna. Pagi musim semi. Di bagian depan, seorang petani menggaru ladang. Seorang penggembala, seraya bertelekan pada tongkat tampak melihat ke langit jernih. Anjingnya duduk sabar, memantau beberapa belas domba yang asyik mencari makan. Sedikit di sebelah kanan, tampak punggung seorang yang duduk ke arah teluk, mungkin memandangi kapal yang berlayar di laut hijau Aegea yang tak diguncang ombak. Di dekat kapal itulah, di permukaan yang praktis tanpa gelombang, tampak sepasang kaki menggelepar di air –sepasang paha dan betis yang memutih sebentar sebelum tenggelam. Itulah tubuh Ikarus yang malang.
“Aku” tak hanya dikukuhkan Descartes di sebuah kota di Negeri Belanda, di mana ia tinggal berpindah-pindah di abad ke-17. Pengukuhan bisa ditemukan di tempat lain, juga di kitab yang tak disangka-sangka. Cerita Dewa Ruci adalah salah satu variannya.
Dalam Serat Cebolek, kisah termasyhur dari Jawa itu dimulai dengan Werkudhara yang terkesima bahwa dirinya tak berarti: ternyata ia, yang bertubuh tinggi gempal, bisa masuk lewat lobang kuping ke daam wujud kecil Dewa Ruci. Ia tiba di tengah sebuah samudera agung, ruang yang tak dikuasainya, yang tak bisa ditentukannya dengan titik utara atau selatan.
“Ruang yang saya tempati, paduka, kosong dan tak terpermanai luasnya,” ujar Werkudhara kepada sang dewa.