Naskah Pentas • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:54 diunggah oleh zen

The King’s Witch

Opera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang. Goenawan Mohamad menuliskan libretto dengan penafsiran baru, juga sudut pandang baru, atas legenda yang sangat populer ini. Dipentaskan pada 1-2 Desember 2006 di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, The King’s Witch tidak dipentaskan dengan aria (dialog yang dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara bernyanyi.

Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

Di Muka Jendela

Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?

1961

Puisi • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:29 diunggah oleh zen

The Window

Here
pine trees shed their leaves, and rolls of waves
are routinely cast off.
Here
the season sights on earth,
sand, cold, and night,
as peace summons as fitfully
the wind upon your shivering self.
And woods bloom
into distant spaces: Please come!

There rises a pair of hills, red and pointed
from bare fields
and parched land
where your heart reaches out. A solitary
windmill spins in the gleam of sunset, and
on the edge of the continent
a rainbow spreads.
Do not mortals return at this hour
when the soil resurges,
like a poem
mute in words like crystal,
enchanted, eternal?

1961

Translator: Laskmi Pamuntjak

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004]

Esei • Kamis, 25 Februari 2010 @ 14:01 diunggah oleh zen

Setelah Komunisme

SEKELOMPOK pengamen Rusia memainkan lagu Amerika, The Beautiful di tepi Sungai Neva, sore itu.

Mereka tujuh pemain musik setengah baya yang berbaju kumuh dan mencoba bertahan di udara basah kota St. Petersburg di awal November. Di dekat tempat itu, nampak satu bus turis yang diparkir. Di dalamnya sejumlah wisatawan tua dari Amerika yang takut udara dingin. Begitu musik tiup itu berhenti, pintu belakang bus terbuka, dan seorang kakek gemuk turun dengan logat New York: “Saya mau kasih mereka uang”. Lalu ia meletakkan sepuluh rubel di kotak penadah derma, di arah kaki pengamen. Lalu band pun melagukan The Star Spangled Banner.

Itu tahun 1991. Di Rusia nampaknya orang sedang menjadikan negara kapitalisme besar abad 20, sebagai kiblat baru. Setidaknya, kiblat lama sudah dianggap runtuh.

Di akhir November 1991 itu buat pertama kalinya dalam sejarah, di Lapangan Merah di Moskow, Revolusi Oktober (yang menurut hitungan kalender internasional sebetulnya terjadi di bulan November) tidak diperingati. Tidak ada parade 7 November itu. Tidak ada pemimpin yang berdiri di panggung kehormatan, pentas batu pualam merah yang didirikan di atas musoleum Lenin.

Lanjut..

Esei • Ahad, 21 Februari 2010 @ 22:11 diunggah oleh zen

Empat Sajak

Sekhak

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.”

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”.

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.

2010

Lanjut..

Esei • Ahad, 21 Februari 2010 @ 21:28 diunggah oleh zen

Sebuah Catatan Lain

hoakiau-di-indonesia

Di Indonesia, rasialisme Negara punya sejarah yang lebih panjang ketimbang sejarah Republik. Bahkan lebih tua ketimbang entitas yang disebut sebagai “negara”.

Ketika Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Hoakiau di Indonesia dan kemudian ditangkap, saya baru datang ke Jakarta. Umur saya 19.

Saya datang dari sebuah sekolah menengah di udik, di Jawa Tengah. Di tahun 1960 itu, saya tak tahu apa yang terjadi di dunia. Saya tak tahu bahwa sebuah buku dilarang dan seorang pengarang terkenal dipenjarakan. Minat saya waktu itu agak terbatas. Kini saya bersyukur dapat membaca buku ini, yang hampir 40 tahun bersembunyi sebagai buku yang dilarang. Kini saya tahu apa yang terjadi, kurang-lebih.

Membaca Hoakiau di Indonesia membuat saya tercengang akan kukuhnya Pramoedya Ananta Toer dengan argumentasi. Ia siap dengan catatan sejarah, statistik dan kutipan koran. Barangkali ini memang harus ia lakukan. Ia mengguncang asumsi yang umum berlaku. Ia bukan sekadar bertolak dari anggapan bahwa “ras” bukanlah sebuah kepastian yang absolut. Ia juga mengungkapkan bahwa tak benar keturunan Cina anak emas pemerintah kolonial.

Ia mempersoalkan gambaran perbedaan sosial-ekonomi antara Hoakiau dan “pribumi”, sesuatu yang (menurut data statistik) memang tak teramat tajam di pedalaman Indonesia di tahun 1950-an.

Lanjut..

caping • Ahad, 14 Februari 2010 @ 02:08 diunggah oleh zen

Potehi

Di halaman kelenteng itu, di atas sebuah pentas mini, beberapa boneka kecil, dengan busana agung dan rupawan, bergerak. Tokoh-tokoh dalam kisah Cina hilir-mudik, duduk atau berdiri tegak, berargumen atau bertarung, mengusung keranda atau menari, menangis ataupun berpantun….

Saya tak bisa sepenuhnya mengikuti cerita wayang po-te-hi itu. Di halaman kelenteng di Tangerang itu, tak lama setelah hari Cap Go Meh, di sebuah sore sebelum lampion dinyalakan, pikiran saya bolak-balik antara kenangan yang tersimpan setengah abad dan perasaan terkesima hari ini: antara malam ketika pertama kalinya saya menonton teater boneka itu di tahun 1950-an dan sore Maret 2003 itu.

Apa yang terjadi sebenarnya, sehingga pentas itu terasa seperti sebuah buhul yang istimewa dari seutas tali ke masa lalu yang rumit?

Saya duduk di bawah tenda. Kursi-kursi lipat dideretkan dalam tujuh baris. Sekitar 20 orang, kebanyakan perempuan setengah baya dari kelas bawah di sekitar kelenteng, hadir di sana, memandang ke arah sebuah kotak merah yang besar yang agak menjulang—santai, sembari makan otak-otak yang dijajakan di dekat tenda.

Lanjut..

Esei • Sabtu, 6 Februari 2010 @ 00:58 diunggah oleh zen

Nyanyi Sunyi Kedua [I]

– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986

Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat. Kumpulan Dukamu Abadi adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.

Peristiwa-peristiwa tersebut penting untuk kita catat bukan saja sebagai bab baru dari sapardi Djoko Damono, tetapi juga merupakan salah satu tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya.

Masa lalu itu adalah seperti yang kita ingat, periode tahun-tahun terakhir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode yang membayangkan desakan kuat pengaruh kesusastran realisme-sosialis, baik dalam diri para pengikutnya maupun para penentangnya.

Lanjut..

Esei • Sabtu, 6 Februari 2010 @ 00:57 diunggah oleh zen

Nyanyi Sunyi Kedua [II]

– Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, 1967-1986

Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono bukanlah jawaban, yang dikatakan secara verbal, jelas dan dengan perasaan yakin akan kepastian-kepastiannya sendiri. Puisi ini sebagian besarnya termangu, lahir dalam rasa terpencil, sadar bahwa segalanya toh akan “susut dari Suasana” (”Kepada Istriku”, 1967), dan peka sekali akan pergantian-pergantian yang terjadi dalam proses waktu.

Beberapa kali dalam sajak-sajaknya Sapardi Djoko Damono menggunakan kata keterangan tekanan “pun” di sela-sela suasana sunyi puisinya: kita mendengarnya sayup-sayup bagaikan bunyi gerak jarum jam, yang menandakan bahwa suatu pergantian telah terjadi dalm hening waktu dan kesenyapan:

masih terdengar sampai disini
DukaMu Abadi. Malampun sesaat terhenti
sewaktu dinginpun terdiam, diluar
langit yang membayang samar

–”Prologue” (1967)

Lanjut..

Puisi • Senin, 1 Februari 2010 @ 03:56 diunggah oleh zen

February

“Pass by, pass by,” someone says politely
to Time. But the cold
brings it to a halt, the city
shuts its doors.

Buildings still try to
declare their names
to the dark. But form Street 108 onwards
there is no more conversation

The moon ia as pale as margarine and
soundless.
The sky does not melt.
Traffic signs and lights

form
a hieroglyphic line,
and on Kilometer 6
there shines a final ray of light,

probably tossed
to the middle of strait:
a glow as slow as
a dancer mimicking a swan.

“Pas by, pass by,” someone says again
to Time.
But the ocean sucks it up and
minutes turn blue.

So rests eternity,
briefly, while the city
tunes in form a distance,
to the End’s footsteps,

like the horn of hunters….

2004

Translator: Laskmi Pamuntjak

———————————————————
Taken from Selected Poems, Puisi Pilihan: Revised and Expanded [Kata Kita: 2004], p. 210-212.